
“Benar, saya cucu oma Hara, yang dulu pernah diobati oleh Shine” jawab Sand sedikit kesal pada Ben yang duduk disampingnya.
“Tuan muda, maafkan putri saya yang tidak menghormati anda, mbok tolong buatkan menu yang lain untuk tamu spesial kita!” teriak papa Drake pada mbok Janem.
“Gak usah mbok, kita makan dengan menu seadanya, semua makanan mbok tetap yang nomor satu” teriak Shine pada mbok Janem dengan nada menyindir Sand.
“Tidak perlu repot, saya makan seperti yang lain saja” kata Sand membangun image baik di depan keluarga Shine.
“Lain kali kita akan makan bersama di restoran, bagaimana? Bisa mengajak nyonya Hara juga” ide papa Drake cari muka di depan Sand.
“Ben, ambil lagi lauknya, aku ambilkan ya, ini mau?” Shine menawari Ben yang ada di sampingnya.
Jadi, papa Drake duduk di kursi kepala keluarga, Danira ada di samping kanannya, sedangkan Shine ada di samping kirinya. Ben duduk di samping Shine sebagai tamu. Dan Sand sebagai tamu yang menyusul duduk di sisi kiri Ben, di depan papa Drake.
Belum juga Ben menjawab tawaran Shine, Sand sudah mengangkat piringnya untuk meminta Shine mengambilkan lauknya.
“Shine kamu pindah duduk di samping mommy sana, layani tuan muda dengan baik” minta papa Drake pada Shine.
Dengan sangat terpaksa, Shine pindah tempat menjadi di depan Ben, dan di samping Sand.
“Ben mana piringmu, sini aku ambilkan”
“Ben kamu mau ini”
“Ben, nambah ya”
Setiap Shine menawarkan pada Ben, Sand juga minta dilayani oleh Shine. Shine hanya bisa tersenyum dengan terpaksa karena ada papa nya di situ.
“Tuan muda, apakah makanannya enak?” tanya papa Drake.
“Enak, enak sekali, serperti yang dibilang Shine tadi, makanan mbok memang nomor satu” Sand makan dengan lahap, apalagi ada Shine di sampingya.
“Habis ini gimana kalau kita nge-tehdulu, kita bincang-bincang di teras” ajak papa Drake pada Sand.
“Kamu juga ikut saja Ben, sekalian menemani mereka” sahut Danira.
“Iya Ben, ikut aja nge-teh bareng, teh buatan mbok juga gak kalah enak” sambung Shine.
Setelah makan malam bersama, papa Drake, Sand dan juga Ben berbincang-bincang sebagai lelaki sambil minum teh di teras. Shine dan Danira menunggu di ruang tamu.
“Mereka ngomongin apa sih, sampai jam segini, kita harus menghentikannya mom” ucap Shine khawatir.
“Biasalah Shine, kalau sudah menemukan teman yang cocok untuk ngobrol pasti akan lama” sahut Danira.
“Tapi ini sudah malam mom” jawab Shine pergi untuk menghentikan obrolan para lelaki itu.
Dari ketiga lelaki itu, yang asik sendiri bercerita hanya papa Drake, Sand dan Ben, tidak terlalu nyambung dengan perbincangan papa Drake.
“Pa, sudah malam, lanjutkan besok saja ya bincang-bincangnya, mereka juga harus bekerja besok, papa juga kan?” kata Shine yang menghentikan obrolan tidak nyaman mereka.
Saat Shine menghentikan papa nya, Sand dan juga Ben segera berdiri dan langsung pamit pulang. Mereka bergegas ke mobil masing-masing. Sebisa mungkin tidak menengok kebelakang agar tidak di panggil papa Drake.
“Tuan muda dan Ben, besok kita ngobrol lagi ya! Ceritaku belum selesai!” teriak papa Drake pada Sand dan Ben.
Saat sudah berada di mobil, mereka sama-sama menghela napas lega, bisa terbebas dari cerita papa Drake yang ngalor-ngidul.
*****
Keesokan harinya di kantor, Shine langsung membuatkan kopi untuk Sand. Saat Sand datang dia terlihat sedikit lesu.
“Aku tidak mau lagi ngobrol sama papa mu” ucap Sand pada Shine.
Shine tertawa sangat puas.
“Makanya jangan sesekali ke rumah ku tanpa seijinku, itulah hasilnya” kata Shine.
“Sand, aku membawakan sarapan untukmu!” teriak Sarah membawa makanan.
“Aku membawakan makanan khusus untukmu Sand, ini hasil dari kursus masak kemarin, cobain deh, pasti enak” ucap Sarah tidak memperdulikan pertanyaan Shine.
Sand mencoba makanan yang di bawa oleh Sarah.
“Hmm, lebih enak masakan mbok nya Shine di rumah” komen Sand terhadapa makanan Sarah.
“Kamu sudah pernah kerumah dia dan makan di sana?” tanya Sarah kaget.
Di pikiran Sarah, mereka adalah pasangan palsu, tapi kenapa hubungan mereka sangat dekat hingga Sand bisa makan di sana?
Karena ada Sand di depan Sarah, dia ingin memunculkan sifat baiknya agar Sand perhatian dengannya. Mode bermuka dua diaktifkan.
“Shine, bolehkah aku juga makan di rumahmu? Aku mau mencicipi masakan itu yang di bilang Sand sangat enak” tanya Sarah dengan sangat lembut.
“Kamu tidak boleh ke sana, hanya aku yang boleh” sahut Sand.
“Kalau tidak boleh, mana bisa aku membandingkan masakan ku dengan masakan mbok nya Shine? aku kan masih belajar, jadi harus belajar dari ahlinya langsung” ucap Sarah memelas.
“Oke, nanti ya, aku ajak kamu bertemu dengan mbok Janem agar dia bisa mengajarimu masak.” Jawab Shine berbaik hati.
“Aku juga ikut!” sahut Sand.
“Katanya sudah tidak mau bertemu dengan papa ku?” tanya Shine meledek.
“Siapa bilang, kita berdua punya hubungan yang sangat baik, tidak mungkin, aku tidak mau bertemu dengan papa mu” ucap Sand sedikit panik.
Sand juga sudah bertemu dengan papa nya Shine, tidak hanya sekedar makan, tapi memiliki hubungan yang sangat baik, sedalam apa sih hubungan mereka, atau mereka hanya berpura-pura di depanku? Pasti, pasti mereka sengaja memanas-manasi aku saja, dalam pikiran Sarah.
“Terimakasih ya Shine, untuk menunggu waktu pulang kantor aku akan menunggu di sini” menggandeng lengan Shine dengan manja.
“Tidak boleh, ini kantor bukan mal” teriak Sand menyuruh Sarah untuk pergi.
Dia akan luluh terhadapa Shine aku harus merayunya lewat Shine, ucap Sarah dalam hati.
“Shine, aku janji tidak akan mengganggu pekerjaan kalian, ijinkan aku untuk menunggu di sini ya? Please?” Sarah memelas.
“Ijinkan saja lah pak Direktur, lagi pula dia sudah berjanji tidak akan mengganggu” minta Shine pada Sand.
“Oke, awas saja kalau menggangguku, segera aku panggilkan satpam” peringatan dari Sand.
Kehadiran Sarah di kantor menjadi keuntungan buat Shine, karena dia tidak harus bersama Sand seharian.
“Saya permisi dulu, masih ada sesuatu yang harus saya kerjakan di luar” ucap Shine pergi.
“Mau kemana kamu?” tanya Sand.
“Saya akan menangani proyek atap gedung bersama Reihan”
Sand tidak bisa menghalangi Shine karena pekerjaannya cukup banyak, jadi membiarkan Shine pergi.
“Rei, Rei, kebetulan kamu di sini, jangan masuk, kita di atap saja” ajak Shine.
“Ada apa kamu mengajakku ke sini?” tanya Reihan.
“Di dalam ruangan tuan muda ada Sarah, dia wanita yang dijodohkan oma Hara, kita tidak usah mengganggunya, berikan mereka waktu berduaan” jawab Shine.
“Berapa lama kita di sini?” tanya Reihan karena sudah lama menunggu di atap.
“Sampai jam pulang kantor” jawab Shine tanpa beban.
“Tapi ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, kamu tidak apa-apa kan di sini sendirian?” tanya Reihan.
“Oke” terpaksa Shine sendirian di atap.