AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 85


“Bun, Bensudah sadar” kabar Shine pada Ibun via telepon.


Dengan segera Ibun dan juga pak Atma bergegas ke rumah sakit setelah mendengar berita dari Shine.


“Ben, kamu sudah sadar nak,” ucap Ibun memegang erat tangan Ben.


“Bun, aku akan membatalkan pernikahanku dengan Shine, tolong jangan tanya alasannya,


dan segera suruh dia pergi” minta Ben dengan suara pelan pada Ibun.


Walaupun Ben mengatakan dengan pelan, tapi suaranya terdengar jelas oleh Shine dan juga


pak Atma, karena suasananya yang sunyi, menjelang tengah malam.


Ibun berusaha menjelaskan pada Shine perkataan Ben barusan.


“Nak Shine, jangan dengarkan omongan Ben tadi ya, mungkin dia belum bisa menerima keadaannya sekarang, terpaksa harus menunda pernikahan kalian, lebih baik kamu pulang dulu, Ayah dan Ibun yang akan menjaga Ben” jelas Ibun pada Shine dengan pelan-pelan.


“Kalau itu membuat Ben jauh lebih baik, saya akan menuruti kata Ibun” kata Shine berpamitan.


Sebelum pulang, Shine menengok Sand di kamarnya, yang masih di tunggu Reihan yang


berbaring di sofa. Melihat Sand yang tertidur, Shine langsung pulang tanpa berpamitan.


Dia masih menyempatkan untuk mencari oma Hara yang juga di bawa kerumah sakit yang sama.


“Sus, ada pasien yang di bawa kesini pagi tadi, orangnya cukup tua, tapi masih terlihat muda, badannya terlihat segar memakai baju formal …” kata Shine yang diputus suster.


“Atas nama siapa?” tanya suster yang agak jutek karena sudah sangat malam.


“Asmaharani” jawab Shine.


“Oh nyonya Asmaharani, mbaknya bilang dari tadi dong, beliau ada di kamar VVIP nomor 108, kamarnya yang di jaga banyak orang” info dari suster yang berubah ramah.


“Terimakasih ya sus” ucap Shine.


“Kembali” jawab suster yang sangat ramah.


Shine mencari kamar yang di sebutkan oleh suster, dan benar saja ada Big One dan aggotanya yang berjaga.


Dari kejauhan Shine melambaikan tangannya pada Big Two yang sedang melamun. Dia


merasa bulu kudunya berdiri, dia mengira kalau Shine adalah hantu yang biasanya ada di cerita horor. Beberapa kali mengucek matanya, memastikan yang dilihatnya bukan hantu. Dia memastikan sekali lagi kalau wanita yang berjalan menginjak lantai dan tidak melayang, membuatnya lega. Setelah ia perhatikan ternyata Shine.


“Shine, aku kaira kamu hantu, malam-malam melambai tanpa suara, kenapa jam segini ke


sini?” tanya Big Two yang akrap dengan Shine.


“Di rumah sakit tidak boleh berteriak, aku kesini mau melihat keadaan oma Hara, bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Shine di depan kamar inap oma Hara.


“Sudah stabil, tapi dia terus mencari tuan muda, terakhir dia denganmu kan?” tanya Big Two lagi.


“Itu masalahnya, tuan muda terlibat perkelahian setelah oma di bawa ke rumah sakit, dan dia sedang di rawat juga di sini, ada di kamar 207,” jawab Shine.


Big One yang mendengar langsung pergi menemui tuan muda tanpa berkata apapun. Di


susul oleh Big Four dan juga Big Five. Sedangkan Big Two dan Big Three masih dengan Shine menjaga oma Hara.


“Bolehkan aku masuk?” tanya Shine.


“Tentu boleh” ucap Big Three mempersilahkan.


Shine melihat oma Hara terbaring lemah di ranjang, raut wajahnya menggambarkan banyak beban pikiran.


“Oma, ini Shine, Oma tidak usah khwatir tentang tuan muda, dia aman bersamaku” bisik Shine menenangkan oma Hara.


“Shine, syukurlah kamu yang menjaga Sand, aku takut sekali jika dia depresi lagi karena


kecewa dengan Oma yang selalu menjodohkannya dengan wanita pilihan Oma dan ternyata dia wanita yang tidak baik” ucap oma Hara terbangun dan meluapkan kesedihannya.


Shine tidak menceritakan keadaan Sand yang sebenarnya pada oma Hara, takutnya beliau semakin sedih.


“Oma istirahatlah, aku harus pulang, besok akan aku jenguk lagi” minta Shine sekaligus berpamitan.


lainnya belum kembali.


Sesampainya di rumah Shine menceritakan reaksi Ben ketika ia mendengar kebenarannya pada Danira dan juga Papa Drake.


“Kalau begitu,  kenapa kamu mau menerima


lamarannya?” tanya papa Drake yang kecewa dengan Shine.


“Aku sudah bilang kalau perasaanku padanya hanya sebatas teman tidak lebih, dan orang tuanya salah paham padaku waktu itu, saat hendak kujelaskan, laki-laki yang aku cintai akan menikah dengan wanita lain, jadi terpaksa aku menerima kesalah pahaman ini hingga rencana pernikahan” jelas Shine sedikit emosi.


“Orang tua Ben sudah sangat baik pada keluarga kita, Ben juga akan menjadi suami yang baik untukmu nanti, aku minta kamu minta maaf pada Ben dan melanjutkan


pernikahan” perintah papa Drake meluapkan emosinya pada Shine.


“Pa, tenang dulu, ini bisa kita bicarakan dengan pelan-pelan, duduklah dulu” minta Danira pada papa Drake sekaligus menenangkannya.


“Jika pernikahan ini batal, mau di mana muka papa” ucap papa Drake masih sangat emosi.


“Tapi aku tidak cinta dengan Ben, pa” bela Shine.


“Terus, mau kamu sekarang apa? Batal menikah, dan kawin lari dengan pria yang kamu cintai, hidupmu tidak jelas, karirmu hancur, itu yang kamu mau?” seru papa Drake.


“Pa, tenanglah dulu, papa kan belum tahu siapa pria yang di cintai Shine, dia cucu nyonya Hara, yang pernah makan malam bersama kita waktu itu” jelas Danira dengan senyum menggoda.


“Cucu nyonya Asmaharani, pewaris tunggal perusahaan media yang sekarang lagi di puncaknya, benar itu Shine?” tegas papa Drake yang begitu terkejut.


Shine menganggukkan kepalanya.


“Kenapa kamu nggak bilang dari awal Shine, pasti papa merestui kalian, sebentar, apakah


dia juga mencintaimu?” tanya papa Drake khawatir jika hanya cinta bertepuk sebelah tangan.


Shine menganggukkan kepalanya lagi.


“Jika pernikahan kalian batal, pasti akan tergantikan dengan pernikahan yang lebih


mewah dan megah” gumam papa Drake yang sudah membanyangkan mempunyai besan


orang hebat.


“Sekarang aku harus bagaimana pa? Pa! papa!” teriak Shine pada papa Drake yang melamun.


“Kita turuti keinginan Ben, dan memberikan penjelasan pada keluarganya, papa akan


pastikan hubungan diantara kita akan baik-baik saja” jelas papa Drake dengan sangat percaya diri.


“Semuanya sudah jelas, sekarang kita bisa istirahat, besok kita akan segera menemui orang tua Ben” ajak Danira.


*****


Keluarga Shine menemui keluarga Ben di rumah sakit, menjelaskan perkara yang terjadi kemarin.


Ben yang semakin membaik, dia sudah bisa duduk dan merespon dengan jelas.


“Kalian kenapa kemari, pergilah” usir Ben pada Shine dan juga keluarganya.


“Ben, tenanglah dulu, mereka datang kemari untuk menjelaskan padamu, kalau sebenarnya, kita sudah membuat keputusan untuk menunda pernikahanmu dengan Shine” ungkap Ibun menjelaskan kedatangan keluarga Shine.


“Tidak usah di tunda lagi, hari ini adalah hari pernikahanku, aku sanggup untuk melakukannya sekarang, kenapa kalian semua diam? jika tidak hari ini, batalkan saja” ungkap Ben yang kecewa dengan Shine.


“Ben tenanglah, keadaanmu masih seperti ini, tidak mungkin diadakan pernikahan” minta Ibun.


“Kenapa tidak? Ada mempelai, tinggal panggil penghulu kemari, tanpa pesta tetap bisa


menikah bukan begitu Shine? Kenapa diam Shine?” tanya Ben bernada menyindir.


“Karena ada pria lain di hatiku, benar kan jawabanku, itukan yang pasti keluar dari


mulutmu?” jawab Ben, berpura pura menjadi Shine.


“Ben, aku bisa jelaskan …” perkataan Shine terhenti.