Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 109 : Hartino 3


Mamanya Har kembali ke mobil, dia masuk dan mereka langsung jalan, papanya masih di tempat saat ditinggalkan mamanya, dia masih mencerna apa yang mamanya Har katakan, mantan istrinya itu, yang dia pikir polos dan lugu, hanya modal kaya dan cantik, dia lupa bahwa dialah yang sebenarnya bodoh, dia yang hanya modal tampang dan kekayaan orang tua, dia hanya lulusan SMA, saat orang tuanya menawarkan kuliah, dia tidak mau karena malas.


Untuk menempuh pendidikan sampai bergelar Master saja sudah sangat sulit, dia meremehkan pendidikan, sekarang kena batunya, kehilangan suami yang tidak kompeten itu tidak terlalu membuat mamanya Har khawatir, logikanya memang selalu menang, karena kecerdasan dan rasa sakit akhirnya mengasah logikanya untuk bersikap sesuai kenyataan, sudah ditinggal ya waktunya pergi, bukana bertahan.


Beda cerita kalau dia dihina dan dilukai, takkan berhenti sampai kena.


Mamanya membawa Har ke restoran yang dia suka, makan es krim dan pizza, itu bisa membuat Har bahagia.


“Har kenapa? Har tahu kan, kalau itu semua bohong?” Mamanya bertanya di saat anaknya sedang makan es krim.


Har mengangguk masih dengan es krim di mulutnya.


“Lalu kenapa Har bohong, itu nggak baik Nak.”


“Har akan lakukan apapun untuk mama, mama ditampar, tadi Har sempet ambil pisau di dapur, mau nusuk dia, tapi ternyata Har salah, Mama cerdas sekali, Har lihat Mama membenturkan kepala ke meja, dari situ Har tahu.”


“Tahu apa?” Mamanya khawatir, dia pasti akan menjadi contoh buruk anaknya.


“Kalau Mama hebat dan kuat.”


“Orang yang berbohong dan menipu itu tidak hebat dan kuat Nak.”


“Kan bukan itu Ma, intinya. Tapi, Mama ngelawan ketika ada yang berani berlaku jahat.”


“Har nggak benci Mama?”


“Har sayang sama Mama, mau apapun yang terjadi, Mama segalanya buat Har, Har nggak akan ninggalin Mama, Har akan selalu ada dipihak Mama.”


“Terima kasih Nak, maaf Mama memberi contoh buruk.”


“Har udah maafin Mama, selanjutnya Har akan buat Mama bangga, Har nggak akan ngeluh lagi soal mimpi itu, Har akan hadapi dia, seperti kata kakek, pasti Mama percaya sama kakek karena dia orang baik, maka Har akan patuh.”


“Anak Mama hebat, kita akan hadapi mimpi itu bersama ya Har sayang, kita akan selalu bersama, Mama tidak akan pernah membawa orang lain dalam hubungan kita, sampai Har bisa berjalan dengan kaki Har sendiri.”


“Har sayang Mama.” Lalu Har melanjutkan makan es krim dan pizzanya, dia sangat bahagia dan memiliki semangat untuk menghadapi masalah, itulah kelebihan anak-anak indigo, mereka lebih cepat berkembang secara pemikiran dibanding anak lain.



Malam tiba, Har tidur bersama mamanya di kamarnya, tiba waktunya dia mengantuk, lalu mimpi itu mulai lagi.


Pintu kamar terbuka perlahan, cahaya dari lorong tangga menembus, Har kembali tidak bisa bergerak, ibunya juga sudah terlelap, dia meliaht wanita berpakaian lusuh itu masuk kali ini dia tidak menangis lagi, dia memperhatikan wanita lusuh itu, wajahnya tertutup karena lampu di kamar gelap, seharusnya dia tidak mematikan lampu kamar tadi.


Wanita it uterus bergerak ke arahnya, di kakinya dia merasakan dinginnya tangan wanita itu, seperti biasa, dia menarik tubuh Har, Har tidak mencoba berontak, tubuhnya ditarik menuruni tangga dan keluar rumah, dia melihat sekeliling, rasa takut masih ada terkadang dia masih tidak nyaman, tapi dia mencoba memberanikan diri, mereka masuk ke hutan, oh ternyata yang Har pikirkan semak itu adalah hutan, di mana ini, bagaimana mungkin di luar pintu rumah Har ada hutan seperti ini, karena seingat Har rumah Har ada perumahan mewah yang begitu keluar akan berjejer rumah, tapi kenapa ini langsung bertemu tanah lapang, tidak lama kemudian hutan.


Har melihat sekeliling, tubuhnya sakit karena diseret itu, dingin juga menelusuk, hawa malam dan kegelapan ini sungguh tidak masuk akal sekalipun bagi orang dewasa.


Takut, tentu saja, kemana dia akan dibawa oleh makhluk mengerikan ini, tapi Har sudah menandai lokasinya, di mana ini berada?


Begitu sampai sumur, wanita itu menggotongnya di bahu, lalu setelah itu, dia dilemparkan ke sumur, begitu tercebur, Har masih tidak bisa bergerak, tubuhnya jatuh, dingin air membuatnya menggigil, tidak bsia bergerak dan berteriak, sedetik kemudian dia bangun, ibunya mengguncang tubuhnya.


“Masih mimpi yang sama?”


Har mengangguk tapi kali ini dia tidak histeris tapi masih berkeringat dan berdebar.


“Ma, memang di dekat rumah ada tanah lapang, terus nggak lama ada hutan?”


“Hah? nggak ada, di mana itu? kenapa kamu tanya.”


“Har nggka yakin, tapi Har merasa ada yang aneh.”


“Yaudah, Har anak hebat, Har nggak nangis, ini lihat.” Mamana menunjuk bajunya yang basah karena lagi-lagi begitu banging Har memmuntahkan air yang banyak di bahu ibunya karena dipeluk.


“Baju Mama basah kenapa?”


“Kamu muntahin airnya, ini kejadian setiap kamu mimpi Nak.”


“Oh, berarti.”


“Har kalau kamu sudah yakin dan tidak mampu, mama akan carikan ustad ya, kita akan bantu engan rukyah, gimana?”


“Ya, sekarang Har mau yakinin dulu ya Ma, karena Har curiga, tapi nanti Har kasih tahunya.”


“Yang penting ini tidak bahaya ya Nak.”


“Insyaallah nggak Mah.”


“Anak Mama hebat.”


Har lalu pergi ke sekolah, dia seperti biasa datnag ke sekolah, tapi kali ini setelah satu minggu lebih ketakutan terus, menjadi biasa lagi, dia menjadi siswa lumayan cerdas yang sangat tampan, pelajaran dapat dia ikuti, pertemanan juga menjadi harmonis, walau mimpi itu tidak pernah hilang.


"Har, Ibu lihat kamu sudah baikan, sudah tidak murung lagi, boleh Ibu tahu, apa yabg terjadi sbeelumnya? "


Wali kelasnya bertanya, Har anaknyang populer karena tampan, kaya dan cukup cerdas, dari itu semua yang paling orang suka adalah keramahannya.


Keramahan itu sempat hilang beberapa hari lalu, tapi sekarang sudah kembali.


"Hmm, Har nggak apa-apa Bu."


"Har kalau ada masalah ngomong aja ya sama Ibu, kalau bisa Ibu akan bantu."


"Makasih ya Bu."


"Iya Har."


"Oh ya, ini tolong sampaikan ke mamamu ya." Ibu Wlau Kelas memberikan surat yang dilipat tertutup tanpa amplop.


"Soal study tour Har"


"Oh, baiklah, kita akan study tour dimana Bu?"


"Di Bandung mungkin."


"Jauh sekali Bu."


"Justru ini cukup dekat, kalau mau dekat lagi, study tournya di hutan belakang Kelurahan yang serem itu, mau?"


"Hutan belakang kelurahan? yang seram? ada hutan di dekat sini Bu?"


"Ada, itu dibelakang kelurahan, beberapa blok dari sekolah kita."


"Kenapa dibilang hutan angker?"


"Karena tidak ada yang berani ke sana. Har tidak tahu? bukannya kamu sama temen-temen sering ngomongin?"


"Nggak Bu, Har sama temen-temen nggak pernah ngomongin hutan itu."


"Oh ya udah bagua mitos, jadi Har nggak boleh langsung percaya ya."


"Iya Bu, Har pamit pulang ya."


Hari memang sudah petang, tadi Wali Kelas meminta Har tidak pulang dulu, Mamanya juga kadang terlambat menjemput, seperti hari ini.


"Tumben, biasanya udah nunggu di pos satpam?" Mamanya menjemput dengan mobil seperti biasa.


"Tadi Wali Kelas tanya soal Har kok akhir-akhir ini murung, dia bilang Har kalau ada apa-apa ngomong sama dia."


"Wali Kelas kamu memang baik, dia yang paling perhatian dengan anak-anak didik yang menjadi tanggung jawabnya."


"Ma tadi ibu Wali Kelas juga nyuruh Har sampein ini, surat study tour di Bandung."


"Iya nanti Mama baca ya." Mamanya sudah mulai menyetir.


"Ma, tadi ibu guru juga bilang soal hutan belakang kelurahan, kita mampir ke sana ya."


"Hah? kamu tanya ke ibu Wali Kelas soal hutan dalam mimpimu?"


"Nggak Ma, tadi Har diledek pas minta study tournya yabg deket, katanya di hutan belakang kelurahan yang angker aja. Jadinya Har tahu kalau ada hutan di belakang kelurahan."


"Oh gitu, yaudah kita mampir ke sana."


Mamanya menyetir ke arah hutan itu, tidak berapa lama mereka sampai di lapangan belakang kelurahan, mereka ke luar mobil dan ke lapangan itu, lapangan yang tidak di pagari karena luas, di dekat pinggir lapangan yang bersebrangan dengan kantor kelurahan itu da hutan yang cukup luas.


"Ma, ini lapangan itu, Har saat diseret dari rumah, lalu langsung melihat lapangan ini begitu keluar pintu, benar-benar lapangan ini, rumput yang tidak tinggi ini, lalu hutan itu, Har lihat semuanya dalam mimpi Ma."


"Har mau ke mana?" Mamanya menarik badan anaknya yang hendak berlari ke arah hutan.


"Har yakin ada sumur di hutan itu Mah, Har mau lihat sumurnya."


"Har walau ini siang, tapi hutan itu gelap, terlihat dari sini kalau pohonnya rapat."


"Mama takut?" Har bertanya.


"Baiklah, tapi tunggu sebentar ya." Mama berlari ke dalam mobil lagi dan mengambil sesuatu.


"Mama ngapain bawa kunci setir mobil?"


"Daripada setan, Mama lebih takut sama manusia Har, dengan ini setidaknya kita punya senjata."


Mamanya jalan duluan, dia tidak ingin Har jalan duluan, takut kalau ada sesuatu yang mencelakainya.


mereka berjalan selama beberapa menig untuk sampai hutan itu, lapangannya luas.


Saat masu hutan, angin berhembus dengan kencang hingga membuat rambut dua orang itu berantakan.


"Sepertinya nggak ada yanh dateng ke hutan ini Har, lihat, tanamannya dapat, kita akan kesulitan saat berjalan, karena kalau ada orang yang datang ke sini, pasti jalanannya lebih luas, ini tidak ada jalan yang dibuat untuk pejalan kaki."


"Ma, maaf ya Har buat Mama susah."


"Har konsen aja sama mimpi itu, Mama yang cari cari jalan ya Nak."


Anak dan ibu itu berjalan makin ke dalam hutan, tidak terasa mereka semakin masuk ke dalan, arah jalan pun sudah tidak lurus lagi, sudah berkelok-kelok.


"Har, ini sudah cukup dalam, tapi nggak ketemu juga sumurnya apa kamu ingat soal jalan ini, Nak?" Mamanya bertanya, tapi Har diam saja.


"Har, kamu inget sesuatu nggak?" Mamanya masih bertanya, tapi Har tidak menjawab.


Mamanya masih merasakan pegangan tangan Har pada pinggangnya, tapi kenaoa Har tidak menjawab.


Mamanya berhenti berjalan dan menengok ke arah Har.


"Astaga!" Tidak ada Har di sana, tangan yabg tadi terasa memegang pinggangnya ternyata hanya ranting yang tersangkut, tapi kenapa benar-benar seperti pegangan tangan Har.


Mamanya berteriak, Har hilang, tidak ada jejak, bahkan semak rapat itu masih rapat kanan kirinya, Har hilang seperti ditelan bumi tanpa jejak.


"Har!!!" Mamanya berteriak, dia ingin anaknya mendengar suara panggilannya.


tapi tidak ada suara sautan dari Har, hutan itu mendadak menjadi sepi dan menyakitkan, gelap serta kehilangan anak membuat makanya Har lemas, dia akhirnya berlari ke arah sebelumnya, perlu waktu yang cukup lama untuk akhirnya menemukan jalan keluar menuju lapangan, dia berlari ke mobil, mencari Kantor Polisi untuk melaporkan anak hilang.