
Shine mengira kalau permasalahan hatinya itu tidak akan menjadi besar, sehingga dia memutuskan untuk memendamnya sendirian, tanpa menceritakan pada siapapun.
*****
“Aku sudah menunggu dari pagi tadi, aku siap melakukan apapun untuk melakukan perjodohan ini” ucap Sand yang duduk di kursi ruangannya sengaja menunggu kedatangan Shine.
“Temui Sarah ajak dia makan siang, bila sering bertemu benih cinta itu akan tumbuh” ucap Shine merasakan sedikit sakit hati.
“Baik, aturlah semuanya sesuai keinginanmu, aku tinggal mengikutinya” jawab Sand tidak lagi menentang kemauaun Shine.
Sand melakukan permintaan Shine, dia makan siang bersama Sarah, begitupun hari-hari selanjutnya, Sand mengikuti semua kemauan Shine.
Saat bertemu Sarah kesekian kalinya, dia sengaja mengajak Shine untuk memamerkan kalau dia sudah sepenuhnya memiliki Sand.
“Shine, kita double date yuk, nanti malam bagaimana?” tanya Sarah dengan sengaja di depan Sand.
“Apaan sih, pake acara kayak gituan, aku tidak setuju” sahut Sand.
“Maaf Sarah aku juga tidak bisa,” dukung Shine.
“Ayolah Shine, kapan lagi kita bisa bahagai bersama, aku dengan Sand, dan kamu dengan kekasihmu, aku belum pernah mengadakan double date kayak gini, aku ingin merayakan hari jadi, karena kita akan segera menikah ya kan Sand?” tanya Sarah sangat percaya diri.
Sebenarnya Sand tidak mengatakan apapun tentang pernikahan dengan Sarah, tapi ini kesempatan bagus, untuk membuktikan kalau Shine juga memiliki perasaan terhadapnya.
“Apakah kamu sudah putus dengan kekasihmu itu?” tanya Sand.
Shine tidak ingin memberikan kesempatan pada Sand untuk menolak perjodohan lagi karena dia, dengan terpaksa dia menyanggupi permintaan Sarah untuk double date.
“Baiklah, aku menerima undanganmu, katakan dimana tempatnya” kata Shine percaya diri.
“Kamu tidak menyerah, jadi kamu tetap kekeh pada pendirianmu dan tidak mau mengakui perasaan itu, baik, aku akan meladenimu hingga kamu menyerah” batin Sand.
“Yes, nanti di café Wujubuka jam 7 tepat, kita akan double date, jangan telat ya Shine, aku yang akan bayar semua makanannya” kata Sarah sangat senang.
*****
“Ben, apakah kamu ada waktu kosong nanti malam? Aku mau mengajakmu dinner” minta Shine melalui pesan singkat.
Saat membaca pesan dari Shine, Ben kegirangan, karena Shine sudah mudah untuk di dekati.
“Pasti akan ku kosongkan semua acaraku untukmu, di mana jam berapa, nanti aku jemput” jawab Ben.
“Jam 7 di café Wujubuka” balas Shine.
Shine tidak bilang pada Ben, kalau acara itu adalah double date bersama bos Shine dan juga calon istrinya.
*****
“Hai kak, aku pinjam Shine nya dulu ya, nanti ku antar tidak ada yang kurang secuilpun” pamit Ben pada Danira yang menunggu di depan rumah.
“Awas saja kalau kamu berani mencuilnya,” jawab Danira.
“Kami pergi dulu mom” teriak Shine di dalam mobil Ben.
“Dalam rangka apa kamu mengajakku dinner Shine?” tanya Ben saat sudah sampai di tempat perjanjian.
“Kamu nanti akan tahu, aku hanya mau bilang maaf kan aku Ben, seharusnya aku tidak melibatkan mu dalam dinner ini” ucap Shine menyesal.
Sand dan Sarah sengaja datang lebih awal, mereka menunggu dengan saling diam, saat Shine dan Ben terlihat mendekat mereka mulai bermesraan dengan bergandengan tangan.
“Kalian sudah lama menunggu ya, maafkan sedikit telat” ucap Shine meminta maaf.
“Aku khawatir jika kamu tidak datang bersama kekasihmu, kita sudah pernah bertemu sebelumnya kan, perkenalkan saya Sarah Permana, calon istri bos Shine di kantor, aku sengaja mengundang kalian untuk memberitahukan kalau kita akan segera menikah, berkat Shine pantang menyerah yang selalu menjodohkan kami, akhirnya kita akan bersatu dalam ikatan pernikahan” ucap Sarah bahagia.
Sand dengan sengaja mendukung perkataan Sarah dan membenarkan kalau akan segera naik pelaminan.
“Aku berharap kalian juga segera menyusul kami” ucap Sand dengan sengaja memanas- manasi Shine.
“Bagaimana kalau kita makan, aku sengaja belum makan saat ke sini” kata Shine mengalihkan.
Sand tersenyum saat Shine mengalihkan pembicaraan, dia mengira kalau rencananya berhasil.
Saat dinner bersama, Ben menunjukkan perhatiannya pada Shine, begitu juga Sand tidak mau kalah dari Ben, dia terpaksa bermesraan di depan mereka, untuk memancing kecemburuan Shine.
Tapi, usaha Sand, belum membuahkan hasil, Shine tidak terpancing dari kemesraan nya dengan Sarah. Karena Shine terlalu pandai meyembunyikan perasaan. Padahal dia merasa terluka saat Sand memberitahukan, akan segera menikah dengan Sarah.
“Oh iya Shine, kapan rencana kalian untuk menyusul kita ke pelaminan?” tanya Sarah saat sedang makan, memecah ketegangan.
“Sebenarnya Shine belum memberikan jawaban atas lamaranku, apakah kamu punya tips agar dia mau menikah denganku? Seperti anda menerima lamarannya padamu” sahut Ben.
“Apasih Ben, jangan ungkit itu bisa kan? Aku masih butuh waktu” sela Shine.
“Sebenarnya Sand juga belum resmi melamarku” kode Sarah pada Sand.
“Begitukah? Kalau begitu acara ini akan menjadi momen sangat penting, jika Sand melamarmu” canda Ben.
Sand merasa tersindir dengan ucapan Ben, dia merasa tidak mau kalah, sehingga melamar Sarah saat itu juga. Dia berdiri dan berlulutut di depan Sarah.
“Maukah kamu menjadi istriku?” tanya Sand dengan tangan kosong.
“Walaupun dengan tangan kosong, aku mau, mau sangat mau Sand” teriak Sarah langung memeluk Sand yang berlulut di depannya.
Saat momen lamaran itu terjadi Shine pergi meninggalkan meja.
Apakah siasatku berhasil membuatnya cemburu? Dalam hati Sand bertanya-tanya.
“Shine kamu mau ke mana?” tanya Ben, menyusul Shine dari belakang.
“Aku mau ke toilet, bolehkah aku sendiri ke toilet, masak kamu juga ikut?” canda Shine menahan perasaan yang campur aduk.
Ben kembali duduk di meja bersama Sand dan Sarah.
“Aku akan pesankan makanan spesial untukmu, tunggu di sini ya” minta Sand pada Sarah.
Sarah yang terbutakan dengan lamaran, dia tidak menyadari kalau Sand memanfaatkannya.
Sand mencari Shine yang meninggalkan meja makan saat Sand melamar Sarah. Dia mencari ke toilet.
“Apakah ada orang di dalam?” tanya Sand pada perempuan yang keluar toilet wanita.
“Ada satu kamar toilet masih terkunci.” Jawab perempuan yang menggunakan toilet.
“Shine aku tahu kamu di dalam, keluarlah sekarang aku mau bicara denganmu” teriak Sand di depan kamar toilet yang terkunci.
“Kamu gila ya, berani masuk toilet wanita, keluar sekarang, atau aku akan teriak” jawab Shine di dalam toilet.
“Di sini tidak ada orang, percuma saja kalau kamu teriak, keluarlah sekarang, atau pintunya aku paksa buka” sahut Sand.
Shine terpaksa keluar dengan menyembunyikan perasaannya.
“Ikut aku” Shine menarik Sand keluar dari toilet.
Malah Shine yang di tarik balik oleh Sand menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil.
“Kenapa kamu tadi pergi saat aku melamar Sarah?” tanya Sand sangat serius.
“Memang aku butuh ke toilet, apakah itu salah?” jawab Shine mengelak.
“Tapi waktunya terlalu bertepatan, aku tidak percaya jika kamu pergi hanya ingin ke toilet, pasti kamu menyembunyikannya dari ku”
“Menyembunyikan apa? Aku tidak melakukan apapun” pembelaan Shine.