Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 317 : Bus 404 (20)


“Dit, kenapa?” Alka bertanya, mereka sedang berada di markas ghaib yang lama, mereka menamaninya markas ghaib, karena gedungnya tidak terlihat, dipagari ghaib yang membuat semua orang yang melintas hanya melihatnya sebagai tanah kosong.


Sedang gedung markas yang sedang mereka bangun tidak terlalu sering mereka gunakan, selain menamping jin yang mereka temukan, jin yang mereka piara untuk banyak keperluan, atau jin yang tidak ditangkap karena melemahkan tuannya. Khodam hitam namanya.


Tapi markas ghaib ini lebih sering mereka gunakan seperti gua Alka untuk merawat yang kebetulan sakit atau terkena imbas dari penyelesaian kasus.


“Ada yang mengganjal, aku merasa ada yang salah, tapi entah apa.” Aditia berkata, intuisinya sebagai Kharisma Jagat tentu tidak bisa dianggap remeh.


“Soal hilangnya Melati?” Alka bertanya.


“Berhubungan tapi tidak menjadi satu kesatuan, ada yang mengganjal soal lain, maksudku aku merasa ada yang salah, tapi tidak tahu itu apa.”


“Dit, terlebih dari itu, aku lebih sedih saat kita mengantar Nola bertemu orang tuanya yang adalah kakek, neneknya, ingat moment itu membuat kita semua terharu.”


Tiba-tiba Hartino masuk ke kamar pemulihat Alka, disertai yang lain.


“Iya aku juga sedih, bahwa Nola akhirnya tahu bahwa dia bukan anak dari orang tua yang selama ini dia percaya sebagai papa mamanya, tapi ternyata mereka berdua adalah kakek, neneknya.


Melihat Nola begitu dewasa menanggapi kejujuran kakek dan neneknya, aku merasa tidak heran kalau akhirnya Nola berhak mengetahui yang sebenarnya tentang orang tuanya, kalau sampai Nola menikah dan nasabnya dipalsukan, tidak terbayang akan seperti apa pernikahannya, sudah pasti pernikahan itu tidak sah. Jika pernikahan tidak sah karena nasab yang palsu, maka akhirnya anak yang lahir dalam pernikahan tersebut, maka anak itu akan menjadi anak dengan nasab yang tidak jelas juga, walau memiliki ayah tapi pernikahan orang tuanya tidak sah.


Lalu nasab yang tidak jelas ini akhirnya akan menciptakan keturunan yang dilahirkan dari pernikahan-pernikahan yang tidak sah. Seram sekali aku membayangkannya, untunglah Nola terperangkap di bus itu dan akhirnya bisa menyelamatkan keturunanya kelak.” Ganding panjang lebar berbicara, tentang apa yang kawanan pahami.


“Dit, apa yang menjadi asumsimu?” Alka bertanya lagi karena Aditia terlihat sangat gusar lagi.


“Aku merasa ada yang tertinggal, hingga membuat mengganjal.”


“Kita harus cari melati segera?” Alka menawarkan ide, tapi Aditia tahu, kalau mereka semua harusnya istirahat dulu, minimal dua hari.


“Tidak, kita istirahat dulu dua hari, kita akan cari Melati nanti setelah Alka pulih, ingat tubuhmu terbakar.” Aditia mengingatkan orang yang sangat dia cintai.


“Ya ....” Alka melihat pinggangnya lagi, masih ada luka bakar yang memang mulai membaik, karena dia jin, maka luka itu bisa cepat sembuh, walau saat ini belum pulih betul.


“Dit, memang apa yang kau rasakan?” Ganding bertanya, mereka semua keluar kamar, Alka ditemani Jarni saja di kamar sekalian mereka berdua istirahat.


Ganding, Hartino dan Aditia masih di ruang tamu, mereka membahas apa yang menjadi kekhawatiran Aditia.


“Nggak tahu Nding, rasanya sih seperti kalau kau meninggalkan rumah, lalu kau merasa ada yang ketinggalan, tapi kau tidak tahu itu apa, kayak ada yang belum kau lakukan Nding.”


“Oh aku tahu, kalau begitu, kau sangat merasa ini janggal bukan? kita berdua pergi untuk selidiki lusa, ke kampus, hanya untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja, pantau semua korban. Bukankah jalan terbaik untuk memastikan apa yang terlupa adalah kembali ke rumah yang kau tinggalkan, memastikan semua sudah kau lakukan hingga tidak merasa ada yang janggal lagi.”


Aditia setuju dengan ide Ganding dan Hartino diminta untuk menjaga Jarni dan Alka, serta meneliti semua identitas dari korban, memastikan tidak ada yang luput.


Hari yang ditentukan untuk ke kampus itu tiba, mereka pergi diam-diam berdua dengan angkot jemputan, untuk sampai ke kampus itu mereka perlu berkendara selama satu jam, walau masih di kota yang sama, mereka tetap harus berkendara selama itu, karena pagi hari kota ini tetaplah kota yang padat.


“Saat sampai Aditia dan Ganding segera menemui Pak Parmin yang terlihat tenang dan sudah tidak khawatir lagi tentang Nola, karena kampus tenyata sudah diberitahu tentang Nola yang sudah ditemui.


“Pak Parmin ya?” Aditia bertanya, karena dia sudah mencaritahu tentang orang yang menjadi penjaga dari kampus ini, dia juga yang kemarin mati-matian mencari Nola.


“Iya, Assalamualaikum Bah.” Parmin bukannya membalas sapaan Aditia malah menyapa Khodam Aditia.


“Bapak bisa lihat Abah?” Aditia bertanya.


“Ya, saya bisa melihat Abah, Karuhunmu, saya pernah dengar tentang Kharisma Jagat, makanya saya kenal Abah.” Parmin terlihat sangat senang dengan kedatangan Aditia.


“Pak Parmin saya butuh bantuan Pak Parmin.” Ganding tiba-tiba berkata.


“Pak, Bapak kenal Melati? Orang yang hilang ini?” Ganding menunjuk selebaran yang masih dipajang di pos itu.”


“Tidak secara personal Ganding, hanya tahu gadis itu menghilang di hutan saat sedang penelitian, saat dia hilang aku belum ada di tempat ini, aku masih menjadi TNI saat itu. Tapi yang aku dengar, dia adalah korban kecelakaan bus yang selamat, tapi sayang akhirnya takdirnya benar-benar tragis.


Karena dia hilang di tengah hutan dan tidak diketemukan sampai sekarang.”


“Pak, tapi selain itu, apakah ada dengar kabar lain tentang Melati?” Aditia bertanya.


“Dengar kabar apa ya?”


“Soal kepribadian Melati misalnya.” Ganding menjelaskan.


“Hmm, kalian mau cari tahu tentang apa?” Parmin tiba-tiba bertanya, dia tahu ada yang salah.


“Kami yang membawa Nola kembali ke dunia kita Pak, beserta semua jiwa yang tersesat di bus yang kecelakaan itu, ternyata Nola adalah anak dari salah satu korban kecelakaan bus itu Pak, lalu kami berhasil membuat semua orang akhirnya mendapatkan hak mereka dan tetap kembali ke jalan Tuhan, tapi ada satu yang kami gagal.


Kami kehilangan Melati, dia ternyata selama ini terjebak di hutan itu sejak hilang, tubuhnya dikubur di tengah hutan, kami belum tahu di mana dia dikubur, Samidi yang menguburnya, kami rencananya akan minta dia untuk menunjukan lokasi, tapi dari kemarin Ganding menghubungi Samidi, dia masih tidak bisa dihubungi, kami benar-benar tidak punya clue sama sekali mencari Melati di mana. Makanya kami perlu untuk tahu benar-benar latar belakang Melati.” Aditia menjelaskan.


“Aku yakin saat kalian datang, pasti ada hubungannya dengan diketemukannya Nola dan Arif, karena aku saja tidak bisa menemukan mereka di hutan dengan pita kuning, aku sudah menelusuri hutan pita kuning itu tapi tak bisa menemukan jejak Arif.”


“Hutan pita kuning?” Aditia bingung karena, dia ke hutan itu malam hari dan tidak terlalu memperhatikan tentang tanda pitanya, pun dia masuk ke zona ghaib, sehingga dia tidak melihat pita itu, yang tentu tidak ada di alam ghaib walau sama lokasi tapi tidak berada di dimensi yang sama.


“Jadi hutan itu terlarang dimasuki karena banyak yang hilang sebelumnya, rata-rata ketemu atau kembali, tapi tidak sedikit yang hilang dan tidak diketemukan lagi, makanya akhirnya hutan itu jadi hutan yang terlarang di beberapa bagian, aku pernah hilang di hutan itu, tapi seperti yang kalian lihat, aku punya khodam, jadi aku akhirnya mengadakan perjanjian dengan seirang nenek tua yang matanya bolong, dia mengizinkan aku untuk masuk ke areal hutan terlarang itu jika ada yang hilang tapi tidak melakukan pelanggaran, kalau melakukan pelanggaran, maka orang itu harus dibiarkan hilang.


Kalian tahu bukan, banyak mahasiswa yang masih tenggelam dalam gejolak asmara, terkadang melakukan hal menjijikan di hutan, makanya kalau mereka yang hilang, mereka tidak dikembalikan lagi, berbeda dengan Arif dan Nola, mereka bukan pasangan yang melakukan hubungan terlarang di hutan terlarang, mereka hilang begitu saja.


Makanya ketika aku mencari Arif dan tidak menemukannya, aku bingung, karena areal hutan itu tiba-tiba terasa gelap dan aku tidak bisa masuk ke zona ghaib seperti biasanya, makanya Arif tidak ketemu.”


“Pak, apa bapak tahu, kalau bus itu sepertinya juga telah dibuat terjebak dalam Anor Bujangkara, aku melepaskannya ketika bus itu akhirnya aku temukan kembali, Ganding dan yang lain juga sempat terkena Anor Bujangkara, yaitu jiwa yang digelangkan, hingga mereka tidak bisa keluar dari tempat yang sudah ditentukan.” Aditia ingat bahwa sebelum dia mengeluarkan bus itu dan mengembalikan jiwa yang tersesat, dia telah menemukan Anor Bujangkara yang melekat di ban bus tersebut, bentuknya sepreti gelang, di kaitkan diantara ban tersebut, itu yang membuat bus tersebut akhirnya terus berputar pada waktu yang sama. Seharusnya mereka menjadi jiwa yang tersesat, karena tidak dikembalikan lagi oleh raja jin hutan saat melakukan perjanjian, hanya jiwa tersesat yang ada di dimensi ghaib, bukan jiwa yang berputar pada dimensi yang sama selama belasan tahun.”


“Oh ya Dit, satu lagi, soal lagu itu, aku merasa lagu itu, aku tahu bahwa lagu itu adalah pemancing yang menjadi media untuk memanggil jiwa tersebut kembali, jiwa di bus kecelakaan itu, tapi kenapa jiwa-jiwa tersebut seperti tersihir ketika lagunya diputar, mereka terdiam, mendengar dan akhirnya mereka menjadi kalut setelah lagu itu berhenti diputar. Sampai kita datang.”


“Lagu apa?” Parmin bertanya.


“Lagu potong padi Pak.”


“Lagu potong padi? Itu lagu lawas yang sangat enak didengar, apakah mungkin lagu itu dan juga Anor Bujangkara berhubungan, maksudku, jangan-jangan medianya bukan hanya gelang, tapi juga lagu itu.” Pak Parmin berkata.


“Kalau lagu itu juga medianya, berarti ... Melati ikut andil dalam kecelakaan tersebut?” Ganding memang cerdas, dia bisa menangkap maksud Pak Parmin dengan cepat.


“Maksud Pak Parmin, hanya orang yang tahu lagu itu yang bisa menjadikannya media untuk mencelakakan orang lain? Jadi, kemungkinan bahwa Melati bisa jadi dalangnya, sangat besar Pak?” Aditia bertanya lagi.


“Aku tidak tahu, tapi kemungkinan itu selalu ada.”


“Apa motifnya? Apa tujuannya? Apa keuntungannya? Jangan bilang karena pesugihan, ayolah Pak, gosip itu tidak selalu benar.”


“Ya aku pernah dengar tentang gosip Melati yang menyebabkan kecelakaan itu karena dia dan keluarganya adalah pelaku pesugihan, aku tidak tahu harus percaya atau tidak, tapi lagu dan ANor Bujangkara itu, sulit dibilang kebetulan, karena bisa jadi itu kebetulan yang terlalu sempurna.”


“Lalu kemungkinan lainnya apa Pak?”


“Kita harus cari keuntungan Melati apa dulu, untuk melakukan itu, baru kita bisa cari tahu, benar atau tidak dia yang melakukannya.”