Terpaksa Menikah Dengan Dewa

Terpaksa Menikah Dengan Dewa
BAB 22 Ternyata Sakitnya tuh Disitu


Pangeran membawa Dea terbang melayang dalam gendongannya dan perlahan meletakkan tubuh Dea diatas batu pembaringan di dalam sebuah goa tempat pertama kali mereka bertemu. Hantu tampan itu sungguh tidak mengerti kenapa ia bisa membawa istrinya kembali lagi ke goa yang merupakan tempat dirinya dikutuk. Ia baru sadar setelah melihat sekeliling dan menatap sebuah batu berukuran besar dimana sang pengeran terkurung didalamnya.


Kenangan akan kehadiran Dea yang sukses mencabut bunga mawar merah sebagai pelepas segel tanpa ada kendala sedikitpun mulai terngiang-ngiang diingatan Dewa. Secara spontan, pengeran demit itu langsung meminta Dea menikah dengannya meskipun ia sama sekali tak tahu menahu siapa Dea waktu itu.


Awalnya, pangeran demit itu tak memiliki rasa apapun untuk Dea. Ia hanya tersentak bahwa kata spontan yang pernah ia ucapkan, ditanggapi serius oleh Dea sehingga gadis itu tetap memaksa ingin menikah dengannya walau harus kehilangan nyawa. Kini, Dea sudah menjadi istrinya dan Dewa langsung datang ketika istrinya ini dalam bahaya.


"Pangeran, apa ... Putri baik-baik saja? Maafkan kami karena tidak bisa menjaga Tuan Putri dengan baik," ujar pak Po yang mendadak muncul di belakang Dewa. Diikuti oleh mbak Kun. Dua sosok demit itu tampak sedih dan merasa bersalah atas apa yang menimpa istri pangeran mereka.


"Kenapa kalian tidak mengawasi dan melindunginya? Malah ikut denganku menemui ibunda Ratu?" tanya Dewa agak sedikit marah pada pak Po sampai ia tak mau melihat wajah pengasuhnya.


Jika Dewa terlambat sedetik saja, mungkin Dea akan berakhir sama seperti dirinya atau bahkan mungkin lebih parah. Tentu saja Dewa takkan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk pada Dea.


"Maafkan kami Pangeran, kami tidak bisa datang dan menyelamatkan Tuan Putri kalau dia tidak menyebut nama asli kami. Panggilan itu adalah ikatan pertama sebagai penghubung antara kami dan Tuan Putri. Hingga detik-detik kematiannya, Tuan Putri masih tidak memanggil nama kami," terang mbak Kun dan Dewa memang sudah tahu betul aturan itu.


Apa yang terjadi pada Dea bukanlah salah pak Po dan mbak Kun. Sungguh, Dewa menyesal meninggalkan Dea sendirian diantara manusia-manusia keji yang ada disekitar Dea. Seandainya saja ibunya tidak segera menyuruhnya datang ke tempat Dea dalam bahaya, hantu tampan itu pasti akan kehilangan Dea selamanya karena bisa saja jiwa istrinya terkurung selamanya di dasar jurang karena matinya terbunuh.


Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa istrinya ini tidak memanggil nama pasukan demit Refald padahal Dewa sudah memberitahu Dea nama-nama asli mereka. Sekalipun pak Po dan mbak Kun sangat ingin membantu Dea, mereka tidak akan bisa karena gadis cantik ini belum memanggil nama asli mereka.


Tak berselang lama, Dea mulai sadar dari pingsannya dan sosok pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suami hantunya. Dea begitu senang melihat Dewa yang tampak sangat mencemaskannya. Tiba-tiba saja, ia teringat kalimat terakhir yang dikatakan Dewa sesaat sebelum ia pingsan. Suami hantunya mengatakan bahwa Dea adlah istrinya. Kata itu sungguh membuat Dea bahagia.


"Dea ... kau tidak apa-apa? Kenapa kau tidak memanggil nama asli pak Po dan mbak Kun? Apa ada yang terluka? Apa yang kau rasakan? Apa kau kesakitan? Kau butuh sesuatu? Apa kau menginginkan sesuatu? Katakan saja padaku," cecar pangeran D dengan berbagai macam pertanyaan sehingga membuat Dea malah semakin bingung. Perhatian suaminya ini terlalu berlebihan.


"Apaaa ... aku sudah mati? Apa aku sama sepertimu sekarang?" bukanya menjawab Dea malah balik bertanya.


Dewa terdiam dan langsung duduk di samping Dea. Ia membantu istrinya bangun dari tidurnya. Gadis itu bingung karena merasa familiar dengan tempat dan ruang ini.


"Ini ... di mana? Sepertinya, aku pernah kemari sebelumnya," tanya Dea sambil mengamati sekitar goa yang tak lain dan tak bukan adalah goa yang memang menjadi pertemuan pertama mereka waktu itu.


"Kau belum mati, ini adalah goa tempatku dikutuk dan kaulah yang membebaskanku. Sudahlah, tolong jawab pertanyaanku, kenapa kau tidak memanggil nama pak Po dan mbak Kun seperti yang kuberitahukan padamu? Dan kenapa kau malah lari ke tepian jurang begitu? Apa yang kau pikirkan?" nada suara Dewa lumayan meninggi saking khawatirnya, tapi mungkin dia masih belum sadar betapa cemasnya pangeran D ketika tahu Dea hampir saja mati.


"Aku ... lupa nama mereka, eza atau siapa, aku lupa. Aku lemah kalau soal menghafal nama orang," jawab Dea malu-malu dan Dewa langsung bengong.


"Lupa? Ezi dan Ervina, itu nama yang sangat mudah untuk diingat. Bagaimana kau bisa lupa?" pekiknya.


"Kenapa kau marah? Waktu itu aku terdesak, tidak tahu harus bagaimana dikeroyok banyak orang begitu. Aku tak punya kekuatan super sepertimu, bagi manusia biasa sepertiku, wajar kalau aku lupa," cetus Dea kesal. Ia merasakan sedikit sakit di dadanya akibat dorongan tangan seseorang yang sempat mendorongnya jatuh ke jurang.


"Ada apa? Kau merasakan sakit?" tanya pangeran D yang memerhatikan Dea sejak tadi. Tentu saja ia juga memahami apa yang ada dalam pikiran istrinya saat ini.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit keram saja," jawab Dea sambil menyembunyikan rasa sakitnya serta kegalauannya.


"Jangan bohong, katakan padaku dimana yang sakit atau aku cari tahu sendiri."


"Tidak usah, tidak apa-apa," sergah Dea dan mukanya agak memerah.


"Katakan di bagian mana yang sakit," desak pangeran D.


"Sudah kubilang aku tidak apa-apa! Kenapa kau memaksa!" bentak Dea.


"Karena aku tidak mau kau kesakitan barang sedikitpun, katakan atau aku akan cari tahu sendiri dengan caraku." Dewa mulai geram dan sedikit mengancam.


Tak ingin berdebat, akhirnya Dea menunjukkan area dada yang lumayan dekat dengan daerah sensitifnya sambil memalingkan muka karena wajahnya sudah sangat merah merona. Pangeran D sedikit terpaku, ia akhirnya tahu alasan kenapa istrinya bersikukuh mengatakan kalau ia baik-baik saja. Ternyata sakitnya tuh di situ.


Sang hantu tampan ragu, untuk menyembuhkan luka Dea atau tidak. Sebab, ia harus menyentuh area sensitif tersebut jika ingin mengobati lukanya. Alhasil, Dewa cuma menatap bagian dada Dea dengan wajah kikuk.


Melihat hal itu, Dea jadi merasa lucu. Untuk pertama kalinya, wajah dingin suaminya bisa berubah seperti anak kecil yang sedang tersesat di jalan dan tidak tahu jalan pulang. Gadis itupun keranjingan untuk menggoda suaminya untuk mengetea sampai dimana nyali si pangeran demit ini.


"Kenapa diam saja? Katanya mau disembuhkan?" tantang Dea dan Dewa jadi bingung sendiri.


Tanpa dinyana-nyana ... Dea meraih tangan pangeran D dan mengarahkannya ke dadanya sendiri. Tentu saja, hal itu membuat Dewa terkejut bukan kepalang.


"Apa yang kau lakukan?" sentaknya, wajahnya benar-benar memerah. Seketika ia melesat pergi keluar goa entah ke mana.


"Hei! Kau mau kemana? Pangeran! Suamiku! Bukankah kau bilang mau menyembuhkan lukaku? Kok malah kabur?" teriak Dea sambil tertawa melihat wajah merah merona suaminya sehingga sampai melarikan diri begitu.


BERSAMBUNG


***