
Kalian tahu legenda Leak Bali? kalian semua pasti tahu dan setuju bahwa makhluk legenda paling terkenal dan juga paling ditakuti adalah Leak. Tapi tahukah kalian kalau Leak itu ada beberapa jenis? Dan sebenarnya apa itu leak?
Leak adalah sebuah ilmu yang bernama Aji Pengeleakan yang dapat merubah wujud pengamal menjadi berbagai bentuk, ilmu ini digunakan untuk menyerang musuh-musuh pada jaman dahulu kala, karena orang-orang yang menguasai ilmu leak ditambah dengan menguasai ilmu-ilmu ghaib yang lainnya akan menjadi sebuah momok yang mengerikan dan jahat bagi musuhnya.
Leak hanya bisa dilihat di hari sandikala atau menjelang magrib sampai malam hari oleh orang-orang yang memiliki kepekaan mata batin ataupun para ahli dunia ghaib.
Sedang Leak sendiri sebenarnya memiliki banyak jenis, dari mulai yang ilmunya paling rendah hingga paling tinggi.
Maka yang akan dihadapi kawanan adalah … RANGDA! Ratunya para Leak.
Menurut etimologinya, kata Rangda yang dikenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti Janda.
Namun Leak Rangda sendiri kemungkinan besar Rangda berasal dari ratu Mahendradatta yang hidup di pulau Jawa pada abad yang ke-11. Ia diasingkan oleh raja Dharmodayana karena dituduh melakukan perbuatan sihir terhadap permaisuri kedua raja tersebut. Menurut legenda ia membalas dendam dengan membunuh setengah kerajaan tersebut, yang kemudian menjadi miliknya serta milik putra Dharmodayana, Erlangga.
Rangda digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku-kuku panjang, lidah yang menjulur panjang, dan payudara yang panjang. Wajahnya menakutkan dan memiliki taring-taring yang panjang dan tajam.
Rangda memiliki berbagai wujud, jika wujud Rangda berbentuk muka singa dan menonjol ke depan maka bentuk muka Rangda itu disebut Nyinga, sifat Rangda ini galak dan buas.
Lalu, jika Rangda berbentuk manusia dan melebar maka Rangda ini bersifat berwibawa dan berkesan angker.
Jikalau bentuk Rangda menyerupai wujud raksasa maka Rangda ini adalah Rangda yang menyeramkan dan buas. Wujud terakhir inilah yang kalau ditemui harus sangat diwaspadai oleh kawanan, karena hobinya adalah menculik dan memakan anak kecil agar dia mendapatkan kekuatan dari mereka.
Kawanan bersiap untuk jalan lagi, mereka tetap pada formasi, di mana Alka di tengah-tengah, diapit 4 kawanan lain.
Ketika mereka mulai berjalan, mereka berada pada sebuah lantai yang semakin lama semakin dingin terasa di kaki.
Ada asap yang sangat tebal menutupi lantai dan juga jalan, kawanan kesulitan berjalan, tiba-tiba ada suara Gamelan Selonding. Aditia dan kawanan tahu, ketika gamelan ini keluar tidak aka nada penari, tapi sisik leak, tapi entah leak yang mana yang akan mereka lihat.
Kawanan terus berjalan ke arah depan, suara gamelan itu semakin terdengar.
Saat asap tebal mulia menipis, terlihatlah rambut yang menjulur hingga ke tanah, wajah yang mengerikan, taring yang keluar kea rah atas dari mulutnya, bibir yang sangat tebal dan lebar, dengan gigi-gigi runcing yang terlihat.
Tapi di antara semua itu, yang paling menakutkan adalah, ukuran dari leak itu, tingginya dua kali tinggi orang Indonesia pada umumnya, tubuhnya gempal, dia memakai baju hanya dari sebatas dada hingga sebelum dengkul, leak raksasa ini terlihat sedang asik mengikuti nada gamelan, dia menari sangat lincah dengan tubuh besar dan gempalnya itu.
Leak Rangda dengan tubuh raksasa, adalah leka yang paling ditakuti, leak yang mungkin bisa menghabisimu dalam sekali gigit.
Dia seperti tidak menyadari kehadiran kawanan karena gamelan yang dibawakan oleh … ada tuyul-tuyul yang sedang memainkan alat musik, di Bali tuyul-tuyul ini disebut Brerong, anak-anak kecil setan itu terlihat sangat senang memainkan alat musiknya, membuat Rangda terus menari mengitari ruangan yang terasa menjadi begitu besar.
Musik berhenti, kawanan entah kenapa juga ikut berhenti jalan, mereka hanya memiliki firasat, jika saja mereka tetap jalan, maka akan sangat bahaya bagi mereka.
Makanya mereka berhenti. Rangda yang tadinya menari jadi berhenti, dia melihat ke arah kawanan dengan sangat bingung, karena tidak ada makhluk apapun yang berani masuk ke tempat ini selain Balian, Rangda raksasa perlahan mendekat, jalannya membuat tanah disekitar menjadi bergetar karena tubuhnya yang berat itu.
Kawanan diam, bahkan mereka menarik nafas, sekali mereka melawan, maka makhluk lain akan ikut menyerang, mereka harus bersabar, ini adalah ujian terakhir yang harus mereka lewati.
Rangda menatap kawanan dengan seksama, dia mengendus bau kawanan, lagi-lagi terasa energi Alka, walau tipis, Rangda tahu kalau ada yang berbeda dari barisan ‘balian’ ini.
Aditia dan yang lain bersiap, jika saja kehadiran Alka diketahui, mereka mau tidak mau harus melawan.
Rangda it uterus saja mengendus bau Alka yang terasa tipis sekali di hidungnya. Aditia menatap Ganding, meminta bantuan melalui isyarat, apa yang kira-kira mereka bisa lakukan untuk membuat Rangda bisa mengalihkan perhatiannya.
Ganding bingung, dia menggeleng, semua orang kalut karena tiba-tiba Rangda menarik tubuh Aditia dengan tangan berkuku tajam dan panjang itu, setelah menarik Aditia, dia melempar tubuhnya ke sembarang arah, karena ini ruangan ghaib, tubuh Aditia hanya jatuh di tanah masih dalam ruangan itu.
Hal yang sama dilakukan pada Hartino, sebelum tangan itu menyentuh Ganding, tiba-tiba Jarni keluar dari barisan, meninggalkan Alka sendirian, tangan Ganding ditarik oleh Jarni, Jarni berlari ke suatu arah, dia meraih sesuatu dan akhirnya … suara gamelan terdengar lagi.
Rupanya Jarni meraih pemukul gamelan dan membunyikannya, kau tahu kan kalau sifat seorang anak, walau dia adalah tuyul, paling benci mainannya diambil, makanya ketika Jarni hendak mengambil pemukul gamelan itu, Brerong yang memegang pemukulnay marah dan merebut kembali pemukul itu lalu melanjutkan memainkan alat musiknya.
Hal itu membuat Rangda otomatis menari lagi begitu mendengar suara gamelan.
Aditia dan yang lain buru-buru memasuk ke barisan lagi, menutup tubuh Alka kembali dengan tubuh mereka dan berjalan bergegas agar mereka bisa menghindari Rangda yang sedang asik menari dan melupakan energi Alka yang terendus itu.
Tapi gagal, Rangda tiba-tiba berhenti dan mengejar kawanan yang sudah berada di belakangnya, Rangda mengincar sesuatu, dia berlari dan menarik rambut Alka yang dikuncir kuda, seketika tubuhnya ikut terbawa ke atas, Aditia melihatnya hendak mengeluarkan keris, Ganding dan Hartino menahannya.
Alka menatap Aditia dengan dalam, berusaha untuk menenangkannya, karena Alka pun berusaha tenang, Rangda hanya sedang gelisah, takut daerah kekuasaannya diinjak oleh tamu tak diundang, tapi mereka adalah kawanan yang sedang menyamar menjadi Balian bukan? maka Alka harus tenang, Rangda hanya sedang memastikan Alka adalah kawan, bukan musuh dari daerah lain, maka mereka harus tetap tenang.
Rangda mengendus kembali Alka yang ditarik rambutnya saja, perih sekali rasanya, tapi Alka bertahan untuk tetap tenang.
Rangda terus mengendusnya, beralih dari rambut jadi memegang tubuh Alka dengan kedua tangannya. Entah apa yang berusaha dia cari. Kali ini dia menarik lengan Alka dengan tangan kirinya, sedang tangan kanan masih memegang tubuh Alka.
Rangda memangdang Alka karena dia tidak menemukan apa yang berbeda walau terasa.
Saa-saat seperti ini, Aditia teringat sesuatu.
Aditia melempar tongkat pemberian Ayi kepada Alka, Alka menangkap tongkatnya, tongkat itu adalah tongkat yang dikenali oleh Rangda, karena Balian yang menundukkannya, juga memegang tongkat yang sama.
Rangda itu memandang Alka sekali lagi, lalu memandang tongkat itu juga, terus memandang bergantian, setelah akhirnya yakin, Rangda melempar Alka ke sembarang arah, Aditia berlari dan berhasil menjadikan tubuhnya sebagai tempat pendaratan tubuh Alka, sehingga tubuh itu terpental bersamaan.
Aditia memeluknya, Alka juga memeluk Aditia, dia tidak takut celaka, tapi mereka semua takut kalau akhirnya kelepasan melawan, maka peperangan antara Kharisma Jagat dan juga Balian akan tersulut, bisa saja perjanjian yang sudah disepakati bersama hancur karena kawanan, maka dari itu kawanan sangat takut mereka kelepasan.
Ternyata bersabar jauh lebih sulit dibanding melawan dengan kekuatan, kawanan berlari dengan cepat setelah Alka dan Aditia kembali menghampiri mereka, mereka mencari pintu keluar dengan berlari tanpa menoleh ke belakang, tidak lagi menggunakan formasi seperti sebelumnya, karena ini adalah ujian terakhir, dari jauh mereka melihat pintu besar tempat mereka masuk tadi, pintu itu bersinar, kawanan terus menaikkan kecepatan lari, meraih pintu itu lalu membukanya.
______________________________________
Catatan Penulis :
Siapa yang mau Double Up, tunjuk tangannya!
Temen-temen Bali yang ikut baca bantu aku kalau ada penjelasan yang salah ya, koreksi di kolom komentar supaya sama-sama belajar.
Makasih buat kalian orang-orang baik yang selalu setia tungguin kami.