
“Kamu ngapain di sini? ini toilet laki-laki loh, nangis lagi, kenapa? nggak ada uang ya?” Kakaknya Amanda menarik adiknya keluar dan berjalan menuju belakang gedung, agar bisa bicara leluasa.
“Kakak ngapain?”
“Kerjalah, kan kakak bilang mau kerja, ini dapat kerjaan Alhamdulilah dari tetangga kita, namanya Aditia, dia kemarin ke rumah, minta maaf karena telat melayat.”
“Kakak jadi ... cleaning services?”
“Iya, nggak apa-apa, sembari kumpulin uang buat lanjut kuliah, nanti kalau udah lulus kan bisa ngelamar lagi buat jabatan lain kan?”
“Tapi kak, kenapa nggak jual rumah aja? Kan bisa dapat uang buat modal, beli rumah yang kecil atau toko kecil yang bisa kamu tinggalin, dapat uang buat modal dan tempat tinggal sementara kan?” Amanda berkata dengan suara parau karena menahan tangis.
“Kok dijual, nanti kamu kalau mau pulang ke mana? Kakak tunggu kamu pulang Dek.” Kakaknya berkata dengan suara yang tertahan juga, karena rindu pada satu-satunya keluarga yang dia miliki, tidak rindu pada adik yang memberishkan rumah, yang memasak dan memenuhi semua kebutuhan keluarga, tapi rindu pada adik yang bisa berbagi cerita, yang bisa sama-sama menangis karena kehilangan ibu, bisa berpelukan mengenang betapa dunia ini sangat berat dan bisa dilalui bersama, tapi kakanya tidak mampu merangkai kata demikian.
“Kakak ... maafin aku ya.”
“Hah? kok minta maaf? Kakak yang minta maaf Dek, karena udah buat kamu susah dari dulu, sekarang kamu tenang-tenang ya, kamu kalau mau mulai kuliah, mulai aja, kakak simpan uang salawatan untuk uang kuliahmu, uang masuk kuliah Dek, kamu bisa foksu kuliah, kakak yang kerja, kalau kamu udah lulus baru kakak kejar kuliah kakak, ya ... pulang ya Dek, ibu pasti maunya kita bersama, nggak pisah gini.” Kakaknya memohon.
“I-iya Kak, maafin Amanda ya.” Amanda memeluk kakaknya, hal yang paling dia sangat butuhkan saat ini, semua rasa sakit kehilangan ibu, hanya bisa dirasakan oleh kakak beradik dari rahim yang sama.
“Yaudah sekarang Manda pulang dulu, siap-siapin barang buat balik ke rumah, kakak lanjut kerja lagi ya, ini nggak boleh lama-lama ditinggal, soalnya kakak pegawai baru, takut dimarahin sama atasan. Oh ya, ini ada uang sedikit buat Manda makan siang ya.” Kakaknya memberi uang lima puluh ribu pada adiknya, karena memang dia menjatahi dirinya sendiri tidak terlalu banyak setiap harinya, agar uang yang ia miliki tidak menyentuh uang salawatan ibunya yang dia niatkan untuk kuliah adiknya, itupun dia berikan pada adiknya.
“Nggak kak, Manda masih ada uang dari gaji kok, makasih ya Kak, Manda akan pulang, tapi nanti ya, tunggu libur Manda selanjutnya, karena Manda harus pamit sama temen Manda biar dia nggak ngeras ditinggal gitu aja. Soal kerjaan, Manda nggak mau berhenti kerja, kakak aja nggak malu berjuang, masa Manda santai-santai, kita berjuang bersama ya Kak, Manda untuk kuliah Manda dan Kakak untuk kuliah kakak.
Insyaallah tiba waktunya, kita akan sukses bersama, Manda nggak jadi beban kakak dan sebaliknya, kita saling bahu membahu kak, membayar semua keperluan kita berdua bersama ya kak. Manda maunya kita sama-sama kerja.”
“Tapi Man, nanti kamu bakal capek banget loh, kerja sambil kuliah.”
“Nggak apa-apa, banyak sekarang kuliah malam yang jam kuliahnya tidak membebani, Manda akan sebisa mungkin atur kelak. Sekarang Manda pulang dulu kakak lanjut kerja, uangnya buat Kakak makan siang aja ya, Manda ... sayang Kakak.” Manda lalu memeluk kakaknya lagi dan berpamitan.
Setelah Manda pergi, kakaknya melanjutkan perkejaan di kamar mandi, saat menyikat kamar mandi, dia menyeka air mata, karena baru pertama dia mendengar adiknya mengatakan bahwa dia menyayanginya. Kata yang ingin dia dengar dari adik kecil yang dulu selalu dia jaga sebelum kemiskinan menyentuh keluarga mereka karena ayah yang tiada. Membuat kakaknya sempat marah pada Tuhan dan malas menjalani hidup, sedang bunuh diri terlalu takut, makanya dia jadi malas-malasan karena tidak punya tujuan hidup, sedang setelah ibunya meninggal, dia baru paham, bahwa dia telah salah jalan dengan tidak mempercayai jalan Tuhan dan akhirnay sadar bahwa dia adalah orang yang harusnya menjaga keluarga, bukan sebaliknya.
Manda pulang dengan perasaan campur aduk, senang, sedih karena kakaknya harus bekerja seperti itu dan juga menyesal karena sempat curiga pada kakaknya sendiri.
Dia ingin menyongsong hidup yang jauh lebih baik lagi.
Manda menunggu bus yang akan melewati tempat kosnya, dia tidak terburu-buru hingga tidak perlu naik ojek online.
Busnya datang, dia lalu berdiri untuk bersiap naik, bus berhenti tepat di hadapannya, bersama penumpang lain dia hendak naik, kaki kanannya sudah berada di tangga pertama untuk naik bus, tapi ... lehernya terasa tercekik, dia merasa ada yang menarik kalungnya dari belakang hingga membuat tubuhnya tertarik ke belakang dan jatuh terlentang, kepalanya mengenai aspal, karena dia orang terakhir yang baru saja mau naik bus jadi tidak ada lagi penumpang di belakang yang bisa membantunya, darah mengalir dari kepalanya, semua orang dari dalam bus maupun di luar bus yang jaraknya cukup jauh histeris, mereka berhamburan menghampiri Amanda.
Bus tidak jadi jalan, Amanda terlihat menutup mata dan tidak sadarkan diri.
...
[Ci, Sum izin ya nggak masuk lagi, anak Sum sakit, sudah dua hari ini demam. Ini mau Dokter dulu, nggak tahu kenapa, dari kemarin katanya sakit semua badannya. Trus karena demam jadi halusinasi dan ngigau terus kalau tidur.] Sum menelpon pemilik toko emas yang juga tak ada di toko karena sedang menjaga anaknya di apartemen itu, walau kemarin dia juga tak ke toko karena harus bertemu Babah dan menjaga anaknya, dia tak merasa berat karena menutup toko dua hari, toh penghasilan mereka tidak hanya dari toko emas saja.
[Iya Sum, kamu jaga anakmu saja ya, kenapa kok bisa demam? Hati-hati sekarang memang lagi zaman virus, kamu harus jaga anakmu ya, aku trasnfer uang nanti buat berobat.] Pemilik toko itu menawarkan bantuan melalui telepon pintarnya.
[Nggak usah Ci, Sum pakai BPJS kok, jadi gratis.] Sum tahu diri karena Pemilik Toko Emas terlalu baik, dia tak ingin menyusahkan.
[Nggak apa-apa Sum, kamu tuh keluarga, jadi aku transfer sebentar lagi, nggak banyak kok, untuk kamu dan suami makan selama menunggu dan mengantar anakmu ya.] Lalu Pemilik toko menutup telepon dan mentransfer 500 ribu untuk Sum. Setelahnya dia menyuapi anaknya makan siang.
“Siapa, Mi?”
“Sum, anaknya demam, jadi nggak masuk lagi.”
“Kasihan banget ya anaknya Sum, sakit.” Anak Pemilik toko emas itu berkata dengan empati.
“Kamu sama orang lain peduli, sama keluarga sendiri nggak peduli.”
“Peduli kok!” Pertengkaran dimulai, anak dan ibu itu memang sering berdebat.
“Kalau peduli, ngapain masuk ke kamar itu?” Ibunya memang berniat membahas ini.
“A-apa ... apa sih!”
“Mami tahu kamu masuk ke kamar itu kan?”
“Pasti pembantu di rumah nih yang ngadu, dasar pada cepu!” Anak pemilik toko emas itu menggerutu.
“Kamu yang seharusnya menjaga sikap, sudah cukup dewasa kenapa masih saja mengganggu?”
“Kau tahu kan, kenapa kami begini! Kau penyebabnya!” Maminya kesal dan teringat lagi kejadian itu, dia lalu beranjak untuk pergi, makanan di piringnya masih tersisa beberapa sendok lagi, tapi dia kesal dengan kelakuan anaknya. Tidak tahan dan takut malah jadi bertengkar, padahal anaknya masih sakit.
“Kenapa?” Papinya ternyata mendengar pertengkaran itu dan keluar dari kamarnya hendak bertanya, saat keluar, dia melihat istrinya menangis di wastafel.
“Anakmu tuh, masih saja begitu kelakuannya, kutegur kenapa dia masuk ke kamar itu, malah nyalahin pembantu yang sudah mengadu, anakmu itu benar-benar tidak sadar juga!”
“Kita juga turut andil atas semua yang terjadi, kau makanlah, aku lihat akhir-akhir ini kau jarang makan, tubuhmu makin kurus Mi, jangan sampai sakit, akan bahaya untuk kita kalau kau sakit.”
“Iya Pi, aku tahu tahu dengan jelas, tapi aku mohon padamu, bantu aku menyadarkan anak kita, kalau kamar itu, tidak boleh dimasuki siapapun selain kita berdua.”
“Iya, nanti aku akan bicara dengannya.”
...
“Dit, tadi aku melihat Amanda dan kakaknya ke belakang gedung, aku menguping.” Ganding yang melihat Alka dan Aditia masuk ke ruang meeting kecil, ruang khusus buat kawanan itu langsung berkata seperti penggosip yang suka membicarakan tetangganya.
Hartino dan Alisha sudah di ruang meeting itu juga, Hartino sudah berhasil tenang.
“Kenapa meraka? Amanda bagaimana?”
“Aku sampai menangis Dit, kayaknya emang sebelumnya mereka tuh nggak akur dan si kakaknya Amanda ini sudah sadar sekarang, mereka berpelukan, lalu Amanda akhirnya pulang. Aku benar-benar terharu Dit. Har, aku pikir kau harus ....”
“Aku melihatnya Nding, aku melilhatnya.”
“Maksudmu?”
“Saat aku tadi bertemu dengannya, dia sedang berganti seragam, aku melihatnya begitu ramah pada semua orang, lalu aku melihatnya mengulurkan tangan untuk membantu pegawai tanpa diminta dan bukan pekerjaannya, dia membantu pegawai mengangkat barang pribadinya yang terlihat berat, rasanya, terlalu jahat kalau bilang dia tak tulus, aku pikir aku memang salah menilai.”
“Kan sudah kubilang ... aku ....”
“Alisha!” Alka menegur istrinya Har yang hendak mencemooh suaminya sendiri, sebagai kakak, Alka tidak terima adiknya yang sudah mengakui kesalahan harus dimarahi lagi,”
“Iya sorry.” Alisha meminta maaf, karena Alka melotot. Rumah tangga yang sangat aneh.
“Kak, itu jepitan rambut kok tumben banget?” Jarni tiba-tiba bertanya. Alka lupa membukanya tadi, jepitan rambut lucu itu masih bertengger di rambutnya, Alka buru-buru hendak melepasnya, tapi Aditia menahan tangan Alka dan merapihkan rambutnya yang acak-acakan karena tadi jepitan itu hendak dibuka, tapi belum berhasil.
“Ini dariku, tadi beli di pasar, aku minta dia pakai.”
Semua tertawa, wajah Alka memerah karena malu.
“Bisa fokus nggak ke masalah?” Aditia yang biasanya cengengesan sekarang terasa kikuk karena jepitan rambut murah tapi disukai oleh Alka itu.
“Jadi, apa yang kalian dapatkan?” Ganding bertanya.
“Kita sudah dapat sumbernya.”
“Kemungkinan Dit.” Alka mengoreksi.
“Ya, kita sudah dapat kemungkinan sumbernya.”
“Apa?” Semua orang terlihat penasaran.
“Kalung emas yang dibeli pada oleh Amanda untuk ibunya, kemungkinan dari sana makhluk itu datang.”
“Kalung emas? Maksudmu benda pusaka? Benda yang ada penunggunya?” Hartino bertanya.
“Belum bisa dipastikan, tapi kemungkinan besar, iya. Kita harus menemui Amanda, tapi pada tempat yang jauh lebih tenang dan kita harus jujur padanya mengungkapkan masalah ini. Oh ya, saat tadi kau bertemu dengan Amanda bagaimana? apakah ada yang terlihat?” Aditia bertanya pada Hartino.
“Hanya bau aneh itu saja, sama seperti yang kucium di kakaknya juga, kemungkinan bau itu memang dari energi jahat yang membuat ibu mereka sakit dan akhirnya meninggal, bau aneh yang kau juga cium pada baju ibumu setelah melayat itu.” Hartino menjelaskan, dia memang tak melihat hal yang aneh.
“Kalau begitu, kita perlu untuk segera bertemu dengan Amanda.” Aditia dan yang lain setuju.
Tapi ... apakah mereka masih bisa bertemu dengan Amanda?
_______________________________
Catatan Penulis :
Mau kasih tahu aja AJP sudah masuk rangking 5 atas vote kalian, makasih ya.