
Fey tidak fokus pada ular raksasa Akasura yang sedang kalap akibat dibangunkan paksa oleh kekuatan Dewa. Meskipun itu terjadi secara tak sengaja, tetap saja hal itu menimbulkan kekacauan besar yang harus merepotkan seluruh penghuni istana Refald.
Dan sekarang, berhubung raja demit itu kumat bengeknya, terpaksa Fey menghadapi Akasura sendirian dan tak sengaja terkena serangan ular raksasa tersebut. Beruntung, sikap siaga Refald berhasil menyelamatkan istrinya meski saat ini, ayah 2 anak itu sedang dilanda api cemburu buta hanya karena Fey menyukai para cogan.
"Kau tidak apa-apa, Honey?" tanya Refald. Matanya mengisyaratkan kecemasan yang begitu besar.
Ada …,” jawab Fey cepat.
“Di mana? Aku akan menyembuhkannya,” ujar Refald cemas, padahal Akasura sudah berada di atas kepala Refald.
“Refald!” teriak Fey memperingatkan.
Tanpa menoleh pada binatang melata berukuran super duper besar ala monster di film The Little Krishna. Refald mengangkat salah satu tangannya sambil berkata,” Berhentilah dulu Akasura ... aku sedang sibuk dengan istriku. Lanjutkan lagi setelah aku selesai!” ujar Refald santai sesantai-santainya dan anehnya, ular raksasa itu berhenti bergerak dan hanya mengedip- kedipkan matanya karena bingung.
Baru kali ini ada binatang raksasa disuruh berhenti mengamuk hanya karena yang diamuk sedang sibuk bermesraan. Fey dan semua para dedemit di sekeliling mereka sangat terkejut melihat Akasura yang amat sangat sulit ditenangkan, bisa langsung jinak pada Refald.
Benar-benar tak terduga. Kalau tahu begitu, harusnya dari awal Refald menjinakkan Akasura … kan jadi tidak perlu ada drama ikan terbang ala pocong tampan seperti ini.
“Refald … ularnya …”seru Fey ikutan bingung seperti Akasura.
“Biarkan saja ularnya. Katakan padaku bagian mana yang sakit?” tanya Refald dengan tatapan mata elangnya.
Sudah bukan hal tabu lagi bila Fey harus menghadapi kebengekan suaminya. Tak heran bila semua keturunan Refald jadi bengek semua.
“Di sini,” Fey memegang dadanya. Refald menyentuh dada itu dan tidak merasakan apa-apa.
“Tidak ada yang terluka? Kau jangan bohong Honey?” Refald mulai marah dan menunjukkan sisi posesifnya lagi.
“Aku memang tidak terluka dan aku baik-baik saja. Tapi hati ini sakit, Refald. Berapa lama aku hidup bersamamu dan kau masih meragukan cintaku padamu hanya karena masalah cogan? Aku wanita normal, semua wanita menyukai makhluk ciptaan Tuhan. Sekalipun ada banyak ratusan juta cogan di dunia ini, mereka semua takkan pernah bisa menggantikan posisimu dihatiku. Ini sangat tidak fair untukku, kau marah hanya karena aku suka melihat cogan. Hanya melihat … tak lebih dari itu.”tanpa sadar, ratu demit itu mencurahkan isi hatinya pada Refald.
Jelas Refald tertegun, seketika ia merasa mendapat tamparan telak dari kalimat yang diucapkan Fey padanya. Namun … Akasura sepertinya sudah sadar dari pengaruh kekuatan Refald sehingga ia hendak memakan raja dan ratu yang sedang saling menatap itu bersamaan.
Hampir saja ular raksasa itu melahap Refald dan Fey kalau saja Hans tak langsung mengarahkan anak panahnya yang berisi obat bius dengan dosis tingkat mahadewa buatannya sendiri sehingga tepat mengenai kepala Akasura. Dalam hitungan detik, ular raksasa tersebut mulai oleng dan tak sadarkan diri.
Rupanya, selain suka bikin onar, Hans juga punya banyak kelebihan. Dua bisa melindungi keluarganya dengan caranya sendiri. Benar-benar bibit unggul dan perpaduan komplit antara Refald dan pak Po.
Disaat kekuatan Akasura melemah, pasukan Refald bersiap mengeluarkan kekuatan mereka untuk membuat jaring raksasa yang bisa mereka gunakan untuk menangkap tubuh Akasura. Perlahan, para pasukan dedemit Refald meletakkan tubuh binatang melata raksasa itu ke tanah dan mengembalikan kondisinya seperti sedia kala. Dengan bius ciptaan Hans, binatang raksasa itu tertidur kembali setidaknya ratusan tahun dari sekarang.
Hans masih mengamati kakek neneknya yang melayang-layang di udara bak anak ABG yang baru saja merasakan indahnya jatuh cinta.
“Woy Kakek! Nenek!" teriak Hans dengan lantang, "kalian sudah tidak muda lagi, berhentilah bermain adegan sweet layaknya kalian baru berusia 17 tahun itu! Apa kalian tidak malu pada bocah ingusan Sepertiku? Hadeuh bikin malu saja …." Hans ternyata menyuarakan aksi protesnya.
“Diam kau Hans! Atau kusumpal mulutmu dengan aspal jalan!” bentak Refald dan langsung membawa Fey menghilang dari pandangan.
"Beginilah nasib punya kakek dan nenek bengek!" gumam Hans ikut menghilang karena ada sesuatu yang mengalihkan perhatiannya seolah ada yang memanggil nama cucu kesayangan Refald.
Sementara Mas Gen, hanya diam membisu menatap sosok ular raksasa yang sudah menutup mulutnya untuk waktu yang amat sangat lama. Bahkan saat ular besar itu hendak melahap Refald dan Fey. Salah satu pasukan dedemit Refald yang baru saja dibangkitkan, tidak bisa melihat Sekar dan ibunya lagi.
Mendadak ... dua sosok ibu dan anak itu menghilang tanpa jejak. Entah karena sudah terlalu masuk jauh ke dalam perut sang ular raksasa atau sudah pergi entah kemana, mas Gen tidak bisa memastikan. Yang jelas, hubungan dirinya dan Sekar, sudah berakhir untuk selama-lamanya dan hanya menyisakan kenangan keduanya.
"Selamat tinggal Sekar ... semoga kau selalu bahagia, dimanapun kau berada," gumam mas Gen lirih tepat didepan mulut Akasura.
Setelah memastikan bahwa tidak ada lagi bahaya akibat amukan ular raksasa, para pasukan Refald mengembalikan semuanya seperti sedia kala tanpa menunggu komando dari raja mereka. Mereka juga tetap melanjutkan pekerjaan mereka menyiapkan semua hal yang diperlukan untuk acara pesta yang akan digelar beberapa saat lagi.
***
Di kediaman Dewa dan Dea, sang hantu tampan tetap setia pada istrinya yang masih tergolek lemah. Akhirnya, Dea pun sadar dan mulai membuka matanya dimana orang pertama yang gadis itu lihat ... adalah wajah tampan suami hantunya.
"Kau sudah sadar Sayang?" tanya Dewa dengan suara lembutnya. Tak lupa ia juga mengelus pelan rambut Dea.
"Apa ... yang terjadi padaku?" Dea malah balik bertanya. Suaranya terdengar lemah tak berdaya.
"Kau pingsan, dan hampir saja celaka karena melindungiku. Ada apa denganmu Sayang, bagaimana bisa kau berbuat bodoh seperti itu? Aku jauh lebih kuat darimu, harusnya aku yang melindungimu?" Dewa menggenggam erat kedua tangan Dea karena terlalu merasa bersalah.
"Bukankah ... aku memang diciptakan untuk melindungi suami hantuku sekalipun dia jauh lebih kuat dariku? Kalau bukan aku ... siapa lagi yang bisa melindungimu jika ada bahaya menyerangmu?"
"Dea ...."
"Aku juga tidak tahu kenapa aku bertindak seperti itu Suamiku. Tubuhku refleks bergerak sendiri tanpa perintah dariku. Mungkin ... ini sudah takdir hidupku, untuk menjadi perisaimuu ...."
Dewa langsung memeluk Dea bahkan sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. "Benar, kau memang perisaiku, kau pelindungku dan hanya kaulah satu-satunya wanita yang membuatku serasa hidup kembali setelah sekian lama mati. Namun jika sesuatu yang buruk padamu terjadi, maka hari itu ... akan menjadi hari terakhirku juga di dunia ini. Jadi, jangan pernah lakukan hal bodoh yang bisa membuatku kehilangan dirimu, Dea. Karena aku tak bisa kalau tanpamu disisiku. Aku mencintaimu, lebih dari apapun." Dewa semakin memeluk erat Dewa.