AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 51


Hari baru harus Shine jalani, setelah kepulangannya dari Amerika. Banyak hal yang ingin ia lakukan. Salah satunya melanjutkan karirnya. Dia mulai mencari lowongan pekerjaan melalui media online.


“Dibutuhkan segera seorang psikolog klinis di cabang perusahaan Media Starlight, dengan gaji minimum 10 juta.” Ucap Shine saat membaca jobseeker secara online.


“Wah, memang rejeki aku nih”


Shine langsung menghubungi pihak HRD dan memang benar sedang mencari psikolog di perusahaannya. Shine tidak tahu kalau perusahaan itu adalah cabang dari perusahaan Sand.


Shine membawa lamaran pekerjaan ke kantor dan pihak HRD langsung menerimanya.


“Selamat, anda memenuhi kriteria karyawan yang sedang kami cari, anda diterima dan bisa bergabung dengan perusahaan kami, mulai besok anda bisa masuk kerja” ucap pegawai HRD.


Shine bekerja menangani tes psikometrik danwawancara bagi karyawan secara berkala.


*****


“Pa, mom, aku diterima kerja” teriak Shine bahagia saat makan malam bersama.


“Selamat ya Shine, di mana kamu bekerja?” tanya papa Drake.


“Cabang perusahaan Media Starlight” ucap Shine sambil makan.


“Itukan cabang perusahaan milik nyonya Asmaharani, memang ya Shine takdirmu tidak jauh darinya” kata papa Drake sedikit bercanda.


“Uhuk uhuk uhuk” Shine langsung tersedak mendengar ucapan papa Drake.


“Shine hati-hati, minum dulu” kata Danira.


“Yang benar pa? aku harus gimana? Udah terlanjur diterima kan sayang kalau tidak di jalani” kata Shine keceplosan.


“Memangnya kenapa, kan bagus, kamu sudah kenal dengan direkturnya, mungkin karir kamu bisa bagus di sana” kata papa Drake mendukung Shine bekerja di perusahaan milik oma Hara.


“Ceritalah Shine ada apa memangnya, ada sesuatu, seperti masalah dengan mereka?” tanya Danira penasaran.


“Udah keceplosan ya, aku pernah kerja dengan mereka, dan aku diusir, apakah mereka mau memperkerjakan aku lagi?” tanya Shine tidak percaya diri.


“Shine, papa bilangin ya, kamu kan kerja di kantor cabang, pasti tidak bertemu dengan mereka, ambil aja pekerjaan itu, anak papa kan pantang menyerah sebelum mencoba” kata papa Drake menyemangati Shine.


Keluarga Shine menjadi utuh dan sempurna, berkat kehadiran Danira dan juga calon adiknya.


*****


Hari baru semangat baru, Shine bersiap untuk pergi bekerja sedari pagi. Mencocokkan baju, hingga menata rambutnya yang mulai panjang, tidak lupa dengan make up tipis agar terlihat fresh.


“Jam segini non sudah rapi mau kemana?” tanya mbok Janem yang belum tahu kalau Shine sudah mulai bekerja.


Memeluk mbok Janem dari belakang Shine berkata “Mbok, Shine hari ini sudah mulai bekerja, doa’in lancar ya, ini hari pertamanku, rasanya deg-degan banget.”


“Selamat ya non, mbok belum tahu, mau mbok bikinin bekal?” tanya mbok Janem.


“Ndak usah mbok, soalnya, Shine belum tahu gimana kerja Shine nanti” kata Shine manja.


“Shine mau bareng papa? Kita kan searah” tanya papa Drake mengambil kopi di dapur.


“Mau pa, sekalian, biar hemat bensin” kata Shine ikut papa Drake sarapan.


Mereka berangkat kerja bersamaan. Sungguh harmonis hubungan Shine dengan papanya. Menambah semangat Shine untuk bekerja.


“Papa, terimakasih tumpangannya, hati-hati di jalan ya pa” ucap Shine turun dari mobil.


Tarik nafas, buang nafas, Shine melakukannya berulang kali agar merasa lebih tenang.


Shine masuk kantor, saling menyapa pegawai yang juga datang, pergi ke kantor HRD untuk menanyakan tugas apa yang harus dilakukan.


“Kamu pegawai baru bagian psikolog klinis?” tanya pegawai HRD.


“Iya benar” jawab Shine.


Mata melotot, mulut sedikit terbuka, Shine sangat terkejut dengan ucapan yang disampaikan pegawai HRD.


“Kenapa harus dipindahkan hari ini? aku baru saja memutuskan untuk mengambil pekerjaan ini dan sangat bersemangat, tapi kenapa Tuhan?” Ucap Shine dalam hati, seakan tidak percaya dengan semua ini.


“Nona, nona, hei nona kenapa anda bengong, sekarang juga anda harus ke kantor pusat, direktur sudah mencari anda” kata pegawai HRD.


Speechless, itulah yang bisa menggambarkan keadaan Shine, langkah kaki terus berjalan menuju kantor pusat.


Masih tak bisa berkata-kata, Shine mengetuk pintu ruangan Sand.


“Masuk!” teriak Sand dari dalam ruangannya.


Pintu terbuka, “Kamu!” ucap Reihan menyambut Shine.


Fokus Shine kembali karena teriakan dari Reihan.


“Saya psikolog yang diminta dari kantor cabang untuk menemui direktur” ucap Shine berpura-pura tidak mengenali Reihan.


“Sand, kamu yang minta ke kantor cabang?” tanya Reihan yang tidak tahu, masih dengan tangan yang menempel di handle pintu.


“Iya, suruh dia masuk, kita membutuhkannya karena yang lama cuti melahirkan” Sand menjawab, masih fokus dengan dokumen di mejanya.


“Masuklah!” ucap Reihan cuek pada Shine.


Shine duduk di hadapan Sand yang masih membaca dokumen, saat dia melihat Shine,


“Saya Shine Angelo, ditugaskan dari kantor cabang, untuk mengisi bagian psikolog yang kosong” ucap Shine cepat diakhiri dengan senyum lebar terpaksa.


“Temui manager, dia akan menjelaskan tugasmu” kata Sand seolah-olah tidak mengenal Shine.


“Rei, bawa berkas ini ke ruang manager, sekalian antarkan dia!” perintah Sand pada Reihan.


“Ikuti aku!” ucap Reihan judes.


Syukurlah dia berpura-pura tidak mengenali aku, dalam pikiran Shine sambil membuang napas lega.


Sand yang duduk di kursinya, ternyata menahan untuk tidak berekspresi berlebihan di hadapan Shine karena, dia tidak ingin berhubungan dengannya lagi.


Rasa bersalah karena telah mengusir Shine, yang mencoba menyadarkan, bahwa Rara sudah tidak dihidupnya lagi.


Tapi kehendak manusia kalah dengan garis yang telah di tentukan oleh Tuhan. Sand kembali bertemu dengan Shine, tanpa disengaja untuk ke dua kalinya.


Oma Hara juga datang menemui Sand ke kantor memintanya pergi kencan buta lagi. Oma Hara sudah tidak sabar jika harus menunggu Sand sampai di rumah. Secara kebetulan, berpapasan dengan Shine saat di lift.


“Ting” bunyi lift terbuka. Ada oma Hara bersama Big One di dalam saat Shine hendak masuk menemui manager.


Big One sekarang bekerja menjadi bodyguard oma Hara.


“Shine” “Oma” ucap mereka bersamaan.


Reihan heran kenapa dia bisa kenal dengan oma Hara, karena Reihan baru bekerja untuk Sand setelah, batalnya pernikahan dengan Rara.


Oma Hara keluar dari lift, dan memegang kedua tangan Shine.


Kenapa kebetulan gini sih, ucap Shine dalam hati sambil tersenyum memaksa ke oma Hara.


“Shine, kamu apa kabar? Kenapa kamu di sini?” tanya oma Hara yang lama tidak bertemu dengan Shine.


“Sebentar ya, kamu tunggu di sini, aku akan mengajakmu makan sambil bicara” minta oma Hara mencegah Shine pergi.


“Tapi oma, saya harus segera menemui…” perkataan Shine terputus oleh oma Hara yang ngotot mengajaknya berbicara.


“Rei, tolong bilang ke Sand, nanti jam 7 harus sudah datang di restoran yang biasanya, kali ini dia sangat spesial” minta oma Hara pada Reihan.


“Kamu ikuti nyonya Hara saja, nanti kusampaikan pada Sand” ucap Reihan pada Shine.