
“Nyonya tidak mau makan siang, padahal saya tidak bilang kalau nona di sini sedang menunggunya” jawab pak Fran.
“Begitu, jika oma tidak mau makan, kita saja yang makan, panggil semua pelayan, dan pak Fran juga duduk, kita habiskan semua makanannya sayang jika tidak dimakan” minta Sand.
Semua pelayan, pak Fran, Shine dan Sand duduk di meja yang sama dan makan bersama, tidak ada perasaan atasan maupun bawahan, walaupun semua pelayan merasa canggung karena makan bersama majikan.
Oma Hara yang hanya melihat dari kamera CCTV, ia hanya bisa menelan ludah dan merasakan perut yang keroncongan.
Sand bersikap seperti itu karena tahu kalau ia sedang diawasi oleh oma Hara, seperti ia dulu yang masih mengurung diri di kamar, memantau semua sisi rumah dari kamera pengawas.
Mengelus perut yang serasa akan meledak dan menatap camera yang terpasang di sudut dinding mengekspresikan kalau makanannya sangat lezat dan semua habis tak bersisa.
“Sand sedang menatapku, mungkinkah dia tahu kalau aku sedang mengawasi mereka?” gumam oma Hara yang menyadari Sand sudah mengetahui semuanya.
“Terimakasih makanannya! Ini sangat lezat, hingga semuanya habis tak bersisa, tidak ada hidangan lagi hingga nanti makan malam!” teriak Sand dengan sengaja agar terdengar oma Hara hingga ke kamarnya.
“Jangan berteriak seperti itu, oma tidak makan siang ini” larang Shine.
“Memangnya kenapa, salah sendiri tidak mau makan, tunggu saja hingga makan malam nanti, karena koki yang bertugas sudah berganti shift, ia baru datang untuk memasak makan malam nanti” jawab Sand dengan santai tanpa memikirkan omanya yang sedang
kelaparan.
Semua pelayan beranjak pergi dari meja makan, tinggal Shine dan Sand saja.
“Terimakasih untuk makan siangnya tuan muda, nona” ucap semua pelayan serentak.
Mereka tidak lagi mendiamkan Sand karena sogokan makan siang yang lezat dan nikmat. Mereka lupa perintah dari oma Hara untuk mengabaikan Sand dan Shine.
“Mudah sekali kan mengatasi sikap mereka pada kita yang mematuhi perintah oma” kata Sand dengan sombongnya
“Biarkan aku melihat oma untuk menawarkan cemilan agar tidak terlalu lapar karena tidak makan siang” ucap Shine.
“Tidak usah, ada yang ingin aku katakan padamu, biarkan saja, kalau oma lapar pasti meminta pada pak Fran, betulkan?” ungkap Sand mengedipkan matanya pada kamera
CCTV.
“Kenapa kamu berinteraksi dengan kamera?” tanya Shine.
“Kamu belum paham juga? Mau aku jelaskan sampai ke akarnya?” tanya Sand balik bernada mengejek Shine yang belum paham.
Shine mengamati kamera yang terpasang, “Jadi oma mengawasi kita? Kenapa aku tidak menyadarinya” jawab Shine sambil tertawa.
“Jadi apa yang harus kita lakukan selagi oma mengawasi kita? Perlukah kita memperlihatkan bagaimana cara membuatkan cicit untuknya?” canda Sand membuat Shine tersipu hingga pipinya memerah.
“Jangan asal biacara ya” bentak Shine hendak meninggalkan Sand ke kamar.
“Tidak boleh pergi, kita harus memanfaatkan situasi ini untuk membuktikan kalau kita memang saling mencintai dan serius untuk menikah” ujar Sand.
Dengan sengaja Sand mengajak Shine memperlihatkan kemesraannya di depan kamera CCTV. Sand menarik Shine untuk duduk di pangkuannya, memainkan rambutnya, mengelus pipinya bersiap untuk mendaratkan kecupan manisnya di bibir Shine.
Oma Hara masih tahan melihat mereka berciuman, dan tetap memantaunya dengan mata tertutup sebagian, seolah-olah tidak mau melihatnya.
Kecupan itu turun hingga ke leher Shine, “Jangan diteruskan, aku tidak sanggup” ucap Shine dengan mengeratkan giginya.
Sand masih melanjutkannya, “Kenapa tidak, biar oma tahu kalau kita benar-benar serius, berapa lama dia akan bertahan mengawasi kita seperti ini” jawab Sand
“Sudah tidak benar, berani sekali sengaja melakukan itu di depanku” gumam oma Hara yang sudah tidak tahan melihat kemesraan mereka berlama-lama.
Oma bergegas meninggalkan kamar menuju meja makan, tempat Sand dan Shine memamerkan
ketidak pantasan pada orang yang lebih tua.
“Berhenti!” teriak oma Hara yang marah.
“Oma” ucap Shine dengan cepat turun dari pangkuan Sand dan berdiri tegap.
“Kenapa oma mengganggu, padahal lagi asyik- asyiknya” kata Sand tanpa berdosa.
“Lakukan di tempat lain, jangan di rumahku, pergi sekarang juga!” usir oma Hara.
Bukannya langsung memberikan restu untuk langsung menikah, mereka justru di usir oma Hara karena kelakuan yang liar di hadapan orang tua.
“Baik, kita akan menikah begitu keluar dari sini, walaupun tanpa restu oma, semua akan aku tinggalkan tak akan kubawa apapun milik oma” kata Sand yang menambah kemarahan oma Hara.
“Sand sudah cukup jangan bicara lagi, aku tidak akan menikah denganmu hingga oma Hara memberikan restunya, jika kamu tetap keras kepala dan tidak mau mengalah seperti ini, lebih baik kita tidak usah menikah sekalian, cari saja wanita lain yang mau menikah denganmu, dan mau menerima segala sikap keras yang menempel padamu” ujar Shine.
“Shine jangan marah, tidak ada wanita yang mau menerimaku apa adanya tanpa harta oma, mereka hanya wanita yang matre, tidak mau menerima cintaku, seperti cintaku padamu, kamulah satu- satunya yang bisa memahamiku, saat aku depresi hingga kamu menyembuhkannya, dan sekarang kamu telah merenggut hatiku” jelas Sand.
“Aku rela meninggalkan semuanya demi kamu, kamu yang paling sempurna menjadi istriku” rayu Sand.
“Menikah bukan hanya penyatuan dua insan yang sedang jatuh cinta saja, melainkan penyatuan dua keluarga besar dengan segala kerelaan dan restu, pikirkan itu baik-baik” jelas Shine pergi dari rumah oma Hara.
“Shine jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri di sini, aku tidak menikah selain denganmu, itulah sumpahku, biarkan aku tidak memiliki keturunan untuk melanjutkan semua warisan yang kelak ditinggalkan oma padaku” teriak Sand sambil menangis.
“Hentikan, hentikan perdebatan kalian, aku mengaku kalah, aku memberikan restu untuk pernikahan kalian” ucap oma Hara tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
Sand mengusap air matanya, “Shine kembalilah, oma sudah memberikan restunya” teriak Sand kegirangan.
Sand memeluk erat oma Hara hingga ia merasa sesak, “Sudah lepaskan, pelukanmu sangat erat” keluh oma Hara.
“Rencana kita berhasil?” tanya Shine mengintip dari balik pintu.
“Jadi ini rencana kalian, aku tidak jadi memberikan restu” kata oma Hara berbalik meninggalkan mereka karena merasa malu telah berhasil dikelabuhi Sand dan Shine.
“Seorang yang bermartabat dan sebijak oma tidak boleh menarik perkataannya, bukan begitu?” sahut Sand mencegah kepergian oma Hara.
Shine mendekat pada mereka, “Maafkan kami oma karena tidak segera memberitahukan tentang hubungan kita, Shine merasa tidak pantas menerima cinta seorang tuan muda yang begitu oma sayangi, jadi oma benar memberikan restu kan?” tanya Shine
memastikan.
Oma Hara mengangguk, memeluk Sand dan Shine, “Kita duduk di sini membicarakan pernikahan kalian” ajak oma Hara yang sudah menerima dan merestui Shine sebagai cucu menantunya.
“Sejak kapan kalian menjalin hubungan ini?” tanya oma Hara menginterogasi.
“Saat pernikahanku dengan Sarah, aku dengan sengaja membatalkannya karena tahu wajah asli Sarah dan juga Shine memastikan cintanya untukku, jika waktu itu tidak terjadi, mungkin saat ini menantu oma adalah Sarah yang memiliki pria lain dan bersenang-senang dengan uang oma di belakangku” ungkap Sand.
“Dan kondisi Sand yang terluka parah itu karena dia berkelahi dengan Ben” tambah Shine mengungkapkan yang sebenarnya terjadi.