
Mereka berhasil keluar, begitu semua keluar, pintu segera ditutup lagi, agar tidak ada yang bisa ke luar.
Alisha tetap memegang kameranya, dia mengabadikan moment keluar itu, kawanan terlihat sangat lusuh, lelah, lapar dan kedinginan.
Karena itu begitu mereka keluar, langsung diselimuti dengan handuk tebal dan sudah disiapkan kursi roda di sana untuk mereka berlima, entah kenapa, begitu menginjak tanah di pintu luar itu, tubuh mereka terasa lemas dan tidak bisa berdiri lagi.
Kawanan di bawa ke suatu tempat, itu adalah vila yang berda tak jauh dari tempat ritual.
Kawanan digantikan baju oleh orang-orang itu, yang laki-laki dibantu oleh lelaki dan yang perempuan dibantu oleh perempuan.
Mereka benar-benar tidak menolak ketika dimandikan dan digantikan baju yang kering, baju yang telah Alisha siapkan untuk mereka kenakan setelah selesai ritual.
Sudah memakai baju kering dan bersih, mereka berlima dikeluarkan lagi dari kamar dengan kursi roda, lalu beberapa dokter dan perawat langsung memasang selang infus pada mereka berlima.
“Kenapa harus memakai Dokter?” Hartino bertanya pada Alisha yang sibuk membantu kawanan untuk nyaman.
“Karena kalian sudah tidak makan selama 4 hari.”
“Hah!” Kawanan kaget mendengar cerita Alisha, bahwa mereka belum makan selam 4 hari, pantas saja mereka merasa kelaparan dan kehausan begitu keluar.
“Ya, kalian semua sudah di dalam ruangan itu selama 4 hari ini, ralat, 3,5 hari, karena hari ini belum berakhir.”
Mereka kaget karena biasanya kawanan tidak pernah terpengaruh waktu ghaib. Walau kawanan tahu bahwa waktu dunia ghaib memang lebih cepat dibanding waktu di dunia kita. Kawanan merasa bahwa mereka di sana tidak sampai 1 hari, ternyata begitu keluar dari pintu itu, mereka sudah 4 hari di dalam.
Saat ini kawanan meminta privasi karena harus membicarakan rencana selanjutnya, para Balian, Dokter dan Perawat serta warga biasa yang membantu mereka akhirna membubarkan diri untuk memberi waktu istirahat pada kawanan, mereka cukup takjub.
Mereka semua akhirnya berkumpul di suatu kamar, Jarni dan Alka duduk di kasur, Alisha juga duduk di kasur yang sama tapi tidak meluruskan kaki di kasur itu. sedang para lelaki duduk di sofa-sofa panjang, tangan mereka masih terpasang selang infus.
“Aku menunggu kalian keluar, rasanya lama sekali sampai aku mengeluh, aku sempat memaksa masuk, tapi mereka melarang, katanya akan berbahaya untuk kalian. Makanya akhirnya aku hanya menunggu di depan pintu.” Alisha memulai percakapan.
“Kau tidur di depan pintu menunggu kami selama 4 hari ini?”
“Tidak juga, aku tidur di dalam tenda, mereka menyediakannya untukku karena aku bersikeras untuk tidur di depan pintu menunggu kalian ke luar dari sana.”
“Kau ini!” Hartino kesal dan memukul kepala Alisha dengan lembuat, istrinya ini memang sangat pemberani, tidur di depan pintu ruang ghaib sendirian.
“Yang aku heran, kenapa kalian masuk dan keluar di pintu yang sama?” Alisha bertanya.
“Sebentar, jadi ... kami masuk dan keluar di pintu yang sama?” Aditia bertanya.
“Iya, ruangan itu buntu, seperti aula, dengan 1 pintu masuk saja, yaitu tempat kalian masuk, hanya itu pintu yang tersedia di ruangan ghaib. Bahkan jendela juga tidak ada.” Alisha menjelaskan.
“Jadi kita masuk dan keluar di pintu yang sama, berarti memang itu ruangan ghaib, mereka membuka pintu itu dengan mantra pembuka pintu ghaib khas Bali, jadi ketika pintu dibuka, kami sebenarnya tidak masuk ke ruangan itu, tapi langsung ke dunia ghaib.
Makanya keluar juga dari pintu yang sama, meski kami merasa telah berjalan lurus ke depan dan merasa keluar dari sisi yang berbeda, karena sebenarnya kami tidak pernah masuk ruangan itu.” Aditia mengambil kesimpulan.
“Aku kesal, kenapa aku tidak bisa ikut berpetualang di dalam sana! Aku hanya bisa di tenda, masak mie rebus dan menyeduh kopi saja.”
“Alisha! Itu lebih menyenangkan daripada kedinginan dan kelaparan di dalam tadi.” Ganding kesal mendengar Alisha harus menyebutkan kata mie rebu dan kopinya.
“Tetap saja di luar sendirian sambil khawatir dengan kalian itu rasanya tidak menyenangkan.” Alisha merajuk.
“Jajat ke mana? Aku tadi tidak melihat dia ikut ke vila ini, aku hanya melihatnya menyambut kita saat keluar tadi.” Ganding tiba-tiba bertanya.
“Dia sedang mendampingi Gea dan suaminya, katanya Gea mengamuk lagi, makanya dia tadi hanya menyambut kalian ke luar lalu pergi lagi. Dia sudah izin pamit padaku, aku izinkan, karena Gea dan suaminya butuh Jajat.” Alisha menjawab.
“Kita harus segera pulih dan menyelesaikan masalah Gea.” Alka ingat kalau tujuan mereka bahkan sekarang telah semakin lama terselesaikan, pasti sekarang Gea semakin menderita.
“Sha, kau tahu sudah sejauh mana kondisi Gea?” Alka bertanya lagi.
“Ya, aku sempat bertanya pada Jajat soal kondisi Gea. Katanya sekarang pertu Gea semakin membesar, sedang tubuhnya semakin kurus, Gea hanya diam dan histeris ketika waktu menunjukkan magrib hingga malam.
Suami dan adiknya Gea juga terlihat sangat kacau kata Jajat, beruntung Gea memiliki suami dan adik yang tetap mendampinginya, tidak memaksa Gea keluar dari Bali dan memasungnya.
Kau tahu kan, bagaimana masyarakat kita ini yang katanya sudah berkembang, tapi pemikirannya masih mundur, banyak orang yang sedang dirasuk berakhir dipasung, padahall mungkin sjaa masih bisa dibantu.”
“Alisha, kita nggak bisa menyalahkan orang yang tidak paham dunia kita, kita hanya perlu selalu siap menolong siapapun yang membutuhkan bantuan. Agar banyak orang semakin paham, ketika penyakit ghaib itu harus dicari akar masalahnya, diberesin di akarnya, maka pasien pasti sembuh dengan penanganan yang tepat.
“Ya, beruntung kita punya Ayi. Lanjut ke kondisi Gea. Gea saat ini bahkan tidak sadar dia telah hamil, walau kehamilannya sulit dibilang kehamilan, Bidan yang datang dan memerika perutnya, juga memakai alat deteksi detak jantung bayi di dalam kandungan, tidak menemukan apa-apa di dalam perut Gea.
Ibu hamil perutnya akan berbeda katanya, Bidan dapat meraba bayi dalam kandungan dan tahu posisinya dengan teknik tertentu, tapi saat mereka mencoba mencari bayi di dalam kandungan itu dan meraba posisinya, tidak ada apa-apa di dalam perut Gea.” Alisha kembali melanjutkan.
“Jadi menurut Jajat, dia hamil atau tidak?”
“Jajat bilang dia merasakan energi dalam perut Gea, tapi energinya aneh, energi itu terasa panas, tapi saat Jajat menyentuh perutnya, perut itu terasa sangat dingin, seperti menyentuh mayat.” Alisha kembali menjelaskan.
“Menurut kalian, apa benar kata Balian itu? Balian yang pertama kali mencoba mengobati Gea?” Aditia bertanya pada kawanan.
“Kalau Hanoman atau dewa lain yang telah menyetubuhi Gea?” Hartino bertanya.
“Ya, yang itu.”
“Aku tidak yakin.” Hartino tiba-tiba menjawab dengan tegas.
“Kok bisa?”
“Aku merasa pemahaman itu agak bertentangan dengan keyakinan masyarakat Bali itu sendiri, bahwa Dewa adalah sosok yang suci, tapi kok dia melecehkan Gea di kamar mandi dengan diam-diam, tidak dengan wujud agungnya, tapi dengan wujud suaminya, berarti dewa itu bermaksud menipu Gea dong? lalu apakah filosofi dewa jadi geser hanya karena kehadiran seorang pendatang seperti Gea di sini?” Hartino menjelaskan kepada Aditia yang berusaha untuk mendiskusikan jalan selanjutnya yang harus mereka tempuh demi menyelamatkan Gea.
“Ya, tapi tak ada salahnya mengecek Har, bisa saja dewa itu menyukai sesuatu yang dimiliki Gea, hingga harus mengambil jalan pintas untuk mendapatkannya.” Ganding berpendapat lain.
“Ya, nggak ada salahnya mengecek itu, tapi bisakah kita istirahat dulu, karena aku lelah sekali kawan.” Hartino mengeluh.
“Iya, kita juga butuh makan dan ....”
“Kopi” Semua orang berteriak.
...
“Gimana Pak Jajat? Apakah mereka bisa melaksanakan ritual itu dan membantu Gea?” Anto suami Gea bertanya.
“Bisa, saya baru saja selesai melihat mereka sudah selesai melakukan tahap akhir ritual, tenang dan bersabarlah Pak, karena kita akan selalu berusaha yang terbaik untuk istrimu.”
“Lihat perutnya, sekarang seperti sedang hamil 5 sampai 7 bulan, besar sekali perutnya. Ini mustahil penyakit biasa, karena penyakit apa ang bisa membuat perut seseorang membesar dalam hitungan minggu saja.”
“Iya itu memang aneh dan ini sudah bisa dipastikan bahwa Gea memang seorang pasien penyakit ghaib. Sekarang kita hanya perlu menunggu Aditia dan kawanannya untuk datang ya Pak.”
“Iya Pak, terima kasih karena beberapa ramuan dari Bapak, Gea setiap malam sudah satu minggu ini tidak mengamuk lagi.”
“Iya, itu ramuan dari Saba Alkamah, itu adalah ramuan penangkal rasa sakit yang bisa melindungi Gea dari kerasukan, Alka mengirimnya hanya sebagai jaga-jaga jia mereka terlalu lama sampai ke Bali, Alka memang orang yang penuh perhitungan.” Jajat memuji Alka.
“Ya, saya akan sampaikan terima kasih jika mereka sudah di sini.”
...
Hari telah petang, kawanan sudah lumayan pulih, para Balian dan kawanan berkumpul di sebuah aula besar, bukan tempat mereka masuk ke dunia ghaib, tapi aula lain, karena tempat ritual ini sungguh sangat besar.
Mereka akan akan malam bersama.
Aditia dan kawanan duduk di tengah-tengah, mereka semua makan lesehan.
“Selamat malam semuanya, terima kasih untuk teman-teman Balian yang hadir di sini dan membantu ritual terjadi dengan baik, terima kasih juga untuk Aditia beserta kawan-kawannya yang datang untuk membantu pasien ghaib yang bukan berasal dari Bali, saat ini kalian berlima akan dikenali sebagai Balian jika bertemu dengan sosok apapun di jalan, mereka takkan pernah berani menyentuh kalian, karena energi Balian telah tersemat di tubuh kalian.
Selain itu, kami tidak bisa membantu lagi Dit, setelah hari ini, kau dan kawan-kawanmu akan jalan sendirian untuk menghadapi apa yang menjadi penyebab pasien ghaib itu kerasukan selama berminggu-minggu, hingga Balian dan ustad pun tidak bisa menolong.
Kami membebaskan kalian untuk melakukan teknik pengusiran ruh jahat sesuai dengan adat dan budaya kalian, karena tongkat perjanjian yang sudah Ayi titipkan pada kalian. Karena hal ini terjadi di kota kami, maka kami seharusnay bertanggung jawab atas keselamatan pasien tersebut, kami mengakui telah lalai dan menyebabkan orangmu harus kerasukan seperti ini, kami tidak akan lepas tanggung jawab dan membiarkan tim kalian untuk menyembuhkannya dengan metode yang kalian yakini.” Ketua Balian memberikan sambutan sedang yang lain asyik makan.
Kawanan juga sibuk makan karena kelaparan, setelah diinfus, mereka baru bisa makan malam ini.
Berkat tongkat Ayi, perizinan di sini jadi lebih aman, bahkan tongkat itu bisa membuat Alka lepas dari pegangan Leak Rangda, Leak tertinggi dari jenisnya.
Sekarang hanya tinggal bagaimaan kawanan mampu menyelesaikan masalah dan menyelamatkan hidup 1 orang lagi.