
“Bagaimana bisa! Bukankah istrimu telah memastikan kau akan mati! bukankah kau telah merasukinya?”
“Dia tidak berhasil Ratu.”
“Dasar bodoh!” Ratu itu berteriak dengan kesal, malam ini dia tidak bisa berbuat apapun, karena ada Aditia di luar, dia tak ingin terjebak lagi, makanya bersembunyi di terowongan, tapi dia butuh agar Dino benar-benar lepas dari tubuhnya, jiwa Dino harus jadi miliknya, sebagai koleksi atas semua jiwa curian itu.
“Pak Dino! Kanapa kau ingin mati!” Ganding berteriak, kesal karena dari kemarin dia merengek untuk mati.
“Kalian tidak paham, kalian pasti anak-anak yang tidak paham betapa hidup itu sulit.”
Dino hanya berkata seperti itu dan pergi dari sana, Ratu lalu menghilang, dia pasti sibuk dengan ruh lain yang dijadikan santapan.
...
"Ada apa ini?" Aditia ternyata sudah di kantor Polisi, dia ditelepon Pak DIrga untuk datang, walau bukan lagi seorang Polisi, Pak Dirga masih sering dimintai bantuan untuk menyelesaikan masalah yang rumit, seperti sekarang ini, rekan Polisinya dulu menelpon karena ada kasus aneh, yaitu seorang wanita hendak membunuh suaminya, tapi dia bilang dia tidak sadar melakukan itu.
Ada rekaman CCTV yang memperlihatkan gerak-gerik aneh ketika si istri keluar dari kamar mandi rumah sakit, tatapannya aneh, dia hanya berjalan lurus tanpa menoleh, gerakan dan cara melihatnya kosong, seperti orang yang tidur tapi berjalan.
Syukur rekan kerja Pak Dirga juga percaya hal seperti ini, makanya dia menelpon Pak Dirga yang terkenal mampu menangani kasus aneh berhubungan dengan hal ghaib.
"Saya menelpon anak saya karena dia yang paham hal begini, tidak apa-apa kan?" Pak Dirga memperkenalkan Aditia pada teman Polisinya ini, dulu dia sekaligus bawahannya Pak Dirga.
"Tidak apa-apa Pak, apa kalian butuh ruang khusus?" Polisi itu menawarkan, karena mereka masih di ruang penyelidikan yang banyak orang, ada beberapa Polisi yang sedang menginterogasi penjahat lain juga.
"Kalau tidak merepotkan, Pak, kami butuh ruang yang lebih pribadi dan sepi." Aditia memang harus bertanya secara pribadi pada Zubaedah apa yang terjadi sebenarnya.
Lalu mereka semua dibawa ke ruang yang lebih kecil, pribadi yang sepi, yang ada di ruangan itu adalah, Pak Polisi teman Pak Dirga, Pak Dirga dan Aditia.
Alisha sudah kembali ke markas, sedang Alka dan Hartino masih berada markas ghaib.
"Ibu kenapa mau membunuh suaminya?" Polisi itu mulai bertanya.
Zubaedah menangis, dia sangat ketakutan. Dia juga agak kaget ketika Aditia datang.
“Maaf Pak, bolehkah aku bertanya pada Ibu Zubaedah?” Aditia meminta izin, karena ini bukan ranah Polisi, ini ranahnya para cenayang.
“Baiklah, silahkan, ini bukan interogasi formal, kita sedang ngobrol dan tidak akan dimasukkan ke dalam BAP.” Beruntung Aditia masih punya Pak Dirga, bahkan setelah beliau pensiun saja, masih sangat bisa membantu setiap kesulitan Aditia.
Kalau tak ada Pak Dirga, bisa jadi Zubaedah takkan selamat dari penjara.
“Kapan terakhir ibu ingat kejadian sebelum tersadar?” Aditia langsung pada intinya, Pak Polisi itu bingung, kenapa Aditia tidak bertanya alasan dia membunuh suaminya, tapi malah bertanya hal lain, Pak Dirga memberi isyarat pada temannya untuk percaya dan diam saja dulu melalui kibasan tangan.
“Saya ingat kalau saya ke kamar mandi untuk buang air kecil, lalu setelah ke kamar mandi, saya bermaksud mencuci tangan, saat saya sedang cuci tangan, ada yang memanggil dari belakang, suaranya mirip sekali dengan suara suamiku, tapi entah kenapa aku takut, sangat takut, makanya aku tidak berani melihat ke belakang.
Tapi dari pantulan kaca aku melihatnya, lalu setelah itu aku merasa lemas dan tidak ingat apa-apa lagi.” Zubaedah menjelaskan dengan terisak, dia takkan mungkin membunuh suaminya seperti yang orang tuduhkan, dia dibawa ke kantor Polisi sejak semalam dan semua orang bilang kalau dia mau membunuh suaminya, padahal dia tak tahu apapun, dia ingat terakhir di kamar mandi, lemas lalu pingsan, terbangun sudah di ruangan ICU, di lantai tepat di samping ranjang suaminya dan dia meliaht para petugas rumah sakit mendobrak pintu lalu segera mengamankannya. Lalu dia dibawa ke kantor Polisi.
“Apa yang suamimu bilang padamu? apakah masih ... ‘aku akan kembali’?” Aditia bertanya.
“Aku tidak ingat, aku hanya melihatnya dan ketakutan.” Zubaedah menangis sejadinya mengingat itu.
“Kau harus tenang dan coba ingat kembali.” Pak Polisi berkata karena Aditia terdiam.
“Aku tidak ingat apa-apa selain yang aku katakan Pak, aku juga tidak paham bagaimana caranya aku mencoba untuk membunuh suamiku, katanya aku mencabut-cabut alat kesehatan suamiku, aku tidak paham Pak, tidak mengerti itu semua, karena jika perawat atau Dokter hendak memeriksa Mas Dino, aku keluar dari ruang ICU, mana aku paham lepas semua alat-alat itu.” Zubaedah masih mencoba untuk membela dirinya dan sudah dapat dipastikan, dia memang jujur.
Dino dalam wujud ruhlah yang memperhatikan bagaimana Perawat dan Dokter itu ketika sedang memeriksanya, makanya dia tahu alat mana yang akan membuatnya langsung mati.
Tentu Zubaedah juga tak tahu soal ini, tapi Aditia sudah bisa menebaknya.
“Dia kerasukan Pak, bagaimana mungkin dia tahu cara mematikan alat penunjang kehidupan suaminya? Dia hanya ibu rumah tangga yang tidak paham soal itu.
Lalu dia juga tak mungkin ingin suaminya meninggal dunia, karena kalau sampai suaminya meninggal dunia, maka bagaimana kehidupan dia dan anaknya nanti? Suaminya adalah tulang punggung keluarga satu-satunya.” Aditia mencoba untuk ikut membela Zubaedah.
“Lalu siapa yang merasukinya? Setan Dokter atau Perawat yang dendam pada pasien gitu?” Polisi itu agak sangsi karena sulit membuktikan hal seperti ini.
“Kalau itu saya tidak bisa bantu jelaskan, apa Bapak mau tanya sendiri? Saya bisa bantu.” Aditia menantang Pak Polisi ini, karena sebelumnya dia minta bantuan Dirga untuk bisa menyelesaikan kasus aneh ini, tapi kenapa sekarang dia malah sangsi dan seperti tak percaya dengan apa yang Aditia katakan.
“Bagaimana caranya kamu bantu saya?” Pak Polisi itu bertanya.
“Saya bisa buka mata Bapak, lalu setelah itu Bapak akan lihat reka adegannya, bagaimana?” Aditia berkata dengan yakin.
“Kau ini ... bukan tukang sihir, kan?”
“Kalau kami tukang sihir, kami akan memantrai tempat ini dan membawa kabur ibu Zubaedah, bukan malah membujuk Bapak untuk membuktikannya, Pak. Lagian ini rekan Bapak, Pak Dirga, sudah makan asam garam dengan ayah saya, kebetulan ... ayah saya juga seorang Cenayang.”
“Pak Adit, Bapak Cenayang atau ... petugas asuransi?” Zubaedah akhirnya memberanikan diri bertanya, karena hal ini membuatnya bingung.
“Dua-duanya, Bu. Tapi yang terpenting, tujuan kami adalah membantu, bukan menjerumuskan.” Aditia tidak ingin Zubaedah banyak tanya.
“Baiklah, ayo kita coba. Kita mesti kemana?” Pak Polisi itu bertanya.
“Di sini saja.”
Aditia lalu berdiri, dia berdiri berhadapan dengan Pak Polisi yang terduduk di bangku, Aditia membaca mantra dalam hati, menutup kedua mata Pak Polisi itu lalu mengusap seluruh wajahnya, hingga akhirnya tiba-tiba pandangan Pak polisi kabur setelah tangan Aditia lepas dari mata dan wajahnya.
“Bapak lihat apa?” Aditia bertanya.
“Berbayang, tidak terlihat apapun.”
“Ok, kita tungguh sebentar, Bapak jangan kaget ya, Pak Dirga ada di samping Bapak, jangan sampai berlari dari sini juga ya, karena kita harus membuktikan sesuatu.” Aditia memperingatkan.
“Apa sih kamu, saya ini pendidikan Kepolisian sudah lama sekali loh, apa sih yang mesti saya ... loh!!!” Seperti dugaan, tidak pernah ada yang siap menghadapi hal seperti ini.
Mulanya Pak Polisi itu hanya melihat satu bayangan hitam saja, bayangan itu ada di belakang Zubaedah, lalu dua bayangan, masih di belakang Zubaedah. Lalu tiga, empat, lima dan sekarang seluruh ruangan ini penuh dengan bayangan hitam, setelah matanya makin jelas melihat sekitar, ternyata itu bukan bayangan hitam, tapi itu adalah sosok-sosok yang sangat mengerikan dengan berbagai bentuk.
“I-ini!!!” Pak Polisi itu memegang tangan Pak Dirga dengan tiba-tiba dan kencang, Dia berusaha mencari pegangan karena ... takut.
“Mereka nih si-siapa?”
“Di ruangan ini, hanya kita berdua yang bisa melihat mereka, Pak. Aku sekarang akan meminta salah satu apa yang kita lihat itu untuk memasuki tubuh Ibu Zubaedah.” Tanpa menunggu persetujuan, Aditia meminta salah satu makhluk ghaib di tempat itu untuk masuk ke dalam tubuh Zubaedah, setelah masuk, Zubaedah tiba-tiba berdiri, dia lalu berjalan dengan tatapan kosong dan jalannay adalah mendeti Pak Polisi itu.
Setelah mereka sudah dekat, Zubaedah menampar Pak Polisi itu dengan sangat kencang, tanpa memberi Pak Polisi itu waktu untuk menghindar, Zubaedah kembali melakukan penyerangan dengan berteriak di kuping Pak Polisi lalu berkata ... “Aing hayang uwih! (Aku ingin pulang.).”
Teriakan itu sungguh bukan suara Edah, itu suara lain yang mirip suara laki-laki, teriakannya memekakkan telinga.
Pak Polisi itu lalu tertunduk ketakutan, lalu berkata, “Iya-iya, saya percaya, tolong tutup mata saya lagi.” Pak Polisi itu tak mau melihat keadaan sekitar dan tetap menunduk menutup matanya dengan tangan kanan, sementara tangan kiri masih memengang tangan Pak Dirga karena masih sangat ketakutan.
“Baiklah Pak, saya akan tutup mata Bapak ya, tapi bukankah bagus Pak, bisa lihat banyak makhluk, siapa tahu bisa tanya mereka seputar hal yang Bapak selidiki?”
“Tidak! tolonglah, tutup mata saya!” Pak Polisi itu ketakutan dan minta Aditia untuk segera menutup matanya dari dunia ghaib.
Aditia mendekati Pak Polisi itu lalu menutup matanya, membaca mantra pembalik lalu mata batin Pak Polisi itu terutup lagi.
“Coba liat sektiar, Pak.” Aditia meminta Pak Polisi yang tertunduk itu untuk meliaht kembali keadaan sekitar.
Pak Polisi itu berkata, “Kamu yakin takkan terlihat lagi?”
“Ya mana saya tahu, biasanya hal ini berhasil, walau saya sebenarnya lebih mahir untuk buka mata batin ketimbang tutup.”
“Dit! Kamu tuh ya!” Pak Polisi itu frustasi mendengarnya dan kesal.
“Becanda Pak, coba lihat keadaan sekitar, mana saya tau berhasil atau tidak kalau Bapak tidak lihat.’’
“Baiklah.” Pak Polisi itu perlahan mendengak dengan mata tertutup, membuka mata itu pelan-pelan dan ... sepi, hanya ada mereka berempat di sana, tidak seperti sebelumnya, sangat ramai dengan makhluk segala rupa yang mengerikan, ada yang tubuhnya tak utuh, ada yang berbentuk perpaduan manusia dan hewan, ada yang bahkan tak dapat dideskripsikan.
“Berhasil Dit, sudah tidak terlihat apapun lagi. Tapi kamu menampar Polisi, bisa dipenjara kamu.” Pak Polisi itu menakuti Zubaedah.
“Hah? saya menampar Bapak, kok bisa? Orang saya tadi di sini aja.” Zubaedah yang tidak kerasukan lagi bingung.
“Nah ini Pak, ini kejadiannya sama seperti di rumah sakit, Zubaedah kerasukan, lalu dia berjalan dengan mata kosong dan tubuh yang seperti kaku begitu, karena bagi ruh yang merasuki, tubuh manusia itu berat untuk digerakkan dengan leluasa, Tuhan memang Maha Sempurna menciptkaan makhluknya, jadi jika memang bukan peruntukkannya, maka akan terasa aneh.
Lihat cara jalan Zubaedah yang terseret dan tatapan kosong itu? itu adalah ketika ruh lain masuk ke dalam tubuh Zubaedah dan menidurkan ruh Zubaedah, maka ruh itu berusaha menggerakkan tubuh Zubaedah walau berat, karena memang bukan tubuh dari si pengrasuk itu.
Bapak bisa cocokkan cara jalan Zubaedah dari kamar mandi di rumah sakit itu dari CCTVnya dengan CCTV yang ada di ruangan ini, cara jalan mereka pasti sama, berat terseret dan pandangan kosong.”
Aditia mengakhiri penjelasannya, lalu Pak Polisi itu akhirnya akan membantu untuk mengeluarkan Zubaedah dari kantor Polisi ini dan membuatnya bebas dari segala tuduhan.
Di halaman kantor Polisi Aditia, Pak Dirga dan Zubaedah duduk, mereka sedang menunggu berkas. Pak Dirga ikut menunggu, karena setelah ini, mereka kan mengantar Zubaedah untuk ke rumahnya.
“Jangan tunggui dulu suamimu, Bu. Takutnya tubuhmu akan digunakan lagi untuk mencalakai suamimu.”
“Iya Pak, terima kasih, maaf saya selalu merepotkan.” Zubaedah terisak lagi.
“Sudah Bu, kau harus kuat, suamimu butuh Ibu.” Aditia berusaha menghibur.
Semua dokumen pembebasan sudah selesai, lalu mereka berkendara hendak ke rumah Zubaedah.
Zubaedah hanya termenung di bagian penumpang pada angkot itu.
“Bu, jangan bengong, karena itu bisa membuatmu kerasukan lagi.” Aditia memperingatkan, wala di angkot ini dia takkan kerasukan, siapa yang berani mendekati angkot berpagar ghaib tebal ini.
“Aku hanya sedang bingung, kenapa bisa melakukan itu, apakah suamiku memang ingin mati? karena kalau benar kerasukan, maka aku kerasukan suamiku sendiri, aku melihatnya di kamar mandi itu sebelum akhirnya kerasukan dan berusaha melepas alat-alat itu.”
“Sudah Bu, jangan dipikirin, fokus saja beribadah, untuk minta perlindungan dan juga menyembuhkan suami ibu.” Aditia mencoba berkata dengan bijak.
“Ya, Pak Adit, terima kasih.”
“Bu, satu lagi, saat ini kau dalam keadaan kalut, maka kau sedang lemah, jangan bengong atau melamun apapun ya, jangan biarkan pikiranmu kosong lama, karena itu membuat makhluk ghaib terpancing untuk mengambil alih tubuhmu.
Saat ini kau sedang lemah dan itu bisa jadi bahaya untukmu, maka kau harus menyibukkan diri ya, supaya tidak melamun.” Aditia kembali memberikan wejangan.
“Terima kasih Pak, sudah membantu kami ya.” Zubaedah bingung kenapa Aditia sangat gencar membantu mereka, seolah ini tanggung jawabnya. Tapi dalam pikrian Zubaedah terlintas satu hal, apakah nanti Aditia akan dapat uang lebihan dari asuransi yang akan mereka klaim, hingga akhirnya Aditia bergitu gencar menolong? Kalau begitu Zubaedah tak heran Aditia bisa sebaik ini.
Bagi Zubaedah yang jarang sekali ditolong orang saat sedang susah, tentu bantuan tulus sulit diterima akal sehatnya, dia terus mencari tahu, keuntungan apa yang Aditida dapatkan dari menolongnya.
Maka hanya bagian dari klaim asuransilah yang terpikir oleh Zubaedah.
Aditia merasa tak perlu menjelaskannya, karena dia, sudah bisa disalahami, yang penting dia masih bisa bantu Dino dan Zubaedah dengan lancar.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah Zubaedah, Aditia dan Pak Dirga pamit tanpa masuk ke rumahnya.
Ternyata di rumahnya ada orang tua Zubaedah yang sedang menjaga anaknya.
...
“Dit, yakin nggak masuk dulu? Ibu rindu loh sama kamu.” Pak Dirga bertanya, karena memang sudah lama sekali Aditia tidak bertemu dengannya.
“Maaf Pak, saya harus segera menyelesaikan kasus ini, karena takut ada korban lagi.”
“Dit, kadang aku kasihan sama kamu, anak muda yang lain sibuk bekerja, nonton bioskop lalu makan bersama teman, tapi kalian malah sibuk ngurus setan dan orang lain. Aku selalu berdoa untuk kalian Dit, agar kalian sehat, aku nggak punya apa-apa selain doa untuk kalian.”
“Pak, terima kasih ya, sudah membantu kami, tidak melepas kami walau seharusnya Bapak juga sudah tenang menghabiskan hari dengan kegiatan yang lebih nyaman dibanding berhubungan dengan hal ghaib.”
“Tak masalah Dit, karena kamu, ibumu dan Dita dititipkan Mulyana padaku, sebisa mungkin aku akan selalu menjaga kalian, tapi kau tahulah, tubuh ini renta dan tidak semuda dulu, aku jadi rindu ayahmu Dit, dulu kami berpetualang seperti kalian.”
“Pak, kasus kali ini agar berat, aku harus cari 4 Kharisma Jagat untuk membuat jin itu berhenti mencuri ruh dan melepas jiwa Jarni dan Ganding, aku bingung sekarang, siapa yang bisa aku percaya.”
“Kau kan punya keluarga, ada pelatihmu dan anak perempuannya, sudah dua, ada Jajat dan dirimu, ada Dokter Adi, bahkan ada Ayi Mahogra di sampingmu, bukankah kau bisa minta pertolongan mereka?”
“Oh ya, benar Pak, aku akan minta tolong mereka, karena mereka itu orang terdekat dan bisa dipercaya.” Aditia merasa semangat lagi dan bersiap untuk menghubungi mereka semua, bukankah ditempat Abah Dadan itu ada banyak Kharisma Jagat juga, bisa jadi mereka mau menolong Aditia.”
Aditia akhirnya langsung ke tempat itu, tempat yang pernah menjadi tempat pelatihannya dulu.