
Kamar mandi David
"Eh apa?" Puteri Arfenit kebingungan saat sesuatu memasuki bagian bawahnya.
David mulai memasukkan tangannya kebagian bawah puteri Arfenit dan memainkan lemak bagian atasnya yang sangat kecil bahkan hanya berisikan beberapa lemak saja.
"Tuan puteriku aku bingung bagaimana kamu bisa membuat dadamu lebih besar saat menggunakan gaun?" Bertanya David yang mulai menciumi leher puteri Arfenit.
"Uhh ah.. mm David hen tikan huh ha." Puteri Arfenit mulai kesulitan saat David memainkan bagian bawahnya dengan lembut.
"Kau yang menginginkannya bukan?" David perlahan menaikkan tangan kirinya yang sedari tadi memainkan lemak puteri Arfenit kearah leher dan perlahan wajah hingga jari jarinya masuk kedalam mulut puteri Arfenit.
"Hwahh Dwavwid ap-apwa yang kwau lakukan?" Puteri Arfenit kesulitan berbicara saat jari David masuk kedalam mulutnya dan mulai memainkan lidahnya.
"Kau sepertinya sangat menikmatinya puteri." David semakin menciumi semua bagian leher puteri Arfenit.
"David ..mm berhenti.. tolong." Ucap puteri Arfenit yang sudah hampir tidak bisa menahan diri.
"..." David tiba tiba meghentikan jarinya saat melihat wajah puteri Arfenit yang benar benar tidak ingin melanjutkannya. "Ada apa puteri?" Bertanya David saat melihat puteri Arfenit menunduk.
"Aku mm.. ini benar benar memalukan." Puteri Arfenit langsung menutup wajahnya.
'Kenapa bukan tubuhmu yang kau tutupi?' David ingin bertanya seperti itu tapi sepertinya sekarang bukan saat yang tepat. "Aku menyukaimu puteri." Ucap David memeluk puteri Arfenit untuk mengurangi malunya sebagai seorang puteri.
"Serius?" Tanya puteri Arfenit mendongak melihat wajah David.
"Ya, apa aku terlihat berbohong?" David bertanya balik.
"Mm..mm" puteri Arfenit hanya menggeleng.
"Lalu apa yang kau lakukan tadi puteri?" David bertanya bermaksud menggoda puteri Arfenit.
"Aa!! Itu sangat memalukan!" Teriaknya mendorong tubuh David hingga puteri Arfenit terpeleset dan jatuh dalam pose yang sangat memalukan.
"Hati hati puteri." Cepat David membantunya untuk berdiri.
"..." puteri Arfenit sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi tanpa ada sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya.
David yang mengerti segera menyelimuti puteri Arfenit dengan selimut yang ada diinvertorinya. "Tidak ingin melanjutkannya?" David tersenyum bertanya sambil mengangkat dagu puteri Arfenit hingga bertatapan dengan wajahnya.
"Tidak." Ucapnya kecil memalingkan wajah. "Untuk saat ini." Lanjutnya semakin bersuara kecil.
David kurang mengerti dengan apa yang digumamkan oleh puteri Arfenit.
Puteri Arfenit pun mengerti setelah melirik wajah bingung David. "Kau sudah melihatnya bahkan menyentuhnya, kau harus ... menikahiku." Ucapnya yang kembali mengecil.
"Akan kulakukan segera." David langsung berjanji dan mengiyakan.
"Nm harus." Mengangguk puteri Arfenit.
"Lalu kenapa kita tidak melanjutkannya?" David kembali bertanya.
"Tidak boleh."
"Kenapa?"
"Tunggu hingga kita telah menikah dikerajaan." Ucap puteri Arfenit berdiri sebelum keluar dari kamar mandi.
"Aku mengerti."
David pun tentu tidak akan memaksa karena dia mengerti dan paham betul apa itu sebuah kasta dan aturan kerajaan dimana puteri Arfenit adalah seorang puteri dan seharusnya hanya bisa disentuh oleh suaminya saja.
David akhirnya lebih memilih untuk melanjutkan mandinya dan terpaksa harus menahan dirinya hingga ketitik batas karena puteri Arfenit.
Saat David keluar dari kamar mandi dia sudah dapat melihat puteri Arfenit yang duduk ditempat tidur dengan model gaun yang ia gunakan seperti biasanya.
"Apa puteri menungguku?" David bertanya sambil menunjuk wajahnya.
Puteri Arfenit sempat terpanah sebentar saat melihat tubuh David. 'Seharusnya aku membawa pelukis handal untuk melukisnya disaat seperti ini.' Batin puteri Arfenit sebelum tersadar. "Kenapa kamu ada dikamarku?" Puteri Arfenit langsung bertanya tanpa melihat sekeliling.
"Puteri apa anda tidak salah? Ini kamarku loh." Ucap David melihat sekeliling.
Didekat tempat tidur terdapat meja dimana diatasnya terdapat banyak kertas yang lumayan berantakan, selain itu jelas ini bukanlah kamar untuk pendatang baru yang baru saja menempatinya dan tiba tiba sudah berantakan oleh berbagai kertas yang berisikan informasi penting.
"..." puteri Arfenit langsung terdiam saat menyadarinya. "Seharusnya kau menunjukkan kamar yang tepat untukku." Tapi puteri Arfenit tidak ingin disalahkan.
"Bukankah puteri sendiri yang langsung pergi tadi."
"Ek!- seharusnya kau mengikutiku!"
"Masih ada jenderal Salamo didepan dan saya tentu harus menyambutnya juga."
"Sudahlah, kita harus segera melihat kondisi ibu Stella." Ucap David yang berjalan keluar dari kamar.
"Baiklah." Puteri Arfenit segera menyusul.
Saat mereka berdua tiba dikamar ibu Stella disana sudah ada Stella yang duduk disamping ibunya yang kondisinya masih sama saat terakhir kali David melihatnya.
"Selamat datang puteri Arfenit." Ucap ibu Stella berusaha menyambut saat melihat puteri Arfenit.
"Bibi istirahat saja." Ucap puteri Arfenit yang segera menghentikan ibu Stella untuk bangun.
"Terima kasih sudah datang jauh jauh kemari untuk melihatku." Ucap ibu Stella berterima kasih.
"Tidak usah terlalu formal bibi, disini bukanlah area kerajaan." Ucap puteri Arfenit yang berusaha menghilangkan formalitas dalam keadaan seperti ini.
"Puteri Arfenit, apa puteri bisa menyembuhkan ibuku?" Stella bertanya berharap.
"Kondisi ibumu memang sangatlah sulit tapi bukan berarti tidak bisa sembuh." Ucap puteri Arfenit yang menganalisa kondisi ibu Stella.
"Kalau begitu-"
"Tapi tetap saja, walaupun aku menggunaka skill kususku, aku mungkin masih memerlukan waktu untuk membersihkan kutukannya." Ucap puteri Arfebit membuang napas.
"Apa yang kau butuhkan dalam penyembuhan?" Ucap David bertanya.
"Waktu dan mana point." Itulah jawaban puteri Arfenit.
"Berapa kapasitas mana pointmu sekarang?" David kembali bertanya.
"Lebih dari dua ratus ribu." Jawab puteri Arfenit yang artinya levelnya lebih dari dua ratus.
"Apa kau takut kehabisan mana dengan mana yang sebanyak itu, seharusnya regenerasi manamu juga cukup tinggi bukan.?" David sedikit kebingungan.
"Biarpun aku healing tapi aku selalu memfokuskan skill pointku pada peningkatan skill berpedang, tidak mungkin puteri dari Romulus empire yang terkenal sebagai kerajaan kesatria pedang tapi tidak dapat menggunakan pedang." Ucap puteri Arfenit menjelaskan.
"Aku bisa menyiapkan mana potion untuk membantumu, jadi kapan kau bisa menyembuhkannya?." Ucap David bertanya.
"Sekarang." Jawab puteri Arfenit kemudian mengarahkan kedua telapak tangannya keatas tubuh ibu Stella tanpa menggunakan tongkat sihir.
Beberapa mantra pengantar yang mengatas namakan dewi kehidupan yaitu dewi Arteri terus keluar dari mulut puteri Arfenit sebelum cahaya emas dan hijau menyelimuti tubuh ibu Stella bahkan David dapat merasakan aura kehidupan yang sangat pekat dari skill tersebut.
"Heal." Ucap Puteri Arfenit sebelum memulai peroses pengangkatan kutukan.
Memang jika dilihat dengan mata biasa tidak ada yang berubah dari tubuh ibu Stella tapi semuanya dapat merasakan aura iblis yang terus berkurang.
"Sebaiknya kita tidak mengganggu." Ucap David yang mengeluarkan banyak mana potion dilantai dekat puteri Arfenit.
"Aku masih ingin melihatnya." Ucap Stella yang masih ingin melihat kondisi ibunya.
"Sudahlah biarkan puteri Arfenit fokus." Ucap David yang menyeret Stella.
"Huhh.. baiklah." Stella akhirnya menurut.
Sedangkan puteri Arfenit masih fokus dalam pengangkatan kutukan.
...----------------...
dapat vote hari ini kan? sumbangkanlah sebelum kadaluarsa :)
Thank you banget buat kalian yang masih terus mendukung Anothe Vr World Accident guys dan untuk user yang menempati posisi rank donatur teratas minggu lalu ini dia.
-Silver
-helmi nst
-Gerald Bismantara
-~Leo~
Dan thank you untuk rank umum para Donatur
-Xn
-Ma'ke Seto
-Zefaanatasya_
-[M.S.R]