Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 431 : Bulan Madu 29)


Setelah pertahanan vila diserang, lalu mesin berat mulai bisa menghancurkan vila, mulai dari atap yang sempat hancur saat diserang pertama kali, lalu dilanjutkan dengan alat berat yang sudah disewa, kawanan dan Balian lanjut dengan serangan ke dua yang bahkan ikut membuat setengah bagunan vila hancur dan membuat kinerja alat berat jadi lebih mudah.


Sayang pada serangan ketiga, mereka gagal, alat berat juga tak mampu berbuat banyak selain mulai membersihkan puing, sambil menunggu kawanan dan para Balian mendapatkan cara untuk mampu mengancurkan sisa bangunan vila.


"Bagian bawah dilapis dengan kekuatan yang besar." Aditia berbicara dengan pemimpin para Balian.


"Itu alasannya kenapa kekuatan kita tidak bisa menghancurkan bagian bawah." Pemimpin para Balian berkata.


"Jangan diteruskan, kita bisa kehabisan tenaga, kita hanya punya cadangan 5 orang saja."


"Ya, aku juga berpikir seperti yang kamu katakan, Dit." Pemimpin Balian setuju.


"Tapi kita harus apa?" Aditia bertanya.


"Kita akan menggunakan cara kami, apa kau tidak keberatan?"


"Aku sudah sepakat untuk melakukan ini bersama dan mengikuti cara kalian, semisal cara kami tidak berhasil."


"Dalam agama kami, angka ganjil adalah angka yang baik, membawa keberuntungan. Maka kita buat formasinya seperti itu.


Di pintu utama 1 orang, tentu yang ilmunya paling tinggi, berarti Adit, lalu di sisi kiri 3 orang, sisi belakang vila 5 orang dan sisi kanan vila 7 orang, total 16 orang, sisanya 10 orang akan berjaga."


"Tapi kan, artinya jumlah orang yang akan menyerang lebih sedikit, sedang sebelumnya ang menyerang 21 orang, sedang sisanya hanya 5 orang."


"Itulah Dit, kenapa saya tanya apakah kamu mau menjalani penyerangan ini dengan cara dan keyakinan kami."


"Baiklah, tidak ada salahnya dilakukan. Lalu setelah formasi itu dibuat, kita lakukan apa lagi?"


"Pertanyaannya bukan setelah, tapi sebelum. Aku akan menyiram sisa bangunan vila ini dengan air suci dari kawasan pura Besakih. Ada 19 pura di kawasan pura Besakih dan salah satu pura tertua namanya pura Basukian, pura itu dibangun oleh masyarakat Hindu Majapahit dari Jawa pada abad ke 8. Dan air yang akan kita siramkan adalah air dari dalam tanah ke-19 pura itu berdiri.


Lalu, ada satu ritual yang sering dilakukan di sana, ritual itu dilakukan 10 tahun sekali, nama ritualnya adalah Panca Wali Krama. Ritual dilakukan untuk pembersihan, selain itu kita juga akan melakukan ritual khusus bagi makhluk ghaib yang akan diundang.


Makhluk ghaib ini akan dijamu, dengan sesaji. Ritual ini dilakukan agar bumi menjadi bersih dan para makhluk ghaib tidak mengganggu masyarakat yang sedang melakukan ritual selama 40 hari."


"Lalu, untuk kita apa relasinya?" Aditia sebenarnya tidak sabar dengan penjelasan ini, tapi untuk menambah wawasan dan kesopanan, dia mendengarkan dengan baik.


"Kita akan lakukan ritual Panca Wali Krama setelah menyiram bangunan ini dengan 19 jenis air suci dari dalam tanah dibawah pura-pura itu. Tujuannya membuat energi negatifnya semakin turun, lalu setelah itu ritual Panca Wali Krama akan dimulai, itu artinya ...."


"Banyak makhluk yang akan datang ke sini karena diundang, kau ingin mereka membantu kita mengahancurkan vila ini? Tapi bagaimana dengan keselamatan kami? Bukankah kau tahu, akan sangat bahaya kalau sampai mereka sadar kita bukan dari sini?" Aditia khawatir.


"Memang ada resiko, tapi kemungkinan berhasil lebih tinggi, makanya Alka harus berada di barisan Balian terbanyak, dia harus ada di sisi kanan vila, karena di sana dibutuhkan 7 orang untuk menyerang. Agar energinya Alka yang tipis itu tersamarkan.


Lagian ga perlu terlalu takut, kita sudah punya Rangda sebagai sekutu."


"Tetap saja, aku khawatir. Kalau ada yang iseng dan menghasut yang lain, gimana?"


"Kita akan cegah, ingat kau tidak sendirian, kami ada 20 orang Balian, akan membantu jika saja Kalian dalam kesulitan. Bagaimana?"


Aditia agak bimbang, karena menjamu makhluk ghaib itu bukan gaya kawanan. Tapi karena ini pertarungan gabungan, tidak ada salahnya saling menghormati saja.


"Baiklah mari kita lakukan, kita akan coba segala cara agar Sak Gede cepat dikeluarkan dari tanah Bali."


Pemimpin Balian senang Aditia tidak sekeras kepala ayahnya yang akhirnya gagal karena tidak mau menerima bantuan karena syarat itu.


Pemimpin Balian suka, karena Aditia lebih bijak.


Lalu setelah itu ritual Panca Wali Krama dimulai. Lima jenis hewan dipotong, ritual terus berjalan sementara kawanan fokus memperhatikan ritual.


Alisha sibuk menari, dia suka ritual ini, karena Rangda yang ada di dalamnya.


Setelah ritual selesai, formasi ganjil mulai dilakukan, Aditia sendirian di pintu depan, lalu para Balian di sisi kiri sebanyak 3 orang, 2 Balian dan Ganding. Di belakang vila ada 5 orang, 3 Balian serta Jarni dan Alisha.


Lalu di sisi kanan 7 orang. 5 orang Balian serta Hartino dan Alka.


Semua sudah pada posisi, langit gelap, makhluk ghaib dengan berbagai bentuk berdatangan karena ritual memanggil makhluk ghaib untuk dijamu.


Begitu datang mereka langsung berpesat makanan sesaji.


Kawanan mulai khawatir karena sesaji disebar di beberapa tempat, tapi aneh, hanya tempat di mana Alka beradalah mereka tak dekati.


Pemimpin Balian sudah mengaturnya sedemikian rupa.


Aditia tenang.


Setelah asik dengan perjamuan, pemimpin Balian mencoba berkomunikasi dengan para makhluk ghaib, tamu-tamu tak kasat mata itu setuju untuk membantu karena suka dengan sesaji yang disiapkan, walau agak ketar-ketir saat menyiapkan 5 jenis hewan itu dalam waktu singkat.


Uang memang bisa mengatur segalanya, karena menghadirkan 5 jenis hewan dalam waktu 1 jam itu sulit, kecuali kau punya uang banyak.


Setelah makhluk ghaib itu setuju, mereka membentuk lingkaran memutari vila hanya agar tidak mengganggu formasi ganjil, jadi hitungan ganjil tetap terjaga.


Pemimpin Balian berteriak semua orang untuk bersiap menyalurkan energi. Setelah energi tersalur, energi itu melesat ke atas langit dengan warna ungu yang melekat. Lalu dalam hitungan detik energi itu kembali turun ke bumi, saat turun ke bumi, ada energi hitam pekat yang ikut bergabung, Kawanan tahu, itu adalah energi milik para makhluk ghaib yang siap bersinergi.


Perpaduan itu berubah menjadi warna hitam yang sangat pekat, bentuk energi itu berubah menjadi awan yang menciptakan petir menggelegar. Kawanan takjub melihat kekuatan yang besar itu.


Mereka semua fokus dengan arah jatuhnya energi itu. Begitu energinya mencapai bangunan vila, terjadi ledakan yang sangat kuat, membuat apapun yang ada di dekat vila mental.


Kawanan dan para Balian jatuh tersungkur. Bahkan tubuh mereka memar, hidung mimisan dan ada beberapa Balian kepalanya bocor. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit untuk memastikan semua baik-baik saja.


Aditia bangun dan mencari Alka, dia terlempar cukup jauh.


"Kamu nggak apa-apa?" Aditia bertanya, sementara Alka mencoba bangun, tapi tidak bisa.


"Kakiku patah sepertinya." Aditia lemas mendengar itu.


Dia membiarkan Alka tetap ditempatnya agar kakinya tidak bertambah parah, karena kalau sampai posisinya dirubah akan bahaya.


Aditia kaku mencari yang lain.


Hartino baik-baik saja, Alisha bahkan memar tidak ada, Jarni mimisan dan keningnya robek sedikit, Ganding pingsan belum bangun juga.


Aditia terus menepuk pipi lelaki jenius itu, Jarni menangis melihat Aditia berusaha keras membangunkan Ganding.


"Bangun Nding! Bangun!" Aditia tidak merasakan detak jantung Ganding.


Aditia buru-buru melakukan CPR, dia takkan membiarkan kawanan celaka lagi.


"Bangun Nding! Bangun!" Aditia terus menekan dada Ganding agar denyut jantungnya kembali.