Terpaksa Menikah Dengan Dewa

Terpaksa Menikah Dengan Dewa
BAB 35 Aoda vs Jubi


Dea sedikit terkejut ketika mendengar suara merdu nan sangat menggoda menghiasi telinganya. Tanpa dilihatpun, Dea langsung tahu bahwa pemilik suara indah tersebut adalah suara suaminya, si pangeran D.


Kedua tangan pangeran demit itu melingkar erat dipinggang Dea dan ini pertama kalinya mereka berdua jadi seintim itu setelah menikah. Dea agak canggung dan mencoba melepaskan diri, tapi Dewa yang ternyata mengubah wujudnya menjadi manusia enggan melepas dekapannya dan malah mengeratkan pelukannya ditubuh Dea.


"Ada apa? Tumben di sini kau mengubah wujudmu menjadi manusia?" tanya Dea agak kaget. Keduanya sudah ada di dunia lain tapi suaminya tidak kembali ke wujud hantunya. Padahal meski Dewa berwujud makhluk astral, tetap saja Dea masih bisa menyentuh Dewa.


"Tidak tahu, aku hanya ingin menjadi sama sepertimu. Tubuhmu sangat hangat, jadi aku suka." Dewa mencium mesra leher Dea sehingga gadis itu sedikit terperanjat bagai kesetrum sengatan listrik.


"Pangeran ... jangan begini ...," ujar Dea gugup sambil menggeliatkan tubuhnya, tapi pangeran D terus menyerang leher istrinya tanpa henti.


Sepertinya, Rey mengajari adiknya dengan sangat baik. Terbukti dari serangan Dewa membuat Dea tak bisa menolak dan malah membangkitkan hormon kewanitaannya sebagai anak remaja yang sudah mulai beranjak dewasa.


"Aku suamimu, aku berhak penuh atas tubuh ini," bisik Dewa ditengah-tengah aktivitasnya menyentuh sebagian area sensitif istrinya.


Kali ini, pangeran demit encum itu membalikkan tubuh Dea dan keduanya saling berhadapan satu sama lain. Tangan kanan sang pangeran memegang lembut bibir Dea sementara tangan kirinya tetap di pinggang Dea. Tangan tersebut bergerak spontan bila istrinya mencoba menjauh atau menghindarinya.


"Tapi Pangeran, aku belum ... aku ... takut ... aku belum siap ... seperti apa rasanya ... aku gugup. Ini baru bagiku ... dan jantungku ... serasa ingin meledak ...." aku Dea antara cemas dan was-was.


Belum juga Dea selesai mengekspresikan rasa gugupnya, Dewa langsung merebahkan Dea di atas ranjang dan menempelkan kepalanya di atas dada Dea tanpa izin. Nggak meledak itu jantung sudah syukur. Dea sungguh tak bisa berkutik dihadapan suaminya.


Apa ini keahliannya, batin Dea.


"Aku tidak ahli, justru aku baru aja belajar dan langsung kupraktekkan," ujar Dewa yang bisa mendengar suara hati Dea.


"Kau bisa mendengar pikiranku?" seru Dea terkejut.


"Dari dulu aku bisa mendengar semua yang kau pikirkan. Aku tak menyangka, pikiranmu asyik juga."


"Hah?" mata Dea melotot, karena ia baru sadar suaminya ini memang bukan manusia. Wajar kalau Dewa tahu segalanya.


"Jantungmu baik-baik saja, aku suka. Kau bilang ini baru bagimu? Begitupula denganku. Kau dan aku sama-sama pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi tak seindah ini. Aku tak pernah merasakan keinginan yang begitu kuat agar terus didekatmu seperti ini. Sudah, jangan bicara lagi, diam dan kita nikmati saja prosesnya. Katakan kalau kau tidak nyaman denganku." Pangeran D mengangkat kepalanya dan menatap wajah Dea untuk menanti sebuah jawaban.


"E ... aku ... kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Karena ... mataku cuma bisa menatapmu. Katakan saja kalau kau merasa tidak nyaman, aku tidak buru-buru. Aku akan menunggu sampai kau nyaman bersamaku."


Dea menggigit bibir bawahnya dan itu semakin membuat Dewa ingin menghisap seluruh bibir merah delima itu. Tidak ada sekat diantara keduanya. Baik Dewa ataupun Dea, sama-sama malu tapi mau. Gadis itu sendiri juga tak bisa menghindari situasi ini. Bagaimanapun juga, ia adalah istri Dewa. Melakukan malam pertama atau nanti, tak ada bedanya. Siap tidak siap, Dea haris menyerahkan dirinya sepenuhnya pada orang yang ia cinta.


"Kau ada diatasku," ujar Dea gugup.


"Kau mau kita tukar posisi? Kau mau ada diatasku?" tawar Dewa.


"Tentu, kau bisa peluk aku selama yang kau inginkan. Selama-lamanya juga boleh." Dewa tersenyum manis. Senyumannya kembali membuat Dea terpesona.


Gadis itu melingkarkan kedua tangannya dipunggung suaminya dan memeluknya dengan erat. Dewa pun mengambil kesempatan ini untuk memulai ritual malam pertama mereka dengan syahdu.


Malam ini, adalah malam panjang dua insan yang sedang dalam proses penyatuan jiwa dan raga dimana Dewa mulai mengasah kemampuan dan keterampilan permainan Aodanya ketika dimasukkan ke dalam mulut Jubi milik Dea.


Suara *******-******* kecil menghiasi ruang pasangan pengantin ketika Aoda benar-benar masuk ke dalam mulut Jubi lalu bertarung bersama-sama. Kedua senjata andalan dari dua insan masing-masing sedang berperang syahdu di atas ranjang.


Bintang dan bulan sampai malu melihat betapa gairahnya aura penyatuan jiwa antara Dewa dan Dea. Mereka berdua sama-sama menikmati malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri sah.


Setelah selesai menyalurkan hasrat masing-masing, Dewa dan Dea sama-sama tersenyum malu ketika melihat ada noda merah di atas seprei tempat tidur mereka. Noda itu merupakan bukti bahwa kini, Dea sepenuhnya menjadi milik Dewa.


"Sakit?" tanya Dewa lirih sambil memegang kedua pipi Dea.


Gadis itu menggeleng bahagia. "Tidak apa-apa, aku senang, karena akhirnya aku bisa melaksanakan tugas pertamaku sebagai istrimu."


Pengeran demit itu langsung memberikan ciuman manisnya di bibir Dea dengan mesra. "Aku menyesal," ujar Dewa lirih setelah selesai mencium Dea.


"Kenapa? Kau tidak puas denganku?" Hati Dea jadi was-was menatap suaminya.


"Bukan begitu, aku menyesal kenapa tidak menyatakan cinta padamu sejak dulu. Aku terus saja menyangkal padahal aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali bertemu denganmu di goa itu sampai spontan melamarmu. Tapi aku sadar kalau waktu itu kita adalah orang asing yang baru bertemu dan kau pasti menolakku."


Dea tersenyum, iapun juga merasakan hal sama seperti yang dirasakan Dewa. Bedanya, suaminya ini terus menyangkal perasannya sementara Dea membiarkannya mengalir begitu saja. Cinta Dea tidak bertepuk sebelah tangan, cuma sedikit terlambat untuk mendapat balasannya.


"Sekarang tidurlah, kau aman. Mulai detik ini kau milikku dan tidak akan pernah ada yang bisa menyakitimu. Sebagian kekuatanku, sudah mengalir didalam darahmu. Setelah pesta resepsi besok, kau akan menjalani ritual itu, bukan?"


"Bagaimana kau bisa tahu? Hanya aku dan ibu ratu saja yang tahu kapan ritualnya kulakukan?" Dea langsung bangun dari tidurnya.


Bukan karena apa-apa, kalau suaminya tahu, Dea takut Dewa akan menggagalkan acaranya. Sebab, kini keduanya sudah saling cinta dan tak ingin berpisah satu sama lain. Apalagi keduanya baru saja memulai membangun mahligai pernikahan.


Dulu, Dea bersumpah bersedia melakukan ritual ini karena gadis itu mengira Dewa tidak mencintainya dan cinta Dea cuma bertepuk sebelah tangan. Tapi sekarang ia sudah tahu semuanya. Sayangnya, sumpah itu tidak bisa dibatalkan dan Dea harus tetap melaksanakan ritual kebangkitan tersebut.


Dengan kata lain, kebersamaan pasangan pengantin baru itu juga tinggal sebentar lagi. Tidak ada yang tahu apakah Dea berhasil melakukan ritual tersebut atau tidak. Yang jelas ritual itu adalah salah satu ritual terlarang yang seharusnya tidak boleh dilakukan.


BERSAMBUNG


***


AKUH NO KOMEN YA HEHEHE ...