
WARNING! ALUR MAJU MUNDUR, BACANYA PELAN-PELAN.
_______________________________________________________
Zerata di seret ke sel di mana tungku dengan guci tanah liat itu berada, ahli nujum mengambil darahnya dan menuang darah itu di guci, seperti dugaan, mengepul asap yang jauh lebih pekat di sana. Ahli nujum itu mengerutkan kening, karena dia bingung.
Setelah menimbang banyak hal, ahli nujum itu lalu menyeret kembali Zerata ke aula raja.
Raja menunggu jawaban, malam hari yang kelam ini tiba-tiba menjadi riuh, semua jin berkumpul, dengan Alka dan Zerata bersujud di tengah aula, seperti terdakwa pada zaman dahulu kala.
Raja siap mendengar penjelasan dari ahli nujumnya.
“Pada dasarnya saya tidak melihat perbedaan dari darah dua orang ini, benar bahwa mereka orang yang sma-sama mampu menjadikan ramuan air abadi itu sempurna, tapi tidak ada perbedaan, mungkin akan jadi lebih baik kalau mereka berdua kita berdayakan yang Mulia Raja.”
Alka dan Zerata panik, mereka ingin salah satu selamat, tapi harapan pupus.
“Yang Mulia, apakah anda percaya hanya pada pembuktian tanpa kepastian seperti ini? harusnya di uji coba pada seorang jin, apakah benar yang telah mati mampu dibangkitkan lagi?” Zerata berteriak memberi ide.
Raja terlihat bingung, sementara semua jin mulai mundur, karena kalau raja setuju, artinya raja harus membunuh salah satu jin, karena tidak ada kuburan jin, untuk mereka yang tiada, perlahan jiwanya musnah begitu saja, terserap ke dalam tanah, menunggu perhitungan dari Tuhan.
“Raja mau ambil resiko, jika saja, jika saja kalau ramuanmu tidak berhasil, maka kau akan dicap sebagai penipu oleh Mudha Praya, bahkan ayahku akan menggunakan ramuan ini di peperangan bukan? kau tak malu jika ramuannya tidak berhasil, sedang ramuan Ayi mungkin lebih sempurna dari ramuan yang kau miliki, namamu akan menjadi buruk, dicap sebagai raja jin penipu.” Zerata sedang bermain api.
“Diam kau Zerata!” Alka mulai kesal karena Zerata bersemangat sekali untuk menjadi korban.
“Kau yang diam saja, izinkan aku sekali saja menjadi kakak yang seharusnya, setidaknya lukamu pada ayah akan sembuh karena apa yang aku lakukan bukan?”
“Aku mungkin akan membencinya dua kali lipat!” Alka menangis.
“Baiklah!” Ruangan menjadi semakin riuh, semua jin ketakutan terpilih sebagai jin yang harus dimatikan, karena jika ramuan gagal, maka hidupnya di dunia ini selesai. Mereka mundur teratur, tapi raja berteriak meminta para Penggawa bersiap, menjaga pintu aula agar semua jin tetap di dalam.
“Pilih salah satu yang paling lemah diantara semua jin, aku akan membunuhnya di sini, lalu kau ambil ramuanmu!” Raja sudah memutuskan, ahli nujum itu segera mengambil ramuannya yang masih belum tercampur dengan darah Alka dan Zerata.
Salah satu jin dipilih, dia adalah jin terlemah, yang jika tiada, maka tak berpengaruh pada kerajaan, hidupnya sangat tidak berharga, kasihan sekali.
Jin itu diseret mendekati salah satu Penggawa yang berdiri di hadapan raja dan juga Alka serta kakaknya.
Penggawa itu mendekati jin lemah yang hendak dijadikan kelinci percobaan, jin itu berusaha lepas dari cengkraman para Penggawa lain yang memegang tubuhnya, tapi tidak bisa karena dia memang dia sangat lemah sebagai warga kerajaan jin.
Penggawaa mengeksekusi jin lemah itu dengan cara memegang lehernya dan mengambil seluruh energinya melalui mulut jin itu, jiwa jin itu lalu ambruk ke tanah, sebelum jin itu musnah tertelan bumi, ahli nujum itu memberikan ramuan yang telah dicampur dengan darah Zerata.
Ramuan itu diminumkan pada jiwa yang telah menjadi mayat, mereka menunggu, 30 detik berlalu, tidak ada yang terjadi, jin lemah itu tetap berbaring dan terlihat dia akan masuk ke dalam tanah, ditunggu lagi hingga 60 detik, 90 detik, jin itu mulai bergerak lagi, dia terlihat sangat linglung karena detik sebelumnya dia mencicipi sakaratul maut.
Jin itu bangun dan raja bertanya.
“Tahukah kau kalau kau ini dibangunkan oleh ramuan ahli nujum kita?” Jin lemah itu menggeleng mendengar pertanyaan itu.
“Kau hidup lagi, berarti benar ramuannya sempurna.”
“Aku hidup lagi!” Jin lemah itu bertanya.
“Ya, detik sebelumnya kau masih dalam keadaan mati.”
“Apa aku benar-benar mati sebelumnya?” Jin itu bertanya.
“Ya, ini adalah omongan rajamu, jadi tidak mungkin aku berbohong! Sekarang beritahu aku apa yang kau rasakan?” Raja jin itu bertanya.
“Aku merasa ... sangat ... sangat bertenaga, berbeda dengan tubuhku sebelumnya.” Jin lemah itu berkata dengan sangat lantang, dia bahkan membuat penggawa di sampingnya terpental karena pukulan, “sekarang, aku bukan jin terlemah lagi.”
“Lihat Raja, darahku memang yang terbaik, lepaskan adikkku.”
“Jangan Raja, bukankah sudah kukatakan bahwa darah dia dan adiknya sama saja, karena memiliki kemampuan yang sama tingginya, jadi jangan lepaskan salah satunya.” Ahli nujum itu berkata.
“Kita akan coba ramuan itu dengan darah perempuan ini, habisi penggawa yang tadi sudah dipukul dan terpental itu, lemah sekali dia.” Raja berkata dengan tanpa perasaan, pada para Penggawanya sudah sangat loyal melayani dari sejak belasan tahun lalu.
Lalu penggawa itu mencoba untuk berlari, tapi dihadang oleh kumpulan penggawa lain, ramuan dibuat dengan mencampur darah Alka di dalamnya.
Penggawa yang lemah itu akhirnya diserap energinya, persis seperti jin lemah pertama, setalah penggawa itu tiada, darah ramuan diminumkan, hanya dalam hitungan tiga puluh detik dia terbangun lagi.
“Wah cepat sekali, ini yang kita butuhkan.” Raja berkata dengan lantang, Alka terlihat lega, karena kakaknya mungkin bisa saja dilepas.
“Raja tanyakan apa-apa yang kau tanyakan pada jin pertama ke jin kedua ini.” Zerata mengingatkan.
“Baiklah, apa yang kau rasakan setalah dibangkitkan?” Raja bertanya pada jin kedua.
“Aku merasa sangat ... sangat ....” Penggawa memegang kepalanya, dia lalu terlihat linglung dan mengamuk, dia menggamuk dan membuat semua orang yang menahan jiwanya terpental saat memegang itu.
Lalu dalam detik berikutnya, jin kedua itu terjatuh dilantai, lalu ... tiada, tubuhnya terserap ke dalam tanah.
“A-apa, apa yang terjadi!” Raja bertanya.
“Jin itu hanya bangun sebentar Raja, lalu dia menjadi tidak terkendali dan tiba-tiba tiada.”
“Lihat, apa kubilang, memang darah wanita ini tidak sebaik darahku, maka kalian hanya perlu menawanku saja, tidak perlu menawan wanita ini, lepaskan dia.” Zerata memohon.
“Berbahaya kalau kita membuat ramuan dari darah wanita ini, kalau dalam peperangan, bisa jadi jin seperti ini akan menyerang kita karena tidak terkendali akibat ramuan yang dicampur dengan darah wanita itu.”
“Jadi, kita tidak bisa mendapatkan keduanya?”
“Tidak perlu yang Mulia, karena kekuatan darah wanita ini ternyata tidak sepadan.” Ahli nujum itu berkata dengan tenang.
“Kalau begitu, kurung pemuda ini dan keluarkan wanita ini, aku tidak sabar membuat ramuannya dalam jumlah banyak.” Raja itu berkata.
“Jangan yang Mulia, saya mohon, aku saja, lelaki ini tidak bisa membangkitkan orang mati, dia berbohong, aku mohon aku saja, lepaskan dia.”
“Tidak bisa, karena darahnya sangat berharga. Kita sudah membuktikannya bukan?” Ahli nujum itu berkata dengan dengan frontal karena dia tidak ingin kehilangan Zerata, dia ingin darahnya.
“Aa! Aa!” Alka berteriak ketika Zerata di seret, saat melewati Alka, Zerata bertahan dan membisikkan sesuatu padanya, hal yang sampai saat ini tidak pernah dia lupakan sama sekali.
|
Jadi ... dia yang menggantikanmu untuk menjadi sapi perah dengan alasan ramuan air keabadian?” Aditia bertanya, kawanan sudah berada di markas ghaib lagi.
“Ya, air abadi itu benar bisa membangkitkan yang telah tiada?” Aditia bertanya.
“Kau pikir siapa yang mampu membangkitkan jiwa mati hidup lagi selain Tuhan?” Alka kesal mengingat kejadian ketika itu, ketika perang pupus pernikahan adat, perang antara Ayi Mahogra dan Mudha Praya, yang membuat runtuhnya dinasti tetua karena Ayi menang dalam peperangan.
“Lalu bagaimana dengan pembuktian itu?” Aditia bertanya lagi.
“Pembuktian itu memang benar, tapi yang bangkit bukanlah jiwa yang suci, tapi jiwa yang buruk, jiwa tersebut bukanlah jiwa yang mati, tapi jiwa yang dipanggil dari neraka paling kelam, semacam pertukaran, bukan menghidupkan, cuma Tuhan yang bisa menghidupkan kembali yang mati.
Sayang kami tahu ini belakangan.”
“Tahu belakangan?”
“Ya Dit, malam itu aku ditendang keluar dari istana karena dianggap tidak berguna, aku pikir aku bisa kabur dan kembali kepada kawanan, tapi aku salah, keluar dari kerajaan itu, aku sudah ditunggu oleh anak buah ayahku, ternyata Zerata datang ke kerajaan ini atas izin Darhayusamang, dia datang dengan perjanjian, jika dia memang bisa ditahan di sana menggantikan aku, maka aku harus menggantikan dia mengabdi pada ayah bejat itu, aku pikir dia bebas dan bisa merasakan keluarga hangat setelah aku pergi ditawan, kami anak-anak yang malang.”
“Teruskan ....” Aditia berkata.
|
“Kenapa kau mengizinkannya pergi ke kerajaan Jin Barunan itu! kau itu seorang ayah atau bukan!” Alka berteriak di kediaman ayahnya, dia sudah dikembalikan ke komplek perumahan tetua, di mana ayah dan ibunya berada di sana.
“Bagiku, kalian hanyalah senjata yang aku miliki, maka kalian akan aku gunakan pada waktunya. Aku pikir kaulah yang terkuat, aku tidak bohong, tapi aku lupa, kalau kau dimantrai oleh Ratu Laut itu! hingga kekuatan yang kau miliki jadi melemah, jadi saat Zerata menyadarinya dia menawarkan diri untuk menggantikanmu, aku tidak masalah, maka kau harus gantikan dia untuk memantuku menyerang saat peperangan itu terjadi, karena Zerata akan menjadi senajta ampuh pada cairan abadi itu.”
“Kau benar-benar iblis!”
“Aku memang iblis! Kalau kau menolak, maka aku akan pastikan Zerata menderita karena harus menanggung semuanya sendirian dalam peperangan itu, sekarang kembalilah pada kawananmu. Cari informasi dari para Kharisma Jagat yang kalian temui untuk membuat kita menang, tapi kau harus kembali pada waktu yang aku tentukan setiap saat, ingat, sekali melanggar, Zerata akan aku pastikan menderita.”
“Kau biadab!” Alka lalu pergi meninggalkan komplek para tetua, dia kembali ke kawanan.
Setelah sampai gua, dia duduk merenung, menatap sembarang dan akhirnya menangis, ironis sekali hidupnya, dia selama ini sendirian, lalu bertemu bapak dan kawanan, setelah sekian lama hidup tanpa keluarga tapi memiliki keluarga tanpa ikatan darah, sekalinya bertemu keluarga dengan ikatan darah, malah diperlakukan dengan sangat buruk, sekalinya diperlakukan baik oleh Zerata kakaknya, dia masih harus menanggung derita rasa berasalah.
Sampai kapan dia harus menanggung sakit kehilangan orang-orang yang dia sayang, Alka benar-benar merasa sendirian, dia ingin mengakhiri saja hidupnya, tapi bagimana dengan Zerata yang sendirian.
Hari berganti, Alka tetap menjadi salah satu pasukan Mudha Praya, walau di dalam lingkup yang sama dan sekutu yang sama, tapi kabar Zerata tidak perah dia dengar lagi, semua strategi perang dia sudah kuasai karena harus ikut berperang bersama ayahnya hingga suatu saat dia menguping.
Di dalam kamar ayah dan ibunya, dia menguping tentang kabar Zerata.
“Zerata sekarat, darah yang diambil terlampau banyak, hingga energinya terkuras, dia mungkin sebentar lagi mati, tapi darahnya belum memenuhi kebutuhan seluruh prajurit perang.” Darhayusamang berkata dengan sangat dingin, seolah Zerata bukan darah dagingnya.
Alka kalut, dia berlari secepat mungkin untuk bertemu dengan kakaknya, dia tidak mau kakaknya mati tanpa dia lihat.
Alka merubah wujudnya menjadi jin, dia menerobos masuk ke kerajaan itu, dia menyerang semua yang menghalangi, beruntung karena saat itu raja sedang pergi menghadiri pertemuan dengan para tetua, membahas perang yang sebentar lagi akan terjadi.
Alka menemui kakaknya di kamar. Dia melihat kakaknya yang gagah berani dengan tubuh tegap itu terlihat sangat kurus, sangat amat kurus dan tatapannya kosong.
“Aa! Kakaku yang baik hatinya.” Alka memeluk Zerata, Zerata tersadar adiknya di sini.
“Adikku yang cantik, aku senang kau ada di sini.”
“Izinkan aku menggantikanmu, pergilah, kaburlah, raja itu tidak ada di sini.”
“Tidak, aku di sini saja, hidupku sudah berakhir.”
“Hidupku tidak berguna, kau itu jin yang hebat, aku lemah, aku saja yang menggantikanmu.”
“Sampai mati takkan kubiarkan kau menanggung penderitaan yang pedih ini, rasanya sakit hingga terasa seperti nyawamu dicabut berkali-kali, lalu apakah aku masih bisa hidup jika membiarkanmu merasakan sakitnya? Izinkan aku melakukan kewajiban sebagai seorang kakak, hiduplah dengna baik, tolong orang-orang yang diperlakukan dengan tidak adil seperti kita, tolong sebisa mungkin, peperangan itu tidak akan dimenangkan oleh para tetua, aku yakin itu, karena Tuhan takkan berpihak pada iblis, ingat Tuhan bahkan meminta leluhur kita bersujud pada Nabi Adam, maka peperangan ini kembali akan dimenangkan oleh Ayi Mahogra manusia yang mulia, yang selalu menjalankan perintah Tuhan menjaga dunia ini dari ketidak adilan.
Kau harus kabur begitu perang itu berakhir, meminta ampunlah padaTuhan, berbuat baik, ingat ini, kau tidak pernah sendirian, aku bersamamu, aku kakakmu, aku Zerata, kakakmu.”
Setelah mengatakannya, Zerata tiada, Alka terdiam sesaat, dia membeku, seolah dunia hilang dari hadapannya, Alka merasakan hal yang paling takut dia alami, yaitu ... kehilangan lagi dan lagi.
Alka tidak melepas kakaknya saat itu, pengawal raja menyadari kehadirannya dan dia menangkap Alka serta membawa Zerata entah kenapa, Alka lagi-lagi dilempat dari hutan dan ditangkap anka buah ayahnya.
Alka hanya diam saja, dia tidak bisa mengeluarkan air mata karena perih itu membuat dadanya sesak, dia tidak bisa memikirkan apapun, kakaknya telah tiada.