AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 91


Baru sehari jadian, mereka sudah mengalami dan merasakan cek-cok seperti pasangan kekasih pada umumnya. Tiba-tiba  pesan masuk dari Big Two.


“Siap nyonya” balasan pesan dari Big Two.


“Dia sudah membalas pesannya” kata Shine dengan raut wajah yang berubah 180 derajat.


“So … ngambeknya udahan?” ledek Sand.


“Udah, aku juga mau merasakan first date seperti pasangan lainnya setalah jadian, syukurlah, rencana kamu bisa terlaksana” kata Shine sangat gembira.


Sand hanya bisa tertawa melihat kelakuan Shine yang imut saat ngambek dan senang saat rencana Sand bisa terwujud.


Sambil menunggu jam dua nanti, Shine menyelesaikan adminitrasi dan menyiapkan semua barang Sand yang akan dibawa pulang.


“Akhirnya selesai, kepulanganmu sudah aku urus, barang bawaanmu juga udah, tinggal nunggu waktu aja” gumam Shine yang telah menyiapkan segalanya.


“Kalo gitu aku mandi dulu ya, udah dua hari nggak mandi” sahut Sand yang melihat Shine beberes.


“Pantes aja, dari tadi ada bau menyengat yang nggak enak ternyata dari kamu” canda Shine menutupi tawanya.


Tidak terima akan ledekannya, Sand menggelitiki Shine hingga ia menyerah. Karena tidak mau ketahuan Big Team yang berjaga dia menahan tawanya agar tidak terdengar sampai di luar.


“Ampun, ampun, udah, udah,” ronta Shine.


“Bilang maaf dulu” kata Sand yang masih menggelitik Shine.


Ting ting ting ting … tung tung tung tung


“Sebentar ada panggilan, mommy” kata Shine dengan nada tertawa.


“Iya mom? Ada apa?” tanya Shine.


“Di rumah sakit bersama Sand, soalnya kalian masih tidur jadi gak sempat berpamitan, iya, iya, pulang tepat waktu janji” kata Shine menutup telepon.


“Ada apa?” tanya Sand.


“Tadi aku pergi ke sini belum sempat pamitan sama mereka, jadi nyariin aku, katanya tadi mau mandi, udah sana, bau banget” jawab Shine mengipaskan tangannya di dekat hidung.


“Shine! Bisa bantu aku sebentar” teriak Sand dari dalam kamar mandi.


Shine berjalan menghampirinya, melihat Sand yang memerlukan bantuan.


“Tolong lepaskan kancing yang ini, tanganku masih sakit” minta Sand.


Shine menurut dan membantunya melepas kancing baju di dalam kamar mandi yang terbuka.


Di waktu yang bersamaan, suster datang untuk menawarkan kursi roda.


“Bapak Sand,” panggil suster karena tidak melihat Sand di ranjang, “Kemana ya orangnya, bapak Sand!” panggil suster lagi.


Suster berjalan ke dalam untuk mencari Sand, dan tidak sengaja melihat Shine yang membantu melepas kancing yang terakhir.


“Maaf, saya hanya mau menawarkan kursi roda, apakah anda membutuhkannya” tanya suster membalikkan badannya.


“Ini tidak seperti yang suster pikirkan, saya hanya membantunya melepas baju, tidak akan terjadi seperti yang suster pikirkan” teriak Shine salah tingkah.


“Tidak suster, anda boleh pergi” ucap Sand.


Suster langsung pergi, merasa malu karena melihat yang seharusnya tidak dilihatnya.


Sand menghalangi kepergian Shine yang hendak mengejar suster untuk menjelaskan agar tidak terjadi salah paham.


“Kita bisa melakukan yang dipikirkan suster tadi, tinggal melepas punyamu” goda Sand menyandarkan tangannya ke tembok untuk menghalagi Shine.


“Apaan sih, udah mandi sana, jangan panggil aku lagi kalau belum selesai” jawab Shine berusaha pergi.


Shine menuruti permintaan Sand, agar secepatnya bisa pergi, lalu dengan segera ia menutup pintu. Wajahnya memerah saat keluar, jantungnya berdetak agak kencang. Ia menunggu Sand dengan duduk di sofa sambil membaca majalah.


Tertulis sebuah artikel “Lagi-lagi penerus perusahaan media Starlight gagal menikah, karena wanita yang digandengnya saat hari pernikahan, siapakah dia? Sampai sekarang masih menjadi misteri”


Namun tidak terbaca oleh Shine. Berita itu cepat sekali menyebar, beruntungnya oma Hara juga belum memperhatikannya karena ia pergi ke villa untuk pemulihan kesehatan dan menyegarkan pikiran.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, sebentar lagi waktunya untuk pergantian shift jaga oleh Big Team.


“Kita pergi sekarang, aku akan menyuruh mereka untuk mengambil mobil” kata Sand sudah bersiap untuk kabur dari Big Four dan Big Five.


“Oke” sahut Shine membawa barang Sand untuk dibawa pulang.


“Kalian ambil barang yang di bawa Shine, sekarang taruh di bagasi mobil dan siapkan mobil untuk kita pulang nanti” perintah Sand.


Big Four dan Big Five hanya menuruti perintah Sand tanpa bertanya ataupun merasa curiga.


Saat dalam perjalan menuju parkiran mereka tersadar jika saat pergi ke rumah sakit tidak membawa mobil karena diantar oleh Big One.


“Bukannya kita tidak membawa mobil tadi kesini” ucap Big Five yang teringat.


“Ayo cepat kembali” ajak Big Five.


Mereka kembali namun tidak tergesa-gesa, karena belum waktunya tuan muda untuk pulang. Saat sampai di kamar inap tuan muda, Sand dan Shine sudah tidak ada di dalam.


“Tuan muda di mana? Bukannya masih satu setengah jam lagi waktunya pulang?” kata Big Five bertanya- tanya.


“Kita cari dulu, mungkin masih mengurus administrasi atau pergi mencari udara segar” sahut Big Four yang berpikiran positif.


Mereka mencari Sand di sekitar kamarnya karena belum lama sejak ia ditinggal ke parkiran


Satu lantai sudah mereka kelilingi dan tidak menemukan Sand, kemudian di bagian administrasi juga tidak ada, mereka mencoba ke parkiran dan ketemu, Sand dan Shine pergi mengendarai mobil sangat tergesa-gesa.


Big Four dan Big Five berusaha mencegah kepergian Sand, namun gagal. Mereka panik karena tidak bisa mengikuti kemana perginya Sand.


“Bos, gawat tuan muda lepas dari pengawasan kami” lapor Big Four yang panik.


Tanpa ada jawaban Big One langsung tancap gas ke rumah sakit bersama Big Two dan Big Three.


“Bos kami akan mengendarai mobil yang berbeda, karena sudah waktunya shift jaga kami” minta Big Two.


“Terserah” jawab Big One yang tidak ambil pusing karena Sand yang terpenting.


Mereka berkendara dengan sangat cepat.


“Kemana arah mana mereka pergi?” tanya Big One yang sampai di depan rumah sakit menjemput Big Four dan Big Five.


“Tidak terlihat Bos kemana mereka pergi, kita tidak bisa mengejarnya” jawab Big Four.


Shine mengirim pesan pada Big Two untuk melaporkan kemana dia pergi bersama Sand.


“Bos, kami sudah mendapat pesan dari tuan muda, kami akan segera menyusulnya ini sudah waktunya kami berjaga” lapor Big Two yang sengaja menghalangi Big One agar tidak mengikutinya.


“Cepat jalan, aku akan mengikutimu dari belakang” jawab Big One yang tetap ingin mengawal Sand selamat sampai rumah.


“Tuan muda meminta kami untuk tidak banyak yang ikut menjaganya saat pergi keluar, karena ada urusan penting yang akan mengganggunya jika ada banyak orang yang ikut” bujuk Big Two dengan seribu alasan.


“Gimana Bos? Tetap lanjut kita untuk ikut dengan mereka?” tanya Big Five.


“Lebih baik kita ikuti perintah tuan muda Bos, Big Two dan Big Three sudah mengawalnya” tambah Big Four yang mempengaruhi keputusan Big One.


“Kita tunggu tuan muda di rumah” jawab Big One tegas.


“Kalian selalu kawal tuan muda, jangan sampai lengah” perintah Big One pada Big Two dan Big Three.