
Dea tersentak ketika mendengar suara suaminya saat ia memanggil Dewa dalam hati. Gadis itu mencari-cari keberadaan suaminya tapi tidak menemukan sosok Dewa dimanapun. Semakin bingunglah Dea karena ia yakin kalau ia bisa mendengar suara suaminya dengan jelas sebelumnya.
"Ada apa Kakak ipar?" tanya Bima, "apa ada yang kau cari?"
"Tidak." Dea buru-buru menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Sungguh." Dea tersenyum manis.
Apa aku hanya berhalusinasi? Mungkin aku salah dengar. Batin Dea dan mencoba kembali bersikap seperti biasa.
Tidak Dea Sayang. Kau memang bisa mendengar suaraku. Aku terkejut saat kau menyebut namaku. Aku juga bisa mendengarnya. Saat ini aku tidak bisa menemuimu karena aku sedang latihan dengan kakakku. Kita akan segera bertemu kembali nanti. Tunggu aku, oke. Aku mencintaimu. Dewa mengatakan semua itu melalui telepatinya.
Latihan? Latihan apa? tanya Dea penasaran.
Nanti akan kupraktekkan padamu. Sekali lagi kukatakan dan akan terus kukatakan, aku mencintaimu. Jangan ragu padaku, oke. balas Dewa masih dengan cara telepati yang mengalahkan alat komunikasi manusia tercanggih abad 20, yaitu handphone. Bedanya, telepati ala Dewa tidak bisa dipakai mengirim pesan.
Sebenarnya, Dea heran tentang apa yang dilakukan Dewa sekarang. Tapi kalimat terakhir yang diucapkan suaminya membuat hati Dea jadi berbunga-bunga. Perasaan insecure yang tadi sempat menerpanya, mendadak hilang dengan sendirinya dan berubah jadi kepercayaan diri tingkat dewa.
Hanya saja, sekarang suasana jadi semakin canggung kala Bima dan Yeon, kebetulan berdiri di tengah-tengah para wanita yang dicintai kakak sepupu mereka. Kedua anak Leo ini hanya diam dan menatap bergantian wajah-wajah 2 wanita cantik tapi berbeda karakter ini. Satunya sangat elegan, lembut dan murah senyum, satunya bar barnya minta ampun. Perbedaan yang amat sangat kontras dan Dewa menyukai dua wanita cantik ini.
"Beruntungnya kak Dewa karena punya 2 wanita," gumam Bima lirih dan mulai membuat panas suasana.
"Diam kau Bim. Jika pangeran Dew Dew dengar, habislah kau!" Yeon menyenggol ulu hati Bima dengan sikunya. Ia sendiri sengaja diam dan tak ingin terlalu ikut campur urusan percintaan kakak sepupunya.
"Tuan muda Bima, Tuan muda Yeon, maaf jika saya lancang, tapi ... bisakah kalian tinggalkan kami? Ada yang ingin saya sampaikan pada Putri Dea." Suara Sekar terdengar lembut ketika ia meminta adik ipar Dea pergi meninggalkan mereka berdua.
Tentu saja Bima dan Yeon sama sekali tidak keberatan. Tanpa banyak bicara, mereka berdua akhirnya pergi sambil berghibah ria.
"Eh Kak, kalau kakak jadi kak Dewa, siapakah wanita yang akan kau pilih diantara mereka berdua?" bisik Bima tapi bisa didengar oleh dua wanita yang ada dibelakangnya.
"Aku pilih Yuna," jawab Yeon sambil terkekeh.
"Aku tahu kau bakal pilih kakak ipar karena kalau tidak kau bakalan dipecat jadi suaminya. Tapi bukan itu ..."
"Bukan begitu Bim," sela Yeon, "Sekar mirip bibi Fey dan Yunaku. Sedangkan Dea mirip ibu serta adik kita si Alea. Wajar kalau kak Dewa menyukai keduanya. Kau sendiri ... bagaimana denganmu? Diantara mereka berdua, siapa yang kau pilih?" Yeon malah membalikan pertanyaan Bima sendiri. Padahal hal yang mereka bahas itu sama sekali tidak penting dan pastinya Dewa tak butuh pendapat dari dua adik somplaknya ini tentang siapa wanita yang paling dicintai Dewa.
"Aku pilih Airaku," jawab Bima membalas kakaknya. Baik Yeon ataupun Bima sama-sama memilih pasangan mereka masing-masing.
"Dasar CEO bucin!" ledek Yeon.
"Biarin, kau juga Kades bucin!" Bima membalas ledekan kakaknya. Keduanya tidak safar kalau dua wanita yang ada dibelakang mereka menatap sinis dua pria bengek itu karena membuat suasana diantara Sekar dan Dea jadi semakin canggung saja.
"Ehem ... hem ... apa kalian berdua sudah selesai ghibahnya? Sepertinya, kalian berdua belum pernah kena lempar panci teflon andalan emak-emak, ya?" tanya Dea mulai panas hati dan telinga mendengar obrolan kedua adik iparnya.
Usia kedua pria tampan itu memang lebih tua dari Dea. Tapi sikap mereka sangat kekanak-kanakan. Bisa-bisanya mereka membahas wanita mana yang paling dicintai Dewa sementara Dea sudah sah menjadi istrinya dan Sekar hanyalah masa lalu Dewa. Dasar adik ipar nggak ada akhlak!
Kini, tinggallah para wanita cantik berbeda alam ini hanya berdua saja di taman. Keduanya saling menatap untuk mengusir kecanggungan mereka.
"Nona Sekar." Akhirnya Dea mulai membuka suara dan mengawali percakapan. "Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?"
"Begini ... hubunganku dengan Dewa ..."
"Saya tahu," sela Dea langsung paham ke mana arah pembicaraan ini setelah sempat dikompori Yeon dan Bima. "Jangan khawatir Nona Sekar. Saya sudah bersumpah akan mengembalikan semua yang hilang dalam hidup Anda akibat ulah suami saya. Jadi, tolong ... jangan membencinya lagi." Ucapan Dea langsung membuat Sekar tertegun.
Gadis anggun itu tidak menyangka Dea bakal mengetahui banyak lebih dari yang ia duga. Sekar sangat tahu kalau tak banyak wanita yang bisa dekat dengan Dewa. Jika Dea paham situasi diantara mereka, artinya ... Dea termasuk wanita yang sangat spesial di hati Dewa.
"Apa kau tahu ... resiko yang bakal kau tanggung dari kata-kata yang kau ucapkan padaku barusan? Mengembalikan apa yang hilang dariku akibat ulah suamimu? Jangan bodoh Tuan putri. Kau akan mati konyol!" seru Sekar sedikit emosi, mendadak logat bahasa yang tadinya formal berubah menjadi tidak formal lagi.
"Tidak apa-apa jika saya memang harus mati, saya tidak akan pernah menyesal mati demi sosok yang saya cintai. Sebab, kini saya tahu ... Dewa mencintai saya."
"Apa?" Sekar memicingkan mata karena baru kali ini ia bertemu wanita sebucin Dea yang rela mengorbankan nyawanya hanya demi cinta.
"Maafkan saya nona Sekar. Saya tidak bisa lama-lama di sini karena harus menghadap Ibu Ratu. Permisi." Dea pamit undur diri dan tak ingin mendengar banyak tentang hal yang tak ingin ia dengar.
Gadis itu tak ingin apapun atau siapapun menggoyahkan keteguhan hatinya atas apa yang akan ia lakukan demi Dewa. Dea hanya ingin di sisa waktunya menjadi manusia, diisi banyak kenangan indah bersama suami tercintanya. Yang lainnya, Dea tidak peduli.
***
Kedatangan Dea di istana, disambut hangat Fey dan Refald. Ketiganya langsung membicarakan banyak hal yang berkaitan dengan pesta resepsi pernikahan Dewa dan Dea dimana pesta tersebut ajan diadakan besok dengan disaksikan oleh seluruh keluarga besar Refald.
Orang normal, mengadakan pesta itu pasti di gedung mewah dengan paket komplit ala para sultan. Namun, berbeda dengan keluarga Refald yang mengadakan pesta resepsi pernikahan putranya di dunia alam ghaib lengkap dengan segala kemegahan dan kemewahan yang pastinya tidak akan ada di dunia nyata.
Tanpa kehadiran Dewa, Feypun memperkenalkan Dea pada seluruh keluarga besarnya agar Dea tidak canggung. Untunglah menantu kedua Fey ini cepat sekali beradaptasi dan mudah akrab dengan orang asing.
Beberapa jam telah berlalu, akhirnya Dea bisa juga istirahat di kamarnya untuk melepas lelah. Segala hal yang dibutuhkan Dea sudah tersedia. Jadi ia tinggal menikmati saja sambil menunggu momen membahagiakan bagi seorang wanita yang baru saja menikah. Hanya saja, gadis itu sedikit sedih karena sejak tadi suaminya tak kunjung datang juga.
Malam ini, Dea juga tidak diperbolehkan keluar kamar alias dipingit sampai acara resepsi pernikahan besok. Padahal, ia sangat ingin bertemu dengan suaminya sebelum tidur.
"Ke mana dia? Kenapa belum datang?" gumam Dea yang berdiri didepan jendela kamarnya sambil menikmati pemandangan luar.
"Kau menungguku?" bisik seseorang dengan mesra dari balik punggung Dea.
BERSAMBUNG
***