
“Kamu tidak patuh pada atasanmu, aku akan memberikan hukuman sesegera mungkin, sekarang ikut denganku” perintah Sand sebagai atasan.
Sand menarik tangan Shine tanpa mendengar pembelaan darinya.
“Lepaskan dia!” larang Ben.
“Aku bosnya, memangnya kamu siapa, berani melarangku?” tanya Sand masih memegang tangan Shine.
“Aku calon suaminya, jadi lepaskan sekarang!” ungkap Ben.
“Hanya calon suami, belum menjadi suaminya, ini urusan pekerjaan, jadi jangan menganggu” desak Sand.
“Aku akan segera menjadi suaminya, Shine sudah memberikan jawaban atas lamaranku, jadi kamulah yang harus pergi, dan sekarang bukan hari kerja” tegas Ben.
“Benar begitu Shine?” tanya Sand pada Shine tidak percaya.
“Tatap aku! … jawab aku Shine!” teriak Sand memegang erat tangan Shine.
“Aku bisa jelaskan semuanya, lepaskan aku dulu!” seru Shine.
Sand menampakkan ekspresi kecewa pada Shine. Ia tidak mau mendengarkan penjelasan Shine terlebih dahulu dan mengesampingkan logika.
Sand langsung melepaskankan genggaman eratnya, pergi begitu saja.
Shine berusaha mengejar Sand untuk menjelaskan semuanya, tapi Sand tetap tidak mau mendengarkan.
“Sand dengarkan penjelasanku, memang benar aku telah di lamar Ben, tapi tidak lantas mengatakan per …” ucapan Shine terhenti oleh Ben yang menghalangi.
“Sudahlah Shine, dia tidak mau mendengar penjelasanmu, lebih baik kamu resign secepatnya” saran Ben untuk kebaikan Shine.
Shine sangat sedih ketika Sand tidak mau mendengar penjelasannya. Moodnya berubah, dan tujuan utamanya menjelaskan pada Ben tertunda.
“Mau aku antar pulang?” tanya Ben yang mengerti akan perasaan Shine.
Shine mengangguk dan memilih pulang tanpa penjelasan terhadap Ben.
*****
Berjalan masuk ke kamar, tanpa berkata apapun pada Danira, mbok Janem dan pak Kodir yang berpapasan, Shine langsung meringkuk, merasakan sakit dengan meneteskan air mata.
“Shine, are you okay?” tanya Danira yang khawatir.
“Mau cerita sama mommy?” tanya Danira lagi.
“Mau kuambilkan teh?” tanya Danira bertubi-tubi.
Tidak ada jawaban sama sekali dari Shine.
“Okay, istirahatlah” pesan Danira.
Shine masih berusaha untuk menghubungi Sand, menelponnya ratusan kali, tidak satupun panggilan yang Sand angkat.
“Sand, aku minta waktu padamu, aku sungguh tidak bilang setuju terhadap lamaran Ben, tapi dia salah tangkap, aku mohon angkat panggilanku” pesan Shine pada Sand melalui HP.
Pesan Shine tidak terkirim, karena Sand telah memblokir nomornya. Sand juga patah hati setelah mendengar lamaran Ben diterima oleh Shine, dia merasa harapan untuk mendapatkan Shine telah sirna. Ia berpikir Shine tidak mencintainya, yang dibuktikan oleh diterimanya lamaran dari Ben.
Salah paham yang berkelanjutan, berujung perpisahan antara Shine dan juga Sand.
Shine memilih resign dan memutuskan melanjutkan pernikahannya dengan Ben karena salah paham dan Sand, juga akan melangsungkan pernikahan dengan Sarah dengan sangat terpaksa. Semua bukti perselingkuhan Sarah, kini tidak ia hiraukan untuk menutupi patah hatinya.
Sarah mengirimkan undangan pernikahan pada Shine, begitu juga Ben, ia mengantarkan undangan pernikahan pada Sand secara langsung.
“Apakah Sand ada di ruangannya?” tanya Ben pada Reihan.
“Untuk apa kamu menemuinya lagi?” tanya Reihan balik.
“Memberikan undangan pernikahanku dengan Shine” jawab Ben.
“Berikan padaku, nanti akan kusampaikan pada Sand” balas Reihan.
“Aku ingin memberikannya sendiri secara langsung” imbuh Ben.
“Dia sedang keluar, kembalilah nanti” kata Reihan berbohong.
Secara kebetulan Sand memanggil Reihan. Ben langsung menerobos masuk.
“Maaf mengganggu, aku hanya ingin memberikan ini, aku harap kamu bisa hadir
memberikan restu pada kami” ujar Ben menyodorkan selembar undangan pernikahannya.
Sand tidak terima dengan pernikahan mereka, ia melawannya dengan juga memberikan
undangan pernikahan dengan Sarah.
“Aku harap kalian juga bisa hadir menyaksikan pernikahan kami” ucap Sand.
harus pergi berbulan madu, tapi kita pastikan akan mengirim hadiah untuk kalian” ledek Ben.
Setelah Ben pergi, Sand ingin memajukan hari pernikahannya dengan Sarah.
“Tidak bisa Sand, di undangan sudah ada tanggalnya, jika di majukan pasti vendor pun
keberatan” jelas Oma Hara saat dinner bersama Sarah juga.
“Oma, itu bisa diatur, pernikahan akan lebih baik jika secepatnya, jangan di tunda-tunda lagi” bela Sarah yang kegirangan.
Hari pernikahan Sand dan Sarah dimajukan menjadi sehari sebelum hari pernikahan
Shine dan Ben.
Semua tamu undangan diberikan pengumuman tak terkecuali Ben dan Shine.
“Shine kita dapat udangan dari Sand, dan hari pernikahannya diubah menjadi sehari sebelum pernikahan kita, apakah kamu mau datang?” tanya ben pelan.
“Kemarin Sarah juga mengirimkannya padaku, dan sekarang mereka memajukan tanggal pernikahan, emm …” jawab Shine.
“Datang saja gak papa, tunjukkan kalau kalian tidak memiliki hubungan yang buruk, tidak
ada ruginya juga” sahut Danira yang duduk bersama Shine dan Ben menyiapkan pesta pernikahan.
“Baiklah, kita datang ke pernikahan mereka” ucap Shine memutuskan.
Sepekan menuju pernikahan Sand dan Sarah, keraguan Shine untuk menikah dengan Ben
bertambah, ia menjadi gelisah. Masih tidak rela jika Sand menikahi Sarah apalagi ia tahu kelakuan Sarah yang belum terungkap.
Berkebalikan dengan Sand, ia justru sangat bersemangat untuk menikah dengan Sarah karena ingin melupakan Shine selamanya, dan membuktikan padanya kalau ia bisa mengelola
emosi dan menuruti keinginan oma Hara sesuai yang diminta Shine.
Sehari sebelum pernikahan Sand dan Sarah, bukannya Shine fokus pada pernikahannya, ia
justru lebih sering memikirkan Sand.
“Apakah kamu gugup dua hari lagi berganti status menjadi istriku?” tanya Ben bercanda.
Shine tidak menanggapi cadaan Ben, ia masih saja kepikiran dengan pernikahan Sand.
“Shine!” panggil Ben, “Istirahatlah, besok aku akan mengantarmu ke pernikahan Sand dan
Sarah” kata Ben setelah Shine tidak fokus pada candaannya.
Keesokanharinya Shine mengajak Ben untuk lebih awal datang ke pernikahan Sand.
“Shine nanti jangan pulang kemalaman ya, ingat kamu harus istirahat, besok adalah hari
pernikahanmu!” kata Danira mengingatkan.
Begitu sampai di tempat acara, Shine langsung menemui Sand. Tanpa meminta ijin dari Ben, ia bergegas mencari Sand.
“Dimana mempelai laki-lakinya?” tanya Shine pada panitia penyelenggara pernikahan di gedung hotel.
“Di ruang sebelah” jawab panitia.
Shine berlari, hendak mengungkapkan semuanya pada Sand sebelum terlambat. Dia tidak menghiraukan Ben dan akibatnya nanti.
Saat melihat Sand yang sudah bersiap menggunakan jas lengkap dengan bunga di saku dada, nampak terkejut melihat kedatangan Shine, tapi ia menahannya dan berusaha mengusir Shine agar menunggu bertemu dengannya setelah janji suci sudah
diucapkan.
“Sand …”
“Tunggulah di tempat tamu undangan, aku mengudangmu untuk menyaksikan pernikahannku bukan untuk menemuiku sebelum pernikahan” usir Sand.
“Sepuluh menit, setelah itu aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi” minta Shine.
Tidak ada tanggapan dari Sand, Shine tetap akan mengungkapkan ganjalan di hatinya
sebelum pernikahan Sand dan Sarah, jika ia tidak mengungkapkannya, ia akan merasa bersalah selamanya.
“Semoga pernikahanmu dengan Sarah berjalan lancar hingga mau memisahkan kalian, aku
tidak berniat merusak kebahagiaan kalian hari ini tapi, aku hanya mengatakan kalau Sarah orang yang baik, aku berharap kamu bisa menerima Sarah apa adanya, dan mau menerima kekurangannya, aku yakin dia bisa menjadi pendampingmu, itu seperti keyakinan oma Hara, aku harap kalian bahagia” ungkap Shine terus pergi meninggalkan Sand.
“Apa maksudmu menyampaikan pesan seperti itu padaku?” tanya Sand mencegah kepergian
Shine.