Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 205 : Tinung 9


Induksi sudah selesai dilakukan, wanita hamil itu merasakan kontraksi yang hebat, saat ini menunggu pembukaan lengkap. Barulah proses melahirkan bisa dilakukan dengan cara mengejan dengan ritme yang teratur.


Mbah Nur sangat berhati-hati ketika akan berpindah dari satu tahap ke tahap yang lain. Karena setiap tahap memiliki resiko yang sangat besar.


“Mbah gimana?” tanya Aditia pada Mbah Nur ketika dia keluar.


“Kita tunggu pembukaan lengkap, mungkin lima belas menit karena tinggal satu tahap lagi hingga pembukan lengkap.”


Mbah Nur ke dapur hendak mengambil air putih, dia sangat merasa haus karena kelelahan. Alka dan Alisha di dalam kamar menunggui wanita hamil itu.


Saat sudah sampai dapur untuk mengambil gelas dan air putih dia melihat seseorang mendekati pintu.


“Kamu ngapain di sini malam-malam gini?” Mbah Nur bertanya pada seorang wanita.


“Pulang yuk.” Ajak wanita itu.


“Nggak bisa, di dalam lagi ada yang melahirkan.” Mbah Nur menolak.


“Tapi harus pulang sekarang.” Wanita itu mencoba meraih tangan Mbah Nur.


“Kamu kenapa? kok begini?” tanya Mbah Nur.


“Aku mau pulang.” Wanita itu hanya berkata seperti itu.


“Ya nanti, ada yang sedang melahirkan di dalam, apa kamu mau bantu?”


“Aku mau pulang.” Wanita itu memaksa.


Mbah Nuraeni mengabaikannya, dia berbalik dan hendak pergi, tapi tepukan dibahunya membuatnya berhenti dan terdiam. Tangan itu dingin, Mbah Nur yang memang bisa melihat mereka yang tak terlihat langsung berpaling, dia tahu ada yang salah di sini.


Dia mendekati wanita itu dan berusaha meraihnya, tapi gagal.


“Nak ... kenapa?!” Mbah terisak, tidak ada yang mendengarnya, waktu seolah berhenti.


“Aku sudah berusaha lari, tapi tidak menemukan jalan. Saat aku akhirnya dilepaskan, aku berlari ke sini, karena aku tahu, kau pasti bisa melihatku.”


“Apa yang terjadi padamu Nak?” Mbah Nur tahu dia tidak bisa memegang anaknya lagi yang tidak berwujud, tapi dia tahu, anaknya mungkin masih hidup tapi entah di mana.


“Aku bisa menunjukanmu dimana mereka membawa tubuhku, aku mohon Bu, tolong aku.” Anaknya yang seorang calon Bidan juga tidak berdaya, karena tubuhnya ditawan dan ruhnya dilepas setelah penahanan itu.


“Aku akan menolongmu, ayo kita segera menemukan tubuhmu.” Mbah Nur pergi dari pintu belakang bersama anaknya, dia tidak bisa memikirkan apapun selain buru-buru menyelamatkan anaknya. Saat ini anak orang lain tidak lebih penting dari anaknya, karena seorang ibu hanya akan memikirkan anaknya sendiri, tidak ada yang lebih penting dari anaknya.


Setelah menunggu sepuluh menit tapi Mbah Nur tidak kembali juga, Alka keluar dari kamar setelah mewanti-wanti Alisha untuk menjaga dengan baik di dalam kamar.


“Mana Mbah Nur?” Alka bertanya pada yang lain, mereka berjaga di ruang tamu.


“Sedang mengambil air di belakang untuk minum.”


“Hah? kenapa selama itu?” Alka berlari ke dapur, kosong, tidak ada Mbah Nur di sana, yang ada hanya pintu belakang yang terbuka. Alka mendekati pintu itu dan melihat jejak kaki di tanah basah yang terlihat baru.


Ada orang yang baru saja melewati tanah basah itu. Alka berlari ke dalam.


“Mbah Nur hilang! Kalian kenapa tidak menyadarinya!” Alka kesala kepada semua orang yang menjaga, karena mereka begitu banyak tapi tidak menyadari bahwa Mbah Nur tidak ada.


Aditia lari ke belakang, dia melihat sudah tidak ada siapa-siapa di dapur, dia juga berlari, siapa tahu bisa mengejar, tapi kalau dipikir-pikir sudah sepuluh menit, jadi kemungkinan sudah jauh.


Aditia berlari ke rumah Mbah Nur setelah sebelumnya dia sudah memberitahu bahwa dia akan ke sana.


Sementara yang lain tetap menjaga ibu hamil.


Jarni, Alisha dan Alka sudah di kamar tempat bersalin itu akan dilakukan.


“Ka, dia sudah mengejan-ngejan terus dari tadi, bukankah kalau belum pembukaan sempurna tidak boleh mengejan dulu, karena bisa terjadi robekan yang fatal.” Alisha berkata dengan pelan pada Alka.


“Aku tahu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, kau tahu kan, Mbah Nur hilang.”


“Tapi kita tidak boleh menunda kelahiran ini terlalu lama Ka.”


“Jadi aku harus apa Lais!” Alka kesal suaranya jadi tidak terkontrol.


“Kita lakukan persalinan itu bertiga.”


“Kau gila! aku tidak pernah membantu orang untuk melahirkan.” Alka kesal.


“Tapi kau bisa melihat ke dalam kan?”


“Lais! Aku memang jin, tapi aku tidak suka masuk ke tubuh orang sembarangan.” Alisha kesal, karena masuk ke tubuh orang dan merasukinya berbeda dengan melihat ke dalam organ tubuh seseorang walau hal itu mungkin dilakukan.


“Terserah kau saja, terkadang kau terlalu banyak ragu Ka, itu yang membuat kasus kalian menumpuk.”


“Aku tidak seperti kau, nekat dan sembrono. Kau pikir mudah menghadapi jika terjadi korban hanya karena kita bermaksud menangkap ‘mereka’.” Alka menjelaskan.


“Terserah, pokoknya tunggu sepuluh menit, aku akan memeriksa pembukaannya apakah sudah lengkap atau belum, kalau sudah, aku akan membantunya melahirkan.”


“Kau bisa?” Alka bingung karena Alisha seolah bisa memastikan pembukaan itu lengkap atau belum.


“Sebentar! Kau ini kan Psikolog, bukan Psikiater yang harus melewati sekolah Kedokteran dulu untuk bisa mencapai gelar itu, kau tidak punya basic seorang Dokter untuk melakukan itu.” Alka menahan tubuh Alisha yang memaksa.


“Ya memang tidak, tapi ... aku pernah melihat teman SPOGku yang membantu orang melahirkan, lagian yang cek pembukaan itu biasanya Bidan. Jadi walau aku seorang Psikiaterpun itu kurang tepat.”


“Makanya, itu maksudku Lais! Kau tidak dalam kapasitas bisa melakukannya!” Alka tetap mencegah Alisha melakukan pengecekan pembukaan.


“Terserahlah! Aku hanya ingin membantu.”


Wanita yang hendak melahirkan itu berteriak, dia kesakitan karena merasa dirinya sudah tidak tahan karena rasa sakit dan juga keinginan untuk mengejan yang tinggi.


“Sudah sepuluh menit Ka! Maaf aku harus melakukannya.”


Alisha mendekati ibu hamil itu dan memeriksa pembukaan dengan jari, sebelumnya dia mencoba mencari referensi dari internet yang disediakan oleh Hartino, karena ini memang awam untuknya yang seorang Psikolog, dimana tidak memiliki latar belakang pendidikan kedokteran seperti Psikiater.


“Udah lengkap, Jarni ambilkan baskom itu, kita akan bersiap untuk melakukan proses bersalin.” Alisha berdiri di hadapan kepala bayi akan keluar, sementara Jarni mencoba menyemangati wanita itu dengan menyuruhnya mengejan pada ritme yang tepat seperti yang mereka lihat di internet sebelumnya.


“Ka, cepet! Bantu dong.” Alisha memaksa Alka melakukan apa yang dia katakan barusan, ide gila, tapi Alka akhirnya menyerah karena walau ini tindakan nekat, tapi tak ada salahnya dicoba, karena menunggu Mbah Nur, kemungkinan akan terlambat.


Alka merubah dirinya dalam wujud jin, setelah itu dia masuk ke dalam tubuh ibu yang melahirkan itu dan mengamati proses bayi itu keluar perlahan dari rahimnya.


Alka menyemangati bayi itu agar dia bisa menemukan jalan lahir yang tepat, dia juga ikut mendorong bayi itu dari dalam. Alka sempat teralihkan karena baru sadar, wajah itu tidak ada tanda lahir, bagaimana bisa?


Setelah menunggu selama dua jam, akhirnya proses melahirkan selesai, bayi dilahirkan dengan selamat, ibunya juga selamat, ari-ari sudah dikeluarkan, bayi sudah diadzani oleh ayahnya, lalu yang lain terlihat sangat lega.


“Jaga bayinya, ingat baik-baik perkataanku, JAGA BAIK-BAIK BAYINYA! Kalau yang kali ini sampai hilang lagi, aku akan menghukum kalian sangat berat!” Alka memperingati semua adiknya dia benar-benar kesal karena terpaksa melakukan tindakan ilegal menolong orang bersalin tanpa keahlian dan tanpa pengalaman. Kalau sampai ada yang tahu, mereka bisa ditangkap Polisi, terlalu banyak tindakan kriminal yang mereka lakukan akhir-akhirn ini. Sementara Aditia masih belum kembali.


Ibunya akhirnya bisa menggendong bayi yang baru dilahirkan itu dengan wajah sangat senang.


“Anak saya tidak ada tanda lahirnya kan?” Ibu itu sudah melihatnya tapi seperti tidak percaya, rupanya dia curiga kalau anak ini akan lahir dengan tanda lahir.


“Iya, tidak ada tanda lahir di wajah Bu tenang saja.” Alisha berkata dengan lembut. Alka meninggalkan kamar itu lagi setelah menyerahkan bayinya dari tangan ayahnya ke ibunya.


“Gimana Ka? Bukankah ini terlalu tenang, setelah bayi itu lahir, masa iya Tinung diam saja.”


“Aku merasakan energi besar mendekat.” Alka berkata dengan perasaan khawatir, dia memang merasakannya sejak bayi itu dilahirkan, energi itu seperti ragu mendekat, tapi setelah beberapa lama ini, dia merasakan energi itu akhirnya mendekat.


Mereka sengaja tidak memasang pagar ghaib karena mereka ingin memancing Tinung keluar dengan marah, karena jatah bayinya sudah diselamatkan oleh kawanan.


“Dia mendekat!” Alka berlari ke depan, dia tidak mau telat dan buru-buru akan menangkapnya.


Hening, kosong, tidak ada apapun di luar. Energit itu juga terasa semakin jauh.


“Gimana Kak?” Tanya Ganding, yang lain tidak keluar karena menjaga bayinya.


“Aneh Nding, kenapa dia tidak datang, seharusnya Tinung dan subjeknya marah dan mengamuk karena kita menyalip korbannya. Tapi mengapa dia tidak datang sama sekali, bahkan mendekatpun tidak.”


“Apa karena energi kita terlalu dominan Kak?” Ganding bertanya.


“Tidak, Tinung cukup kuat dengan korban bayi sebanyak itu, aku takut ada yang kita lewatkan Nding, Aditia mana? Kenapa dia tidak kembali?”


“Dia kan di rumah Mbah Nur, mau menjemputnya.”


“Ini sudah lama, sudah dua jam lebih, masa dia tidak kembali!” Alka tiba-tiba ingat sesuatu, dia lalu berlari, Ganding mengikutinya dari belakang tanpa bertanya, karena di saat ini, dia tahu, Alka sedang fokus dengan pikirannya sendiri.


Ganding juga sudah menelpon Hartino untuk tetap menjaga rumah itu sementar dia dan Alka pergi, entah kemana.


Alka terus berlari dengan kencang, tujuannya adalah rumah Mbah Nur, dia tidak mau sampai Aditia gegabah dan melakukan hal yang bisa mencelakai dirinya. Alka bahkan menitikkan air mata. Kalau sampai terjadi hal yang buruk pada Aditia, maka dia juga tidak bisa hidup lagi.


Mereka sampai di rumah Mbah Nur, pintu rumahnya terbuka lebar, aneh, ini sudah terlalu malam untuk pintu terbuka selebar itu.


Alka berlari dan akhirnya masuk ke rumah, suaminya Mbah Nur sudah tergeletak di ruang tamu, dari mulutnya keluar darah.


Ganding buru-buru mengangkat suami Mbah Nur dan mencoba membangunkannya, Alka mencoba merasakan energi Aditia, tapi dia tidak bisa menangkapnya, Alka mulai panik, dia berubah menjadi wujud jinnya dalam sekejap.


Ganding buru-buru mengejar Alka yang seperti kesetanan mencari Aditia.


Ganding tidak takut apapun selain Alka membumihanguskan desa ini kalau Aditia kenapa-kenapa. Lanjonya mulai menguasai Alka jika Aditia dalam bahaya.


“Kak! Kak!” Ganding mencoba memanggil kakaknya walau itu pasti tidak terdengar olehnya.


Alka perlahan bisa merasakan energi Aditia tapi sangat jauh, dalam wujud jinnya, merasakan energi jauh lebih luas, makanya dia terus saja melayang dan mencari Aditia.


Kira-kira di mana ya Aditia? Apakah dia ....


_________________________________________


Catatan Penulis :


Maaf baru update, makasih yang udah nungguin, maaf yang ampe begadang karena nungguin.


Terima Kasih.