
“Udah jam sebelas nih.” Andri berkata pada adiknya Rahma.
“Iya, lu punya apa?” tanya Rahma.
“Bentar gue liat dulu di tas.” Andri membuka tasnya merogoh kira-kira apa yang dia punya.
“Cuma ini.” Andri menunjukan permen lolipop bergagang itu.
“Cuma satu?” Rahma terlihat ketakutan.
“Iya.”
“Trus gue gimana?” Rahma bertanya lagi.
“Lu nggak bawa apa-apa?”
“Adanya ini doang.” Rahma adik perempuan Andri menunjukan pensil.
“Tapi kalau itu, lu nimbulin masalah.”
“Daripada nimbulin masalah buat gue sendiri nggak kasih apa-apa.” Rahma akhirnya tetap naik untuk menuju rumah mereka.
Untuk sampai rumahnya, dia harus naik empat lantai. Rumahnya adalah rumah susun, rumahnya berada di lantai lima, paling atas.
Tangga menuju lantai dua sudah mereka lewati, sekarang tangga menuju lantai tiga, tidak lama kemudian mereka sudah di lantai tiga, lalu nnaik menuju lantai empat, saat akan naik ke lantai rumah mereka, Andri menahan Rahma.
“Lu yakin ngasih pensil?” Andri terlihat berkeringat.
“Iya. Gue nggak punya apa-apa lagi, masa gue kasih buku pelajaran gue! trus gue belajar gimana, beli bukunya aja ayah udah susah.”
“Yausah ayo.”
Andri menuntun adiknya untuk berjalan di belakang dia, tangganya berbelok dulu baru sampai ke lantai empat, di belokan tangga itu ada sebuah areal yang cukup luas, di sana berserak beberapa barang yang diletakkan begitu saja, seperti dilempar.
“Udah cepetan bilang!” Rahma yang di belakang Andri berkata.
“I-iya bentar!” Andri gemetaran.
“Cepetan!” Rahma kesal, dia sudah menyiapkan pensilnya.
“Nih punyamu ya, aku kembalikan!” Andri melempar permennya.
“Nih punyamu ya, aku kembalikan!” Rahma ikut berkata yang sama lalu melempar pensilnya.
Setelah itu mereka berdua berlari, berlari tanpa melihat arah akhirnya membuat Rahma terjatuh karena kakinya tidak benar-benar menapak pada anak tangga, tangannya masih dipegang oleh kakakknya.
“Ayo bangun!” Andri menarik adiknya.
“Ng ... nggak bisa.” Rahma berbisik, air matanya jatuh.
“Kenapa?” Andri juga berbisik.
“Kakiku ... ‘dia’ nahan kakiku!” Rahma berteriak.
Andri menatap bagian bawah adiknya, karena saat ini posisi adiknya itu tertelungkup akibat jatuh. Jadi kakinya tepat berada di anak tangga paling bawah setelah belokan. Saat pandangan Andri sudah di bertemu dengan letak kaki adiknya, Andri tercekat, dia tidak dapat berkata apapun.
“Main sama aku yuk.” Seorang anak kecil, tanpa baju, hanya mengenakan ****** *****, wajahnya pucat, bibirnya biru, seluruh tubuhnya terlihat membiru, matanya hitam, seolah dia hanya memiliki pupil yang memenuhi mata di sana.
“Kak ....” Adiknya menangis dia takut kalau kakaknya lari dan meninggalkan dia sendirian.
“Kamu liat juga?” Andri bertanya.
“Iya ....” Adiknya berusaha menahan nangis.
“Cepet ngomong!” Andri memaksa adiknya ngomong, padahal tadi adiknya jauh lebih berani, tapi sekarang posisi terbalik.
“Gue takut!” Rahma berbisik tapi ada nada kesal dari suaranya karena dia menekan intonasi pada kata-katanya.
“Kalau lu nggak ngomong, gue tinggalin lu di sini!”
“Kak!” Rahma memohon agar kakaknya tetap di sini.
“Cepetan ngomong.” Andri memaksa.
Dengan suara bergetar, Rahma akhirnya berbicara, “A ... Ayuk ... a ... ayuk main, tapi besok aja ya, aku dipanggil ibu.” Setelah mengatakan itu, Andri menarik adiknya, menariknya sekuat tenaga dan mereka berlari tanpa menoleh lagi, masuk ke rumah dan menutup pintu dengan keras.
“Kenapa!” Ibu dan ayah mereka keluar dari kamar.
“I-itu Bu, Yah, itu ... tadi kaki ade di tarik!” Andri mencoba menjelaskan tapi tidak lengkap, orang tuanya sudah mengerti maksud mereka.
“Kenapa nggak beli permen dulu, emang kalian kasih ‘dia’ apa?” Ayahnya mendudukan mereka di kursi lalu menenangkan adiknya yang terlihat lemas dan tatapannya kosong. Sementara ibunya mengambilkan mereka minum.
“Andri udah ada, tapi Rahma nggak ada, kami tadi pulang kemaleman dari acara persiapan acara sekolah Yah, trus pas pulang warung udah pada tutup. Pas di depan gerbang baru inget. Rahma kasih pensil!”
“Astagfirullah! Kenapa pensil?” Ayahnya terlihat khawatir.
Rahma diminumkan air putih hangat, Andri meminum airnya sendiri.
“Kan tadi Andri udah bilang, nggak ada apa-apa lagi, masa Rahma kasih buku pelajaran!” Andri mengulang kata-kata Rahma sebelumnya.
“Kalau pensil, dia pasti ngajak main bareng, kalian lupa atau gimana sih? kalian sengaja mau main sama dia?” Ayahnya berkata masih dengan raut yang khawatir.
“Iya tau Yah, tapi daripada nggak kasih, dia tidak akan membiarkan kita lewat.
“Yaudah, kalau begitu, kalian besok begitu pulang sekolah, ngungsi dulu ke rumah bibi yang lantai satu, kalian nggak boleh lewat tangga itu sampai empat puluh hari.”
“Ayah ....”
“Kau mau adikmu celaka? Dia sudah mengenali wajah kalian, kalian juga sudah bilang mau main besok kan supaya dilepas?” Ayahnya mengingatkan.
“Iya Yah, tapi bibi kan sempit kamarnya.”
“Yaudah gini aja, sementara di sana seminggu, ayah sama ibu carikan kamar kost deket sini, kita nanti tinggal di sana aja dulu sementara.”
“Maafin Rahma ya Yah.”
“Rahma nggak salah, yang salah adalah orang tua yang meninggalkan anak itu sendirian hingga ruhnya tidak tenang dan menggganggu penghuni di sini.” Rahma memeluk ayahnya, mulai malam ini wajah Rahma harus ditutupi kain hitam jika besok dia akan lewat, agar ‘dia’ tidak lihat Rahma, baru setelah itu Rahma dan Andri akan tinggal dengan bibinya seminggu, menunggu ayah dan ibunya mendapatkan indekos, mereka akan tinggal di sana sampai empat puluh hari lewat. Kalau tidak, Rahma bisa celaka, anak itu akan membawa Rahma ikut dengannya, sesuai janji Rahma akan bermain dengannya.
...
“Jadi ini rumah susunnya?” Jarni bertanya pada Ganding. Ini adalah kasus mereka berdua, sementara Alka masih dalam masa pemulihan.
“Iya betul, kita harus bertanya pada Ketua RT-nya dulu.” Ganding menjawab lalu berjalan duluan.
“Iya, aku tidak punya skenario lain, selain itu.”
“Kau yakin?” Jarni merasa ragu, karena skenario mereka selalu menyamar, berbohong atau bahkan menipu, Alka bilang, kalau kita terlalu sering berterus terang, orang akan mengenal mereka dan hanya akan ada dua kemungkinan. Pertama, mereka akan terkenal dan jadi tidak punya privasi, itu haram untuk dilakukan, bapak marah jika itu sampai kejadian, mereka harus bergerak di bawah tanah. Lalu kemungkinan kedua, mereka akan dianggap gila. Maka langkah Ganding untuk jujur membuat Jarni ragu.
“Yakin, ayolah.” Ganding mengulurkan tangannya.
Jarni menyambut uluran tangan itu dengan senyum sumringah.
Mereka berdua datang ke kantor pengelola, lalu bertanya dimana rumah Pak RT, ternyata rumahnya ada di lantai satu. Lantai paling dasar.
Begitu sampai mereka mengetuk pintu, seorang lelaki paruh baya keluar, mempersilahkan Ganding dan Jarni duduk dan mereka disajikan teh oleh istri Pak RT.
“Jadi tujuan kami ke sini adalah terkait Wanga ... puk.”
“Hei!” Pak RT terlihat marah, dia meminta Ganding tidak melanjutkan nama itu, tapi Ganding terlanjut mengatakannya.
“Kenapa Pak?” Ganding tahu, ini pasti karena saking takutnya mereka pada nama itu.
“Terlalu haram disebutkan nama itu, kau harus berbisik, dia bisa mendengar kita.” Pak RT berkata dengan berbisik, tapi mimik marahnya tidak dia sembunyikan.
“Ya maaf Pak.”
“Kalian ini wartawan?”
“Bukan.”
“Lalu apa keperluan kalian ke sini dengan ‘dia’?” tanya Pak RT.
“Kami diutus untuk menangkapnya.” GHanding berkata dengan lugas.
“Tidak akan bisa! Sudah banyak dukun, Ustad, Kiai yang datang, mereka semua akhirnya sakit dan menyerah, apalagi kalian, anak-anak muda. Mana mungkin bisa.”
“Izinkan kami dulu Pak, toh tidak ada ruginya.” Ganding membujuk.
“Tapi, untuk apa kalian menangkap ‘dia’?”
“Karena kami sedang ngilmu Pak, kami butuh Wang ....”
“JANGAN SEBUT NAMANYA!” Pak RT berteriak, dia sangat ketakutan.
“I-iya maaf Pak.” Ganding justru kaget dengan teriakan Pak RT. Ironis sekali, seorang hantu bocah membuat seorang dewasa gemetar begini.
“Kalian lakukan sesuka kalian, yang penting kalian jangan ganggu kedamaian di sini, karena kami sudah terlalu lelah dengan ‘dia’ hingga kami akhirnya memutuskan untuk menerima dia dan hidup berdampingan, walau kami sangat ketakutan setiap kali harus lewat belokan tangga itu diatas jam sepuluh malam. Untung rumahku paling bawah, sehingga anak-anakku aman.” Pak RT ini terdengar egois sekali.
“Baiklah, boleh saya mulai dari kisah ‘dia’?” Ganding tidak ingin mengulang kesalahan dengan mengatakan namanya lagi.
“Jadi ‘dia’ dulu saat rumah susun ini baru dibangun, belum semua unit tertempati, setiap lantai paling hanya sepuluh keluarga yang menempati dari tiga puluh unit, adalah sepasang suami istri yang memiliki seorang anak. Mereka seperti keluarga lain, ayahnya bekerja, ibunya, ibu rumah tangga. Lalu pada suatu ketika, berjalannya waktu, unit mulai terisi penuh, ayah dari anak itu dipecat karena kecelakaan kerja, biasalah, pabrik yang tidka berizin memang sangat asal-asalan dalam memelihara buruh mereka. Ayah anak ini menjadi cacat, tangannya putus hingga siku. Dia akhirnay hidup seperti itu setelahnya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka, istrinya mulai jadi buruh cuci di beberapa rumah, akibatnya anak mereka yang baru saja berumur lima tahun harus ditinggal oleh ibunya bersama ayahnya saja.
Awal mula semua berjalan baik, tapi seperti yang sudah kita duga, mereka sering cekcok karena uang, istrinya sudah bekerja dari pagi hingga malam, tapi kebutuhan mereka masih saja tidak terpenuhi, suaminya juga jadi temperamental sejak tangannya diamputasi.
Anak mereka menjadi korban, kadang ayahnya sering menyiksa anak itu, ibunya bukan membela, dia malah ikut menyiksa. Mereka berdua depresi karena keadaan ekonomi yang menghimpit secara tiba-tiba dan musibah yang datang begitu beruntun.
Hingga pada suatu malam, istrinya kabur dari rumah susun mereka meninggalkan anak dan suaminya. Suaminya yang cacat ditinggalkan begitu saja, serta anak yang masih berumur lima tahun. Si ayah bukannya berusaha berubah dari temperamentalnya, dia malah semakin menjadi, terakhir, dia malah melakukan hal yang paling kejam, dia meninggalkan anak itu sendirian di rumah, dengan keadaan pintu dikunci dari luat, tanpa makan tanpa uang.
Kami tetangga tidak tahu, kami pikir rumah itu kosong, karena ayahnya pamit waktu itu akan pergi merantau, dia bilang akan pergi bersama anaknya.
Kami ditipu, ternyata dia meninggalkan anaknya di sana. Dua minggu kemudian, kami mencium bau busuk dari rumah kosong itu.
Kami buka paksa rumah itu dan bau itu semakin menyengat, kami melihat mayat anak itu sudah tergeletak di depan pintu kamar mandi.
Tubuhnya kurus dan matanya menghitam. Kami yakin, dia kelaparan dan kehausan, dia mungkin meminum air kamar mandi, tapi ketika minggu ke dua, kami memang mematikan sumber air, karena merasa rumah itu kosong. Kami tidak berani membuka rumah itu karena statusnya masih milik dari pasutri tersebut, belum dialihkan, makanya kami memutuskan untuk menghentikan pasokan air ke rumah itu karena yakin rumah itu kosong.
Naas, ternyata masih ada anak itu di sana, dia bertahan menunggu orang tuanya dengan meminum air kran dari kamar mandi. Andai kami tahu, kami akan mengurus anak itu dengan sukarela, tapi kami tidak tahu.” Pak RT yang ketika itu ada dalam kejadian terlihat sedih.
“Sejak itu maka ‘dia’ menghantui rumah susun ini?” Ganding bertanya.
“Ya, sejak itu ada satu tempat yang ‘dia’ tinggali, tempat itu adalah belokan tangga menuju lantai lima, lantai rumahnya berada.”
“Kenapa di sana?” Ganding heran.
“Karena di sana dia biasa menunggu ibunya pulang, duduk di tangga paling bawah tepat setelah belokan tangga menuju lantai lima.”
“Lalu apa mitosnya?” Ganding bertanya lagi.
“Siapapun yang lewat belokan tangga itu, lewat dari jam sepuluh malam tanpa memberikan sesuatu dengan cara dilempar dan mengatakan, ‘nih punyamu ya, aku kembalikan’ maka dia akan menghantuimu, datang ke rumahmu, bahkan membuatmu kesurupan, hingga kau sakit dan akhirnya ikut bersamanya.” Pak RT bergidik mengatakan itu, seolah dia sudah melihat kejadian yang diceritakan.
“Lalu apakah benar ada korban?” Ganding bertanya kembali.
“Ada, sudah dua orang yang meninggal, dua-duanya anak remaja. Mereka tidak meninggalkan apapun saat lewat belokan tangga itu, rumah mereka di lantai lima, lalu mereka bilang diikuti oleh ‘dia’ lama-kelamaan, mereka sakit dan akhirnya meninggal dunia.”
“Bisa saja mereka sakit kan? bukan karena ‘dia’.”
“Tidak! mereka berdua meninggal dengan tanda-tanda yang sama, dimulai dari merasa diikuti, lalu sering kejang, jatuh sakit hingga tak bisa bergerak seperti stroke, mana mungkin remaja stroke kan? lalu meninggal. Maka dari itu kami sangat menjaga sekali mitosnya.”
“Oh baiklah, hanya itu mitosnya?”
“Oh ada lagi, jika yang kau berikan adalah barang, bukan makanan, atau bahkan mainan, dia akan mengajakmu main, maka kau harus mengiyakan ajakannya, kalau tidak dia akan marah dan terus mengincarmu, kau harus katakan begini, ‘ayu kita main, tapi besok ya, aku dipanggil ibuku’, ‘dia’ akan melepasmu seketika, tapi kau harus lari dan pergi dari rumahmu selama empat puluh hari, saat melewati belokan tangga itupun wajahmu harus ditutupi dengan kain hitam agar dia tidak mengenalimu lagi. “
“Hah? empat puluh hari? Kenapa harus empat puluh hari?”
“Karena setelah empat puluh hari, ruh anak itu akan tenang dan lupa orang yang telah dia tandai.”
“Ruh bisa lupa?” Jarni bertanya dan sedikit mengejek.
“Ya, begitulah keadaannya, siapapun yang yang mengikuti semua mitos itu, akan selamat.”
“Musrik!” Ganding kesal.
“Terserah kalian, kalau ingin membantu silahkan, tapi saya mohon jangan membuat keributan apalagi membuat ‘dia’ marah. Kalian pasti diusir!”
“Yang mau bantu kok malah diusir, jadi kalian memihak Wangapuk!” Ganding sengaja meninggikan suara, Pak RT berlari masuk ke dalam rumah karena takut.
Jarni tertawa melihat kelakuan manusia, takut kok sama ruh, anak kecil lagi.
Jarni dan Ganding tahu sekarang mereka harus kemana, tapi pasti anak itu takkan menunjukkan batang hidungnya, mereka harus memastikan, anak ini benar jiwa tersesat atau hanya jin yang menumpang nama.
Dalam catatan bapak sih, belum dijelaskan karena bapak belum menyelidikinya, dalam buku, bapak hanya mendata semua tempat yang diganggu ruh jahat.
Jarni dan Ganding hendak naik tempat itu, hanya memastikan energi di sana, menyesuaikan agar ruh itu tidak keburu takut melihat mereka.