AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 65


Sand di ruangannya menunggu kedatangan Shine dan Reihan hendak membuktikan gosip yang beredar.


“Dari mana kalian berdua?” Tanya Sand hendak menginterogasi Reihan dan Shine yang datang bersamaan.


“Melihat proyek atap, merancang gimana nantinya saat digarap” Ucap Shine beralasan.


“Jangan membuat proyek itu menjadi kedok kalian!” Tuduh Sand tanpa bukti.


“Apa maksud kamu? Kedok apa?” Tanya Reihan tidak paham.


“Gak usah beralasan, katakan saja yang sebenarnya, jika mau bersaing, bersaing saja secara terbuka!” Ucap Sand sedikit ngegas.


“Apa maksudmu Sand, aku benar-benar tidak mengerti” Kata Reihan sejujurnya.


Shine menduga, kalau Sand salah paham saat ia melihat kedatangan Shine dan Reihan secara bersamaan, terlihat dari tuduhan Sand pada Reihan yang asal tanpa bukti.


“Kamu salah paham tuan muda, kita memang membahas proyek atap, kita tidak ada hubungan apa-apa” Kata Shine membela dirinya dan Reihan.


“Memang benar, kamu memiliki hubungan dengan Reihan, buktinya kamu membelanya” Ucap Sand masih meyakini gosip yang beredar.


“Kita memang tidak ada hubungan apa-apa, kenapa kamu menuduh kita seperti itu? Aku berkata yang sejujurnya” Ucap Shine membela diri.


“Kamu diamlah! Aku akan bersaing dengan siapapun tak terkecuali dia, sekarang kalian keluar, teruskan saja di luar sana, jangan di sini!” usir Sand pada Shine dan Reihan.


“Rei, mungkin ini ada kaitannya dengan tatapan aneh para karyawan padaku tadi” Ucap Shine berspekulasi.


“Aku  akan cari tahu apa yang sedang terjadi, sebentar! Kamu tunggu di sini saja” kata Reihan pergi ke ruang karyawan.


Reihan memanggil seorang karyawan kepercayaannya. Dia bertanya mengapa semua karyawan melihat Shine dengan tatapan tajam saat lewat tadi. Karyawan tadi menceritakan semuanya pada Reihan.


“Shine, berdar gosip paling panas, kalau kamu disebut sebagai wanita penggoda”


“Wanita penggoda? Memangnya aku terlihat seperti itu ya? Kalau kamu melihatku memang aku seperti itu ya Rei?” Tanya Shine tidak menduga.


“Berarti Sand tadi mengira kalau aku kamu goda di atap tadi” Reihan menyimpulkan.


“Aku saja yang menjelaskan pada Sand, kamu jangan biarkan ada orang yang masuk!” Minta Shine kepada Reihan.


“Baiklah, jika memang ini masalahmu dan dia, kalau butuh bantuan panggil saja aku.” Ucap Reihan.


Shine memaksa masuk ke ruangan Sand. Dia pantang keluar sebelum permasalahan salah pahamnya terselesaikan. Karena Shine psikolog bisa mengatasi oarang yang sedang emosi seperti Sand.


“Kenapa kamu kembali? Sana pergi sama Reihan, kasiankan dia kamu tinggal?” Ucap Sand marah, menahan cemburu.


“Tuan muda, aku tidak ingin mencari masalah denganmu, aku akan menjelaskannya dengan pelan-pelan, tolong dengarkan baik-baik” minta Shine baik-baik.


“Tidak usah di jelaskan, aku sudah tahu semuanya, jadi pergilah sekarang” Usir Sand.


“Jika kamu tidak mau memberi kesempatan dan mendengarkan, bagaimana bisa aku menjelaskan semua permasalahan ini” tanya Shine.


“Kalau berbicara pada wanita yang suka menggoda, memang sulit ya” sindir Sand


“Tuan muda, aku mencoba bersabar ya, jangan sampai emosiku juga terluapkan karenamu” menahan emosi yang hampir meluap.


“Harusnya aku yang emosi, kenapa kamu yang marah?” tanya Sand.


“Anda sedang PMS ya, sensi banget, kayak perempuan” ledek Shine.


“Kamu yang sensi” jawab Sand melempar tuduhan.


“Aku masih menahannya dan terus bersabar, jika kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku aku tidak akan pergi dari sini, menunggumu sampai pulang kerja, bahkan mengikutimu kemanapun kamu pergi.” Ucap Shine mengancam.


“Kalau itu maumu, silahkan saja, aku tidak peduli” kata Sand.


“Oke kalau begitu, tunggu saja sampai kamu menyerah” ancam Shine.


Sand dan Shine hanya saling diam. Saat ada karyawan meminta tanda tangan atau persetujuan di hadang Reihan dan disampaikan ke Shine. Hanya berdua saja sampai waktu pulang kantor.


Sand ke toilet, Shine megikutinya tanpa rasa malu dan jijik, Sand ke parkiran, Shine juga mengikutinya, Sand masuk ke mobil, Shine ikut naik di sampingnya. Mereka hanya diam tanpa membuka mulut dan bersuara.


Saat diperjalanan, Shine merasa itu bukan jalan pulang kerumah oma Hara.


“Kamu mau kemana? Bukannya pulang?” tanya Shine mulai curiga.


Sand tetap terdiam, dan terus saja menyetir mobilnya hingga berhenti di depan sebuah hotel.


“Kenapa kamu berhenti di sini?” tanya Shine masih berpikir positif.


Mungkin dia ada meeting dengan klien di luar tanpa sepengetahuan Shine.


Sand berjalan ke resepsionis memesan sebuah kamar.


“Pesan satu kamar president suite, tolong cepat” minta Sand pada petugas hotel.


“Eh, eh, tidak jadi mbak!” teriak Shine menarik Sand.


“Kamu menyerah? berarti aku yang menang” kata Sand dengan senyum nakal.


“Kenapa kamu menyewa kamar hotel?” tanya Shine makin curiga.


“Terserah aku, mau pulang mau tidak, apa urusanmu,” ucap Sand hendak kembali ke resepsionis.


“Oke, aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi, seperti kataku sejak awal tadi” kata Shine melakukan sesuai janjinya.


“Ayo pesan sekarang!, aku gak takut” Shine berpura-pura berani, padahal pikiranya sudah negatif. Apa yang akan dilakukan Sand padanya saat dia tetap mengikutinya.


Karena ego masing-masing, yang tidak mau mengalah, mereka menginap di sebuah hotel.


Beruntungnya kamar hotel yang dipesan luas, jadi mereka tidak harus tidur di ranjang yang sama.


“Aku akan tidur di sofa, dengan tetap mengawasimu dan mengikutimu kemanapun kamu pergi hingga mau mendengarkan semua penjelasanku” ucap Shine tidak patah semangat.


“Bagus kalau kamu sadar, aku akan tidur di ranjang yang super besar dan empuk ini” kata Sand merebahkan tubuhnya dengan ekspresi bahagia.


Shine hanya duduk di sofa yang agak jauh dari tempat tidur Sand. Dia merasa sangat  kelaparan, karena menunggu Sand yang mandi sangat lama. Jika Shine meninggalkan Sand, takutnya dia kabur tanpa sepengetahuan Shine, karena itu dia memilih menahan rasa laparnya.


“Permisi layanan kamar!” suara pelayan hotel yang mengetuk pintu mengantarkan makanan.


Shine membukakan pintu, ada satu troli penuh makanan yang super mewah tampak sangat lezat.


“Hmm, sepertinya sangat enak, pas banget aku sangat lapar,” kata Shine bergeming.


“Terimakasih ya!” ucap Shine buru-buru membawa troli makanan ke dalam kamar.


Sand yang juga mendengar panggilan dari pelayan hotel, hanya memakai jubah mandi, keluar dengan rambut basah.


“Kamu mau ngapain makanan aku?” ucap Sand mengambil troli makanan.


“Memakannya lah, memangnya mau diapain?” tanya Shine yang sudah hilang kendali terhadap makanan lezat.


“Aku yang pesan kamar ini, jadi ini makananku, kamu tidak boleh memakannya, sana duduk saja yang cantik melihatku makan” kata Sand dengan senyum liciknya.


“Oke, aku akan pesan sendiri, memangnya aku gak punya uang!” kata Shine marah.


Shine hendak mengambil telepon hotel memesan makanan juga, tapi direbut oleh Sand.


“Ini bagian dari kamar hotel yang aku sewa, jadi ini milikku, kamu tidak boleh memakainya” ucap Sand tersenyum nakal.


“Aku akan makan di restoran saja kalau begitu!” ujar Shine bernada tinggi hendak pergi.


Dengan cepat Sand mengahalangi Shine yang sudah memegang handle pintu.


“Tidak bisa, yang sudah masuk ke sini, tidak boleh kelaur tanpa ijin dari penyewa kamar” kata Sand.