AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 84


“Iya Bun, tapi apakah Ibun mau melihat Ben menahan sakit besok di acara pernikahannya?” tanya ayahnya Ben pada Ibun.


Ibunya Ben menggelengkan kepala, sambil memegang tangan Ben yang masih belum sadarkan diri.


“Bapak Atma, bisa kita bicara sebentar?” minta papa Drake.


PapaDrake dan ayahnya Ben, pak Atma, mendiskusikan tentang pernikahan anak mereka di luar ruang inap, Ibun, Danira dan Shine menunggu di dalam.


“Saya setuju dengan bapak, jika memang harus dan demi kebaikan bersama saya tidak keberatan kalau pernikahannya ditunda” jelas papa Drake dengan hati lapang setelah melihat keadaan Ben yang babak belur.


“Benarkah pak, saya sangat berterimakasih untuk itu, bagaimana dengan Shine, apakah dia


juga akan menyetujuinya?” tanya pak Atma ragu.


Papa Drake memanggil Shine untuk membicarakan tentang pernikahannya.


“Nak Shine, maaf kita harus membicarakan ini dengan tidak nyaman di sini, soal pernikahan kalian, saya dan papa mu sudah setuju kalau pernikahannya di tunda hingga kondisi Ben membaik, apakah nak Shine setuju dengan keputusan kami?” tanya pak Atma dengan sangat hati-hati.


“Saya yang harusnya meminta maaf atas kejadian ini, saya yang mengajak Ben untuk pergi hari ini, keputusan yang anda ambil adalah jalan terbaik, saya juga akan menyetujuinya” jawab Shine menyesali.


“Syukurlah, terimakasih nak Shine atas pengertiannya” ucap pak Atma sangat bersyukur.


“Saya akan segera menghandle semuanya, saya pergi dulu” pamit papa Drake untuk menunda pernikahan.


Papa Drake mencari Danira untuk menemaninya, tapi Shine meminta Danira untuk tetap bersamanya.


Shine menunggu Ben, sedangkan Danira mencari Sand di IGD untuk menjelaskan yang diminta Shine.


“Pasien yang bernama Sand apakah masih di sini sus?” tanya Danira pada suster yang berjaga.


“Dia sudah dipindahkan di kamar inap nomor 207” jawab suster yang berjaga.


“Terimakasih ya sus” ucap Danira.


Ternyata ruangan Sand berada di samping kamar inap Ben.


“Shine, dia sudah dipindahkan di samping, jika kamu ingin menemuinya pasti akan lebih


mudah” bisik Danira yang sudah kembali.


“Bun, aku permisi sebentar ya” pamit Shine pada ibunya Ben yang masih memegangi


tangan anaknya.


Shine segera ke kamar inap Sand, dia di temani Reihan.


“Shine, dia tadi sudah sadar, tapi sekarang sedang tidur” ucap Reihan melihat Shine


masuk.


“Kenapa jadi begini, pasti sakit …” kata Shine meratapi keadaan Sand.


Tangan Sand meraih tangan Shine, saat itu mengagetkan nya.


“Kamu tidak tidur?” kata Shine terkejut.


“Tadi aku mencarimu, kata Reihan, kamu bersama Ben, jangan pergi kemana-mana” minta Sand menahan sakit.


Sand menyuruh Reihan agar meninggalkannya bersama Shine berdua saja.


“Rei, kamu tahu kan maksudku?” ucap Sand mengkode Reihan agar segera pergi.


“Iya, iya, tahu, jangan berbuat aneh-aneh saat aku pergi, aku masih mengawasi kalian”


kata Reihan tahu maksud Sand.


“Gak mungkinlah, duduk saja susah gini, apa yang mau di lakukan” jelas Sand.


“Siapa tahu maksa, kan nunggunya lama, sekarang mumpung ada kesempatan” ledek Reihan.


Sand dan Shine akhirnya berdua saja di kamar inap.


“Shine kamu masih belum mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya padaku, aku sangat ingin mendengarnya dengan jelas” minta Sand sambil memegang tangan Shine dengan erat.


“I love you” bisik Shine.


“Aku tidak mendengarnya, ucapkan sekali lagi” minta Sand lagi.


Sand merasa sangat lega, kini perasaanya tidak sepihak lagi, dan bukan cinta bertepuk sebelah tangan.


Sand memanyunkan bibirnya, berharap akan diberikan ciuman pertamanya setalh jadian


oleh Shine.


“Jangan berharap, ingatlah perban yang membalut seluruh wajahmu” kata Shine mengerti maksud Sand tapi menolaknya.


“Jika kamu lakukan sekarang, pasti lukanya tidak akan terasa sakit lagi, satu kaliiii saja” rengek Sand manja.


“Setelah kamu baikan, akan kuberikan sebanyak yang kamu minta” jawab Shine menenangkan Sand.


“Janji harus ditepati Shine” canda Sand.


“Aku tidak bisa merawatmu secara intensif, aku harus pergi merawat Ben, ruangannya di sebelahmu, aku akan sempatkan melihatmu secara berkala” jelas Shine pada Sand.


“Baiklah, yang terpenting kamu sudah menjadi milikku sepenuhnya” ucap Sand dengan bangga dan juga bahagia.


“Siapa bilang milikmu sepenuhnya” ledek Shine.


“Kamu memiliki pria lain lagi?” tanya Sand merespon candaan Shine.


“Kita belum menikah jadi jangan sombong dulu” jawab Shine.


Sand dan Shine tertawa bersama.


“Aku harus pergi sekarang, takutnya ibunya Ben mencariku, nanti akan tengok lagi” minta Shine.


Sebelum Shine pergi, Sand berusaha mencium tangan Shine tapi belum sanggup, karena


badannya terasa sakit. Akhirnya Shine yang mencium tangan Sand dan pergi.


“Gimana Ben mom? Belum sadar juga?” tanya Shine yang baru kembali.


“Belum, aku harus pulang, sudah waktunya DD mandi, jika butuh bantuan, kamu telepon


mommy ya” ucap Danira hendak pulang.


Danira berpamitan pada keluarga Ben, Shine masih di sana ikut menunggu.


“Bun, istirahatlah, biar Shine yang menunggu Ben, Ayah juga, ajak Ibun pulang, biar aku yang menjaganya di sini” minta Shine pada kedua orang tuan Ben.


“Benar kata Shine Bun, kita pulang dulu, nanti kita kembali lagi” ajak pak Atma.


“Kita titip Ben ya Shine, segera hubungi kami kalau dia sadar” minta Ibun.


“Pasti Bun” jawab Shine mengantarkan kedua orang tua Ben ke pintu kamar inap.


Beberapa saat setelah kepulangan calon mertunya, Ben nampak memperlihatkan


keasadarannya, tanpa sepengetahuan Shine.


“Apakah pasien sudah sadar? Saya cek dulu ya infusnya” kata suster yang bertugas.


“Belum sus, apakah dia baik-baik saja sampai sekarang belum sadarkan diri? Apakah


tidak perlu di cek secara keseluruhan ya sus?” tanya Shine khawatir dengan Ben, karena Sand yang sudah sadarkan diri.


“Detak jantungnya baik, dan ritme pernapasannya juga stabil, di tunggu saja sampai sadar, jika sudah langsung berikan air putih, jika bisa makan, tidak papa diberikan, ini obatnya, diminum dua kali sehari, sesudah makan, saya permisi” jelas suster yang bertugas.


Sebenarnya Ben sudah sadar, tapi dia belum membuka matanya karena terasa sangat berat. Shine tidak tahu jika Ben sudah bisa mendengar percakapannya dengan suster tadi. Shine mengelus tangan Ben yang di balut perban.


“Ben, maafkan aku, karena aku, kamu jadi begini, aku tidak mau menyakiti perasaanmu


maupun orang tuamu, aku berpikir egois, disaat aku tahu persis bagaimana perasaanku, orang tuamu malah salah sangka aku menyetujui pernikahan ini, juga bersamaan dengan Sand yang menurutiku untuk menikah dengan Sarah. Aku menyetujui menikah denganmu hanya untuk pelarian semata, dan sekarang Sand membatalkan pernikahannya … Ben! Kamu sudah sadar?” teriak Shine yang melihat jari Ben bergerak serta air mata mengalir di pipinya.


Ben mengenggam erat tangan Shine, dan berkata lirih, “Aku sangat kecewa denganmu


Shine.”


“Ben, maafkan aku, aku sungguh menyesal, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan denganmu,” sesal Shine.


Cengkraman Ben begitu saja dilepaskan dan dia membuang mukanya, seakan tidak mau Shine, menemaninya.


“Ben, aku akan menjelaskan semuanya pada Ayah dan Ibun, akan aku terima semua konsekuensi yang terjadi” jelas Shine memutuskan menjauh, dan segera menghubungi kedua orang tua Ben.