
“Itu kenapa kalian tidak bisa masuk, lalu aku melihat sudut yang paling tipis dari ajian itu, yaitu bagian kanan terowongan, di mana aku membuat terowongan baru dengan pagar buatanku yang kubuat seperti terowongan untuk kalian masuk pada bagian itu saat kalian semua tengah tertidur, menciptakan terowongan atau jalan belakang untuk kakak, karena aku tahu, kakak pasti mengintip pada ingatanku setiap saat, makanya kakak melihatku membuat terowongan itu untuk mereka masuk, aku menyebutnya sebagai pintu belakang, atau pintu yang dibuat ekstra untuk keadaan darurat saja, bukan pintu utama.
Lalu aku menarik seluruh jiwa yang sekarat, mengumpulkannya di terowongan yang aku buat, terowongan itu seperti ajian pembalik bagi ajian penarik jiwa, aku tidak melubanginya aku menyandarkan terowongan yang aku buat itu pada sisi kanan terowongan ini hingga akhirnya aku membuat tempat yang aman bagi kawanan dan Kharisma Jagat untuk masuk, kalian harus menahan lemas saat memaksa masuk dari sisi kanan itu bukan? lalu ketika berhasil masuk kalian langsung mendarat di terowongan buatanku agar energi kalian kembali dan akhirnya bisa masuk.”
“Ya, itu bagus Jarni, tapi tetap saja ….”
“Kak! aku tahu sekarang, aku tahu sekarang kenapa kita tak berhasil!” Ganding tiba-tiba berkata dengan bersemangat.
“Apa?” Alka dan Jarni terlihat tak sabar.
“Seperti yang Jarni bilang, kalau dia membuat terowongan di dalam terowongan, tidak terlihat karena dia menutupinya dengan jiwa-jiwa yang sekarat, jadi energi terowongannya Jarni tersamarkan, seperti niat jin tua brengsek itu, tersamarkan! aku mengerti sekarang kenapa dia mengincar seluruh kepala keluarga dan merupakan tulang punggung keluarga, karena niat dia yang tersamarkan!”
“Apa niatnya yang tersamarkan itu?” Alka bertanya.
“Jarni kau ingat ketika Dino memohon agar tubuhnya dimatikan?” Ganding bertanya.
“Ya, tentu saja aku ingat. Lalu, kenapa?”
“Kenapa Dino mau tubuhnya mati?”
“Karena dia ingin mendapatkan emas itu, untuk diwariskan pada keluarganya seperti janji dari Gandarwi dan … oh brengsek!” Jarni tersadar, begitu juga dengan Alka.
“Ya, kalian sudah mengerti kan? kalau Gandarwi memiliki maksud yang tersamarkan, dia belajar dari jebakan kita sebelumnya, yaitu, satu-satunya musuh dia adalah Kharisma Jagat empat penjuru yang bisa memusnahkan kekuatannya, karena kesalahannya adalah mencuri jiwa, makanya apa yang dia lakukan dianggap sesat dan menyalahi hukum ghaib.
Maka mantra yang dibaca oleh Kharisma Jagat empat penjuru untuk memusnahkan kekuatan akan bisa menjadi hukuman bagi pelanggaran hukum ghaib bagi Gandarwi, tapi ternyata tidak mempan saat kita gunakan kemarin.
Jika saja, kita gunakan mantra itu pada saat kemarin Aditia di tawan di gedung dulu itu, mantra akan berhasil, hanya saja karena serangan terlalu mendadak yang diakibatkan Aditia yang marah pada kita, maka sulit mengumpulkan Kharisma Jagat 4 penjuru, maka kita menipunya, coba pikir baik-baik, apa bedanya keadaan dulu dan sekarang? Ingat cluenya Kak, Jar, niat yang tersamarkan, meminjam istilah dari Jarni yang membuat terowongan samaran.”
“Aku tahu!” Jarni langsung menunjuk tangan seolah ini ujian, Alka juga sudah tahu tapi membiarkan adik kecilnya yang baru saja kembali itu untuk menjawab, “karena dia tidak melanggar aturan, maka mantra itu batal, tidak menjadi hukuman.”
“Betul, bisa jelaskan secara detail Jarni, kenapa bisa mantra itu batal?”
“Niat tersamarkan, secara aturan ghaib, Gandarwi tidak mencuri jiwa, tapi seluruh korbannya, dengan sukarela memberikan jiwanya untuk ditukar dengan emas itu, ujung-ujungnya uang, maka Gandarwi tidak mencuri jiwanya secara paksa seperti dulu di gedung itu, dia menipu para pelamar kerja dengan iming-iming kerjaan, tahunya jiwa dari pelamar kerja dicuri dengan paksa, tubuhnya dikumpulkan di tempat tersembunyi di gedung itu, sedang jiwanya dicuri dan dilahap secara perlahan, kecuali Aditia, dia tidak juga mampu dicuri jiwanya karena Aditia kuat, walau akhirnay berhasil dicuri saat tubuhnya ada di rumah.
Sedang saat ini, para korban di ajak masuk ke zona yang mirip seperti gedung itu, tentu terowongan pencuri jiwa, tapi si korban tidak ditipu, para korban langsung dihadapkan pada pilihan, mau pulang kembali pada keluarganya sebagai orang miskin atau tukar jiwanya dengan emas, sudah pasti, untuk membuat korbannya setuju dengan perjanjian itu, maka emas-emas itu pasti ditunjukkan di hadapan para korban.
Siapa yang tidak tergiur dengan semua emas yang begitu banyak itu? dari pada pulang selamat tapi tetap miskin, mereka pasti lebih baik memilih kembali kepada keluarga dengan cara lain, tetap mampu menjadi tulang punggung, bahkan dengna penghasilan yang jauh lebih besar.”
“Hampir sempurna Jarni, tapi menurutmu, kenapa mereka selalu berkata aku akan kembali saat koma? Kenapa tak dimatikan langsung saja, kenapa harus koma dulu?” Ganding bertanya lagi.
“Karena saat koma itu, bisa jadi, si korban tidak langsung setuju, karena setiap manusia, hakikatnya takut pada kematian, dari sini Gandarwi menawarkan sensasi mati sementara untuk membujuk para korban yang dia pikir cukup sulit untuk diyakinkan atau terbesit sedikit saja rasa tidak tidak rela mati, karena jika benar ada rasa itu, kemungkinan ... Gandarwi melawan hukum ghaib, maka dia terus saja membujuk para korban dengan niat yang tersamarkan.
Niatnya mengambil jiwa, tapi yang dia sampaikan pasti adalah, membuat semua korbannya kaya raya dengan memberikan jiwa, jadi kaya rasanya seolah adalah hal utama dibanding dengan apa yang dia inginkan sebenarnya. Begitu bukan?” Jarni mengedip, dia merasa sendang bisa mengejar Ganding, kekasih jeniusnya.
“Itu baru sempurna, seperti itu Kak, tepat seperti penjelasan Jarni.”
“Berarti kemungkinan kita untuk menghukumnya, sangatlah sedikit karena kita tak punya senjata yang kuat dan cukup ampuh.
Sekarang dia juga tak sangat pintar dengan selalu bersembunyi di terowongan, kalau di terowongan itu, kita pasti akan lemas dan kurang punya kekuatan, menunggunya? Akan terlalu lama bukan?” Alka masuk pada kesimpulan.
“Kita tak bisa masuk ke terowongan itu, untuk menghancurkannya juga akan sulit, lalu apa yang harus kita lakukan? bahkan terowongan samaran yang Jarni buat juga sudah dihancurkan, maka yang perlu kita lakukan hanya memaksanya keluar dna bertarung di luar zona yang dia buat, walau kuat, kalau bertarung di luar zonanya, kita pasti menang, kita keroyok jin tua itu.”
“Tapi bagaimana caranya memaksa dia keluar Nding?” Alka juga bingung dengan jalan keluar itu.
“Kita berhasil menjebaknya saat dulu di gedung itu bukan? lalu sekarang apakah mungkin kita bisa menjebaknya lagi?” Ganding tiba-tiba memberikan usulan.
“Bagaimana menjebaknya?” Alka dan Jarni penasaran.
“Kita ....”
Malam semakin larut, semua orang sudah tertidur, sedang tiga orang itu masih terus berdisusi, langkah apa yang akan mereka ambil
...
“Apa yang harus saya curigai? Bukankah suamiku koma, lalu meninggal, apa ada yang membunuh suamiku?” Istrinya itu bertanya.
“Kemungkinannya begitu.”
“Kalau begitu, bisakah kita menyelidikinya? Maksud saya, saya punya uang sekarang, saya bisa mencari pelakunya kan?” Istrinya supir taksi itu ternyata masih menyimpan rasa cinta pada suaminya.
“Kami sudha tahu pelakunya.”
“Siapa? kita harus ke kantor Polisi bukan? kalau perlu kita gali kuburannya.” Istrinya terlihat sangat bersemangat, dia merasa sudah punya uang, maka banyak urusan akan mudah.
“Ya, perlu ke kantor Polisi, tapi mungkin seluruh barang yang berhubungan dengan pembunuhan ini harus diserahkan sebagai barang bukti.” Aditia menjelaskan.
“Tentu saja, barang apa yang saya perlu siapkan sebagai barang bukti? Baju suami saya? barang-barang lain?”
“Emas yang pembunuhnya berikan ke ibu.”
“Apa! apa maksudnya itu? kenapa emas itu harus diberikan juga? kenapa pelakunya yang memberikan emas ... apa maksud kalian pelakunya adalah wanita itu?” Istrinya supir taksi itu memundurkan tubuhnya, biasanya gestur seperti ini dilakukan untuk orang yang sebenarnya enggan dan tidak benar-benar ingin tahu infromasinya, makanya dia menarik diri.
“Dialah yang membunuh suamimu bu.” Alka mengatakan itu dengan jelas.
“Tidak mungkin, apa tujuannya? Kalau iya, kenapa dia kasih emas-emas ini? harusnya dia bawa kabur kan? karena tujuan membunuh pasti uang.”
“Maka tak kau pikirkan, Bu, kenapa dia memberikanmu emas itu secara cuma-cuma, tak kah kau tahu, Bu, kalau penghasilan suamimu, mustahil untuk mengumpulkan emas sebanyak itu, mustahil bahkan kalau dia bekerja sebagai Manager dari perusahaan tempat dia bekerja.” Aditia harus mengatakan hal yang sejujurnya.
“Kalian ini kan sedang menyelidiki kecelakaan, saya paham kalian mungkin memang harus menemukan pembunuhnya, tapi bagaimana jika saya beri uang saja? Saya akan berikan uang yang cukup banyak agar kasus ini segera ditutup.” Istrinya itu memang hanya tahu kalau Aditia dan Alka adalah orang yang menyelidiki kasus kecelakaan ini.
“Maksudnya, Bu?” Alka kecewa, dia bukannya tidak paham dan dia juga sudah menduga, kemungkinan ini sangat besar terjadi.
“Saya butuh emas-emas ini, ini adalah berkah yang kami dapatkan ketika suami saya telah berpulang, saya ingin tahu siapa pembunuhnya, tapi kalau disuruh pilih untuk memberikan emas itu lagi dan hidup miskin, informasi tentang kematian suami saya, tidak akan menghidupi kami, jujur saja, emas-emas itu yang bisa membuat anak-anakku hidup dengan layak.”
“Bu, tapi apakah kau tidak dendam pada perempuan itu, dia telah mengambil jiwa suamimu untuk akhirnya ditukar dengan emas itu.” Aditia menahan tangan Alka, hanya mengingatkan bahwa pembicaraan mereka belum sejauh itu.
“Jiwanya diambil dan kami dapat emas ini, jika aku yang disuruh pilih pun, aku akan melakukannya, aku akan tukarkan jiwaku agar emas itu jadi milik kami.” Mata dari istrinya supir taksi ini terlihat begitu merah, ada tangis yang ditahan dan juga rasa kecewa pada diri, tapi uang, lagi-lagi uang, tak bisa ditahan godaannya.
“Anda sangat kejam sekali sebagai seorang istri, tidak kah ada cinta di antara kalian lagi?” walau manusia yang tidak biasa, Alka tetaplah merasakan kesedihan dan memiliki perasaan yang lebih dominan sebagai seorang wanita, dia heran, kemana cinta yang dulu mereka bina bersama, kenapa sekarang yang lain hilang, mereka masih bisa hidup dengan baik?
“Saya lihat kalian mungkin dari keluarga berada, tidak paham bagaimana kemiskinan menggeogoti, menghancurkan dan menghinakan hidup kami. Belasan tahun aku bersamanya, tapi bahkan sampai sehari sebelum kematiannya, rumah kami masih mengontrak, lalu anak-anak kami belum bisa dikatakan sukses, makan kami juga masih sangat prihatin.
Cinta itu hanya untuk kalian anak muda yang merasa mampu menggapai cita karena umur masih muda, sedang kami, kami sudah banyak mengambil jalan untuk bahkan sekedar makan dengan baik seperti yang lain, tapi gagal! tak ada satupun jalan selain membuat tubuh kami terus bekerja dengan sangat keras.
Kami harus banting tulang dan bahkan lupa makan, hanya untuk sekedar makan esok hari. Kalian pasti tak paham dengan apa yang kami rasakan karena kalian mungkin sudah merasakan kemewahan sejak bahkan sebelum lahir.
Maka jangan gurui kami tentang rasa syukur dan kesetiaan, karena jika aku yang ditawarkan untuk menggadaikan jiwaku, aku akan lakukan itu untuk keluarga kami. Maka jika sekarang suamiku rela jiwanya diambil, aku sangat bangga dia mau melakukannya untuk keluarga kami, maka satu-satunya cara agar suamiku bisa tenang jiwanya, ya dengan menikmati emas peninggalannya.”
“Dia takkan tenang jiwanya, Bu, karena jiwanya akan dilahap perlahan hingga musnah, dia akan merasakan kematiannya berulang-ulang selama belasan, puluhan tahun entah sampai berapa lama ruh itu bisa bertahan di serap perlahan hingga musnah, dia bahkan merasakan neraka sebelum menginjakkan kaki di neraka itu sendiri.” Aditia kesal dengan apa yang dikatakan istrinya supir taksi itu, makanya dia mengatakan itu dengan ketus.
Istri supir taksi itu terdiam, dia tak punya jawaban apa-apa lagi, tetap emas itu jauh lebih berharga, makanya Aditia dan Alka pergi tanpa pamit, mereka menaiki angkot dan pergi ke tempat berikutnya.
“Aku pesimis kita akan menemukan keluarga korban yang mau bersekongkol untuk membuat mantra itu aktif lagi setelah dibatalkan oleh niat tersamarkan Gandarwi itu.” Aditia tidak percaya ada keluarga dari korban yang mau menukar emas itu dengan jiwa suaminya yang ditahan, toh, suaminya sudah meninggal dunia.
“Aku juga pesimis, tapi ini satu-satunya cara, kita perlu membuat mantra itu bisa aktif lagi sebagai hukuman dengan memarahkan niat tersamarkan itu, menjadi niat yang jelas, bahwa dia mencuri jiwa itu.”
“Emas-emas itu apakah benar akan musnah jiwa kekuatan ratu juga kita musnahkan?” Alka bertanya pada Aditia, sebenarnya pagi ini, Alka, Jarni dan Ganding, sudah memberitahu apa yang mereka dapatkan pada semua orang dan mereka semua sudah membagi tugas, seperti biasa, Alka dan Aditia tugas lapangan, untuk mencari keluarga korban yang mau membantu membatalkan tukar jiwa itu.
“Kemungkinan emas itu akan musnah dan dianggap tak ada keberadaannya, emas itu pasti apa yang Gandarwi kumpulkan dengan kekuatannya, maka apa yang berhasil dia kumpulkan dengan kekuatannya, akan musnah seiring dengan hilangnya kekuatan itu.
Kalaupun sudah dijadikan uang, pasti nominalnya akan hilang juga, kau tahu kan, bagaimana hal ghaib mampu mempengaruji kehidupan manusia, misalnya petugas yang melayani penukaran emas itu menjadi uang, akan kehilangan ingatan dan akhirnya tidak akan mengingat hari di mana emas itu ditukar, seperti hari itu tidak ada.”
“Maka akan sulit bagi kita membujuk keluarga korban, kita bicara nominal yang sangat banyak, sampai menyentuh 2 milyar bukan? sungguh Gandarwi sangat amat licik. Dia tahu, nominal itu sangat banyak, makanya dia tak takut dikhianati, dia sudah memikirkan banyak lubang yang mungkin kita cari, dia menutup semua lubang itu agar selalu menang.” Alka kecewa dengan cara manusia berpikir, untung dia punya Bapak yang mendidik dengan baik, hingga jika dihadapkan uang, dia takkan pernah menukar siapapun dengan uang murahan itu.