
“Karena…tapi memang dia tidak baik untuk anda, jika anda benar menikahinya, anda-lah yang merusak rumah tangga Rara, apakah anda tidak peduli dengan anaknya, jika kedua orangtuanya pisah, itu karena anda!” ucap Shine menyadarkan Sand yang cinta buta terhadap Rara.
Sand terhenti,
“Cintanya untukku lebih besar, dan aku yakin itu, terbukti, dia sudah memilihku dibanding keluarganya, kamu tidak usah mencampuri hidup ku lagi, lebih baik kamu pergi, Big Team hadang dia, jangan sampai masuk” ucap Sand menghapus air mata, masuk ke dalam gedung.
“Tuan muda, anda jangan keras kepala, saya melakukan ini karena saya peduli dengan anda, tuan muda..tuan muda tunggu dengarkan saya dulu!” ucap Shine meronta dihadang oleh Big Team.
“Sudah lah Tik, percayalah pada tuan muda, dia pasti tahu apa yang terbaik untuk hidupnya” ucap Big Two yang memegangi Shine.
Shine tidak mengejar Sand, dia telah melakukan semampunya, dia pasrah. Dia memilih pergi meninggalkan gedung.
“Sudah lepaskan, aku tidak akan masuk ke dalam, aku akan pergi sekarang juga” minta Shine pada Big Team.
“Apakah kamu mau aku antar?” tanya Big Two yang perhatian.
“Tidak usah, jaga keamanan di sini, jangan sampai ada media yang tahu, atau diam-diam meliput berita ini, aku pergi” ucap Shine berpesan.
*****
Sand kembali ke gedung menahan tangisnya,
“Sand kamu dari mana saja?” tanya oma Hara.
“Kita batalkan saja pernikahannya, percayakan padaku aku akan mengurusnya” ucap Sand tegar.
Oma Hara lega dengan keadaan Sand, dia nampak lebih bisa mengendalikan diri, yang selama ini dicemaskan oma Hara itu tidak terjadi.
“Shine kamu berhasil, Sand bisa melawan tekanan dalam hidupnya” kata oma Hara dari belakang Sand yang menghampiri Rara.
“Sand, beri aku kesempatan, aku bisa menjelaskan semua ini, Sand dengarkan penejelasanku, ku mohon Sand” ucap Rara memohon-mohon.
“Berikan mic-nya, aku ingin kalian semua mendengarnya” ucap Sand memegang mic.
“Sand apa yang kamu lakukan, ini hari pernikahan kita, kamu mau meneruskannya kan?” tanya Rara merengek, memegangi lengan Sand.
“Lepaskan dulu Ra, aku mau bicara” kata Sand sedikit membentak.
“Maafkan atas kekacauan pesta pernikahan kami, saya hanya ingin menyampaikan bahwa pernikahan ini tidak akan dilanjutkan, untuk para tamu undangan yang telah bersedia datang, terimakasih banyak, silahkan menikmati hidangan yang telah disiapkan” ucap Sand menguatkan diri.
“Hah, batal”
“Benar sih, kalau aku jadi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama”
“Dasar wanita penipu”
“Kita makan saja, sudah jauh-jauh dan meluangkan waktu, nikmati saja makannanya”
Kata para tamu undangan yang gaduh.
“Sand, aku mohon jangan batalkan pernikahan ini, aku mencintaimu, dan kamu juga mencintaiku, kita akan bahagia bersama, aku janji tidak akan menghubungi mantan suamiku lagi” ucap Rara yang kehabisan akal mencegah pembatalan pernikahan.
“Girara, tatap wajahku, dan dengarkan baik-baik, cinta itu tidak harus memiliki, jika aku tetap menikahimu, aku yang akan akan menyesal seumur hidupku, kembalilah pada keluargamu, anakmu sangat membutuhkanmu” ucap Sand bijak, pergi meninggalkan Rara.
“Sand jangan pergi!, Sand menikahlah denganku, aku sangat mencintaimu!” ucap Rara menangis bersimpuh.
“Oma, ayo pergi dari sini!” ajak Sand pada oma Hara.
*****
Karena penjagaan yang ketat, tidak ada media yang berhasil meliput pernikahan Sand dan Rara.
Sand kembali kerumah dan meninggalkan Rara sendirian. Shine yang pulang duluan, dia memutuskan untuk berkemas dan meninggalkan rumah oma Hara.
“Lex, saya pamit pulang, nanti sampaikan pesan ini pada oma Hara, tugas saya di sini sudah selesai” kata Shine pada security di rumah oma Hara.
“Baik, nanti akan saya sampaikan saat nyonya sudah pulang” kata Security.
Shine pulang, kembali kerumahnya, membawa keyakinan, kalau Sand tetap menikahi Rara dan menjalani hidup yang bahagia.
Tidak ada siapapun yang menyambutnya pulang, padahal terlihat pintu rumahnya terbuka.
“Mbok Janem?, Mbok di mana kamu Mbok?” teriak Shine.
Masih tidak ada jawaban dari siapapun. Shine menuju kamarnya hendak beristirahat, tapi teringat kalau kamarnya di pakai Danira, akhirnya dia ke kamar tamu, membanting tubuhnya yang sudah sangat lelah.
“Mas D, tinggal menunggu hari pernikahan kita terlaksana, aku sangat senang kamu mau menuruti keinginanku, mengurus semua persiapan pernikahan kita” kata Danira terdengar dari kamar tamu yang ditinggali Shine.
Dia sudah baikan dengan papa, aku harus membicarakan ini, kata Shine dalam pikirannya.
Membuka pintu kamar, ”Papa?” ucap Shine memanggil papanya.
“Shine kamu ada di rumah?” tanya papa Drake.
Papa merespon panggilanku, apakah ini kenyataan? Mungkinkah dia sudah tidak marah padaku lagi? Tanya Shine dalam hati.
“Kapan kamu datang? Apakah perkerjaanmu dengan nyonya Hara sudah selesai?” tanya papa Drake.
“Saya Shine, putri papa Drake, Anda janga…” ucapan Shine diputus Danira.
“Saya sudah tahu dari papa kamu, maafkan saya Shine, saya tidak mengenalimu saat itu karena penampilanmu yang berubah dan tidak sama dengan yang ada di foto” terang Danira.
“Tidak papa” kata Shine menangis.
“Kenapa kamu menangis? hei kamu boleh ceritakan padaku, apakah ada masalah?” tanya Danira.
“Mau peluk?” tanya Danira lagi.
Shine mengangguk, dia memeluk Danira. Papa Drake juga ikut memeluk mereka.
Bukan hanya karena sikap papanya yang berubah, tapi juga karena dia tidak berhasil mencegah pernikahan Sand dengan Rara, itulah yang membuatnya menangis.
Keyakinan terlaksananya pernikahan Sand membuat hati Shine sangat sakit. Apakah itu yang dinamakan cinta?.
*****
Tidak lama dari keprgian Shine meninggalkan rumah oma Hara, mobil yang dikendarai Sand dan omanya memasuki gerbang.
“Tuan muda Sand dan nyonya Hara sudah kembali?, bukannya mereka pergi berbulan madu?” kata security bertanya-tanya.
Dia berlari mengikuti mobil Sand untuk menyerahkan surat dari Shine.
“Nyonya, ada pesan dari nona Shine” kata security.
“Pesan? kenapa menitipkan pesan, bukannya langsung menemuiku” kata oma Hara membuka surat dari Shine.
“Oma aku masuk duluan, mau istirahat!” ucap Sand lesu.
“Iya Sand, nanti oma akan ke kamarmu” sahut oma Hara.
Membuka surat Shine dan membacanya,
Teruntuk
oma Asmaharani,
Oma Hara, Shine mengucapkan banyak terimakasih atas semua pengalaman kerja yang Anda berikan selama ini. Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa merawat tuan muda Sand sebagai pasien pertama saya. Banyak kenangan yang terukir di pikiran
saya, banyak rekan dan teman yang sudah saya anggap sebagai keluarga. Tugas saya untuk menyembuhkan tuan muda telah usai. Sekarang tuan muda sudah mendapatkan yang sangat diinginkannya. Semoga oma bersedia merestuinya dan bersikap baik padanya. Maafkan saya pamit hanya melalui selembar kertas, kurang pantas rasanya, jika saya berpamitan disaat moment bahagia tuan muda Sand.
Salam hangat
Shine.
Shine berpamitan pada oma Hara melalui surat. Dia tidak bisa bertemu langsung dengan oma Hara karena merasa gagal dalam misinya.
Setelah kejadian itu, Shine memutuskan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Dan Sand menjalani hari-harinya tanpa senyuman.