
“Apa kamu lupa dengan sandiwara kita, sekarang kamu menjadi pacar ku” kata Sand lirih.
“Siapa bilang aku setuju menjadi pacarmu, aku bilang akan membantumu untuk menggagalkan perjodohan ini dan mencarikan wanita yang tepat untukmu” sahut Shine berbisik.
“Itu sama saja, kita harus terlihat mesra di depannya” kata Sand memaksa.
Sand menggandeng tangan Shine, sedangkan Sarah sendirian berjalan menuju pintu masuk. Terlihat Ben berdiri menunggu Shine.
Waktunya sangat tepat. Shine melepaskan tangan Sand, dan menghapiri Ben yang menunggu sendirian.
“Ben!” teriak Shine dari kejauhan.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu malah memanggil laki-laki itu, kita itu pasangan, Shine kembali!” teriak Sand.
Sarah memanfaatkan kesempatan untuk menggandeng Sand, yang sendirian.
“Ben, dia adalah bosku, jika dia mengatakan sesuatu yang aneh, jangan ditanggapi, itu bagian dari pekerjaan” Bisik Shine di dekat telinga Ben.
Ben menangkap pesan Shine yang terburu- buru.
“Sand perkenalkan, dia Bentley temanku dulu di perguruan tinggi, kebetulan kita bertemu di sini, aku tidak enak meninggalkannya, kamu dengan Sarah dulu ya, gak papa kan?” ucap Shine beralasan.
“Saya pacarnya Shine, perkenalkan, Sandyan Alaska, panggil Saja Sand” ucap Sand menjabat tangan Ben dengan kesal.
“Saya tunangannya Shine, Ben, Bentley Atmanegara” ucap Ben dengan sengaja.
“Bukan bukan, dia senang bercanda jadi jangan dipikirkan “ kata Shine melepas tangan Ben dari tangan Sand.
“Halo aku Sarah, teman Shine dan calon istri Sand” kata Sarah sambil memeluk tangan Sand.
Ben sekarang sudah mengerti kata-kata yang dimaksud Shine tadi. Sand adalah bosnya dan sudah memiliki calon istri tapi tidak begitu menyukai calon istrinya, Ben menduga kalau mereka di jodohkan, sehingga menggunakan Shine untuk mencegah perjodohan itu. Ben benar-benar pintar.
“Lepaskan!, dia bukan calon istriku, tapi dia calon istriku yang sebenarnya” Sand menarik Shine di dekat Ben.
Mata Sand menatap tajam mata Ben, seprti ada kilat menyambar berapi-api.
“Kita masuk aja yuk, sepertinya sudah mau di mulai” ajak Shine untuk menghentikan momen tatapan meyeramkan Sand.
Selama acara berlangsung, mereka berempat sangat menikmati, hingga tidak terasa waktunya princess untuk pulang.
“Aku akan pulang dengan Ben, rumahnya sejalan denganku, kamu antarkan Sarah saja” ucap Shine pada Sand.
“Tidak bisa, kamu harus pulang denganku, aku yang menjemputmu, dan aku juga harus mengantarkanmu pulang” kata Sand bersikukuh.
“Berarti, Sarah juga harus kamu antar pulang, karena tadikan Sarah, kamu yang jemput juga, lagian udah malam, jika harus mengantar Sarah dulu baru aku nanti jalurnya melingkar-lingkar, aku pulang sama Ben aja ya?” minta Shine pada Sand.
“Benar kata Shine, ini udah malam, kasian dua princess ini” sambung Ben mendukung Shine.
Dengan berat hati, Akhirnya Sand harus mengalah dan mengantar Sarah pulang.
“Makasih Sand, aku sangat senang kamu jemput dan kamu antar pulang sampai rumahku” ucap Sarah di luar mobil pada Sand yang ada di dalam mobil dengan menurunkan kaca jendela.
Tanpa berkata apapun, Sand pergi begitu saja meninggalkan Sarah.
Sarah mengadu, kalau dirinya di jemput dan diantar sesuai kemauan oma Hara. Berkat bantuan Shine mereka menjadi sedikit lebih dekat.
“Benar kan kata oma, kalau Shine bisa diandalkan untuk perjodohan ini, kamu harus sabar, pasti kamu akan menjadi cucu menatuku, oma tutup teleponnya ya, Sand sudah nyampek” ucap oma Hara menutup telepon.
Oma Hara bergegas menyambut Sand,
“Gimana acaranya tadi, serukan? Kamu harus sering-sering jalan bersama Sarah” ucapan oma Hara tidak didengar Sand, dia berlalu begitu saja.
“Sand, kamu tidak menjawab pertanyaan dari oma mu ini?” sedikit marah terhadap Sand.
“Saya capek oma, mau istirahat” kata Sand, tetap berjalan ke kamarnya.
“Tuut,tuut,tuut” suara memanggil lewat HP.
*****
“Ben makasih, sudah mengantarku, aku turun dulu, nanti hati-hati di jalan” ucap Shine melepaskan seat belt.
“Sebentar Shine, ada yang ingin aku omongin sama kamu, boleh minta waktunnya sebentar?” tanya Ben, memegang tangan Shine yang hendak melepas seat belt.
“Bicaralah Ben” jawab Shine.
“Shine aku akan selalu bersabar menunggu jawaban atas lamaranku waktu itu” satu kalimat yang sangat berarti, terucap dari bibir Ben.
“Hati-hati ya, sudah malam” jawab Shine lekas turun dari mobil seperti menghindar dari pertanyaan Ben.
Tanpa menengok kebelakang, Shine masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
“Shine aku akan terus memperjuangkanmu, walaupun harus melawan bosmu” ucap Ben, sendirian di dalam mobil sambil melihat Shine masuk ke dalam rumah.
Ben tahu tatapan mata seorang laki-laki yang tertarik pada perempuan sama seperti tatapan mata Sand yang terbakar api cemburu pada nya.
*****
Sand tidak bisa tidur, masih memikirkan perlakuan Shine padanya. Bukannya dia menolong menggagalkan perjodohan, tapi sangat terlihat kalau dia sengaja mendekatkannya pada Sarah.
Sand berencana berangkat kantor lebih awal, untuk menanyakan hal itu pada Shine sendiri.
Shine memasang alarm agar dirinya bisa bangun pagi dan tidak telat ke kantor lagi, dia tidak mau di hukum seperti tadi malam.
“Krriiiiiiiiiiing” alarm dari jam weker Shine, menunjukkan waktu 5 pagi.
Shine bangun bersiap, sarapan, langsung pergi ke kantor.
“Shine kamu pergi awal sekali, tidak mau menunggu papa?” teriak papa Drake menggendong DD.
“Kamu sudah sarapan Shine?” teriak Danira.
“Sudah, papa, mom, DD, aku berangkat dulu, takut telat” teriak Shine yang sudah masuk ke dalam mobil bersama pak Kodir.
Sand yang semalaman tidak bisa tidur, lebih pagi dari Shine, sudah ada di kantor untuk menunggunya.
“Makasih pak Kodir” ucap Shine membanting pintu mobil.
“Non, lama-lama mobil ini ndak punya pintu” ucap pak Kodir menyayangkan pintu mobil.
Para karyawan belum datang, menandakan dirinya sudah berhasil di kantor se-awal mungkin.
Sebelum pergi ke ruangannya, Shine membuatkan kopi untuk Sand, merasa bangga karena hari ini tidak telat lagi.
Dengan hati senang dan tenang, berjalan perlahan menuju ruangan Sand. Membuka pintu dengan siku karena membawa kopi panas.
Pyaaarr, kopi yang dibawanya jatuh berhamburan mengotori lantai marmer yang sangat mengkilap.
“Tuan muda, kenapa kamu sudah di sini, aku tidak telat, ini masih sangat pagi” ucap Shine sangat kaget melihat Sand duduk rapi dengan wajah lesu.
“Kamu telat!” teriak Sand pada Shine yang sudah datang lebih awal.
“Tidak bisa dong, ini belum waktunya masuk kantor, anda saja yang kepagian!” Shine membela dirinya.
“Yang namanya tidak telat itu, bawahan datang sebelum atasan, jadi kamu telat, kamu harus di hukum lagi!” ucap Sand bernada tinggi.
“Tapi anda lah yang kepagian, kalau mau masuk kantor itu ada waktunya, jangan seenaknya gini” ucap Shine tidak terima.
“Ini kantor, kantor saya, terserah dong mau ke kantor jam berapa”
“Aku masih tepat waktu, aku tidak mau di hukum lagi” pembelaan Shine.