Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 563 : Mulyana 69


“Aku memang menarik upeti pada semua dukun itu.”


Mulyana menatap Drabya dengan sangat tajam, bagaimana perkataan itu terlontar dengan mudah dari mulut ayahnya, dia mengakui kejahatan hina yang dia lakukan dengan sangat tenang, lalu kemana kebanggaannya sebagai seorang Kharisma Jagat yang hebat, keturunan dari seorang Ayi Mahogra, tapi malah mengemis uang dari para dukun ilmu hitam itu!


“Aku akan jelaskan, kenapa aku melakukannya dan mungkin aku ingin kau juga melakukannya.”


“Aku akan dengarkan, tapi jangan paksa aku untuk melakukan apapun yang di luar dari hatiku.” Mulyana memperingatkan, karena mengetahui upeti itu benar dipungut oleh ayahnya dari para dukun, sudah sangat menyesakkan baginya.


“Aku adalah Kharisma Jagat, aku sepertimu, sangat menjunjung tinggi nilai dari kemuliaan seorang Kharisma Jagat, yaitu, menggunakan keberkahan yang Tuhan berikan untuk membantu manusia tanpa pamrih, karena memang itu tugas kita sebagai seorang Kharisma Jagat. Tapi, berjalannya waktu, aku melakukan kesalahan, aku menyukasi seorang wanita biasa, awalnya aku hanya main-main saja.


Tapi ... ternyata wanita itu menguasai hidupku, aku tak bisa jika tanpa wanita itu, aku bahkan tidak bisa melaksanakan tugas dan tak mampu menyelesaikan satu kasus pun ketika dipaksa melepasnya oleh kakek nenek kalian, karena semakin lama, cintaku pada wanita itu sangatlah besar.


Aku akhirnya mengancam ayah dan ibuku jika saja mereka tetap memaksaku untuk tidak lagi bersama wanita itu, mereka setuju, tapi mereka memperingatkanku, bahwa mungkin perjalanan ini akan sangat berat bagiku, karena ... mereka akan memburuku, menikah di luar dari jodoh adat adalah haram hukumnya bagi Kharisma Jagat, kau akan celaka, baik istri dan anakmu akan menjadi sial.


Tapi apa dayaku, aku sangat mencintai wanita itu, maka kau terabas semua halang dan rintangan, aku menikahinya.


Pernikahan kami dilaksanakan tanpa restu dari tetua, merekalah yang menjaga tali jodoh adat agar tetap terikat dari nenek moyang hingga anak cucu dan keturunannya. Aku tak peduli, yang penting orang tuaku memberi restu.


Pernikahan dilakukan dengan besar-besaran, dia bukan perempuan biasa, datang dari keluarga yang terhormat dan berpendidikan, begitu juga diriku, kami sangat sepadan, maka alasan apalagi yang bisa menghalangi pernikahan kami selain aturan kolot dari para tetua itu.


Setelah menikah, kami hidup bahagia, tak lama kemudian, lahirlah ... Aep, kakakmu dari pernikahan itu. Keluarga kecil kami bahagia, aku bekerja di tempat yang bagus, perusahaan besar dan mulai lupa kalau aku adalah Kharisma Jagat yang seharusnya membantu masalah ghaib di negeri ini, tapi aku terlalu fokus pada keluarga kecilku yang baru, mainanku lebih seru saat itu, jadi aku lupa, bahwa dunia ini tidak baik-baik saja untuk istri dan anakku.”


“Jadi yang kau bicarakan adalah ibunya Aep?”


“Betul, ibunya Aep. Dia adalah ibu yang melahirkan kakakmu dan sangat aku cintai hingga melupakan diriku sebagai seorang Kharisma Jagat.”


“Baiklah, lanjutkan, Yah.”


“Tak lama setelah melahirkan, istriku sakit, dia menjadi sangat lemah, berbagai cara kami lakukan untuk membuatnya sembuh. Medis, non medis, herbal, bahkan aku pergi ke banyak tempat untuk melihat apakah dia dikerjai.


Tapi tak satupun bisa menolongnya, kemampuan Kharisma Jagatku hilang entah kemana setelah aku tak lagi menolong orang.


Hingga satu saat, tiba-tiba istriku muntah darah yang sangat banyak, tubuhnya semakin lemah, hari demi hari berlalu, anak kami yang baru lahir bahkan tidak bisa dia susui karena tubunya yang begitu lemah, tidak bisa makan dan bahkan tidur, katanya, dia selalu merasa kesakitan, apapun yang terjadi, dia selalu merasa tubuhnya seperti dihimpit sesuatu, sesak dan sakit.


Tak butuh waktu lama, istri yang baru saja melahirkan, harus menghadap Tuhan, istri yang aku sangat cintai, akhirnya berkalang tanah karena sakit aneh.


Harus kuakui bahwa, ketika dia meninggal, aku hancur, aku tidak mempedulikan Aep. Aku sibuk dengan hatiku, lupa bahwa Aep masih sangat belia untuk ditinggal sendirian, beruntung aku punya ibumu yang mau dengan tulus merawat Aep dengan tangannya, dia yang memenuhi semua kebutuhan Aep, dia juga yang perlahan membujukku untuk terus menjalani hidup karena ada Aep yang harus dijaga.


Melihat Aep menangis dan semakin besar tanpa diriku, maka akhirnya aku memutuskan untuk membenahi hidup, menikahi ibumu karena semua keluarga setuju, agar Aep  punya seorang ibu, walau ibumu tahu, ketika itu, aku tidak bisa mencintai perempuan lain lagi, cintaku sudah habis pada ibunya Aep, tapi ibumu dengan lapang dada menerima pinanganku, karena rupanya dia telah jatuh hati pada Aep kecil, dia bilang pernikahan ini akan jadi ibadahnya untuk membuat Aep memiliki keluarga yang utuh, punya ayah dan ibu.


“Lalu di mana masalahnya hingga kau harus menarik upet!” Mulyana tak sabar mendengar alasan Drabya melakukan hal hina seperti itu.


“Saat aku menikahi ibumu, aku kembali menata hidup dan kembali musibah itu terjadi, ayahku meninggal dunia lalu seperti yang kau tahu, akhirnya aku menjadi tuan dari Abah Wangsa. Karuhun itu turun padaku, karena itu, aku kembali menangani kasus, abah menuntunku untuk kembali apda kodratku sebagai Kharisma Jagat.


Perlahan kemampuanku kembali dan karena itu aku juga akhirnya tahu, bahwa istri pertamaku, dikerjai oleh para tetua brengsek itu, mereka mengincar istriku untuk menghukumku yang tidak melakukan pernikahan adat dan mangkir dari tugas Kharisma Jagat.


Mereka mengirim banyak jin untuk menumpang di tubuh istriku yang lemah itu, mereka menggerogoti tubuh istriku dari dalam, mereka membunuhnya perlahan.


Aku tahu karena setelah kembali menjalani tugas Kharisma Jagat, aku melihat jejak jin yang begitu banyak di kamarku, tempat di mana istri pertamaku berada dulu, aku melihat jejak itu dengan mata batinku, akhirnya aku melihat bagaimana mereka menggerogoti tubuh istriku dan hampir saja menghabisi Aep juga, tapi abah melindungi Aep atas suruhan ayahku.


Dia sebagai anggota tetua, tak bisa berbuat apapun selain mengirim abah untuk melindungi Aep, tapi istriku, tak bisa abah lindungi, karena kalau sampai para tetua tahu abah ikut campur, ayahku pasti dihabisi juga, padahal kakek dan nenekmu mengikuti jodoh adat dan tetap saja mereka diancam.


Salahku yang ketika itu masih sangat muda, aku terlalu egois dan tidak memikirkan anak dan istri yang mungkin bisa menjadi korban, aku seharusnya melindungi mereka dengan tetap menjadi Kharisma Jagat, tapi aku malah terlena dan menjauh, jadi bagaimana aku bisa melindungi mereka, jika ilmuku saja hilang.


Mengetahui hal tersebut, aku marah dan hendak mendatangi para tetua, aku ingin membunuh mereka satu persatu, aku ingin menghajar mereka satu persatu, aku ingin membinasakan perkumpulan Kharisma Jagat brengsek itu, tapi ....


Apakah menurutmu ada satu saja Kharisma Jagat yang akan membantuku? Sementara para pembangkang yang tidak menuruti jodoh adat juga diserang habis-habisan? Ada yang istrinya menjadi korban sepertiku, ada yang anaknya dikerjai bahkan setelah meninggal dunia dan bahkan ada yang akhirnya kehilangan keduanya.


Maka tak ada satupun Kharisma Jagat yang berada di pihakku. Musuh dari musuhku adalah temanku, aku tidak peduli dukun, ustad atau kiai, pokoknya bisa ikut melawan para tetua itu, aku akan paksa mereka menjadi sekutuku.


Maka satu persatu, aku menundukkan dukun itu, satu persatu mereka menjadi sekutuku dan satu persatu itu membuat para tetua dan Kharisma Jagat sekutunya kewalahan karena kasus yang kami timbulkan.”


“Kau kejam, kau bahkan membuat manusia menjadi korban karena dukun itu menggunakan santet dan kau izinkan!”


“Aku tak peduli Mulyana! Jika kau melihat bagaimana sakitnya istri pertamaku menahan setiap penyiksaan ghaib yang mereka lakukan lalu akhirnya meninggal dengan tubuh yang tingggal kulit saja, kurasa kau akan semurka diriku.


Aku tidak peduli walau dukun itu terus menciptakan kasus, aku yang mengatur semuanya, kasus dan penyelesaiannya. Perlahan, para Kharisma Jagat yang dulu kelurga kecilnya dikerjai para tetua, mulai berani melawan dan menjadi sekutuku, maka dukun dan Kharisma Jagat itu bersatu untuk mendukungku, aku menjadi pemimpin mereka agar pelan-pelan bisa melawan para tetua.”


“Baiklah kalau kau gunakan dukun itu untuk dendammu, tapi untuk apa upetinya? Kau melakukan itu tetap karena keserakahan bukan!” Mulyana berteriak, walau alasannya besar, tapi tetap saja, menarik uang itu hal lain. Dia memeras orang jahat agar orang itu semakin jahat, para dukun itu maksudnya.


“Untuk melawan para tetua, kau tidak hanya butuh kekuasaan, tapi kau juga butuh uang, mereka itu tekenal dengan koneksinya, bahkan jajaran pemerintah sempat tunduk para tetua dulu, karena uang yang mereka berikan untuk pemerintah cukup besar agar keberadaan mereka diperhitungkan.


Aku harus sekaya dan sekuat mereka agar bisa melawan dan melindungi, ibumu serta kedua anakku, aku harus cukup kuat untuk kalian, tidak peduli apapun caranya!”


“Dan kau ingin aku menjadi sepertimu?” Mulyana bertanya.


“Kau harus menjadi sepertiku, jika ingin melindungi orang yang kau sayang!”