Terpaksa Menikah Dengan Dewa

Terpaksa Menikah Dengan Dewa
BAB 47 Perang Shinobi Dewa dan Dea


PEMBERITAHUAN!


Mohon maaf atas kesalahan teknik pada bab ganda sebelumnya. Dari semalam sudah hubungi editor dan admin NT dan baru dibalas tadi pagi. Untuk bab 46 yang tadinya ganda sudah saya ganti dengan bab lanjutannya. Dan di bab ini, adalah kelanjutan dari bab 46. Bagi yang belum membaca bab 46 ceritanya seperti apa, silahkan dibuka ulang lagi babnya. Sekali lagi maaf dan terimakasih karena masih setia menunggu kelanjutan kisah Dewa dan Dea. Selamat membaca lanjutan dari bab 46, dan juga jangan lupa untuk support karya ini dengan like dan komentarnya, lope lope sekebon tehnya Shena dan seluas sawahnya Yuna. Hehe …


***


BAB 47 Perang Shinobi Dewa dan Dea


Dea cuma bisa menelan salivanya dalam-dalam ketika suaminya mendekatinya dan bahkan sudah langsung ada di atas tubuhnya. Ingin rasanya memberontak tapi gadis cantik itu benar-benar tidak punya tenaga lagi untuk mengimbangi besarnya kekuatan Dewa. Jangankan melawan, untuk bergerak saja Dea kesulitan. Ia benar-benar lemas selemas-lemasnya dan suami banditnya ini malah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


Malam itu, di malam bulan purnama yang bersinar terang benderang dalam dunia yang takkan pernah bisa dibayangkan oleh manusia biasa, Aoda Dewa benar-benar mengalahkan Jubi Dea tanpa bisa melawan sedikitpun karena posisi jubi sudah kehilangan cakra sehingga ia lemah tak berdaya. Selesai perang Shinobi, Dewa mencium mesra kening istrinya dengan sangat lembut sampai wajah gadis itu menjadi merah merona seperti sinar mentari yang hendak tenggelam di ufuk barat.


“Wajahmu merah sekali,” ujar Dewa sambil memamerkan senyum manisnya pada Dea. Sepertinya hantu tampan itu puas setelah menyalurkan hasraat kelelakiannya. “Kau terus saja menutup mata sepanjang kita berperang, apa aku kurang tampan? Sampai kau tidak mau melihatku?”


“Pangeran … aku benar-benar lemas, jangan mengajakku bicara karena terasa sangat berat. Dan juga … bisakah kau menyingkir dari atas tubuhku? Kau berat,” protes Dea dengan napas ngos-ngosan karena ia mengerahkan sisa tenaga terakhirnya untuk bicara dengan Dewa.


“Wuah … kau benar-benar kehabisan cakra. Bagaimana kalau kutransfer sedikit cakraku padamu? Kita perang shinobi sekali lagi.” Tanpa menunggu jawaban dari Dea apakah setuju atau tidak, Dewa langsung melancarkan ronde keduanya untuk berperang.


Dea yang tidak bisa berkutik, cuma bisa pasrah karena ia tak punya energi lagi. Tidak ada cara lain selain membiarkan suaminya bermain-main di atas tubuh Dea sambil melakukan perang shinobi antara Aoda dan Jubi. Sudah dipastikan pula, siapakah yang akan keluar sebagai pemenangnya tanpa perlu pertarungan sengit seperti dalam anime aslinya.


Selain itu, mungkin ini bentuk pelampiasan kekesalan Dewa karena Dea berani menempatkan diri dalam bahaya. Bagaimanapun juga, untuk kesekian kalinya, suami hantu Dea ini, telah menyelamatkannya dari kematian meski gadis itu masih penasaran bagaimana kondisi Sekar sekarang setelah tahu bahwa ternyata mantan wanita yang disukai Dewa, dikurung di dalam tubuh ular raksasa.


Hingga detik ini, Dea sangat ingin tahu bagaimana bisa suaminya menyelamatkannya dan mengeluarkannya dari dalam goa padahal Dea tak bilang apa-apa pada suaminya dimana keberadaannya kala itu. Tiba-tiba saja, ia sudah ada di istana kediaman Dewa dan Dea.


Namun, Dea tiba-tiba teringat, sesaat sebelum ia pingsan, samar-samar Sekar mengatakan bahwa, yang bisa mengalahkan ibunya hanyalah Dewa. Tapi bukan Dewa yang sekarang. Jika Dewa benar-benar dinobatkan menjadi kaisar dari dunia lain ini, maka jelas saat itulah … akan menjadi akhir dari siluman ular yang tak bisa dimusnahkan oleh Refald karena suatu perjanjian besar.


“Jangan berusaha melawan, atau aku akan semakin bringas padamu,” bisik Dewa mesra di telinga Dea kala mereka berdua sedang berperang mengau jubi dan aoda dalam kendali Dewa.


***


Paginya, Dea benar-benar tak berdaya, seluruh tubuhnya serasa kaku dan ngilu dimana-mana. Enaknya jadi hantu jadi tak perlu khawatir kehabisan tenaga ketika bertarung melawan jubi Dea. Sebaliknya, Dea yang kewalahan menghadapi aoda Dewa yang tak terkalahkan. Sebagai istri, tak ada yang bisa dilakukan Dea kecuali menuruti semua keinginan suaminya termasuk bila itu berurusan dengan ranjang.


Saat Dewa terbangun, Dea bermaksud menyelinap keluar untuk kembali menemui Sekar. Ia ingin menanyakan bagaimana cara supaya Dewa bisa segera diangkat menjadi Kaisar. Namun, belum juga gadis itu meraih gagang pintu, tubuh transparan Dewa sudah ada di depan istrinya dan sontak membuat kaget Dea.


“Sepertinya, cakraku tersalurkan dengan baik padamu sehingga kau punya tenaga untuk melarikan diri dariku. Mau kemana kau istriku?” tanya Dewa sambil menatap lurus manik mata Dea yang Cuma tertegun karena ketahuan hendak kabur.


“Kau mau kuantar?” tawar Dewa sambil melipat kedua tangannya.


“Tidak perlu, sebaiknya kau minggir karena aku bisa ke toilet sendiri,” tolak Dea secara halus karena ia sudah mencium gelagat encumnya Dewa yang tampak jelas dimatanya.


Gadis itu hendak membuka gagang pintu tapi tubuhnya langsung digendong Dewa dan dibawa kembali ke arah ranjang keduanya berada.


“Lepaskan aku Dewa! Aku mau ke toilet! Aku tidak mau perang shinobi lagi denganmu!” berontak Dea mencoba melepaskan diri dari suaminya walau ia tahu usahanya itu hanya akan sia-sia karena Dea takkan pernah menang melawan Dewa.


“Aku bilang aku akan mengantarmu ke toilet, lagian siapa yang mengajakmu perang shinobi. Kita bisa melakukannya malam nanti sebanyak-banyaknya karena saat ini, aodaku sedang isi tenaga untuk ronde-ronde berikutnya.” Dewa tersenyum senang.


“Astaga … lalu kenapa kau bawa aku kembali? Bukankah toiletnya ada di luar?” pekik Dea.


“Siapa yang bilang toilet pasangan pengantin seperti kita ada di luar. Itu sangat mengganggu privasi sekali. Toiletnya ada di sini. Kita bisa gunakan bersama-sama. Meski aku tak perlu menggunakan toilet karena aku adalah hantu.” Dewa menurunkan Dea disebuah ruangan yang ternyata adalah kamar mandi utama mereka.


Saking luasnya kamar Dea dan Dewa, gadis itu sampai tidak tahu kalau ada toilet seluas dan seindah ini di kamarnya sendiri. Awalnya Dea sangat takjub, tapi rasa itu hilang karena Dewa terus saja memandanginya tanpa henti.


“Terimakasih, kau sudah mengantarku. Sekarang pergilah,” pinta Dea.


Bukannya pergi, Dewa malah menghilang dan muncul kembali di toilet lalu duduk rileks di atas bak mandi berlapis emas dengan santai. “Aku tidak punya cita-cita untuk keluar dari sini selagi kau ada di toilet ini. Jangan sungkan, lakukan saja apapun yang ingin kau lakukan di sini. Aku tidak akan mengganggu.”


“Dewa, tolong … jangan bersikap menyebalkan yang membuatku mengalami gagal ginjal dadakan. Bagaimana bisa aku menuntaskan panggilan alamku sementara kau ada di sini dan melihatnya? Kau memang hantu dan tidak punya adab apapun, tapi aku manusia, kami punya moral dan adab bagaimana cara kami harus menjalani hidup tanpa harus diganggu privasinya sekalipun kau adalah suamiku. Jika kau tidak mau keluar, aku saja yang keluar!” ancam Dea hampir kehabisan kesabaran.


Dewa terdiam, tadinya dia ingin jahil lagi pada istrinya. Tapi tatapan mata Dea yang ingin menangis membuatnya tidak tega. Pangeran demit nggak punya akhlak itupun mendadak hilang tapi muncul kembali tepat dibalik punggung Dea.


“Jangan lama-lama menuntaskan panggilan alamnya, jangan coba-coba untuk kabur dari sini dan jangan berpikiran yang bukan-bukan lagi padaku. Aku memang hantu, tapi aku juga laki-laki dan seorang suami. Aku tahu bagaimana cara memperlakukan istri. Aku pergi … aku mencintaimu.” Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Dea sehingga jantung gadis itu mendadak berdetak kencang.


Dea langsung menghela napas panjang sambil memegangi dadanya saking tegangnya suasana yang baru saja diciptakan Dewa. “Gini amat punya suami hantu, ya? Untung jantungku aman,” gumam Dea.


BERSAMBUNG


***