Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 454 : Kamboja 16


“Kau lihat Dino sedang apa?”


“Dino ... dia sedang berbicara.”


“Dengan siapa?” Psikiater itu bertanya lagi.


“Dengan ... bayangan hitam yang pekat.”


“Kau yakin?”


“Ya.”


“Coba perhatikan lagi.” Dokter itu meminta Pak Arif untuk lebih fokus lagi.


“Sosok hitam itu pekat.”


“Kau harus melihatnya lebih tajam lagi, perhatikan sekali lagi.” Dokter itu memaksa.


“Baiklah, aku akan mendekatinya.” Pak Arif memaksakan diri mendekati Sardino, walau malam itu tidak seperti itu, tapi dia mencoba mendekati ingatannya dan ....


“Dia seorang wanita! dia berkerudung hitam dan ... sangat cantik namun mengerikan!”


Setelah mendapatkan deskripsinya, kawanan langsung kembali ke markas ghaib dan Pak Arif mengakhiri sesi, dia harus istirahat karena terapi barusan sungguh sangat menguras tenaganya, kawanan menggunakan jalan pintas untuk membuatnya bisa melihat lagi.


“Bawakan aku foto yang pernah kau tunjukkan itu Har.” Aditia berkata, dia ingat suatu hal.


Mereka sudah di markas dan memulai diskusi dari informasi Pak Arif di ruang tamu.


Hartino masuk ke ruang kerjanya di markas ghaib itu dan keluar lagi membawa foto yang Aditia maksud.


Foto dengan tumpukan mayat itu, ada satu hal yang luput dari penglihatan kawanan.


“Bisakah kau memperbesar bagian ini?” Aditia menunjuk satu posisi di antara tumpukan mayat itu.


“Ini sangat buram, tapi aku akan coba memperbesar foto ini lalu memperbaiki kualitasnya dengan software khusus yang dirancang untuk memperbaiki foto dengan kualitas rendah, tapi mungkin butuh waktu Dit, karena aku harus mengeditnya dengan software itu.”


“Gunakan waktu sebaik mungkin Har, aku butuh cepat, maaf aku memaksa.” Aditia tahu itu sulit, tapi dia butuh Hartino memaksa kemampuannya untuk segera menyelamatkan Ganding dan Jarni dari terowongan itu.


Hartino segera masuk ke ruang kerjanya dan melaksanakan perintah dari pemimpin kawanan.


“Alisha aku butuh kau ikut bersamaku ke terowongan itu lagi, ada satu hal yang mesti aku pastikan.” Aditia meminta Alisha ikut.


“Aku juga ikut.” Alka tahu Aditia sengaja hanya mengajak Alisha, karena masih khawatir kalau Alka akan memaksa untuk bertarun padahal keadaannya belum pulih.


“Aku ingin kau di sini bersama Hartino, kabari aku apapun yang dia dapatkan.”


“Tapi ....”


“Aku mohon, mengertilah, kalau kau celaka, aku tidak punya apa-apa lagi untuk hidup, ingat aku hanya punya adik dan ibuku, kalau aku tidak dapat hidup dengan baik, bagaimana mereka? aku mohon, mengertilah.” Aditia berusaha menyakinkan Alka untuk tetap berada di markas ghaib, seolah lupa bahwa kematian milik Tuhan, menjaga dengan ketat belum tentu lolos dari kematian dan melonggarkan penjagaan juga belum tentu celaka. Cinta yang membuat orang selalu lemah dan terjebak dengan rasa takut.


“Aku akan berada di sini, aku akan bersama Hartino. Alisha maaf aku tidak bisa menemani kalian.”


“Ka, tenang saja, kau tahu kan, Aditia membawaku karena Rangda yang ada di dalam tubuhku, tenanglah, kami akan baik-baik saja, kalau dia gegabah aku akan mengingatkannya.”


“Aku lebih tidak percaya, karena kalian berdua adalah dua orang nekat tanpa perhitungan, walau kau sedikit lebih cerdas. Tapi yasudahlah! Aku bisa apa, pokoknya kalian juga tidak boleh berhenti berkabar ya!” Alka memperingatkan agar mereka tidak hilang kabar.


“Iya aku janji.” Aditia yang menjawab, padahal Alka sedang berbicara dengan Alisha.


“Kalau aku kehilangan kabar dari kalian, aku akan menyusul dan tidak peduli lagi dengan rasa khawatirmu, mengerti!” Alka masih penuh dengan persyaratan.


“Iya!” Aditia dan Alisha menjawab dengan serempak dan kesal.


Pergilah mereka ke terowongan itu lagi, hari masih sore, mereka menggunakan angkot jemputan untuk ke sana, Aditia hanya tak ingin ada korban lagi, tapi ada satu yang janggal dan ingin dia pastikan.


Setelah berkendara, akhirnya mereka sampai.


“Kau mau apa di sini?” Alisha tidak tahu tujuan Aditia ke tempat ini, dia hanya ikut saja, seperti biasa, perintah pemimpin segalanya.


“Kau tidak heran, kenapa saat aku dan Alka yang berjaga, dia tidak memperlakukan kami seperti dia memperlakukan Jarni dan Ganding? Bahkan mobil mereka sampai penyok bagian atasnya.”


“Kan mungkin dia tahu kemampuan Jarni dan Ganding tidak setinggi kau.” Alisha kesal karena Aditia terdengar pamer.


“Tidak! kalau tebakanku benar, dia bersembunyi dariku, kau harus memberikan 2 persen sahammu untukku ya, diperusahaan bapakmu.”


“Kau ini rentenir atau lintah darat! Taruhan kok pakai saham! 3 persen, saham di perusahaan keluargaku dan sahammu di perusahaan kalian, deal!” Alisha menantang.


“Baiklah, apa aku sudah bisa mengunci jawabanmu?”


“Ya, aku yakin dia merasakan energimu dan Alka sangat tinggi, makanya dia tidak menyerang kalian tapi malah mengelabui kalian, menurutku tak ada jawaban lain.”


“Tidak, pikirku, dia menyembunyikan dirinya dariku dan Alka, kemungkinan dia adalah seseorang yang kami kenal.”


“Tapi kalau pun dia seseorang yang kalian kenal, lalu dengan menangkap Jarni dan Ganding bukankah itu sebuah kebodohan karena bisa membuat kalian semakin ingin membunuhnya?” Alisha mencoba berdebat karena tidak masuk akal.


“Maka kita harus menunggu foto dari Hartino untuk mengetahui objek yang hendak aku lihat.”


“Baiklah.”


Mereka berdua hanya seperti biasa menunggu saja, sementara Hartino terus mencoba memperbaiki kualitas foto itu dan Alka ada di ruang perpustakaan, di mana kitab kasus di taruh di sana, Alka terus membaca dengan petunjuk wanita berkerudung hitam dan kamboja.


Dia terus mencari, tapi tak kunjung menemukan petunjuk.


Semua orang terus mencari cara untuk bisa masuk ke sana. Sementara di kejauhan, istri dari tukang ojek itu masih menunggu suaminya yang dirawat, kali ini anaknya masih dititipkan ke orang tuanya, sedang mertuanya bergantian menjaga anaknya, menemani menantunya.


Istrinya terus membisiki kata penyemangat agar suaminya bertahan dan tidak lagi kritis seperti sebelumnya.


Istrinya lalu hendak ke kamar mandi sebentar, karena dia ingin buang air kecil, dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit, suasana sore hari menjelang maghrib memang selalu sepi, ada pengunjung yang sudah pulang dan pegawai yang bersiap solat.


Zubaedah terus berjalan hingga masuk ke kamar mandi, dia menunaikan urusannya di salah satu bilik rumah sakit, total ada 6 bilik di kamar mandi itu.


Sudah selesai, dia keluar dari bilik kamar mandi dan berniat mencuci tangan di wastafel, wastafelnya tak terlalu besar dan ada kaca di sana.


Saat dia tidak sengaja melamun ketika sedang mencuci tangan, samar dia mendengar suara ....


“Dah ....”


Edah merinding, karena suara itu tepat di belakangnya, suara yang sangat dia kenal.


“Mas ....” Zubaedah mencoba memanggil, tubuhnya tetap menghadap kaca, walau takut, tapi kalau itu benar suaminya, dia ingin suaminya segera sadar.


“Sakit Dah ... sakit, aku nggak kuat.” Edah melihat pada pantulan kaca, suaminya ada di belakang tubuhnya.


Wajah suaminya begitu pucat dan seperti kesakitan.


“Sakit apanya Mas?” Edah bertanya lagi.


“Sakit Dah ... sakit!” Suaminya tiba-tiba meninggikan suara.


Zubaedah menutup kupingnya karena suara itu sungguh menyakitkan telinganya, setelah suara hilang Zubaedah terdiam, tatapannya kosong, dia berjalan keluar kamar mandi dengan tatapan yang lurus saja ke depan, akrean sepi dan semua orang yang melihatnya pun sibuk dengan urusan masing-masing, maka tak ada yang sadar dengan kondisi Edah yang mungkin tidak baik-baik saja.


Sampai di ruang ICU, Zubaedah melihat suaminya dengan tatapan datar, dia mendekat ke ranjang itu, melihat suaminya dengan tanpa perasaan, lalu ....


Dia melepas satu persatu alat penunjang kehidupan suaminya, mulai dari alat bantu pernafasan, alat deteksi jantung dan alat-alat lain yang terpasang, setelah itu dia melihat suaminya sekarat perlahan-lahan.


Seorang perawat hendak masuk karena sadar kalau keadaan Dino sekarat, tapi sayang, dia tak bisa masuk, Zubaedah menahan pintunya agar tidak bisa dibuka dari luat dengan bangku. Dia menahan agar gagang pintu itu tidak bisa digerakkan.


Zubaedah menatap suaminya dengan tatapan kosong, tak ada tangis, tak ada rasa takut atau khawatir, dia hanya tersenyum dan berkata ... “Aku akan kembali.”


Setelah itu Zubaedah jatuh, dia pingsan tak sadarkan diri.


...


“Har, kau sudah selesai?” Alka masuk ke ruang kerja Hartino.”


“Sedikit lagi kak.”


“Kau tahu kenapa Aditia ingin melihat objek itu?” Alka bertanya.


“Entahlah, aku tak punya bayangan, hanya Ganding yang biasanya pandai menebak, Kak.” Mereka ingat lagi kalau anggota kawanan jiwanya sedang ditahan.


Hartino masih sibuk mengedit foto itu dan membersihkan setiap senti dari foto itu agar objek yang hendak Aditia lihat bisa jernih dan terlihat.


“Apa mungkin Aditia sudah punya jawaban? Kalau sudah punya jawaban, trus apakah itu bisa membantu kita untuk masuk?”


“Mungkin bisa kak, kan kalau kita tahu pelakunya, kita bisa cari cara yang tepat untuk menanganinya.” Hartino asal jawab.


“Kau tumben pintar, jangan-jangan jiwa Ganding yang tahan dan masuk ke jiwamu!” Alka tertawa.


Hartino terdiam.


“Aku rindu Ganding, dia takkan kenapa-kenapa kan, Kak?” Hartino meneteskan air mata.


“Takkan terjadi apa-apa pada adik-adikku, kita harus yakin itu.” Alka memeluk Hartino, dia adalah adik kecil yang suka sok kuat, saat merasa sangat sedih, dia akan menangis hanya di hadapan kakaknya, bahkan di hadapan istrinya dia tidak mau. Dia hanya bersedia kelihatan lemah di hadapan Alka saja.


“Kak, ini hampir selesai.” Hartino berkata dengan senang, hari sudah mulai malam.


Alka melihatnya dan tersadar!


“Tuhan! Wanita ini!” Alka berteriak dan baru teringat.


“Kenapa Kak?” Hartino terkejut Alka terlihat kenal dengan wanita ini.


“Coba kau perbesar lagi, sedikit lagi, aku hanya ingin memastikannya.”


Hartino perlahan memperbesar lagi foto itu di layar komputernya, semakin diperbesar semakin Alka yakin.


“Aku harus menelpon Aditia, kau kirim foto itu pada Aditia dan Alisha, mereka harus melihatnya.”


“Baik kak.” Sementara Alka menelpon Aditia, Hartino mengirim fotonya.


Tak lama Aditia menjawab telepon itu.


[Kenapa Ka?] Aditia bertanya di sebrang sana.


[Kau lihat foto yang baru saja dikirim oleh Hartino di HP Alisha.] Alka memerintahkan dan Alisha paham lalu memperlihatkan foto itu.


[Apa kubilang!] Aditia paham maksud Alka.


[Dit, perempuan itu adalah ....]


_________________________________


Catatan Penulis :


Kemarin aku bilang ada yang nebak benar, nanti di part akhir akan aku kasih tahu akun dan jawabannya ya, aku mau kasih hadiah buat akun yang udah bener itu, tapi part akhir masih jauh.