Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 120 : Saba Alkamah 5


“Kembalikan anakku!” ucap ibunya Haris.


“Bagaimana caranya? sedang dia sudah kembali ke rumah kalian, apa lagi sekarang?” Meutia kembali melancarkan aktingnya.


Orang tua Haris memang sengaja membuat keributan di rumah Meutia dengan mendatanginya dan berteriak-teriak, memancing warga datang, mereka tidak tahu, bahwa Meutia siap untuk setiap serangan.


“Anakku belum kembali, kau masih menyekapnya di gudang,” ucap ayahnya Haris.


“Tidak ada, tempo hari kami yang mengantar sendiri Haris ke rumah, kami melihatnya masuk ke dalam rumah sambil memanggil-manggil kalian!” Salah satu Pelayan yang mengantar Haris buka suara, tentu dia tidak bohong, yang pembohong adalah Darhayusamang dan Meutia.


“Kalian bohong!”  Orang tua Haris berteriak.


“Dia tidak bohong, aku melihat ketika mereka mengantar Haris ke rumahnya, aku melihat Haris berjalan sambil tertawa-tawa, aku melihat mereka mengantarnya!” Seorang tetangga mendukung pernyataan Pelayan itu, tetangga ini juga tidak bohong, dia secara tidak sengaja melihat ketika Haris diantar tengah malam itu, karena dia sedang ronda.


“Haris tidak pulang! dia tidak ada di rumah, kalau memang dia sudah di rumah, untuk apa kami ke sini!”


“Karena kalian mau memerasku bukan? tidak mampu menipu dan membuatku gila, kalian sekarang mau memerasku? kalian benar-benar jahat, ini kenapa saya tidak suka menikah, karena orang-orang seperti kalian!” Meutia berteriak dan sengaja memasang wajah sedih yang hampir menangis, dia mendapatkan ibanya para tetangga, sehingga tetangga mulai menyoraki keluarga Haris.


“Aku mohon Meutia, aku akan melakukan apapun asal anakku kembali, aku mohon, aku tidak ingin apapun selain anakku kembali.” Ibunya Haris bersujud, dia memohon kepada Meutia.


“Kau mau bersujud selama apapun, aku tidak bisa mengembalikan Haris, karena dia sudah kembali, aku tidak tahu dimana dia sekarang.”


“Seharusnya kau lapor Polisi, mungkin dia kabur, kau harusnya lapor Polisi saja, bukan ke sini.” Seseorang berkata.


Meutia sedikit melirik, dia tidak memprediksi kehadiran aparat, tapi masih mencoba tenang.


“Ya, laporlah, mungkin mereka mau mencari anakmu yang gila itu, setahuku kalau orang kabur itu, tidak terlalu digubris oleh Polisi, tapi terserah kalian kalau mau melapor, itu bukan urusanku.” Meutia mencoba mengecoh mereka dengan berkata seperti itu.


“Kau benar-benar tega, dasar perempuan iblis!” Ibunya Haris tiba-tiba berlari menerjang beberapa Pelayan Meutia dan menampar Meutia, semua orang berteriak, Meutia kaget, saat dia ingi nmenampar balik, ibunya Meutia ditarik oleh Pelayan dan membuat Meutia tidak bisa menamparnya balik karena ayahnya Haris buru-buru menarik istrinya, Meutia sangat marah karena wajahnya ditampar.


“Pergi kalian orang hina! semoga anak kalian hilang selamanya!” Tanpa sadar dia melontarkan kata-kata itu, keluarga Haris kembali diusir dan warga yang sadar akan ucapan Meutia ada yang kaget, mereka merasa Meutia selama ini gadis lembut yang baik hati, tapi tadi, kata-katanya merupakan sumpah serapah yang jahat pada suaminya itu, mereka belum bercerai secara hukum dan agama.


“Ambilkan makanan untukku!” Meutia marah dan kesal karena wajahnya masih terasa sakit.


Pelayan bergegas membawakan makanan yang dia minta, sepiring nasi dan lauk yang dimasak sejak pagi.


Meutia makan dengan lahap, kalau marah dia memang lebih suka makan daripada berteriak-teriak, dia tidak ingin orang tahu temperamen aslinya, suka marah dan serakah.


Selesai makan dia kembali ke kamar untuk tidur, dia berharap kesalnya akan selesai setelah bangun tidur, kalau tidak, dia akan memberi pelajaran pada ibunya Haris.


Sementara salah satu Pelayan perempuan Meutia ke warung, warung dekat rumah untuk membeli beberapa keperluan dapur yang habis, warung itu juga buka membuka warung makan kecil-kecilan, jadi sering ada beberapa orang duduk-duduk makan atau sekedar minum kopi di warung itu.


Pelayan yang membeli bahan dapur yang habis itu adalah Pelayan yang tempo hari bertemu dengan Haris saat dia masih disekap dan menolongnya mengambilkan peralatan dapur yang disimpan di rak paling atas.


Dia ke warung itu lalu membeli semua keperluan, di saat menunggu semua bahan belanjaan disiapkan di mendengar bapak-bapak di sana membicarakan nyonyanya.


“Aku yakin, kalau orang tua Haris itu pasti sengaja datang ke rumah Meutia untuk memeras wanita cantik itu.” Ucap seorang bapak-bapak yang terkenal ganjen dan suka menggoda wanita.


“Tapi aku merasa kasihan pada orang tua Haris, mereka kehilangan anaknya, lihat betapa putus asanya mereka tadi” sahut yang lain, dia memandang lebih netral.


“Eh! sembarangan kamu, harusnya orang tua Haris tidak menuntut Meutia, karena bukan tanggung jawabnya lagi, sudah dikembalikan ke rumah orang tuanya, ada yang lihat dia diantar kok, kalau anaknya gila, seharusnya dia salahkan dirinya sendiri, tidak bisa merawat anaknya hingga menjadi gila.” Balas bapak-bapak yang membela Meutia lagi.


“Ngomong-ngomong soal itu, Haris adalah temanku, dia itu orang yang sehat sebelum … sebelum menikah dengan Meutia, dia itu pemuda yang cerdas, berpendidikan dan dari keluarga yang mapan, apa kalian tidak heran, kenapa setelah menikah dia malah jadi gila?” ucap pemuda lainnya.


“Kalian nggak denger Meutia bilang apa? bisa jadi itu karena dia memelet Meutia dan tidak berhasil, kalian tahu kan, kalau Meutia anak dukun, mana  bisa seenaknya di pelet gitu, makanya kenalah itu si Haris, kualat dia.” Bapak-bapak itu masih saja mencoba menjelekkan Haris.


“Maaf, tapi Pak Haris itu orang baik … dia ….” Pelayan itu sebelum menuntaskan kata-katanya, tiba-tiba ditegur oleh seseorang.


“Pulang kamu, bahannya sudah ditunggu Meutia.” Ternyata itu adalah ayahnya Meutia, Pelayan itu hendak bicara tentang Haris yang sudah menjadi gila sejak pagi hari setelah pernikahan, Pelayan itu merasa tidak tega semua orang memfitnah Haris, tapi perkataan dia keburu dipotong oleh ayahnya Meutia yang kebetulan baru pulang dari kota.


“Eh Pak, baru pulang dari kota?” ucap Bapak-bapak yang genit itu, sementara Pelayannya langsung meninggalkan warung yang merangkap warung makan juga.


“Iya saya baru pulang, ada apa ya memang, kok sepertinya kalian sedang membicarakan Meutia lagi?” Ayahnya Meutia langsung saja bertanya.


“Oh itu, tadi orang tua Haris datang lagi dan menyerang Dek Meutia Pak, kasihan, saya sudah berusaha melindungi Dek Meutia Pak, tapi ya gitu, ibunya Haris keburu menampar Meutia, Meutia terlihat sangat sedih.” Lelaki ganjen itu sungguh terlihat menjilat.


“Saya kasihan sama anak saya, dia itu tidak mau menikah sebelumnya, tapi dia akhirnya mau menikah sama Haris, saya senang, karena sebelumnya pemuda yang jauh lebih baik dari Haris sudah melamar dia tapi ditolak, walau saya bingung kenapa harus Haris yang tidak terlalu menonjol dibanding yang lain, saya ikhlas, bahkan Meutia menggunakan dananya sendiri untuk mas kawin, karena orang tua Haris tidak mau memberikan mas kawin yang padan, Meutia tidak menuntut mas kawin.


Anak saya itu wanita yang tidak terlalu aneh-aneh, dia legowo dengan mendanai sendiri mas kawinnya, biaya pernikahannya, bahkan Haris memaksa tinggal di rumah kami, bukan membawa Meutia ke rumahnya, saat itu, kau pikir mungkin dia ingin mandiri, tapi kok seperti ….”


“Menumpang ya Pak?” Lelaki yang suka mengompori itu termakan omongan bohong ayahnya Meutia.


“Benar, mas kawin anakku sendiri yang keluarkan uang, biaya pernikahan serta rumah kami hendak dia kuasai, tapi dia lupa kalau ayahnya Meutia bisa mengetahui kejahatan dia. Ternyata benar, Haris menyimpan semacam jimat dibawah bantal Meutia, sebenarnya aku tidak ingin membicarakan ini, tapi aku harus katakana agar anakku bersih namanya.”


“Jimat apa itu Pak?” tanya lelaki itu.


“Jimat yang berisi mantra memelet, jimat itu akan membuat jiwa anakku terpenjara pada satu nama, hingga dia lupa segalanya dan hanya memikirkan nama itu, beruntung, Meutia segera tahu karena terbiasa tidur membersihkan kasur dan bantalnya dulu, dia menemukan mantra itu sebelum meniduri bantalnya, lalu jimat itu dia berikan padaku.


Ini, kalian lihat, aku selalu membawanya untuk barang bukti jika diperlukan.”


Ayahnya Meutia melemparkan sebuah bungkusan kain putih berukuran dua jari, kain putih itu adalah kain kafan yang diikat dengan tali berwarna hitam, seorang lelaki membuka lilitan kain kafan itu dan menemukan tulisan berhuruf entah apa, karena mereka tidak dapat mengenali huruf itu di dalam sebuah kertas panjang, ada foto Meutia dan Haris di gulungan itu.


“Astaga, ternyata benar kan, nih, kelakuan temenmu yang cerdas itu, terkadang kecerdasan bukan jaminan dia baik, lihat ini!” Lelaki itu menyodorkan bungkusan kain kafan itu, sementara temannya Haris hanya diam saja, jauh di dalam hatinya, dia masih yakin, Haris bukan orang yang seperti itu, karena dia anti dengan hal-hal ghaib, jadi mana mungkin dia menjadi orang yang menyukai ilmu hitam hanya dalam waktu singkat.


“Cinta memang kadang membuat orang menjadi buta, yang tadinya cerdas menjadi bodoh, yang tadinya jujur menjadi pembohong dan yang tadinya baik menjadi jahat. Putriku memang wanita yang sangat cantik dan baik, tapi dia bukan wanita biasa yang bisa suka pada orang sembarangan, sempat kena peletnya, hampir saja dia gila karena bungkusan ini, arti dari tulisan itu adalah mantra pelet yang biasa digunakan dari jaman dahulu kala, aku tidak bisa membacanya, tapi guruku bisa, aku baru saja pulang dari tempat guruku itu, beruntung Meutia berhasil selamat dari pelet itu.


Jadi wajah jika kami tidak perduli pada nasib Haris, karena dia yang jahat, apapun itu saat ini dia sedang dihukum karena perbuatannya sendiri. Mulai sekarang, aku akan pastikan anakku tidak memilih pemuda yang salah lagi.


Mungkin kami akan pindah dalam waktu dekat, aku takut Meutia jadi trauma atau depresi karena keluarga mantan suaminya, saat ini aku sedang mengurus perceraian Meutia dan juga pindahan rumah, aku mohon kalian jangan lagi memojokkan Meutia ya, kasihan, dia sudah menjadi janda padahal dia sangat hati-hati sebelumnya.”


Ucapan ayahnya Haris adalah caranya membuat Meutia tidak dicurigai, walau mereka memutuskan pindah rumah, tapi nama Meutia harus tetap harum, tidak boleh meninggalkan jejak yang membuat kelak semua perbuatan anaknya terbongkar, makanya dia tadi buru-buru memotong perkataan Pelayan perempuannya itu, agar tidak membuat Meutia jadi buruk di mata orang.


Saat ayahnya Meutia sudah sampai rumah, dia buru-buru membangunkan putrinya dan mengadukan kelakuan Pelayan perempuan itu yang hendak berbicara yang aneh-aneh di warung tadi, Meutia geram, dia ingin menghajar Pelayang itu, tapi ayahnya melarang, nama baik Meutia harus tetap terjaga, ayahnya sudah menyiapkan rencana.


______________________________


Catatan Penulis :


Hari ini lelah sekali, sempat ketiduran dan nggak mau nulis untuk posting hari ini, tapi aku tahu, pasti kalian komplain, kok nggak update hari ini, jadi aku paksain tetap nulis walau lelah, maaf ya part ini nggak panjang, soalnya sudah berusaha tetap update walau lelah sekali, maafkan Author yang banyak ngeluh ini.


Mau tidur dulu semoga kalian tetap suka dengan kisah AJP kalau sudah ada yang bosan kasih tahu ya, biar aku tahu kalau kalian sudah mulai nggak suka dengan alurnya.


Terima Kasih.