Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 312 : Bus 404 (15)


Melati melanjutkan kuliah dengan semua tekanan yang dia terima, dia selalu dijemput kakak iparnya saat pulang, ini adalah hari ke sepuluh sejak kecelakaan itu terjadi, tentu semua orang masih mengingat dengan jelas kejadian itu.


Hari ini adalah hari di mana ada praktek yang harus dilakukan di hutan, satu kelas harus meneliti di dalam hutan. Termasuk Melati, kakaknya sudah menolak dan tidak ingin Melati ikut, tapi Melati memaksa, karena nilai praktek ini memang lumayan besar, bisa menutupi nilai Melati yang turun karena kemarin sempat tidak masuk saat masih menunggu keadaan pulih.


Maka kakaknya Melati tidak mau melarang lagi. Tapi dia memberikan kalung pada Melati, kalung itu ada bandul dengan tulisan arab di dalamnya, itu adalah mantra pelindung, kakaknya tahu bahwa fitnah tentang Melati adalah soal ghaib, maka dia juga meminta bantuan dukun untuk bisa melindungi adiknya dari marabahaya karena hal ghaib.


Melati dan teman-temannya masuk ke dalam hutan, mereka semua belajar di dalam hutan, saat ini tahun 2005, hutan belum di buat aman dengan pita-pita yang menunjukan level keamanan hutan tersebut.


Melati dan yang lain sibuk mendengarkan dosen untuk menjelaskan banyak hal tentang tujuan penelitian mereka di hutan ini.


Tiga jam mereka masuk ke dalam hutan, hingga seseorang meminta bantuan Melati.


“Mel, bisa temenin ke sana nggak? kayaknya kita harus melihat ke sana deh, siapa tahu kita bsia dapat bahan supaya nilai kita bagus saat penyerahan tugas.” Temannya Melati yang seorang perempuan itu meminta Melati menemaninya, Dosen dan yang lain sedang meneliti tempat lain.


Melati ikut temannya itu, dia sangat senang, akhirnya ada yang menegurnya lagi, teman yang ini memang sangat terkenal cerdas, jadinya Melati percaya dan tidak curiga sedikitpun.


“Kita mesti masuk terus?” Melati bertanya pada temannya?” teman perempuan itu masih saja terus jalan, tanpa menjawab Melati.


Melati terus mengikutinya dari belakang, hingga ia sadar, di ujung jalan yang ditunjukan teman perempuannya, berkumpul beberapa orang yang tiba-tiba mengelilingi Melati.


Melati panik, dia baru sadar telah dijebak oleh pacarnya Rendi, istrinya Bobby dan semua kerabat dari korban kecelakaan itu.


“Kau kembali sana ke barisan Mahasiswa, bersikaplah seolah tak terjadi apa-apa.” Pacarnya Rendi memberi perintah, temannya Melati yang tadi menjebak Melati menurut. Dia pergi dan sebentar menoleh pada Melati.


“Jangan tinggalin aku, aku mohon.” Melati memohon pada teman yang menjebaknya itu.


“Sorry Mel, kau pantas dapat hukuman karena tidak ada di dunia ini yang sempurna, jika memang terlihat sempurna, pasti ada bantuan setan.”


Lalu temannya itu pergi setelah mengucapkan kata menyakitkan itu, fitnah itu ternyata masih sangat diyakini semua orang, Melati akhirnya memohon untuk dilepaskan, ada 10 orang yang mengelilinginya, entah mereka hendak berbuat apa, salah satu perempuan menyeret Melati, Melati menangis, dia berteriak meminta tolong, tapi sebelum suaranya keluar, dia dibekap hingga tak bersuara.


“Kalian mau apa?” Tanya Melati, dia dibawa ke sebuah saung yang sepertinya baru saja dibuat, di hutan ini tidak ada saung seperti ini sebelumnya.


Melati melihat ada yang aneh, kenapa saung ini ada banyak kembang tujuh rupa yang disebar begitu saja, lalu ada banyak lilin serta ... sajen!


Melati memohon dan berusaha kabur, tapi dia akhirnya diikat dan dibiarkan begitu saja di saung itu. sementara yang lain, memakai kain berwarna hitam, itu adalah kain kafan yang diikat di pinggang mereka.


Lalu mereka semua duduk dan menunggu waktu malam tiba.


Malampun tiba, Melati sudah sangat lelah karena meminta tolong tapi tidak bisa, mulutnya dibekap dengan kain yang diikat ke belakang kepalanya.


Melati lemas dia akhirnya terbaring dengan kaki dan tangan yang diikat.


Seseorang akhirnya datang, dia menggunakan pakaian serba hitam, pacarnya Rendi menyapa orang itu.


“Pak Samidi, semua sudah siap, sajen, kembang tujuh rupa, lilin dan kain kafan hitam, tumbalnya juga sudah kami taruh di saung yang baru saja kami buat pagi tadi.”


Samidi maju dan melihat Melati, sungguh sangat malang nasib gadis itu, sangat cantik, cerdas dan beruntung karena selamat dari kecelakaan itu, tapi harus berakhir menjadi tumbal.


“Baiklah, kita bisa mulai ritualnya, tapi kalian tahu resikonya bukan?”


“Ya, kami semua sudah sepakat untuk mengambil resiko tersebut, kami ingin bertemu orang yang kami cintai untuk terakhir kalinya.” Pacarnya Rendi berkata dengan penuh harap.


“Kau yakin dia perawan? Karena aku butuh darah perawan.” Samidi bertanya.


“Ya, aku yakin, sangat yakin, dia ini wanita yang menjaga diri, mungkin agar pesugihan yang dia dan keluarganya lakukan bisa mulus, makanya kami tega menumbalkan dia, karena keluaganya juga melakukan hal yang sama pada orang yang kami kasihi.”


“Baiklah, kalau begitu, pegangi wanita itu, aku akan mengambil darahnya untuk dipersembahkan pada jin penguasa hutan ini, dia pasti suka dengan wanita perawan ini, ruhnya kelak akan menjadi budak pengabdi di hutan ini.” Samidi berkata tanpa perasaan.


Melati dipegangi, kaki dan tangannya dibuat tidak bisa bergerak, Melati sangat ketakutan, dia memohon dan menangis, dia menyesal tidak mendengar perkataan kakaknya, bahwa seharusnya dia diam dirumah saja setelah kejadian itu, sekarang dia tahu, bahwa nyawanya sudah diujung tanduk.


Samidi mendekati Melati, lalu dia berdiri dengan kaki di antara tubuh Melati, dia memegang keris yang jelas bukan keris biasa, keris pusaka yang entah dia dapat dari ngilmu di antah berantah, berguru pada setan, setelah merapal mantra, dia hujamkan keris itu, tepat di jantung Melati!


Bahkan saat terakhirnya Melati tidak bisa berteriak atas rasa sakit yang begitu hebat, sakit karena ditusuk tepat dijantungnya, rasa sakit dikhianati teman dan rasa sakit karena difitnah, Dalam hitungan menit, Melati menghembuskan nafas terakhir. Darahnya diwadahi dengan sebuah wadah emas, darah itu terus ditampung hingga tetes terakhir.


Semua persiapan selesai saat waktu menunjukan pukul satu malam, Samidi dan yang lain bersiap untuk membuka pintu dunia ghaib, memanggil kembali rombongan bus yang terbakar itu.


Potong padi ramai-ramai di sawah


Ani-ani dikerjakan semua


Jika sudah waktunya


Mari kita pulang ke rumah


Potong padi ramai-ramai di sawah


Ani-ani dikerjakan semua


Bila tiba waktunya


Mari kita pulang ke rumah


Begitu lagu itu dinyalakan angin berhembus kencang, sang jin hutan datang, dia membuka pintu alam ghaib dan membantu memanggil jiwa penasaran karena kecelakaan itu untuk datang, dia menikmati darah Melati dengan menghirup baunya, persembahan yang sangat lezat baginya.


Bentuk jin hutan ini adalah seperti kingkong dengan tubuh yang sangat besar, dia membawa anak buahnya yang berjumlah puluhan, mereka ikut menghirup darah Melati sebagai persembahan.


Samidi dan yang lain lalu mendengar, suara bus yang entah datang dari mana, bus itu tiba-tiba berbelok ke arah hutan dari tempat mereka jalan, bus itu terus berjalan tanpa hambatan walau banyak pohon di sana, tentu saja, bus itu adalah bus ghaib bernomor 404, bus 404.


Saat itu bus berhenti tepat di tempat penyerahan tumbal, semua orang takjub karena melihat keluarga mereka masih di dalam bus itu, pacar Rendi berdiri dan berusaha mencari kekasihnya, sedang istrinya Bobby ketakutan, entah kenapa dia sangat ketakutan, dia tidak melihat Bobby di sana dan yang lain belum sadar.


Orang-orang di dalam bus itu tidak bergerak, mendengarkan lagu itu dengan sunggu-sungguh, Samidi meminta pacarnya Rendi untuk mematikan suara radio yang memperdengarkan lagu potong padi itu, dia menuruti dan mematikan radionya, setelah radio itu dimatikan, hening.


Lalu bus itu bergoyang, karena makhluk di dalamnya bergerak menuju keluar bus, saat mereka semua keluar, betapa terkejutnya orang-orang di sana.


“Mbah, kenapa mereka ... gosong?” pacarnya Rendi bertanya, istrinya Bobby sudah melihat wujud mereka bahkan sebelum mereka semua turun, dia tercengang melihat makhluk-makhluk hitam itu.


Sementara yang lain kerabat dari para korban, urung melihat keluarganya, mereka ketakutan dan lari terbirit-birit. Mereka tidak mau lagi bertemu keluarganya dalam wujud gosong itu, sungguh mengerikan.


Tinggallah, Samidi, pacar Rendi dan istri Bobby, mereka masih bertahan karena berharap akan ada yang turun dengan wujud mereka sebelum kecelakaan, karena pacarnya Rendi benar-benar rindu pada kekasihnya, yang membuat dia bahkan rela menjadi pembunuh hanya untuk bertemu sekali lagi dengan kekasihnya.


Tapi penantian mereka tak kunjung datang, tidak ada yang keluar dari pintu depan dengan wujud yang bagus, pacarnya Rendi dan istrinya Bobby jadi percaya bahwa, salah satu makhluk yang gosong itu adalah pasangan mereka.


Saat Samidi masih berusaha menyenangkan jin koleganya, dia tiba-tiba jatuh dan muntah darah.


Rupayanya Jin marah karena saat dia menghirup darah perawan itu pada hirupan terakhir, dia sadar, bahwa Melati memakai kalung dengan pelindung mantra yang belum di lepas saat proses penusukan jantung, jin itu marah besar pada Samidi lalu akhirnya menendang sesembahan dan menutup pintu alam ghaib, tanpa mengembalikan ruh yang gentanyangan, ruh yang jin itu panggil sebagai perjanjian atas tumbal yang diberikan, dia marah karena Melati memakai kalung jimat yang sangat dia benci.


Samidi ketakutan, karena dengan perginya jin itu, maka ruh penasaran ini tidak ada yang mengendalikan, jika tak ada yang mengendalikan, maka ... mereka akan menjadi brutal.


Samidi berlari meninggalkan pacarnya Rendi dan juga istrinya Bobby.


Melihat dukun itu berlari, mereka berdua juga sama, berlari ketakutan, sementara tubuh Melati, dibiarkan begitu saja, tergeletak di atas saung, kelak Samidi akan datang ke tempat itu dan menguburkan Melati di bawah saung itu sebelum akhirnya merobohkan saungnya. Mengubur semua tentang yang terjadi malam itu dan Melati hilangpun mulai tersebar.


Malam itu sangat mengerikan, hingga membuat pacarnya Rendi dan istrinya Bobby hilanga akal, lagu itu terus terngiang bersama dengan datangnya bayangan ruh-ruh gosong itu, hingga membuat pacarnya Rendi keluar kuliah dan akhirnya tidak bisa melanjutkan hidup lagi karena memilih bunuh diri, tidak kuat dengan ruh-ruh yang selalu membayanginya, itu karena dia ketakutan dengan apa yang telah dia lakukan.


Sedang istrinya Bobby menjadi gila dan akhirnya terpaksa harus dipasung dan akhirnya berakhir di rumah sakit jiwa dikirim oleh mertuanya, karena dia selalu mengamuk dan ketakutan, makanya akhirnya Nola dirawat kakek neneknya yang terpaksa menyembunyikan identitas ibunya dan mengaku mereka berdua sebagai ayah dan ibunya Nola, bukankah Winda pernah bilang tidak ingin memberitahu hilanngnya Nola pada orang tuanya karena mereka di luar pulau dan sudah sangat tua, tapi sebenarnya mereka bukan orang tua Nola, tapi kakek neneknya, ini semua demi melindungi mental cucunya, Nola.


Bahkan ketika akhirnya Nola diterima di kampus ini, kakek neneknya sangat ketakutan kalau Nola akan menemukan jalan mendapatkan informasi tentang ayahnya, sudah cukup ibunya saja yang menjadi gila, tidak dengan anaknya.


Mereka sudah kehilangan anak, menantu dan tidak akan mau kehilangan cucu, tapi sekarang, Nola malah ikut hilang. Tapi dia bersama papanya, yang tidak tahu bahwa wanita yang dia gandeng, yang dia pikir adalah sebaya dengannya, adalah anaknya sendiri.


...


Malam itu ketika semua orang sudah berlarian, meninggalkan mayat Nola yang terbujur kaku di saung, saat semua ruh gosong telah turun dari bus dan berkeliaran karena lagunya telah dimatikan oleh pacarnya Rendi, masih ada suara dari dalam bus.


“Kita harus gimana Bob, itu mereka sudah keluar, kita harus keluar juga?” tanya Rendi pada Bobby.


“Kita keluar sekarang, pastikan keadaan aman.” Bobby melihat ke arah luar dan sudah melihat bahwa keadaan aman untuk mereka keluar dan berlari, Bobby juga tidak tahu kenapa dia kawan-kawannya terjebak di bus ini, dia juga tidak tahu lagu itu membuat semua ruh terbakar itu diam, lalu ketika lagu itu berhenti berkeliaran, Bobby heran kenapa dia bisa ada di bus ini, tapi sekarang yang harus dia lakukan adalah berlari, keluar dari bus ini, dia ingin bertemu dengan ayah, ibu, istri dan anaknya, dia sungguh ingin pulang.


Maka sejak saat itu tahun 2005, bus ghaib, bus 404 gentayangan di jalan kampus. Sejak itu Bobby dan kawannya mengulang kejadian itu terus menerus, belok kanan pada pertigaan dan berakhir di jembatan lalu kembali ke bus, kejadian itu dia ulang hingga dia bertemu dengan Nola, anaknya ....