
Amanda sedang memasak nasi goreng, sudah beberapa hari ini ibunya sakit, tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya.
“Bu makan dulu yuk.” Amanda sudah sudah selesai masak nasi goreng untuk keluarganya, dia lalu membangunkan ibunya.
“Nanti Manda, ibu mau tidur dulu.” Ibunya menolak, Manda sudah membawa ibunya ke klinik dekat rumah, Dokter bilang bahwa ibunya anemia, makanya selalu lemas, lalu dikasih obat yang sudah dikonsumsi dengan sesuai resep Dokter, tapi tidak ada perubahan. Sudah tiga hari ibunya hanya tiduran saja, sedang Amanda harus bekerja, tapi kakaknya tidak membantu sama sekali, tidak mau ikut membantu merawat ibunya.
“Sarapan dulu bu, nanti bisa tidur lagi, apa mau aku suapin aja?” Amanda terlihat sangat khawatir.
“Nggak usah, ibu mau tidur aja dulu ya.” Ibunya lalu terlelap lagi.
Amanda keluar kamar dan menyiapkan nasi gorennya dulu untuk diberikan pada ibunya, saat dia hendak mengambil nasi goreng itu, dia melihat kakaknya sedang makan di meja makan.
“Kak, ibu sakit nggak mau makan dari kemarin.”
“Manda, biar ibu tidur aja dulu, di mungkin kecapean aja. Udah jangan rewel kamu.” Kakaknya terlihat tidak begitu peduli.
“Kak, kita bawa ibu ke rumah sakit yuk?”
“Nggak bisa, kakak ada kerjaan sama temen, kamu aja. Oh ya, satu lagi, kamu tolong trasnfer ya, uang buat perpanjangan kemahasiswaan kakak, udah telah satu minggu nih, ibu belum kasih.”
“Katanya kerja sama temenmu, kenapa nggak punya uang buat kuliah!” Kesal Amanda mendengarnya.
“Kamu bantu dulu kakak ya, nanti kakak ganti.”
“Nggak ada, uangnya udah aku belikan kalung ibu kemarin, untuk hadiah ulang tahunnya, kamu cari sendirilah, kalau nggak putus kuliah ajah, daripada nyusahin ibu terus.”
“Enteng sekali kau bicara, aku hanya tinggal lulus baru bisa cari kerja yang enak, kau harusnya ikut mikir, ini untuk ke depannya juga kan? nanti kalau kerjaanku bagus, kamu bisa kuliah, jadi sekarang kau bayarin dulu kuliahku, ya.”
“Nggak Kak, maaf, sekarang ibu Prioritasku, aku mau bawa ibu ke rumah sakit, walau bisa pakai BPJS, tapi tetap saja aku harus pegang uang buat jaga-jaga.”
“Kau ini keras kepala sekali! Adik yang tidak berbakti, sombong!” Kakaknya lalu melempar piring itu dan pergi begitu saja.
Amanda sudah sangat kesal pada kakaknya, karena sangat tidak bertangung jawab sebagai laki-laki satu-satunya di keluarga ini. Seharusnya dia yang menjaga keluarga ini, bukan sebaliknya.
“Bu, bangun dulu yuk.” Amanda berkata dengan lembut.
Ibunya bangun dan duduk dibantu Manda, dia masih sangat lemas.
“Manda, kita jual kalung ini aja dulu ya, kasian kakakmu, ibu belum ada uang buat bayar kuliahnya, dia bisa di keluarin kalau kita nggak segera bayar.”
Ibunya mengatakan hal yang menyayat hari Amanda.
“Ibu makan aja dulu.”
“Manda ... bantu dulu kakakmu ya, nanti kalau dia udah kerja enak, kamu pasti juga dibantu.”
“Ibu makan dulu ya, nanti ibu makin lemas.”
“Ayolah Manda, ini kita jual kalung aja.”
“Ibu! Manda nggak pernah ya minta apapun sama ibu! Nggak pernah Manda nuntut apapun sama ibu. Manda bantu ibu cari uang padahal Manda juga ingin kuliah seperti semua temena Manda yang sekarang masih sibuk kuliah dan nongkrong bareng temen.
Sekarang keadaan kita sudah mulai membaik, Manda kerja banting tulang supaya ibu bisa mengurangi pekerjaan, Manda lakuin itu buat ibu, Manda mikirin ibu, tapi kenapa Ibu nggak pernah mikir perasaan Manda! Ibu cuma mikirin perasaan kakak aja! Manda kerja kayak kuli, dimaki-maki bos, angkat barang berat dan disuruh-suruh pelanggan. Apa Manda pernah mengeluh ke ibu? Apa ibu tahu betapa malunya Manda saat harus bertemu teman manda yang kebetulan belanja di tempat Manda kerja, dia baru aja dapat kerjaan di BUMN, sementara Manda yang lebih pintar darinya, hanya bekerja sebagai kasir!
Apa Manda pernah ngadu ke ibu, betapa malunya Manda, betapa inginnya Manda lari dari keadaan rumah ini.
Manda ....”
Ibunya menangis tersedu-sedu.
“Sini Nak, ibu mau makan.” Ibunya mengambil piring nasi goreng yang Manda bawa, dia makan dengan terpaksa walau sangat tidak ingin makan, tapi dia paksakan, karena tahu, anak perempuannya sudah memasak untuknya.
Manda masih menangis sambil memperhatikan ibunya makan.
Setelah nasi goreng itu habis, Manda mengambilkan air minum lalu memberikan pada ibunya.
Saat Manda akan keluar, ibunya lalu menarik tangan anaknya lalu mencium tangan itu.
“Ini tangan anak ibu yang dulu mungil sekali, tangan ini dulu ibu jaga supaya tidak luka atau sakit, ibu tidak membiarkan tangan ini memegang benda yang berat, karena ibu ingin tangan ini tidak kesakitan, dulu ....
Maafkan Ibu Nak, tidak seharusnya ibu membebankan kebutuhan kakakmu padamu, uang kerjamu untukmu, uang kerjamu harus kau nikmati untuk apapun yang kau mau, kuliahlah nak kalau memang kau sangat ingin, jual kalung ini untuk biaya kuliahmu.
Soal kakakmu, biar itu urusan dia, kita akan biarkan dia cari solusinya sendiri ya, Nak.
Maaf ibu sudah tak adil selama ini, maaf ibu membuat kamu harus ikut bertanggung jawab pada keadaan ekonomi keluarga kita, maaf ya, Nak.”
Ibunya lalu menarik Amanda dan memeluknya.
“Maafin Manda tadi ngomong kenceng ke Ibu ya, maafin Manda ya Bu.”
Saat sedang memeluk ibunya, Manda melihat bagian belakang leher ibunya hingga ke setengah punggungnya menghitam.
“Bu, ini kenapa leher sama punggungnya?” Manda kaget dan meminta ibunya memperlihatkan leher bagian belakang dan bagian pungung.
Benar saja ternyata, setengah punggung ibunya menghitang mulai dari leher.
“Bu, ini sakit?” Manda bertanya.
“Iya Nak, sakit banget.”
“Kok nggak bilang?”
“Emang kenapa?”
“ini lebam! Lebamnya lebar banget. Kakak mukul ibu?” Manda bertanya dengan sedih.
“Nggak! kakakmu biar malas begitu, dia tidak jahat Nak, ibu tak tahu, kenapa punggung ibu begini.”
“Kita harus ke rumah sakit bu, kita harus periksa, ini kenapa.”
“Jangan Nak, paling juga sembuh setelah beberapa hari. Lagian kamu kan harus kerja.”
“Nggak apa-apa, Manda izin aja, sekarang ibu bangun, Manda gantiin baju, kita ke rumah sakit ya.”
“Manda terlihat sangat khawatir, dia menggantikan baju ibunya, tidak mau mendengar alasan dari ibunya dan memaksa pergi ke rumah sakit.
Setelah ibunya siap, Manda meninggalkan ibunya di kasur dan mengambil tasnya di lemari di kamar itu, saat dia kembali untuk memapah ibunya, ibunya tertidur di kasur.
Manda tidak tega sebenarnya membangunkan ibunya, tapi ... dia harus tetap ke rumah sakit, Manda takut kalau ibunya kenapa-kenapa.
“Bu, ayo kita ke rumah sakit dulu.” Manda menggoyangkan bahu ibunya dengan lembut.
Tapi ibunya diam saja.
“Bu, bangun dulu yuk, kita ke rumah sakit dulu.” Manda mengguncang bahunya sedikit lebih keras.
Ibunya masih diam saja. Matanya terpejam.
“Bu ....” Manda mengguncang tubuh ibunya lebih keras lagi, tapi ibunya tidak bangun juga.
“ Bu! Ibu!” Manda berteriak sembari menggoncang tubuh ibunya sangat keras, lalu di satu titik dia tersadar dan mulai menyentuh lubang hidung ibunya, dia memastikan ibunya masih bernafas ... tidak terasa ada hembusan yang keluar dari lubang hidung itu, Manda mulai ketakutan, tubuhnay gemetar semakin hebat.
Manda memegang leher ibunya dengan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan, tapi tidak teraba nadi sama sekali.
Manda beralih ke pergelangan tangan ibunya, sama! tidak terasa ada detak nadi di sana.
Manda berlari ke luar dan berteriak.
“Tolong!!! Tolong!!! Tolong!” semua tetangga berdatangan, Manda telah jatuh terduduk.
Seorang ibu-ibu yang merupakan tetangga terdekatnya menarik Manda dan mendudukkannya di ruang tamu, sisanya semua orang masuk ke kamar, karena Manda bergumam bahwa ibunya meninggal dunia.
...
Suasana rumah itu berubah menjadi ramai, ibunya Manda sudah dimandikan, seluruh tubuhnya sudah dikafani, yang tersisa hanya wajahnya saja yang tidak ditutup dengan kain kafan. Lalu tubuh yang sudah dikafani itu diselimuti dengan kain jarik dari dada hingga kaki.
Manda ada di sisi ibunya, dia hanay menatap kosong, sedang yang lain membaca yasin di dekat jenazahnya, semua tetangga datang dan pergi.
Tetangga terdekat sudah di dapur rumah itu menyiapkan makanan ringan yang dikumpulkan dari uang patungan warga. Manda hanya menatap dengan kosong ke arah tidur ibunya yang abadi.
“Kakaknya mana?” Seorang tetangga yang berkungjung bertanya pada tetangga yang sedari tadi sudah menemani Manda terus.
“Udah saya telp tadi, lagi di rumah temannya, kerja katanya, sekarang lagi jalan pulang.”
Tidak lama kemudian, kakaknya Manda datang, dia terlihat berlarian dari luar dan begitu masuk ke rumah, kakaknya langsung menjatuhkan diri memeluk tubuh ibunya yang sudah membujur kaku. Dia menangis meraung-raung.
Manda masih menatap kosong melihat itu, kakaknya menangis meraung-raung dan meminta maaf, terus menerus.
“Diam kau brengsek, berisik! Ibumu sudah meninggal! Kenapa baru sekarang kau minta maaf! Kau mau uang untuk kuliahmu! Aku punya, kuberikan sekarang, karena ibuku tak butuh lagi untuk ke rumah sakit! jangan menangis seperti anak kecil kau! ibumu sudah takkan mendengar lagi! Kau mau kalung ibuku? Nih ambil!” Amanda melempar kalung itu ke arah kakaknya, kakaknya terdiam saja, dia tidak berbicara apapun tapi masih menangis sesegukan, sungguh dia tak mengira bahwa ibunya akan meninggal dunia dan meninggalkan dia, kuliah? Bahkan dia sudah tak ingin kuliah lagi, dia hanay ingin waktu sedikit dengan ibunya bisa dikembalikan, dia terus meraung, sedang yang lain mengingatkan, bahwa meraung-raung tidak diperbolehkan.
Beberapa tetangga menarik kakaknya Amanda dan meminta mereka membantu mempersiapkan pemakaman, karena dia anak laki-laki, jadi dia harus membantu, sementara Amanda masih depresi karena kematian ibunya.
Waktu penguburan sudah dekat, ibunya mulai di bawa dengan keranda ke tempat pemakaman umum, kakaknya ikut menggotong keranda itu, sementara Amanda mengikuti dari belakang.
Dia tidk menangis lagi, dia hanya menatap kosong ke arah depan, di mana keranda itu berada.
Saat sedang menatap keranda itu, tiba-tiba Amanda pingsan, apa yang dia lihat membuatnya terkejut lalu pingsan.
Beberapa tetangga menangkapnya, kakaknya terlihat khawatir dengan keadaan Amanda, dia meminta para tetangga untuk mengantarnya pulang saja.
Manda lalu diantar pulang dan terpaksa tidak ikut pemakaman.
Pemakaman selesai, kakaknya sudah pulang lagi, para tetangga masih berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa, banyak makanan tersedia di rumah, para tetangga memang memilliki empati yang tinggi, mereka menyediakan makanan untuk keluarga dan para tamu, uang selain dari patungan warga, juga dari kas RW, jadi keluarga tidak direpotkan dan juga bisa istirahat, duka kehilangan ibu itu sungguh sangat menyakitkan, apalagi mereka tak punya orang tua lagi, yatim piatu.
“Manda, makan dulu ya. Kamu belum kan.” Kakaknya membawa piring berisi nasi dan lauk pauknya.
“Manda hanya terus berbaring membelakangi kakaknya, dia sudah sadar sejak tadi, tapi lupa kejadian yang dia alami sebelum pingsan.
“Manda makan ya, kakak taruh di sini piringnya.” Kakaknya menaruh piring makan yang ditutup dengan tissue di meja kecil samping tempat tidur.
Saat kakaknya berbalik hendak keluar, Manda tiba-tiba berkata, “ibu bilang aku boleh kuliah setelah aku marah-marah padanya karena lebih memikirkanmu, aku marah karena dia tak mau makan dan malah sibuk membujukku menjual kalung itu untuk biaya kuliahmu.
Aku marah padanya, kukatakan bahwa dia tak adil, aku mengeluh dan malu dengan keadaan kita.
Dia lalu mengambil piring yang aku bawa untuknya, dia makan dengan terpaksa ....” Manda menangis karena dia tahu dengan jelas, ibunya memaksakan diri untuk makan, dia memaksakan nasi goreng itu masuk ke dalam mulutnya, saat itu Manda tidak peduli, dia terlalu marah pada ibunya.
“Kau tidak salah, aku yang salah, maafkan aku Manda, kita cuma tinggal berdua Man, kita harus hadapi ini bersama ya.”
“Kenapa kau baru sekarang ngomong begini? Sedang semua sudah terlambat, aku bisa hidup sendiri.”
“Manda, kakak mohon.”
“Setelah selesai 7 harian ibu, aku akan ngekost, kau terserah mau jual rumah ini untuk kuliahmu, aku tidak peduli, aku hanya akan fokus pada diriku saat ini.”
“Manda, jangan tinggalin kakak ya, biar kakak yang cari uang mulai sekarang, kamu kuliah ya.”
“Percuma, aku tidak butuh uangmu sekarang, yang aku butuh saat ini ibuku, tapi sudah tidak ada. Aku akan mengurus diriku sendiri, mari kita ambil jalan masing-masing, keluarlah dan bawa piringnya, aku hanya ingin bicara itu saja.”
Manda berkata dengan dingin, kakaknya terlihat sangat sedih dan kecewa pada dirinya sendiri, kalau saja dia tahu ibunya akan tiada, tentu dia akan berbakti, minimal lulus kuliah, tapi nasi sudah menjadi bubur.
...
“Dari mana Dit, Bu?” Aditia yang sudah sedari tadi di rumah bertanya.
“Dari takziah, ibunya Amanda meninggal.”
“Oh ....”
“Emang kamu kenal? Kok oh?” Ibunya Aditia bertanya, Aditia sedang menonton TV di ruang tengah, sementara Dita ke kamar untuk tidur.
“Nggak, mana Adit kenal.”
“ituloh yang di gang empat, mereka udah nggak punya ayah, sekarang ibunya meninggal. Makanya Dit, doa ibu cuma satu, disehatkan dan dipanjangkan umurku, supaya tetap bisa mendampingi kalian sampai menikah.”
“Apa sih bu, kok jadi ngomong gitu.” Aditia kesal ibunya bicara kematian, hal paling ditakutinya memang hanya sama dengan ibunya.
“Iya, ibu kasihan banget sama Amandanya, dia tadi pingsan katanya pas mau ngubur ibunya, jadinay dibawa pulang dan nggak liat ibunya dikubur. Untuk kakaknya ada dan sigap, dia mengurus semua keperluan pemakaman.
Kalau ibu kenapa-kenapa, kamu harus lindungin adikmu ya, ingat kalian hanya berdua jika ibu ....”
“Bu, udah ah, Adit nggak mau denger lagi ya!” Aditia terlihat sangat kesal dengan perkataan ibunya.
“Ya, ibu hanya sedang berpesan, umur nggak ada yang tahu Dit.” Ibunya lalu bangkit, melewati Aditia untuk masuk ke kamar berganti baju.
“Bu! Sebentar.” Aditia mendekati ibunya yang hampir sampai ke kamar.
“Kenapa sih?”
Aditia mendekati ibunya dan .... bau yang aneh!” Aditia berkata dalam hati.
“Rumahnya di gang empat bu?” Aditia bertanya dengan tidak sabar.
“Iya, di gang empat, kenapa emang? Mau takziah juga kamu?”
“Hmm, mungkin, yaudah ibu mandi dulu gih, jangan langsung masuk kamar. Dit! Tadi kamu udah mandi belum?”
“Udah Kak, tadi Dita mandi terus ganti baju, gerah soalnya, kenapa?” Dita bertanya dari dalam kamar dengan berteriak.
“Nggak apa, yang penting kamu udah mandi.”
“Biasanya juga cuma wudhu aja cukup, kenapa sekarang mesti mandi sih, Dit?”
“Udah mandi aja bu, biar bersih, kan gerah tadi kata Dita.” Aditia memaksa, ibunya lalu menurut.
Aditia berlari ke depan rumah. Tidak ada tanda-tanda pagar jebol, lalu ... bau apa tadi? Melekat sekali di baju ibunya.