AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 32


“Saya tidak berhak memberikan pendapat atas apa yang menimpa tuan muda oma, untuk masalah hati, tidak bisa dihakimi dengan ilmu dasar yang kuat” kata Shine tidak memihak Sand maupun oma Hara.


“Good, saya terima komentarmu, kamu mengambil jalan tengahnya, saya sebagai orang tuanya Sand, masih tetap akan mencarikan pasangan yang tepat untuknya, tapi untuk saat ini saya sedikit mengalah” kata oma Hara bersikukuh.


“Apa yang oma berikan pada tuan muda, pasti untuknya juga, bukan karena oma sendiri, bukan begitu oma ?” ucap Shine basa-basi.


Big One datang menemui oma Hara, karena oma dan Sand sudah baikan Big One juga ikut bekerja untuk oma Hara.


“Nyonya, kami telah mencari keberadaan dokter Rara seperti yang anda minta, ini alamatnya yang sekarang” kata Big One melapor dan menyerahkan selembar kertas berisi alamat dokter Rara.


“Halo Big kita bertemu lagi di sini, kalo sudah jodoh memang tidak pergi kemana-mana” canda Shine menyapa Big One.


“Halo nona, saya permisi nyonya” kata Big One.


Sekarang kamu sudah panggil aku nona, biasanya saja panggil aku tikus, dasar Big botak, batin Shine kesal.


“Oma, bolehkah saya menemui dokter Rara sesama psikolog tuan muda ?” tanya Shine.


“Wah idemu bagus juga, jika kamu yang berbicara dengannya mungkin bisa menjelaskan, kalau Sand membutuhkannya hanya untuk obat pelipur lara” ucap oma Hara memikirkan sebuah ide.


“Maksud oma apa ?, saya tidak paham ?” tanya Shine bingung.


“Begini Shine, sebenarnya aku masih belum setuju jika Sand menikah dengannya, aku hanya ingin dia menyadarkan Sand jika dia sudah menikah dan punya keluarga, rencana ini hanya untuk memuaskan Sand, bagaimana menurutmu ?” tanya oma Hara.


“Maksud oma, oma menyuruhnya berpura-pura kembali pada tuan muda, dan secara perlahan-lahan memintanya menjelaskan kalau dia sudah berkeluarga ?, itu yang saya tangkap dari rencana oma” Shine memastikan.


“Pintar kamu Shine, itu rencanaku semoga berjalan dengan baik, kamu harus membantu juga Shine” minta oma Hara.


“I…iya oma, pastinya” ucap Shine ragu.


Shine hanya bisa menuruti kemauan oma Hara, karena tidak punya kekuatan dan kekuasaan apapun.


*****


Setelah mendapat alamat dokter Rara yang baru, oma menyuruh Shine pergi kesana bicara secara baik-baik, sebagai utusannya.


Shine pergi ke rumah dokter Rara sendirian, dia sempat ragu dan bingung bagaimana car menyampaikannya tanpa menyakiti hati.


“Permisi !, permisi !, permisi !” Shine memanggil sampai tiga kali tidak ada jawaban.


“Mbak, cari bu Rara ya ?” tanya salah satu tetangganya.


“Iya ibu, ibu Rara nya kemana ya ?, apa ibu tahu ?” tanya Shine balik.


“Kemarin saya lihat pergi naik mobil bersama suaminya, kalo weekend gini biasanya ke rumah ibunya mbak”, jawab tetangga dokter Rara.


“Oh gitu ya, kalo balik ke sini kira-kira kapan ya bu ?” tanya Shine memastikan.


“Saya kurang tahu mbak kalo itu” jawab tetangga dokter Rara.


“Begini saja, saya boleh minta tolong nggak sama ibu ?, ini kartu nama saya, nanti kalau ibu Raranya sudah pulang tolong kasihkan padanya, sebelumnya saya berterimakasih pada ibu” ucap Shine.


“Kalo boleh tahu mbaknya ini siapanya bu Rara ya ?" tanya tetangga dokter Rara.


“Saya rekan kerjanya dulu di rumah sakit” jawab Shine mengarang.


“Oh , gitukan jelas, nanti saya ndak bingung kalo dintanyai bu Rara” kata tetangga dokter Rara sedikit kepo.


“Terimakasih ibu, saya permisi dulu” ucap Shine buru-buru pergi.


*****


Shine kembali ke rumah oma Hara, karena tugasnya tertunda. Saat samapi di rumah dia melihat tuan muda Sand sedang santai di ruang tamu membaca.


“Apa urusanmu bertanya seperti itu padaku ?” jawab Sand tidak peduli.


“Saya kan cuma, tanya, kalo gak mau jawab yaudah gak usah sewot gitu” ucap Shine pergi ke kamarnya.


“Kamu ngapain di sini ?, oma di kantor” kata Sand masih membaca.


“Saya mau ke kamar, istirahat” jawab Shine pede.


“Kamu tinggal di sini ?, jangan seenaknya saja, meskipun kamu asisten oma saya” ucap Sand.


“Saya memang diminta oma Hara tinggal di sini, kalau tidak percaya, tuan muda tanya saja sendiri pada oma” ucap Shine pergi meninggalkan Sand.


*****


“Drrrtt….ddrrrttt,….drrrttt” suara HP Shine, tanpa nama sedang memanggil.


“Halo, Shine, apa kabar ?, apakah kamu ingat suaraku ?” ucap seorang laki-laki.


“Siapa ya ?” tanya Shine tidak mengenal suara laki-laki itu.


“Apakah kamu pernah melihat laki-laki kurus berkacamata saat perkuliahan, selalu duduk di pojokan?” ucap laki-laki itu memberi tebakan.


“Maaf, siapa anda, jangan main-main, atau……” ucap Shine takut jika orang tidak dikenal itu berbahaya.


“Masak kamu tidak ingat aku Shine ?, dosen selalu mengejekku cungkring” kata laki-laki itu menyela ucapan Shine.


“Sebentar, sepertinya aku kenal kamu, Ben, kamu Ben ya ?” tanya Shine sudah mengingatnya.


“Iya Shine, lama sekali kamu mengenaliku” ucap Ben, laki-laki yang menelepon Shine.


“Sudah lama banget sih, saat masih maba, kamu selalu dipanggil cungkring, hahaha” ucap Shine tertawa.


“Iya, memang kurus banget saat itu, makanya banyak yang manggil cungkring sampai sekarang” kata Ben mengakui.


“Ada apabBen, tumben telepon ?, sepertinya mau memberi berita bagus nih” tanya Shine.


“Ndak kok, tiba-tiba ingat sama kamu, terus aku telepon aja” jawab Ben beralasan.


“Oke, kamu sekarang kerja di mana ?, setelah kita berpisah kelas, aku belum mendengar berita tentangmu lagi” tanya Shine melanjutkan pembicaraan.


“Aku sekarang bekerja di sekolah, sebagai konseling, kalau kamu ?” tanya Ben balik.


“Aku,…., aku kerja jadi asisten di perusahaan media” jawab Shine bingung.


“Kapan-kapan bolehlah makan bareng, atau nonton ?” tanya Ben melakukan pendekatan.


“Ehm, oke, tapi ajak juga yang lain biar rame-rame gitu, kayak semi-semi reuni ?" jawab Shine.


“Baiklah, tinggal atur rencananya, maaf ya Shine aku harus ke kelas dulu, kapan-kapan di sambung lagi” ucap Ben menutup telepon.


Saat Shine dan Ben berbicara lewat telepon. Sand yang ada di ruang tamu, tidak sengaja sedikit mendengar percakapan mereka.


Suaranya terdengar laki-laki, apakah dia pacarnya, kenapa aku memikirkannya, aku harus memikirkan Rara, dalam pikiran Sand.


Rasa cemburu Sand muncul kembali, sedikit demi sedikit mulai tumbuh benih-benih cinta terhadap Shine.


*****


Bentley Atmanegara, biasa dipanggil Ben, dia teman seangkatan Shine di kampus. Ben pernah suka pada Shine diam-diam tanpa diketahui Shine sama sekali. Sekarang dia bekerja sebagai konseling di Sekolah Dasar internasional. Sekarang dia mulai mendekati Shine lagi, untuk dijadikan teman seumur hidupnya. Dulunya dia berpenampilan tidak modis bisa disebut culun, badannya kurus, kulitnya kusam, selalu memakai kacamata jadul. Kini, penampilannya berubah, badannya berotot, kulitnya cerah dan memakai kacamata trendy. Dia sudah percaya diri akan penampilannya, karena itu dia ingin mengungkapkan perasaan suka pada Shine yang telah dia pendam bertahun-tahun.