Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 278 : HIlang 3


Diah sudah menunggu cukup malam hingga waktu semakin gelap, utusan datang, meminta dayang-dayang Diah untuk membuka pintu. Diah telah berdandan sangat cantik, dia yakin itu adalah Prabu Adi Barang.


Saat pintu dibuka, betapa terkejutnya Diah, karena yang masuk adalah Dorapala Maharatu Dahlia atau Permaisuri Dahlia, Diah bingung kenapa pengawal tertinggi Ratu ada di sini.


“Menunduklah, aku akan membacakan titah Permaisuri untukmu.”


Selir Diah bingung, titah apa yang hendak disampaikan, sehingga dia tidak segera bersujud, karena titah Permaisuri sama dengan kedatangan Permaisuri. Maka itu Dorapala lainnya segera menundukkan dia dengan paksa.


“Apa-apaan kalian, aku adalah Selir Maharaja, janganlah kalian seenaknya!” Diah terlihat sangat marah, dia juga adalah bangsawan, tangan-tangan lelaki tidak diizinkan untuk menyentuhnya, karena begitu menjadi milik Prabu, maka hanya Prabulah yang berhak menyentuhnya.


“Permaisuri Dahlia memberi titah untuk menyidangmu pada persidangan rumah tangga kerajaan.”


“Apa maksudmu aku harus menghadiri persidangan rumah tangga kerajaan? Lalu kenapa selarut ini?!” Diah semakin bingung dan mulai khawatir.


“Mau tidak mau, kau harus ikut, ingin jalan sendiri atau diseret?” Dorapala terlihat tidak perduli dengan teriakan sang selir muda yang bahkan belum pernah disentuh.


Diah merasa tidak punya pilihan, daripada diseret dan menjadi tontonan pendopo Selir, dia akhirnya bersedia jalan menuju persidangan, ternyata ruang sidang diadakan di aula kerajaan, tempat yang sangat besar dan hanya dihadiri oleh Permaisuri beserta semua dayang-dayangnya, tak ada Prabu Adi Barang di sini.


“Yang Mulia Permaisuri kenapa aku ....” Selir Diah begitu memasuki ruangan langsung berlari dan berkata tanpa sopan, sehingga Dorapala akhirnya menarik Selir dan menyujudkannya, menekan kepalanya dengan tangan agar bersujud kepada Permaisuri,


“Apakah kau sudah kehilangan akal wahai adik selir baru? Sehingga berani sekali kau memperlihatkan wajahmu padaku?” Permaisuri sungguh tidak menyembunyikan betapa muaknya dia pada kelakuan selir ini.


“Maafkan aku Permaisuri, aku hanya terkejut, kenapa aku dipanggil ke ruang sidang rumah tangga kerajaan ini pada larut malam.”


“Kau tidak hapal pada kitab undang-undang rumah tangga kerajaan? Bukankah sebelum menjadi selir kau diharuskan untuk menghapal kitab undang-undang rumah tangga kerajaan? Kukira kau cukup handal, tetapi aku berharap terlalu tinggi padamu.” Permaisuri mengejek selir sombong itu.


“Selir Daiah, kau telah tertangkap basah menggunakan sihir pada Prabu, untuk itu Permaisuri dititahkan oleh Prabu sendiri untuk mendidikmu agar tidak melakukan prakter ilmu sihir di kerajaan ini!” Dorapala membacakan kesalahan selir.


“Ini adalah sidang darurat ketiga, kau tahu, selama pemerintahanku, hanya baru tiga kali rumah tangga kerajaan pernah mengadakan sidang darurat karena kesalahan selir, untuk itu, aku akan tetap mengikuti kitab undang-undang kerajaan, bahwa setiap selir yang melakukan praktek ilmu sihir harus dipisahkan dari raja untuk waktu yang tidak tentu.” Selir merasa menang, belum juga bertarung, anak kecil ini sudah kalah telak.


“Yang Mulia Permaisuri hamba memohon, untuk keadilan yang juga termaktub dalam kitab undang-undang rumah tangga kerajaan, bahwa setiap terdakwa, berhak atas pembelaan dan juga berhak meminta bukti sebagai penguat tuduhan.” Selir Diah melawan sampai akhir. Padahal yang telah memberi titah adalah Prabu sendiri, tapi dia masih bersilat lidah atas undang-undang kerajaan.


“Prabu sendiri yang memintaku untuk menertibkanmu, mendidikmu dan mungkin menghukummu, maka apa yang lebih tinggi dari titah raja?”


“Wahai permaisuri yang agung, yang disertakan doa panjang umur, yang diharapkan sehar selalu, aku memohon pengampunan dan juga memohon uluran tangan untuk keadilan, hamba selir muda yang penuh kesalahan ini berharap permaisuri mampu bersikap adil, karena aku menolak setiap tuduhan, aku menuntuk baginda Prabu untuk memberikan bukti bahwa kau memang telah melakukan sihir.” Selir Diah tersenyum dengan licik, dia berani mempertanyakan titah raja, dia benar-benar cari masalah.


Permaisuri terdiam, dia sangat marah tapi tahu, anak kecil ini cukup pintar dan licin seperti ular.


“Baiklah, maka apa yang kau katakan akan aku sampaikan, seperti yang kau inginkan, kau akan bertemu dengan paduka Prabu untuk memberikan bukti atas kesalahanmu.” Permaisuri tahu bahwa incaran anak kecil ini adalah bertemu dengan suami mereka, tapi permaisuri juga tahu, bahwa Prabu takkan pernah berpaling pada gadis kecil ini.”


Selir Diah untuk sementara waktu harus berdiam di dalam kamarnya, tidak diperkenankan untuk ke luar, ketika harus ke kamar kecil, maka dayangnya harus turu serta masuk ke dalam kamar mandi, dia benar-benar dalam pengawasan ketat.


Seperti yang keluarganya katakan, bahwa ketika dia ketahuan, maka Diah tak memiliki apapun selain kemampuannya untuk menggoda Prabu, karena dia sudah memperhitungkan hal ini dengan matang, walau sidang darurat bukan bagian rencananya.


Satu bulan Diah berdiam di dalam kamar, menunggu Prabu datang untuk memberikan bukti hingga bisa membuatnya mengaku, begitu mengakui perbuatannya, makan permaisuri berhak untuk mendidiknya, yang paling ringan adalah hukum rotan sebanyak seratus pukulan, sedang yang terburuk adalah dipisahkan dari Prabu selamanya.


Maka pertemuan Selir Diah dengan Prabu kali ini tidak boleh gagal dan harus pada tujuan awalnya, menaklukan sang raja.


Senja datang, Prabu Adi Barang datang, pintu dibuka, Diah telah merias dirinya sangat cantik, meminta wewangian untuk tubuh dan juga ruangannya, wangi mawar yang sangat semerbak, Prabu duduk di hadapan Diah tanpa Dorapala, tanpa pengawal tertingginya.


“Kau meminta bukti padaku wajah gadis muda?” Prabu bertanya, telah tersaji minuman hangat dihadapannya, makanan kesukaan raja dan juga tempat tidur yang sudah dipersiapkan dengan sangat indah. Diah berharap pergumulan yang hebat sepertinya, setelah senja menjadi harapan bagi Diah.


“Yang Mulia Maharaja Adi Barang, hamba hanya mencari alasan agar yang mulia bisa bertemu dengan hamba, maafkan hamba yang begitu lancang ini.” Diah bersujud.


“Kau ini masih sangat muda dan cantik,tidak seharusnya kau mengamalkan ilmu-ilmu seperti itu, perlahan ilmu sihir akan menjadi ilmu hitam. Kau tahu kan, ilmu hitam bisa membuatmua dipenggal di sini.” Prabu meminum minuman hangatnya, sudah pasti minuman itu telah diperiksa dulu sebelumnya hingga aman diminum oleh Prabu.


“Aku tidak akan keberatan jika akhirnya hamba harus terpenggal, selama sebelumnya bisa menyicipi sedikit saja rasanya disentuh oleh suamiku, raja negeri ini.”


Prabu terdiam, bahkan tangannya batal mengambil kue basah yang dihidangkan untuknya.


“Kau ini sangat licik rupanya, tidak mau mengakui rajah kalacakra dan memaksaku datang ke sini, apa benar ini hanya karena gejolak mudamu?”


Diah tidak bisa membantahnya, dia melihat prabu untuk pertama kalinya, pada saat Prabu berkeliling desa untuk melihat keadaan sekitar dengan tandu kerajaan, Diah melihat betapa tampannya Prabu, beta berwibawanya dia dan sudah pasti,betapa kayanya lelaki ini.


Seketika tak ada satupun pria yang mampu menandinginya, Diah akhirnya mulai mencari cara, bagaimana caranya menjadi Selir, termasuk belajar sihir untk melindungi dirinya.


“Wahai yang mulia Raja, bukankah kau tahu, bahwa rajah kalacakra adalah doa untuk kebaikan bagi yang dibacakan?”


“Kau pikir aku bodoh dan mudah terbodohi, tidak tahu rajah kalacakra mampu memujudkan keinginanmu.”


“Betul sekali Yang Mulia Raja, bahwa aku meminta permohonan pada rajah kalacakra, aku meminta kesehatan, keberkahan dari Tuhan serta panjang umur bagi suamiku, apakah aku salah Prabu, wahai suamiku tercinta.” Diah telah menancapkan belati cinta pada hati Prabu, dia berusaha sebaik mungkin.


“Hati orang siapa yang tahu wahai selir muda, kau katakan menginginkan kesehatanku, bagaimana jika kau meminta sebaliknya?”


“Tidak akan pernah dalam hidupku meminta hal semacam itu, karena aku datang ke kerajaan ini, kehadapanmu hanya untuk satu tujuan, aku ingin bertemu dengan cintaku.”


“Apapun yang mulia, bahkan jika hidupku dipertaruhkan.”


“Tidak sejauh itu, aku hanya ingin kau belajar, bahwa semua ada aturannya, kau tidak boleh melangkahi, setiap istriku adalah budak dari ratuku, maka dari itu, menunduklah seperti budak.”


Prabu Adi Barang lalu meminta Dorapala untuk membuka pintu, sementara Diah terlihat sangat kecewa, dirinya kembali lagi tidak disentuh oleh Prabu, dia sudah melakukan segala upaya, tapi apa daya, ORabu begitu mencintai istrinya, maka yang harus Diah lakukan adalah melangkahi Dahlia dulu, jika Dahlia tidak ada, maka dia bisa saja mendapatkan raja.


...


Malam semakin larut, Dahlia melihat keadaan di luar, dinginnya malam tidak mengurungkan niat Dahlia untuk ke tempat itu, makam keramat yang berada di belakang kerajaan.


Di makam itu, sudah dia taruh sebuah jimat keluarga, di mana jimat itu mampu menarik jin untuk datang mendekatinya, karena jimat itu berbau harum, yaitu dibuat dari darah janin yang berusia belum genap empat bulan, jimat itu berbentuk seperti batu, tapi baunya begitu menyengat, hanya jin dengan ilmu tinggi yang mampu mencium wanginya dan mungkin ingin menjadikannya tempat tinggal.


Diah memang memiliki ilmu beladiri, dia telah mengganti pakaiannya menjadi pakaian dayang, sehingga bisa berlari bebas asal tidak menunjukan wajah, dalam hitungan sepuluh menit, dia sudah berada di belakang kerajaan, dekat ke arah hutan, di sanalah kuburan keramat berada.


Jimat itu dikubur di dekat kuburan yang katanya paling angker, kuburan yang sudah terawat lagi, katanya ini adalah kuburan milik ratu yang tidak budiman, ratu itu memimpin negeri ini tanpa suami, dia adalah anak dari raja yang berkuasa sebelumnya, ratu itu tidak menikah karena katanya dia perlu melakukan tirakat seumur hidupnya agar negeri ini aman dan tentram, memiliki suami dan anak membuat dirinya tidak suci lagi.


Padahal dia hanyalah ratu yang sangat cinta dengan kekuasaan, kerajaannya digulingkan karena kudeta oleh sepupunya sendiri, ayah dari Prabu Adi Barang, Maharaja sebelumnya, setelah kudeta berhasil, sang ratu dieksekusi di tengah lapangan lalu dikubur dan kuburannya tidak dirawat sama sekali, ratu fasik itu tidak lagi diingat.


Maka dikuburan inilah keluarga Diah menaruh jimatnya.


Diah menggali jimat itu dengan tangannya, dia sudah sangat terlatih, Diah bukan selir biasa, dia juga tidak menginginkan kekuasaan, dia hanya ingin raja menjadi suaminya, itu saja. Dia bahkan tidak peduli dengan status.


“Wahai Ratu Harum Amanasih, Ratu jin atas kerajaan Nagaramanik Jaya, engkau yang begitu mulia, dengan kecantikan dan kekuasaan yang membuat siapapun tunduk, aku memanggilmu, ini adalah persembahanku.”


Diah menaruh batu jimat dari janin bayi itu atas kuburan itu, karena konon katanya, ratu yang telah bersemayam dikuburan ini, memuja ratu jin Harum Amanasih untuk menjadikannya ratu yang ditakuti. Salah satu perjanjian antara ratu terdahulu kerajaan Galih Barang Adijaya ini dengan Ratu Harum Amanasih, ratu jin yang terkenal mampu menundukkan apapun itu adalah tidak menikah dan mengabdi selamanya.


Angin dingin berhembus, tapi itu hal biasa karena ini malam hari, tentu angin dingin biasa hadir di tempat terbuka seperti itu.


Suasana kuburan terasa sangat sepi dan membuat bulu kuduk merinding, sesekali Diah melihat mahluk halus lewat tanpa peduli dengan ritual diah.


Diah mengulang memanggil lagi Ratu Amanasih, tapi masih saja tidak ada jawaban. Diah sangat kecewa, karena ini sungguh jalan terakhirnya untuk mendapatkan hati kekasihnya.


Diah terdiam duduk di samping makam, saat dia duduk.


Ada suara terseret dari jauh, suara itu seperti ada seseorang yang berjalan dengan kaki diseret, bunyiany ... srek ... srek ... srek.


Semakin lama, suara itu semakin keras, selain suara seretan kaki, ada suara suling yang terdengar, lagu khas kerajaan sunda, lagu itu mengiringi seretan kaki dengan suara yang mistis, suara lolongan binatang tiba-tiba terdengar.


Diah terdiam, udara semakin dingin, angin bertiup semakin kencang, semakin dekat seretan kaki itu, semakin kencang pula angin bertiup dan suara suling semakin terdengar.


Perlahan Diah melihal seorang wanita yang sangat amat cantik, jalan dengan kaki diseret. Dia mengenakan baju berwarna merah, dari kejauhan bajunya seperti darah, darah yang menyelimuti tubuh wanita itu.


Setelah sudah sangat dekat, Diah melihat wanita itu menyeringai. Seluruh giginya adalah tering, wajah cantik itu jadi mengerikan karena seringai, dalam satu waktu Diah merasakan perasan aneh, pertama, dia merasakan takut, tapi juga kagum, karena kecantikan itu terpancar sangat jelas.


“Kau takut? lalu kenapa kau memanggilku?” Ratu Harum Amanasih bertanya, suaranya serak, seperti nenek-nenek, walau wajahnya sangat cantik, tapi suaranya benar-benar seperti nenek-nenek.


“Ratu Amanasih, hamba memohon karuniamu, hamba memohon kecantikan dan juga kebijaksanaan milik ratu jin darimu, aku memohon padamu.”


“Apa perjanjiannya? Permintaanmu sangat berat.”


“Apa yang kau inginkan?” Diah menantang kembali, karena dia memang tidak merasa memiliki apapun selain cintanya, maka apapun yang dia punya akan dia berikan.


“Aku ingin seluruh hidupmu, anak-anakmu, cucu-cucumu, lalu cucu-cucumu kelak.”


“Maka itu yang akan kau dapatkan.” Diah tidak sedikitpun ragu.


“Maka mereka akan menderita akibat perbuatanmu.” Ratu Amanasih memastikan.


“Aku tidak peduli, selama Prabu Adi Barang menjadi milikku.”


“Buka seluruh baju yang melekat pada dirimu, berlarilah mengelilingi kuburan ini tanpa busana, biarkan apapun yang mengenaimu membuat tubuhmu luka, aku suka darah yang mengalir dari tubuh dengan jiwa kotor sepertimu.” Ratu Amanasih mengujinya.


Diah menanggalkan seluruh bajunya, pertanda betapa buruknya perilaku manusia, betapa tak ada malu baginya berlaku demikian.


Diah berlari mengelilingi kuburan tanpa busana satu helaipun, dia membiarkan apapun menyakiti tubuhnya, darah menetes, setiap tetesan menjadi tanda, tanda yang membentuk lingkaran, Ratu Amanasih menjadikan lingkaran tersebut adalah altar pemujaannya, kelak, Diah akan sangat menyesal telah melakukan ini semua hanya karena Prabu yang tidak mencintainya.


_________________________________


Catatan Penulis :


Ada yang ingat Ratu Harum Amanasih? Cari sendiri ah, aku nggak mau kasih contekan, emang ini ujian sekolah.


Selamat membaca, terima kasih.