
“Jarni, aku tahu sekarang!” kepikiran tentang Jarna membuat Ganding jadi ingat sesuatu.
“Apa?” Jarni bingung.
“Ikut denganku sekarang, aku sudah tahu sekarang.” Ganding berlari dan membawa jaketnya, sedang Jarni mengikuti di belakang.
“Hei kalian mau kemana?” Ibunya Jarni bertanya, dia sedang berada ruang tamu membaca buku bersama suaminya.
“Oh ya, Om dan Tante, Ganding pamit, ada urusan sebentar.” Ganding salim pada orang tua Jarni, begitupun Jarni. Lalu mereka berdua berlari dan meminta supir segera menyiapkan mobil. Sementara itu orang tua Jarni membicarakan hal yang serius.
“Kita harus membuat mereka menikah, apapun caranya.” Ayahnya berkata dengan mimik yang serius.
“Ya aku tahu, kilang minyak itu sudah dimenangkan tandernya oleh ayahnya Ganding, kita harus menjadi bagian dari proyek itu bukan?” Walau ibunya Jarni tidak ikut campur urusan rumah tangga karena sibuk dengan kegiatan rumah tangganya yang begitu banyak, dia mengerti, betapa kilang minyak itu bisa menjadi sumber penghasilan yang luar biasa bagi kedua keluarga.
“Kau harus pastikan kalau Jarni takkan melawan jika kita menyiapkan segalanya, kau juga pastikan Jarni tidak bertemu pria lain selain Ganding, termasuk Hartino, karena aku tidak mau tiba-tiba mereka terlibat cinta segitiga.”
“Aku sudah pastikan Pap, kalau Jarni dan Hartino hanya bersahabat, sudah seperti keluarga, ibunya Hartino juga bilang bahwa keluarga Alisha sudah membicarakan pernikahan mereka, walau Hartino belum berkata iya dan Alisha sudah pergi ke luar negeri.” Itu yang mereka tahu, bahwa Alisha pergi ke luar negeri, padahal dia masih di negera ini dalam wujud Lais.
“Ya, pokoknya pernikahan ini harus dilaksanakan, apapun yang terjadi.” Ambisi ayahnya Jarni ini yang selalu membuat anaknya menderita.
Jarni dan Ganding sudah sampai di rumah susun, ini masih siang, seharusnya mereka ke sini malam, tapi ada yang harus mereka pastikan dulu.
“Pak, ayolah bicara sebentar saja.” Ganding berkata, dia membujuk Pak RT untuk berbicara padanya, pintunya di tutup dengan kasar begitu Pak RT melihat Ganding dan Jarni yang datang.
“Tidak! kalian orang gila, pergi dari sini, ‘dia’ akan tetap tenang kalau kami semua mengikuti apa yang menjadi kebiasaan yang telah ditetapkan. Kalian berdua hanya akan membaut ‘dia’ marah, setelah kalian datang tempo hari, ‘dia’ marah dan membuat semua orang ketakutan karena setiap malam selalu ada suara raungan yang mengerikan. Ini pasti karena ulah kalian, aku tidak akan mengizinkan kalian untuk mengusik ‘dia’ lagi!” Pak RT menjawab dari dalam rumah dengan suara berteriak.
“Keluar kau, kalau tidak, aku buat kau melihat Wangapuk! Kubuat kau tidak bisa tidur di sisa hidupmu!” Jarni menggedor pintu rumah Pak RT dengan kasar dan berkata dengan kencang. Ganding kaget melihatnya seperti itu, Jarni gadis pendiam ini sungguh menakutkan kalau marah.
“Kau tidak biasa.” Ganding tertawa.
“Salahnya mengabaikanmu, aku tidak tahan!” Jarni lalu bersiap untuk mengeluarkan ular mininya untuk masih, dia akan menggertak dulu membiarkan Pak RT melihat ular mininya yang bisa saja menjadi mengerikan.
Ular mini itu dilepas di sela pintu, setelah itu terdengar suara teriakan dari dalam, lalu pintu seperti dipaksa dibuka tapi terkunci, si empunya rumah terdengar berteriak sembari terus berusaha membuka pintu.
“Rasakan kau, dasar manusia pengecut.” Jarni berkata dengan puas, Ganding mengusap kepala kekasihnya dan tersenyum.
“Kau menakutkan kalau marah.”
Jarni terdiam mendengar itu, dia sudah terlampau nyaman di sisi Ganding, hingga mengeluarkan sisi terburuknya yang biasanya hanya dia perlihatkan di hadapan Alka, kakak angkatnya.
Pak RT keluar dan memeluk Ganding, Ganding membiarkannya.
“Jarni, angkat ularmu, dia sudah sangat ketakutan.” Ganding memintanya.
Pak RT melihat ke arah Jarni dan tersadar bahwa memang benar Jarni pemilik ular itu, ular kecil yang tiba-tiba berubah menjadi sangat besar, berwarna hitam, bermata merah dan hendak melahap dirinya.
“A-ampun!” Pak RT meminta maaf pada Jarni dan Ganding.
“Kami takkan mencelakaimu, kami hanya butuh informasi, kami juga butuh melihat rumah di mana isu itu berasal.” Ganding menjelaskan maksud kedatangan mereka.
“Jadi ini tempatnya?” Ganding bertanya, mereka sudah di rumah anak yang katanya adalah Wangapuk itu tapi padahal Wangapuk adalah genderuwo yang menyamar menjadi anak itu.
“Ya ini rumahnya. Tidak pernah dibuka sejak kejadian itu, orang tua anak itu juga tidak pernah kembali. Kami tidak berani mengusik rumah ini, makanya aku tadi begitu takut membuka rumah ini.”
“Bagaimana Jarni? apa yang kau rasakan?” Ganding bertanya.
“Ya, aku mengerti sekarang.” Jarni berkata.
“Kalau begitu, tinggalkan kami Pak, pinjam dulu kuncinya, kami butuh untuk jaga-jaga. Lalu soal Wangapuk, aku pastikan, malam ini akan menjadi hari terakhir dia tinggal di rumah susun ini.” Ganding meminta kunci dan Pak RT akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kita selidiki dulu, nanti malam baru kita mulai kerjakan.” Ganding meminta Jarni menyiapkan semua yang dibutuhkan.
...
Malam tiba, sudah jam sebelas malam, Jarni dan Ganding meminta semua warga rumah susun ini untuk di dalam rumah, apapun yang mereka dengar, mereka harus tetap di dalam rumah. Semua warga setuju.
Lalu Ganding dan Jarni memulai dengan cara lama, mengambil camilan itu dari Wangapuk secara paksa, tapi mereka meminta Pak RT untuk mengambilnya, karena kalau mereka yang ambil, Wangapuk akan sadar dan tidak keluar.
Pak RT pada awalnya menolak, tapi lagi-lagi si ular mini lucu itu menakutinya dengan tubuh yang tiba-tiba menjadi besar. Padahal rasa takut Pak RT lah yang membuat ular itu menjadi besar.
Pak RT mengambil camilan itu dengan tangan gemetar, sementara Jarni dan Ganding berdiri di radius yang aman untuk menangkap sekaligus untuk tidak tercium Wangapuk.
Begitu camilannya di ambil Pak RT, seperti sebelumnya, tangan dingin Wangapuk memegang tangan Pak RT, ini adalah pertama kalinya Pak RT melihat dan merasakan tangan Wangapuk, sosok yang menjadi mitos di rumah susun ini.
Pak RT berteriak saat tangan dingin itu memegangnya, Ganding berlari dan menangkap Pak RT lalu menidurkannya, sementara Jarni berlari menangkap Wangapuk, Jarni ditarik ke dalam dunia ghaib, Ganding menyusulnya, mereka bertarung dengan Wangapuk yang bertubuh besar itu, bukan lawan yang ringan, tapi bisa diatasi berdua, Jarni dengan ular mininya dan Ganding dengan senjatanya.
Mereka terus saling menyerang, setiap serangan membuat bunyi yang cukup kencang, seperti besi yang diadu, bunyinya nyaring dan cukup menakutkan, di dunia nyata, suara itu terdengar tapi tak sekencang suara aslinya, semua orang menutup pintu, jendela dan gordennya.
“Kau masih mau bertarung?” Mereka bertiga sudah kelelahan.
“Kalian yang akan rugi, karena ini bukan dunia kalian, kalian akan lebih cepat kehabisan energi.”
“Ya kau benar, ini bukan dunia kami, energi kami akan cepat habis, sama seperti ... anak itu.” Ganding berkata dan itu membuat Wangapuk tersentak.
“Pergi dari sini, jangan usik aku.” Wangapuk terlihat sangat panik dan terburu-buru.
“Jarni, sekarang!” Jarni melempar mainan mobil-mobilan, mobil-mobilan itu mengeluarkan suara yang cukup keras, membuat Wangapuk terdiam, lalu dari sosok yang sangat besar itu, keluar sesosok anak kecil, anak itu berlari mengambil mainan yang tadi dilempar Jarni.
Jarni berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi, begitu dekat dengan sosok anak itu, Jarni menangkapnya dan buru-buru memasukkannya ke dalam botol.
“Tidak! keluarkan anak itu, lepaskan dia!” Jin itu berteriak, dia bahkan menangis saat memohon untuk melepaskan sosok anak itu.
“Seperti yang kau katakan, bahwa energi kami akan cepat terkuras saat di sini, di dunia ghaib, karena ini bukan dunia kami. Begitu juga dengan ruh anak itu, ini bukan dunianya, dia harus kami jemput untuk ‘pulang’ kau tidak berhak menahannya disini.” Ganding menghalangi tubuh Jarni dari kemungkinan serangan yang dilakukan oleh Wangapuk.
“Kembalikan dia, tidak akan ada yang bisa menjaganya seperti aku menjaganya!” Wangapuk semakin histeris tapi dia terlihat tak berani melakukan serangan lagi, takut kalau sosok anak itu akan celaka karena serangannya.
“Anak ini harus ‘pulang’ kau juga harus pindah dari sini, kau melakukan semua mitos bodoh itu untuk melindungi anak ini bukan? dia terlihat sangat lemah tinggal bersamamu kan? lalu anak ini suka sekali dengan camilan, sementara kau tidak bisa memberikan padanya, makanya kau menakuti warga di rumah susun ini dan membuat mereka berpikir bahwa anak itu menghantui lantai ini, lalu memberikan camilan sebagai ganti. Semua kata-kata yang harus diucapkan dan semua ketakutan itu adalah palsu, kau menciptkannya agar anak ini tetap bisa kau lindungi bukan?
Mau seberapa banyak energi yang kau ambil dari makanan yang di peruntukan untuk anak ini, tetap saja takkan bisa menandingi tempat terbaik untuknya kembali. Berikan dia pada kami, kau ikut kami, kau bisa saja bertemu jodohmu di tempat kami, banyak jin yang belum menikah, kau bisa berkenalan dan membuat anakmu sendiri, bagaimana?” Ganding menawarkan perjanjian.
“Kalian tidak tahu, bahwa saat ini kehausan, dia mengambil air dari kran untuk minum, makan makanan sisa yang ada di rumahnya, sementara rumah itu dikunci. Lalu saat makanan habis, anak ini mulai makan kertas koran yang ada. Tidak sekalipun aku mendengarnya menangis, dia juga tidak berusaha keluar, karena ayahnya bilang akan kembali.
Anak ini menunggu ayah dan ibunya dengan semua harapan tersisa. Saat benar-benar tidak ada yang dimakan, anak ini hanya minum air kran, ketika akhirnya air bahkan tak ada lagi, dia meninggal ketika berusaha mengambil air di kamar mandi, tubuhnya tertelungkup di depan kamar mandi dalam keadaan kelaparan dan kehausan.
Aku ada di sana, saat terburuk dia, aku ada ketika ruhnya lepas dari raga. Aku sengaja langsung membawanya keluar dari rumah ini agar dia tidak melihat tubuhnya yang telah tiada.
Dia ikut padaku tanpa protes, dia pikir aku menjemputnya karena disuruh ayahnya, aku berbohong soal itu. Aku mengatakan kebohongan padanya agar dia mau ikut, padahal dia telah tiada dan hanay ruh tanpa tubuh.
Aku dulu hanya penghuni rumah susun ini yang tidak suka mengganggu, aku hanya makan kotoran dari sampah mereka, tapi saat ini aku adalah orang yang bertanggung jawab kepada anak ini. Jika kalian manusia meninggalkannya, maka aku akan menggantikan kalian untuk menjaganya.” Jin itu terlihat sendu, dia sangat sedih, aku mencoba menjaga anak itu, agar anak itu tidak merasakan sakit lagi. Hanya aku tempat perlindungan terbaiknya.”
“Kau tidak percaya Tuhan, bahwa tempat perlindungannyalah yang terbaik? Bagaimana kau memaksa anak ini tinggal di sini dan menjadi lemah karena energinya terkuras, sementara ada tempat yang jauh lebih indah di sisi Tuhan, di taman firdaus, tempat dia bisa berlari dan menjadi sangat kuat serta bahagia. Bagaimana kau malah menawarkan tempat seperti ini, gelap, pengap, dingin dan membuatnya lemah!” Ganding mencoba membujuk Wangapuk untuk menyerahkan anak itu.
“Apakah benar dia bisa berada di sisi Tuhan di taman Firdausnya?”
“Tentu saja, dia seharusnya di sana sejak dia tiada, kau yang membuatnya makin menderita.”
“Aku tidak bermaksud.” Wangapuk terlihat mulai goyah.
"Jangan ragukan tempat yang Tuhan telah aturkan, di sanalah tempat terbaik, sekarang kau harus menyerahkan anak ini untuk diantar pulang."
Jarni mendekati Wangapuk dan membuka botolnya, dia membiarkan Wangapuk untuk terakhir kalinya berada di tempat yang sama bersama anak itu sebelum dia dipulangkan.
"Bagaimana kau bisa yakin bahwa Wangapuk menahan anak itu?" Jarni bertanya, mereka dalam perjalanan pulang.
"Aku terimgat tentang bapak, dia menjadi berbeda saat bersama kita. Tapi saat menghadapi jin jahat, kehangatan bapak hilang, dia menjadi petarung tangguh. Bapak begitu karena sisi hangatnya hanya untuk kita, anak-anak angkatnya. Jadi mungkin bisa saja sikap kekanakan Wangapuk adalah karena dia ingin melindungi anak itu, sikap yang kekanakan hanya untuk menyembunyikan anak itu dan mengelabui kita." Pada kenyataannya Ganding teringat tentang Jarna yang kasusnya ditangani bapak, dari sana dia jadi memiliki asumsi tentang perlindungan. Dia tidak ingin Jarni mengingat Jarna makanya dia hanya bilang soal bapak.
"Kau pintar." Jarni tersenyum, hanya Ganding yang mampu membuatnya berbeda.
"Tidak, aku tidak pintar ... tapi jenius!"
Jarni menatap kesal, karena sifat sombong Ganding tiba-tiba keluar.
"Kita antar mereka berdua ketempat semestinya, lalu kita bisa istirahat." Ganding memegang tangan Jarni, mereka hendak ke markas dulu untuk membawa Wangapuk ke rumah barunya.
Sementara rumah susun sudah bersih, setiap orang bisa pulang tengah malam tanpa perlu membawa camilan dan ketakutan.