Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 500 : Mulyana 5


“Kau tidak percaya padaku?” Drabya kesal anaknya mengira dia hanya memuji kosong belaka.


“Sekarang kau akan bertarung menggunakan keris itu dengan binatang ghaib, tenang saja, ilmu bela diri bagi Kharisma Jagat adalah naluri alami, maka yang harus kau latih adalah, keberanian.”


Tiba-tiba muncul seekor singa yang sangat gagah, singa itu adalah taklukan Drabya dari daerah ayng cukup terkenal kleniknya, singat itu adalah jin yang dibuang tuannya karena sangat liar dan sulit ditaklukkan, tapi mudah bagi Drabya yang menguasai mantra pengasihan.


Mereka semua menjauh, kecuali Mulyana, dia harus menghadapi singa itu, tubuhnya gemetar, dalam hatinya, dia tak percaya kalau keris sekecil ini, mampu mengalahkan singa sebesar itu.


Singa itu lalu mulai menyerang, Mulyana yang tadinya tegak memegang keris mini, berlari berputar, karena tiba-tiba ayahnya menghilang, dia berlari berputar agar terhindar dari singa. Bagaimana tidak, untuk menghindar dari singa asli saja sulit karena tubuh dan suaranya yang besar, sekarang dia harus menghadapi makhluk ghaib yang tentu tubuh dan suaranya jauh lebih besar. Anak tujuh tahun mana yang tidak takut?


“Ayah tolong ayah! tolong! Kakak tolong kakak!!!” Mulyana berteriak pada ayah dan kakaknya agar ditolong, tapi tak ada jawaban, sepi dan dia harus menghadapi sendiri singat ini, dia juga tidak bisa berlari selain berputar, entah kenapa setiap dia berlari lurus dan hendak keluar dari arena, tubuhnya mental dan harus kembali ke arena.


Singa itu terus mengejarnya, Mulyana menangis hingga akhirnya dia kelelahan dan terjatuh, tepat saat dia terjatuh, singa itu juga bersiap menerkamnya, Mulyana menutup mata dan … Singanya hilang tepat sebelum menerkam tubuh kecil Mulyana.


Ayah dan kakaknya masuk ke arena, ternyata selama ini mereka ada di luar arena, ayahnya sengaja memagari arena agar Mulyana tidak keluar dari sana dan terus saja berlari memutar.


“Besok kita akan mengulang lagi latihan ini.” Ayahnya lalu berbalik, Aep menarik tubuh adiknya yang jatuh, Mulyana melihat raut kecewa dari ayahnya, dia bingung, apa yang harus dilakukan? Apakah dia bisa mengalahkan singat sebesar itu dengan keris mini ini?


Keris mini telah hilang dari tangannya tanpa Mulyana sadari, dia dan yang lain kembali ke rumah.


Mulyana dan Aep telah tidur di kamar yang sama lagi.


“Kak, ayah pasti kecewa padaku bukan? apa yang harus aku lakukan dengan keris mini dan singa itu?”


“Aku tidak tahu, tapi … ayah tidak melatihku sekeras itu, aku memang dulu saat seumurmu sering berlatih, tapi tidak seberat kau, aku tahu gudang ghaib itu, aku juga selalu didampingi saat latihan, lalu tahu hutan larangan itu, tapi ayah selalu damping, aku juga tidak tahu caranya menghadapi singa itu, aku bahkan belum pernah menghadapinya, maaf Dik.”


“Kenapa ayah begitu jahat padaku?” Mulyana menangis dan membenamkan wajahnya ke dalam bantal.


“Aku tidak tahu Dik, tapi … kau harus sabar dan kuat, aku takkan pernah meninggalkanmu.” Aep memang kakak terbaik yang pernah Mulyana miliki, tapi kan dia memang hanya punya satu kakak saja.


Mereka berdua lalu terlelap dalam gelap malam dan rasa takut akan hari esok.


Hari-hari selanjutnya Mulyana terus dikejar singa, dia terus berlari dan tak mampu untuk melawan, karena dalam hatinya dia tak percaya bisa mengalahkan makhluk ghaib sebesar itu, tubuh singa itu bahkan berkali-kali lipat lebih besar dari tubuhnya.


Tujuh hari sudah dia terus berjibaku dengan singa ghaib itu, tubuh kecilnya kelelahan.


“Hari ini, hari terakhir kau memegang keris itu, besok kau akan bertarung tanpa senjata.” Mereka masih di Arena, ayahnya memberi ultimatum.


“Tapi Yah, tanpa senjata saja aku lari terus, lalu gimana aku melawan kalau tanpa senjata?” Mulyana terlihat sangat keberatan dengan permintaan ayahnya.


“Kau tidak melawan, kau hanya berlari terus, lawanlah! Untuk apa keris itu kau pegang saja!”


“Baik, baik! Aku akan melawan dengan kerisnya, tapi kalau aku melawan dengan keris itu lalu kalah, bagaimana? Berarti aku tidak punya kesempatan untuk menghindar atau lari, karena jawak kami yang sangat dekat.” Mulyana ternyata selama ini tak hanya berlari dalam keadaan tanpa berpikir, dia memang pandai perhitungan, dia selalu merasa tak ada peluang jika saja dia berbalik dan mencoba menusuk memakai keris, karena untuk melawan singa itu dia akan memperpendek jarak antara mereka berdua.


Dengan jarak yang pendek, jika keris itu tidak bisa mengalahkannya, maka tak ada kesempatan lagi untuk berlari, dengan begitu, habislah dia.


“Kau ini anak pintar, tapi dalam ilmu ghaib, percayalah, taka da hitungan yang mampu merumuskannya. Ambil resiko, kalau kalah, kau tidak akan mati.”


“Kenapa aku tidak akan mati, katanya di dunia ini Tuhan yang aturkan kematian, kalau ternyata aku mati gimana?”


“Memang Tuhan yang aturkan, tapi selama ada aku didekatmu, kau hanya akan babak belur saja.”


“Baiklah, kasih aku kesempatan untuk mengambil resiko ayah.” Apa kalian merasa Mulyana dan Aep terlalu terlihat dan terdengar dewasa saat berbicara, maka kalian harus ingat ini, aku menulisnya berkali-kali, tentang anak-anak yang terlahir indigo atau memiliki berkah bisa menyentuh dunia ghaib, mereka akan dewasa lebih cepat dibanding yang lain, karena pengalaman mereka lebih berat pada anak seumurnya. Itu yang mendewasakan mereka.


“Satu kali lagi, aku akan memberimu kesempatan hanya satu kali saja. Satu kali ini, akan kubukakan arenanya, sekarang. Kalau kau masih sama saja, aku akan terus melatihmu bisa menghadapi singa itu, tanpa senjata, bagaimana?”


“Yan, coba sekali saja melawan ya, kan kakak udah bilang, kalau kita hanya harus berani saja.”


“Apa aku akan baik-baik saja?”


“Tidak, tentu saja tidak, kau tahu kan, dalam dunia ghaib, tidak baik-baik saja adalah hal yang harus diterima.”


“Kak!” Mulyana kesal karena tidak bisa mendapatkan rasa tenang dari keduanya. Baik kakak ataupun ayahnya.


“Cepat, kau mau besok bertarung tanpa senjata?” Drabya memaksa.


“Baiklah, tapi kalau aku kenapa-kenapa ayah yang tanggung jawab!”


“Memang siapa lagi yang akan bertanggung jawab padamu selain aku?” Drabya bingung dengan permintaan anaknya.


“Baiklah, sekarang aku terpaksa siap, ayah.” Anak tujuh tahun itu fokus, dia memegang senjata lalu mulai bersiap, ayahnya membuka kembali arena, setelah arena dibuka, hanya Mulyana dan singa itu saja yang terlihat.


Mulyana bersiap, dia pertama berlari, singa yang sangat besar itu mengejar, terus mengejar, dia masih saja menggunakan cara lama untuk menghadapi singa itu, caranya adalah, dengan berlari, dia terus berpikir, menghitung ulang dan ... tiba-tiba dia berhenti, singa itu masih memiliki jarak yang tak terlalu jauh, hingga akhirnya jarak mereka sudah dekat, Mulyana berhadapan dengannya, dia menghunuskan keris itu, singa masih terus mengejar, hingga singa bersiap menerkamnya, maka terlihatlah perut singa itu, dengan waktu yang sangat tepat, dia menghunuskan keris itu tepat di perut singa, seketika, perut itu robek oleh keris, karena singa tetap terus mencoba menerjang dan Mulyana dengan sekuat tenaga memegang keris itu, maka robekan pada perut singat semakin lebar dan akhirnya membuat singa terkapar dan menghilang, musnah seketika.


Arena menghilang, ayah dan kakaknya sudah muncul, Mulyana masih dalam keadaan memegang keris yang dia hunuskan, padahal target sudah musnah, Mulyana masih siaga dan tubuhnya bergetar.


“Sudah selesai, Dik. Kau berhasil menghujamkan keris itu di bagian paling lemah dan lihatlah, kau menang!” Kakaknya terlihat senang dan mencoba untuk membantu adiknya bangun.


“Tidak ada satupun yang sia-sia di dunia ini, karena apapun yang kau lakukan dengan berat dan konsisten, akan membuahkan hasil, karena pertarungan barusan, hanyalah latihan, pertarungan sesungguhnya adalah, ketika kau harus menghentikan mereka, di dunia ghaib.”


“Apa lagi itu, aku harus masih bertarung lagi?”


“Ingat ini Yan, Kharisma Jagat hidupnya adalah bertarung, maka kau harus siap, kita takkan pernah berhenti bertarung.”


“Aku lelah, bolehkah aku istirahat ayah?” Mulyana yang masih sangat kecil itu harus menanggung beban yang berat, tapi Mulyana masih terhitung beruntung, dia memulai semuanya saat berumur 7 tahun, sedang Aditia, harus memulai semuanya saat baru saja lahir, diculik oleh jin saat masih bayi, sungguh sesuatu yang jauh lebih berat.


...


“Kau sudah siap?” Ayahnya bertanya.


“Ya, ayah.” Mulyana bersiap, kali ini tidak ditemani kakaknya, karena kakaknya harus istirahat, akhir-akhir ini ibu selalu memaksa Aep untuk belajar dan belajar, katanya Aep harus masuk perguruan tinggi, mengingat tahun 60an itu, untuk masuk perguruan tinggi harus ujian yang cukup berat, walau tidak serumit persyaratan jaman sekarang, karena dulu faktor uang juga penting.


Mulyana tertidur, Drabya melakuakn ritual lagi dengan dikelilingi lilin, tidurnya Mulyana dalam ritual yang sudah dipersiapkan kembali, tubuhnya tak boleh terlalu lama dibiarkan menjadi terowongan bagi makhluk ghaib.


“Di sini lagi.” Mulyana tersadar sudah masuk dunia ghaib dalam tidurnya, dia lepas raga, jiwanyalah yang terbangun.


Ada begitu banyak makhluk ghaib yang mengincar untuk keluar dari dunianya dan bisa masuk ke dunia manusia lagi.


Abah terlihat kelelahan karena setiap malam harus menghalau semua makhluk itu.


Mulyana berbalik, di melihat semua makhluk belum sampai pada gerbang itu, mereka masih berlari di belakangnya, lalu dia berbalik, karena tadinya saat terbangun, dia membelakangi gerbang itu.


Setelah berbalik, Mulyana lalu berlari sekencang yang dia mampu, kecepatan larinya sudah meningkat, tidak heran, berhari-hari dia sudah berjibaku dengan singa untuk menghindarinya, setelah berlari cukup kencang, gerbang itu sudah terlihat, gerbang yang begitu megah dan ebrsinar, lalu dia melihat ada satu dua makhluk yang sudah menyusulnya, tapi belum sampai pada gerbang itu, Mulyana urung mempercepat langkahnya, karena menurut perhitungannya, makhluk itu akan sampai duluan karena jangkauan langkahnya lebih lebar dibanding dengan dirinya yang memiliki kaki pendek, kan baru 7 tahun.


Dia bukannya belari ke gerbang itu, tapi dia berlari ke arah makhluk itu dan menghujamkan kerisnya, makhluk itu musnah, lalu ada dua lagi makhluk, dia menghujam mereka dan ketika memastikan tak ada lagi yang mampu mengejarnya, dia berlari lagi, dia menggapai gerbangnya dan menutup gerbang itu, setelah di tutup, dia menggembok gerbangnya dengan sebuah ajian, ajian pengunci yang mantranya sudah dihapalkan, mantra yang membuat gerbang itu menjadi medan penghantar panas yang membuat jin-jin itu tidak mampu lagi memegangnya, sekali pegang, hanguslah mereka.


Setelah selesai mengucapkan mantra, dia melihat banyak jin yang terbakar karena berusaha memegang gerbang itu.


Dia berhasil menjalan misi pertama dari ayahnya, karena berkelahi dengan singa, bukanlah misi yang sesunggunya, itu hanya simulasi, untuk berlatih berlari dan menusuk pada area yang paling lemah, karena untuk jin, area yang paling lemah adalah bagian dadanya, di mana pusat jiwa itu berada.


Setelah menutup gerbangnya, dia berjalan menyusuri bagian dalam gerbang, tak lama kemudian dia keluar ke suatu tempat, ada ayahnya di sana, “Ayah!” Mulyana berteriak, memanggil ayahnya.


Drabya melihat Aditia lalu tersenyum, begitu juga dengan abah, Mulyana akan memeluk ayahnya tapi tidak jadi, karena dia tersadar ..., “I-i-itu siapa!” Mulyana melihat dirinya masih tertidur di kasur itu dengan meringkuk, di umur ini dia belum paham betul, makna lepas raga, “apa aku sudah mati ayah?” Mulyana menangis melihat tubuhnya sendiri.


“Tidak, kau belum mati, kau hanya tinggal masuk ke tubuhmu lagi, kau itu lepas raga.” Ayahnya memberitahu sambil tertawa. Karena anaknya ketakutan melihat tubuhnya sendiri.


Mulyana lalu melompat pada tubuhnya dan dia berhasil masuk kembali.


Mulyana terbangun dengan tubuhnya, tapi dia heran, karena saat terbangun, dia sudah ada di tempat tidurnya, bukan di kasur yang diletakkan di lantai untuk melakukan ritual.


Dia lalu mencoba untuk bangun dan keluar kamar, sudah ada ibu, ayah dan kakaknya.


“Sudah bangun Nak?” Ibunya bertanya.


Mulyana hanya mengangguk.


“Sini makan.” Ibunya berkata dengan lembut, seperti biasa, kakaknya lahap menyuap sarapannya.


Mulyana lalu duduk di bangku biasa dia makan di sana, ayahnya sibuk juga dengan sarapannya. Nasi Mulyana disiapkan, lalu setelah siap, ibunya memberikan piring yang sudah lengkap untuk sarapan, Mulyana minum air putih dulu, setelah dia minum air putih, dia lalu bersiap untuk menyuap nasi sambil melihat sekitar, lalu berhenti menyantap sarapan, karena betapa terkejutnya dia.


Baru pertama kali dalam hidupnya, dia melihat ... begitu banyak di sini, sesak, begitu banyak mereka yang lalu lalang di tempat ini, sungguh ramai seperti pasar. Dia tidak takut, karena menghadapi makhluk dengan berbagai bentuk hal yang biasa, tapi ini penuh sekali.


Mulyana melihat ayahnya dan memberi kode, betapa banyaknya makhluk itu di rumah ini, ayahnya hanya mengedipkan mata sambil memberi kode agar dia diam dan meneruskan sarapan.


Mulyana lalu melihat ke arah kakaknya, dia sepertinya tidak sadar dengan kehadiran seluruh makhluk yang sangat amat banyak ini di rumah mereka, Mulyana yang masih heran, tetap menyuap sarapan.


Di antara seluruh makhluk itu ada seorang kakek tua yang melihat ke arah Mulyana dengan senang, karena dia sudah menetapkan pilihan.


____________________________________________


Catatan Penulis :


Pertama mau minta maaf karena aku tidak up selama dua hari, aku nggak mau banyak alasan, jadi hanya mau minta maaf saja, semoga readerku hatinya baik dan mau tetap menunggu AJP tetap melanjutkan ceritanya.


Kedua, aku juga mau minta bantuan temen-temen sekalian untuk mampir di karyaku yang judulnya CINTA GILA SANG AKTOR, ini adalah judul pengganti untuk CINTA GILA SELEBRITIS, ceritanya seputar Penulis novel dan juga aktor ternama, tema yang dibawa adalah tentang penyakit mental.


Bagi yang sudah baca Cinta Gila Selebritis sampai bab 33, untuk melanjutkan kisahnya, silahkan baca kembali Cinta Gila Sang Aktor pada bab 34, tapi mungkin akan ada dalam waktu beberapa hari ke depan, karena saat ini Cinta Gila Sang Aktor, baru masuk part 29.


Kabar baik, Cinta Gila Sang Aktor lolos Kontrak. Terima kasih kalian.


Salam sayang dari Author untuk reader yang baik hatinya.