Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 193 : Sesat 8


“Kenapa? ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Alisha, dia memasakkan makan malam untuk asisten perempuannya.


“Kenapa harus menculik Rido?”


“Oh, aku belum cerita padamu ya?” Alisha tersenyum, dia menyajikan steik untuk Asistennya, makanan kesukaan mereka berdua.


“Ya, belum.”


“Aku ingin menjadi bagian dari mereka, tapi aku tidak bisa masuk, kemungkinan Har akan menolaknya, karena dia mengenalku sebagai wanita yang lemah dan manja. Dia selalu terusik dengan kehadiranku, aku pasti tidak selalu cukup baginya.


Makanya aku ikut permainan sebagai musuh, agar aku bisa ikut bermain.” Alisha seperti gemas karena tidak sabar ikut permainan.


Sementara Asistennya sibuk memakan steik buatan tuanya.


“Aku bingung, maksudku, kenapa kau tidak berjuang dengan cara biasa saja, misalnya menyatakan cinta lalu mendekatinya perlahan. Kenapa harus merusak tubuhmu dan juga mental?”


“Kau pernah jatuh cinta?” tanya Alisha.


“Pernah, padamu Nona.” Asisten itu mengatakannya bukan karena dia suka perempuan yang berjenis kelamin sama denganya, tapi lebih kepada balas budi atas semua hal yang Alisha lakukan padanya dan keluarganya, hingga dia bersumpah, akan mengabdi pada Alisha, tujuan hidupnya adalah menjadi baying-bayang Alisha.


“Bukan seperti itu, kau memang memiliki hasrat seksual padaku?”


“Kau menjijikan.” Asisten itu berkata dengan pandangan datar, karena mereka berdua begitu dekat dan asisten itu juga sangat lurus, hidupnya hanya untuk mengabdi pada Alisha.


“Berarti kau tidak cinta padaku, kau hanya sayang dan perduli. Kau takkan mengerti, karena jika kau sudah bertemu dengan orang yang kau cintai, kau akan tahu rasanya, betapa sulit hidup tanpa dia. Semua tentang dirinya begitu menarik, padahal itu mungkin hal yang tidak kau sukai.


Dan Hartino tidak seperti lelaki lain, dia berbeda, cinta bukan prioritasnya, prioritasnya adalah 4 orang itu, setelah ibunya. Aku ingin menjadi salah satu dari mereka, yang diprioritaskan oleh Hartino.


Maka aku akan menjadi bagian dari mereka, dengan cara seperti ini, ikut permainan dan menikmati dikejar-kejar oleh mereka.” Alisha cekikikan.


Sementara Rania sibuk makan dengan ekspresi datar.


“Kau ingin tambah?”


“Boleh.” Rania tidak pernah menolak saat Alisha menawarkan makanan yang dia masak, Alisha sangat pintar masak.


“Rania, menurutmu, kita lepaskan Rido kapan?”


“Entahlah, kau yang selalu lebih pintar mengatur rencana, Nona.”


“Kalau begitu kita berikan saat aku bosan bermain saja ya.”


“Baiklah.” Rania tetap sibuk dengan daging panggangnya.



“Kau pasti tahu cara memancingnya ke sini kan?” Aditia memegang rambut kunti yang hendak kabur terus itu.


“Lepas!” Kunti itu terus berusaha kabur, tapi tidak bisa karena rambutnya di pegang Aditia, lima sekawan sudah berada lagi  di gedung itu.


“Kasih tahu dulu dia di mana.”


“Tidak tahu! Aku bukan pengasuhnya, aku juga bukan istrinya, aku tidak tahu!” Kunti kesal karena selalu jadi bulan-bulanan manusia-manusia ini.


“Bohong kalau kau tidak tahu, sekarang kasih tahu dulu,” Alka mulai menyabet cambuknya kepada kunti itu, tubuhnya kena dan dia berteriak, kesakitan.


“Sakit!!!” Kunti itu sekarang hampir menangis, dia memang bukan jin perang, dia hanya jin usil, warga sipil jin yang kebetulan tinggal di gedung itu.


“Ayo katakan atau kau mau aku cambuk lagi? Alka bersiap.”


“Mau kau cambuk sampai aku musnah pun, aku tidak tahu!” kunti itu kesal karena tidak dipercayai.


“Kak, udah. Dia beneran nggak tahu.” Ganding melarang Alka untuk menyabet cambuknya lagi kepada kunti itu.


Ganding mendekati kunti yang sedang jongkok ketakutan.


“Kalau begitu, bisa kah bantu kami? Mungkin ada sesuatu yang aneh kapan terakhir kau bertemu dengannya?”


Kunti itu masih diam tak menjawanb.


“Maafkan kami ya tadi sudah kasar.” Ganding membujuk, Jarni melihatnya sedikit tidak suka.


“Aku terakhir melihatnya dua hari yang lalu, dia masih saja berdiri di jendela itu menakuti orang-orang yang kebetulan lewat. Aku hanya melihatnya sekilas karena aku memang hanya lewat saja, malas menyapanya karena dia mulai jahat. Tapi kemarin berbeda, dia tiba-tiba keluar dari gedung, aku mengikutinya, tapi dia terlalu cepat, saat aku sudah di jendela tempat dia semula, aku melihatnya mendekati seseorang, aku tidak melihat itu perempuan atau lelaki, tapi itu manusia karena aku melihat kakinya napak.


Lalu tiba-tiba dalam sekejap Rido menghilang, sedang manusia itu juga hilang, terlalu cepat hingga aku tidak sadar apa yang terjadi.


Aku pikir saat itu, mungkin dukun, kau tahu, dukun suka mengoleksi kami untuk disuruh-suruh, makanya aku tidak pernah menetap lama dalam suatu tempat karena aku takut ditangkap dukun jahat.”


“Dukun ya? Apa kau tahu kediaman dukun terdekat dari sini?” Ganding bertanya.


“Nding, ingat, informasi dia kadang menyesatkan bukan? jadi jangan telan bulat-bulat ya.” Hartino memperingatkan.


“Dia tidak berbohong, kita bukan tertipu oleh kata-katanya, tapi kita memang salah memilih jalan saja, tapi bukankah salah informasinya perlahan membawa kita pada jawaban, ingat, karena informasinya mengenai kejadian hari itu, membawa kita pada orang tua Rido, orang tua Karina dan juga ajudan itu. Lalu jawaban kita ketemu.” Ganding membelanya.


“Apakah aku boleh pergi sekarang?” tanya kunti itu.


“Lepaskan dia.” Alka meminta Ganding melepaskan wanita itu, walau sebenarnya dari awal Ganding tidak suka dia disiksa. Alka dan Aditia memang sangat keras pada jin usil, mereka tidak suka berdiskusi dengan jin. Kalau Ganding jauh lebih fleksibel. Sementara Jarni dan Hartino mengikuti perintah.


Kunti dilepaskan.


“Jadi bagaimana Kak?” Tanya Hartino.


“Memeriksa dukun-dukun sekitar sini Kak, begitu bukan?”


“Kita tidak punya pilihan.”


Pertama Hartino mengumpulkan data dukun-dukun terkenal di sekitar situ, radius sampai harus lebih diluaskan agar pencarian efektif.


Total ada dua puluh dukun yang terkenal, mereka membagi dua puluh dukun itu dalam lima orang, mau tidak mau biar cepat, mereka akan menyelidiki dua puluh dukun itu sendiri-sendiri. Jadi masing-masing akan menyelidiki 4 dukun dalam satu atau dua hari ini.


Pertama kalinya menyelidiki sendiri-sendiri, Jarnilah yang palig kesulitan, makanya dia akan memakai jalur keras, tidak seperti yang lain, bertanya.


JARNI DUKUN 1


Jarni datang ke tempat dukun yang sudah diberikan datanya oleh Hartino.


Dari kejauhan Jarni melihat rumah dukun itu yang berada di gang, rumah yang padat penduduk, rumah itu penuh orang, orang dari berbagai macam usia. Mereka duduk sembarang seperti pasien puskemas. Pasti itu adalah deretan orang ‘sakit’.


Jarni duduk di dekat salah satu ibu-ibu yang membawa seorang nenek-nenek, mungkin nenek-nenek itu ibunya.


“Mau berobat juga?” Tanya ibu itu, khas ibu-ibu, pasti suka mengobrol, Jarni terpaksa keluar dari zona nyaman karena dia sedang melaksanakan tugas.


“Iya,” jawabnya.


“Sakit apa?” tanya ibu itu lagi.


“Ini.” Jarni menunjuk perutnya.


“Oh, nggak hamil-hamil ya?” Ibu itu menebak, karena Jarni menunjuk perutnya.


Jarni mengangguk saja, karena malas menjelaskan sesuatu yang memang bohong.


“Kalau saya, ibu saya nih, kayaknya diguna-guna sama warung sebelah di pasar, mereka memang saingan, sekarang ibu saya suka linglung, suka lupa siapa saya dan cucunya. Makanya saya mau berobat ke sini, udah dua kali datang, ada kemajuan, walau kadang masih suka kambuh.”


Jarni memperhatikan ibu itu, dia lalu mendekati ibu itu dan memegang tanganya, Jarni ingin merasakan apakah ada makhluk kiriman, tapi kosong, tak ada energi apapun yang Jarni rasakan selain energi ruh milik jasadnya.


“Kamu ngapain Neng?” Ibu itu bertanya.


“Kenapa nggak ke Dokter aja, Bu?” Jarni jadi kasihan.


“Dokter apa? Emang Dokter nanganin orang linglung?” tanya ibu itu.


“Ke Dokter spesialis Saraf, takutnya gejala Alzheimer.”


“Hah? apaan tuh, nggak percaya saya mah ama Dokter, cuma mau uang aja biasanya, nanti dipaksa beli obat.”


Jarni menatap ibu itu yang menatap kosong ke depan. Dunia ghaib adalah dunia yang dekat dengan Jarni, tapi saat Jarni tahu ini adalah penyakit medis, maka dia takkan membohongi orang. Ini jelas penyakit medis, di usia yang seperti nenek ini, penyakit pikun memang tidak bisa dihindari, saat ini yang dia butuhkan adalah pertolongan anaknya, bukan dukun.


“Memang dikasih apa Bu, di sini?”


“Oh, dikasih ramuan jamu gitu, itu untuk ngusir jin di dalam tubuhnya, biar pada kabur, jin itu memenuhi otak ibu saya katanya, makanya mesti dibuat kabur supaya bisa ingat lagi.”


Jarni menutup matanya, menahan marah, tidak ada satu pun jin yang menutup semua bagian tubuh nenek ini.


Jarni lalu masuk dengan paksa ke dalam. Semua orang berteriak padanya, karena dia dianggap akan menyelak antrian.


Dukun itu ada di ruang tamu, dia sedang memegang seorang perempuan dengan gerakan seperti menerawang.


“Antri dulu, Mbak.” Seseorang membentak Jarni, Jarni menatapnya dengan tajam dan menepuk bahunya, orang itu langsung diam dan duduk.


Jarni mengeluarkan ular mininya yang dia sengajakan agar dukun itu melihat. Kemampuan dasar untuk melihat hal ghaib tentu dukun itu miliki, tapi selebihnya hanya kebohongan.


Jarni jongkok di hadapan dukun itu, dia menyamakan posisi karena dukun itu sedang duduk bersila, ruang tamunya tanpa bangku.


“Kau tahu, kalau ularku bisa membuat tidurmu bermimpi buruk hingga kau takut tidur?” Jarni berkata dengan penuh penekanan.


“Siapa kau?” Dukun itu masih berusaha tenang, karena dia melihat Jarni begitu muda, jadi pasti ilmunya masih rendah. Dia tidak tahu, kalau yang dihadapi Jarni jauh lebih berat dari yang pernah dia temui.


“Aku? Aku Jarni dan ini peliharaanku.” Jarni menyebar ular-ular itu di seluruh rumah, dia akan mendeteksi keberadaan Rido, sekalian memberi pelajaran, orang-orang yang berada di sekitar terlihat bingung karena dukun hanya terdiam dan Jarni jongkok di hadapannya.


“Aku bukan dukun!” Jarni lalu memerintah pesuruh yang tadi menegurnya untuk mengusir semua orang, Jarni sudah menggendamnya hingga dia jadi penurut.


“Kalau begitu apa kau?”


“Bukan siapa-siapa seperti dirimu.”


“Ilmuku jauh lebih tinggi.” Dukun itu masih tidak tahu seberapa tangguh lawannya.


“Kalau memang kau begitu berilmu, coba bebaskan anak buahmu dari gendamku.” Jarni menantang.


Dukun itu hendak berdiri, tapi gagal, dia tidak bisa bergerak.


Jarni tertawa.


“Bagaimana bisa, dirimu saja tidak bisa kau kendalikan, apalagi pesuruhmu.”


“Apa yang kau lakukan padaku?” Dukun itu mulai panic.


“Tidak banyak, hanya menyentuh kakimu tanpa kau sadari dan mengendammu. Kalau kau begitu tinggi ilmunya, lepaskan gendamku.” Jarni cekikikan.


“Aku mohon lepaskan aku, aku hanya ….”


“Menipu, membohongi orang susah dan mencuri uang mereka?” Jarni kesal, sementara ularnya sudah melapor bahwa tidak ada Rido di sana.


Setelah memastikan bahwa benar ruh lelaki itu tidak ada, Jarni berniat pergi, tapi sebelum pergi dia ingin memberi pelajaran pada dukun sesat ini.


“Ularku akan mengawasimu, jika aku tahu kau buka praktek lagi, maka ularku akan mematukmu, kau masih akan tetap hidup, tapi tidak tenang, mengerti!” Jarni lalu pulang setelah sebelumnya melepaskan gendam dari dukun dan juga pesuruhnya.


...


HARTINO, DUKUN 3


Tak ada satupun dukun yang dia temui adalah dukun yang benar-benar membantu orang melalui ilmu ghaib. Rata-rata hanya dukun palsu yang mengincar uang. Trik dan juga tentu saja tipuan.


Tapi dukun ini sepertinya berbeda. Saat sampai rumahnya Hartino melihat banyangan yang memeluk rumah itu, bayangan hitam.


Hartino masuk, rumah kosong, tidak ada penghuni, Hartino menggunakan keahlian lainnya, yaitu masuk dengan diam-diam ke rumah orang, tentu dengan sebuah kawat khusus yang dia gunakan untuk membuka kunci pintu rumah.


Seperti yang disangka sebelumnya, rumah ini kosong.


Hartino masuk begitu masuk dia melihat begitu banyak benda klenik, keris yang berjejer di taburi bunga tujuh rupa, ada panahan dan juga benda-benda lain seperti gamelan.


Bayangan hitam itu tidak menyerang Hartino, karena Hartino telah mengalihkan perhatian jin itu dengan meminta khodamnya mencarim masalah, sehingga jin yang memeluk rumah dukun ini akhirnya sibuk berkelahi dengan khodam Hartino.


Dengan begitu Hartino bebas mencari Rido di dalam rumah dukun itu.


Setelah melihat begitu banyak benda klenik, Hartino masuk ke kamar demi kamar, Rido tidak ada. Makanya Hartino memutuskan untuk segera meningalkan tempat itu, karena dia sendirian, kalau melihat jin dan juga benda klenik yang ada di sini, tentu akan sulit melawan dukun itu, pasti khodamnya banyak dan sedang di bawa saat ini.


Pintu depan Hartino tutup lagi, dia sudah di luar, saat berusaha mengunci pintu masuk itu dengan kawat khusus, Hartino mendengar suara orang yang berdehem.


Hartino berbalik, sial! dukun pemilik rumah ini, Hartino tahu karena telah mencari datanya.


“Apa yang kau lakukan di rumah saya?” Tanya dukun itu.


“Maaf Pak saya hanya ....”


“Itu khodammu yang sedang berkelahi dengan peliharaan saya?” tanya dukun itu.


“Iya betul.”


“Tarik dia mundur, kau jelaskan padaku dengan tenang.” Dukun itu terlihat bijaksana, memang tidak semua dukun jahat, ada juga yang bisa benar-benar membantu, tapi mereka bukan ustad, jadi caranya menurut adat dan budaya. Seringkali itu malah jauh dari ajaran agama.


Hartino menarik khodamnya untuk berhenti mengajak peliharaan dukun itu berkelahi, khodam Hartino berhenti dan akhirnya sosok hitam itu memeluk rumah dukun itu lagi.


“Terima kasih Ki, sudah mau mendengar alasan saya.” Hartino berbasa-basi dulu.


“Ya, jadi tolong jelaskan kenapa kamu masuk ke rumah ini tanpa izin? Bicara yang benar, karena aku tahu jika kau berbohong, maka ketika kau berbohon, kau hendak menantangku berkelahi.”


“Baik Ki, aku akan jelaskan semua. Saya ini Hartino, kami berlima punya berkah yang Tuhan berikan agar bisa melihat mereka yang tak terlihat dan juga membantu manusia yang berurusan dengan makhluk ghaib yang jahat.


Kami tidak menentukan tarif dalam membantu, tapi kebanyakan yang kami kerjakan saat ini adalah, menjemput dan mengantar pulang ruh yang masih penasaran, membantu menyelesaikan masalah mereka hingga mereka tenang saat kembali pulang kepada Tuhannya.”


“Aku sudah tahu, bahwa kau anak yang baik, makanya aku mengajakmu masuk. Aku tahu bahwa energimu begitu bagus dan punya niat baik, Auramu begitu terbuka.”


“Ah, Aki bisa aja.”


“Jelaskan lebih jauh, apa yang kau cari di sini? apa ada masalah pada manusia yang pernah aku tangani makanya kau ke sini?” Aki bertanya lebih lanjut.


“Oh bukan, tenang saja Ki, kami hanya random mencari dukun sekitar gedung pelatihan pemerintah yang terbengkalai itu, karena ada sesosok ruh lelaki  berpakaian pengantin pria berwarna putih yang belum kembali ‘pulang’, kami mencoba membantunya untuk pulang, beberapa hari ini kami menyelidiki, dimulai dari siapa pria itu, penyebab kematian dan keluarganya. Lelaki itu ternyata bunuh diri dan yang menjadi penyebabnya adalah gendam dan pelet yang lelaki itu berikan pada calon pengantinnya. Tepat setelah calon pengantinnya disadarkan, akhirnya mereka gagal menikah dan si lelaki melakukan bunuh diri.”


“Oh begitu, aku tahu tentang gedung itu, lalu kenapa kau ke sini kalau memang sudah menemukan jawabannya, apakah jawaban itu ada di rumahku?”


“Tidak Ki, justru setelah menemukan jawabannya, kami malah kehilangan ruh itu.”


Aki tertawa mendengar Hartino berkata begitu.


“Lalu kau pikir aku mengambil ruh itu dan menjadikannya peliharaan? Aku tidak suka ruh yang tidak tenang, mereka cenderung sulit diatur, aku lebih suka jin yang kelaparan, sukanya makan, jadi aku mudah mengendalikannya.”


“Iya aku tahu itu, makanya aku mau pergi diam-diam tadi.”


“Baiklah, kau mau aku bantu mencari?” Aki menawarkan bantuan.


“Tidak usah, nanti aku dihabisi oleh kawanku yang lain kalau aku meminta tolong pada dukun.”


“Baiklah kalau begitu, karena sudah jarang sekali anak muda sepertimu, makanya aku berikan ini, ini adalah air suci yang diambil dari mata air gunung-gunung angker. Dia bisa menunjukan jejak hantu jika airnya dia dilempar di tempat terakhir ruh itu terlihat, aku akan menghadiahinya untukmu, tapi dengan satu syarat.”


“Tidak usah Ki, aku tidak mau merepotkan.” Hartino menolak.


“Tidak kau harus menerimanya, karena ini akan membantumu untuk  cepat bertemu kebenaran.”


“Hah? kebenaran Ki? Aku tidak mengerti?” Hartino bingung.


“Ya, tentang hilangnya ruh itu. Ambil saja ini, tak ada yang rugi juga, kalau kau berhasil, datang lagi ke sini dan bantu aku membereskan semua benda klenik ini, karena aku takut, kalau aku sudah tiada, benda ini akan mengganggu orang lain karena mereka tahu, sudah tidak ada yang mengendalikannya.”


“Baiklah kalau itu syaratnya, kami punya markas untuk menaruh benda seperti itu.”


“Maka terima air ini, siram hanya pada tempat yang telah dia tempati sebelumnya.” Hartino mengangguk dan bersiap untuk kembali ke gedung terbengkalai itu.


Begitu sampai, lima sekawan berkumpul lagi,


Hartino tidak memberitahu soal air yang dia dapatkan dari dukun itu, dia hanya ingin menunjukan dulu khasiatnya, takut dibilang percaya dukun.


“Apa yang ingin kau lakukan sih Har?” Ganding bingung.


Har menetesi air itu sebanyak 5 tetes dan menyebutkan nama ruh itu, muncullah jejak dari ruh yang pernah berdiri di sana dengan nama tersebut, jejak itu mengambang seperti asap, berjalan perlahan demi perlahan seperti terakhir kali ruh itu berjalan. Mareka terus mengikuti ruh itu.


Tiba saatnya mereka tidak bisa lagi mengikutinya karena terlalu jauh, akhirnya Aditia membawa angkot dan mengikuti jejak ghaib dari ruh itu yang ditunjukan oleh air dukun yang dibawa Hartino.


“Har, jejaknya memudar.” Aditia berkata.


Hartino menetesinya lagi lima tetes, maka jejak itu muncul lagi, mereka terus mengikuti jejak itu, jalan demi jalan di telusuri hingga mereka mendapatkan jejak itu masuk ke kawasan elit yang banyak gedung tingginya.


“Aneh nggak sih, ini kan kawasan elit, kenapa dia ke sini?” tanya Alka.


“Ini kawasan apartemen Karina, apakah Rido kesana?” Kali ini Ganding yang bertanya.


“Bisa jadi, ikuti saja dulu.”


Lalu mereka terus mengikuti jejak ruh itu, hingga di suatu titik mereka sadar.


“Kita tuh diputerin nggak sih? ini sudah berputar di gedung ini beberapa kali loh, tapi kita masih saja belum berhenti.” Ganding bertanya dengan kesal.


“Ikuti saja dulu.” Hartino hanya mengatakan itu terus.


“Sampai kapan Har? Kita kayak orang bodoh tahu, muter-muter aja sekitar situ, lagian elu yakin ini jejak Rido?”


“Yakin Nding, kalau bukan jejak dia, siapa lagi? kan aku sebutkan nama dia saat menetesi tempat yang terakhir dia tempati, jadi tidak mungkin salah.”


“Kau dapat cairan ini darimana sih!” Ganding kesal karena takut Hartino dibodohi.


“Tidak, ini benar-benar air yang mujarab.”


“Yasudah Har, ikuti terus.”


Tidak terasa jejak itu mulai memudar lagi.


“Har, tetesi lagi.” Aditia meminta dari kursi supir.


“Dit, abis!” Hartino menuang tempat cairan itu dan tidak tersisa setetespun dari sana.


“Yaudah minta aja lagi sama dukunnya,” Ganding berkata.


“Celaka, ini botol air terakhir, dukun itu akan pensiun, dia bahkan memberikan syarat agar air ini bisa aku ambil, syaratnya adalah membawa semua benda kleniknya untuk dirawat. Dia tak punya lagi, selain botol ini mini ini.”


“Yaaaaa!!!!” Semua kecewa, karena ini masih sangat samar, entah ke mana Rido saat ini.


Seorang perempuan dengan pakaian formal yang telah mendahului mereka membawa sebuah botol kaca yang tertutup kayu tertawa mendengar pembicaraan lima sekawan, mereka tidak tahu, langkah mereka memang dikelabui.