AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 49


“Sebenarnya aku sedikit canggung berada di dekatmu sekarang ini, bolehkah aku melupakan momen lamaran tadi? Aku ingin berteman dulu denganmu” tanya Shine.


“Kita kan dari dulu teman, yang penting kamu nyaman, anggap aku asisten mu boleh, atau supir pribadi juga boleh, senyamanmu saja Shine” jawab Ben santai.


“Kalau begitu teman curhat aja kali ya?” kata Shine bercanda.


Mereka berdua menuju meja untuk makan, mencari tempat santai untuk ngobrol.


“Ben ada yang ingin kusampaikan padamu” kata Shine serius.


“Apa Shine?” tanya Ben.


“Terimakasih kamu sudah menyukaiku, dan memberikan cincin ini, aku masih ingin berteman dulu denganmu, untuk memulai pertemanan kita, aku mau curhat sedikit, kalau sebenarnya besok aku akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan studi. Setelah melakukan pekerjaanku yang pertama, aku rasa ilmuku sangat kurang, dan papa sangat mendukungku untuk itu. Aku bisa meninggalkan papa dengan Danira, membuatku lebih tenang, mungkin kita akan lama tidak bisa saling bertemu” ucap Shine mencurahkan rencana keprgiannya ke Amerika.


“Waktunya sangat cepat sekali ya, baru hari ini kita bertemu lagi, dan besok harus berpisah lagi, tapi kita masih bisa telponan kan?” tanya Ben.


“Bisalah, aku mau berpesan saja, jangan terlalu menungguku, jika ada perempuan lain yang membuatmu jatuh hati, segera lamar dia seperti tadi, aku hanya tidak ingin membuat seorang laki-laki berharap banyak padaku, kita masih bisa berteman” kata Shine.


“Oke, tapi aku tidak mau menyerah begitu saja, belum juga berusaha, kamu sudah nyerah duluan” kata Ben menutupi perasaan dengan candaan.


“Makasih ya Ben, kamu mau mengerti aku, karena aku akan berangkat besok, kita pesta hari ini, aku mau menemanimu ke tempat yang kamu inginkan, gimana ?” tanya Shine berpamitan pada Ben.


“Baik, aku yang tentukan tempatnya, dan bolehkah aku yang mengantarmu besok?” tanya Ben balik.


“Ya, tentu, tapi jangan telat ya!” kata Shine menyetujui permintaan Ben.


Mereka pergi berdua ke dufan, naik semua wahana sampai tutup.


“Tadi seru sekali yan Ben, aku seneng banget, ada kenangan yang indah sebelum aku pergi, jadi gak kepengen pergi deh” ucap Shine sedih.


“Saat kamu kembali, aku pasti akan mengajakmu membuat kenangan yang indah seperti tadi” ucap Ben percaya diri.


“Hey jangan kepedean ya kamu, iya kalau aku mau kalau nggak gimana? Eh sudah malam, ayo pulang nanti di cariin papa sama Danira” kata Shine berlari ke parkiran.


“Bukannya papamu lagi bulan madu ya?” teriak Ben menyusul Shine.


Mereka sampai rumah sudah di tunggu papa Drake, Danira dan mbok Janem di ruang tamu. Papa Drake dan Danira belum pergi berbulan madu karena ingin mengantar Shine ke bandara.


“Tuan, non Shine kok belum pulang juga ya, tadi terakhir kali sama mas Ben, saat pergi nggak pamit sama mbok” kata mbok Janem khawatir.


“Tenanglah mbok, dia kan sudah besar, dan aku yakin dia pergi sama Ben, dia orangnya baik kok pasti tidak akan mencelakai Shine” kata Danira menenangkan mbok Janem.


“Iya, mbok benar kata Danira, duduklah dulu!” kata papa Drake yang melihat mbok Janem mondar-mandir khawatir.


“Itu ada suara mobil datang pasti Shine” kata papa Drake.


“Non Shine, kemana aja sih non, pergi nggak pamit mbok, mbok jadi khawatir banget ini” kata mbok Janem melihat Shine masuk ke ruang tamu.


“Maaf ya mbok, habisnya Ben yang ngajakin aku jalan-jalan, ya nggak bisa nolak” kata Shine tanpa rasa bersalah.


“Enak saja aku yang ngajakin, kamu loh yang ngajakin” ucap Ben membela diri.


“Sudah sudah, Ben makasih udah nganter Shine, dan kamu Shine besok harus bangun pagi, sekarang istirahatlah!” kata Danira keibuan.


“Sama-sama kak, aku sudah minta ijin sama Shine kalau aku yang nganter dia ke bandara, apakah saya diijinkan om?” tanya Ben pada papa Drake.


“Karena Shine yang mengijinkan, apa boleh buat, tapi ingat jangan telat!” kata papa Drake mengingatkan.


*****


“Sand, oma ingin kamu menghadiri makan malam di alamat ini, jam 7 tepat, jangan sampai telat” minta oma Hara.


Sand diminta menghadiri kencan buta dengan seorang gadis, dia rekan bisnis oma Hara, dengan sengaja menjodohkan mereka. Setelah Sand memutuskan untuk membatalkan pernikahan dengan Rara, dia sama sekali tidak mendekati perempuan. Dia hanya sibuk pada bisnisnya. Sikap nya menjadi dingin pada perempuan. Seakan trauma jika harus jatuh cinta lagi.


Sand tetap menuruti permintaan oma Hara, datang ke acara yang sudah dipersiapkan oma Hara dan tidak ingin mempermalukan oma.


“Maaf sedikit terlambat” ucap Sand tanpa ekspresi.


“It’s okay, saya kesini sesuai permintaan nyonya Hara, sebenarnya saya tidak mau dijodohkan, apa daya, saya membutuhkan kerjasama ini” ucap wanita yang akan di jodohkan dengan Sand.


“Saya suka kejujuranmu, aku tidak akan menikahimu, kalau mau, kita akan tetap berpartner dalam bisnis, aku akan mengirimkan orang untuk menandatangani kesepakatan denganmu, bagaimana?” ucap Sand menolak perjodohan.


“Baik, kita akan menjadi rekan bisnis” ucap wanita di hadapan Sand, mengulurkan tangan sambil berdiri.


Sand menjabat tangan wanita itu, dan bersama-sama meninggalkan restoran tanpa makan dan minum.


Sand tidak langung pulang, dia pergi ke kafe tempat biasa dia nongkrong dengan sekretarisnya Reihan, sengaja mengulur waktu agar tidak bertemu dengan oma Hara di rumah.


“Rei, ke tempat biasa aku tunggu sekarang” ucap Sand di telepon.


Reihan sudah dianggap keluarga oleh Sand, dia adalah teman sekaligus sekrestaris pribadinya. Dia selalu menemani Sand saat urusan pekerjaan maupun pribadi, karena sama-sama single.


“Bertemu dengan wanita lagi?” tanya Reihan yang tidak menganggap Sand sebagai bosnya.


“Sudah kelima, wanita yang dijodohkan oma untukku” jawab Sand curhat pada Rei.


“Kau menolaknya lagi?” tanya Reihan.


“Aku sudah muak dengan perjodohan ini, tapi aku tidak mau oma khawatir padaku” jawab Sand sambil minum kopi kesukaanya.


Sand sudah berkali-kali menolak perjodohan, tapi oma Hara masih menginginkan seorang wanita yang bisa mendampingi Sand dan melahirkan seorang pewaris.


*****


“Shine jemputanmu sudah datang, cepat turun!” teriak papa Drake.


“Iya, sebentar!” sahut Shine bergegas turun.


“Halo om, halo kak Danira” kata Ben menyapa.


“Duduk dulu Ben, Shine masih di atas” ucap Danira.


“Hai Ben, maaf ya, kamu harus menungguku,” kata Shine sambil membawa koper terakhir.


“Non, kopernya sudah masuk bagasi semua” kata pak Kodir menyela.


“Pak Kodir, ini masih satu, tolong masukkan koper Shine ke mobil Ben” kata papa Drake.


Semua barang bawaan Shine sudah masuk bagasi, siap untuk berangkat ke bandara. Sebelum itu, Shine berpamitan dengan papa Drake dan Danira.


“Papa, Danira, Shine pergi untuk 2 tahun kedepan, kalau sempat, Shine akan pulang mengunjungi kalian. Danira, aku titip papa, tolong jaga papa, dan perhatikan makan papa” ucap Shine berpamitan.


“Shine, jangan panggil Danira bisa nggak?, sebenarnya aku tidak keberatan, tapi aku sudah menjadi istri papamu, bolehkah kamu memanggilku mommy?” tanya Danira.


Shine memeluk Danira, membisikkan kata mommy ditelinganya. Danira, secepatnya berikan aku adik yang menggemaskan, bisik Shine.


Danira tersipu, pipinya memerah karena bisikan Shine.


Shine juga memeluk papa Drake dan mbok Janem yang sangat dia sayang seperti ibunya.


Shine hanya berdua dengan Ben ke bandara. Shine juga berpamitan dengan Ben di sana.


“Ben, terimakasih tumpangannya ke bandara, semoga kita bisa bertemu 2 tahun lagi” kata Shine berpamitan di depan pintu keberangkatan.


“Shine, jika kamu kangen denganku, gosok saja cincin pemberianku, pasti aku akan muncul seperti jin di lampu ajaib, hehehe, bercanda Shine” canda Ben yang sedikit garing.


“Eehehe, lucu Ben, lucu kok” tanggapan Shine dengan candaan Ben yang tidak lucu sama sekali.


Shine memeluk Ben, dan masuk ke pintu keberangkatan, membawa tas dan juga jaket.