Terpaksa Menikah Dengan Dewa

Terpaksa Menikah Dengan Dewa
BAB 30 Pengakuan Cinta Dewa


Selagi Dewa pergi membereskan para tikus-tikus sekolah yang mengganggu Dea, Dea terus menunggu. Sejujurnya, ia khawatir kalau suami hantunya bertindak gegabah yang bisa menghancurkan Dewa sendiri. Sebagai seorang pangeran dedemit dari dunia lain, tentu Dewa tidak diperbolehkan membunuh manusia sembarangan atau ia akan mendapat hukuman paling mengerikan ketimbang hanya terkurung di dalam goa.


Awalnya gadis itu ingin menunggu suaminya di rumah, tapi tidak jadi karena tiba-tiba saja sekelompok siswi pembenci Dea tiba-tiba saja mengelilinginya. Mereka semua sepertinya sengaja cari gara-gara dengan Dea.


"Heh, sampah! Jangan sok kecantikan, ya? Gara-gara kau, Sukma dan Rama tidak bisa ikut ujian! Dasar anak pembunuh ..."


Plak!


"Berhentilah mengataiku sebagai anak pembunuh!" tandas Dea. Ia sudah tidak ingin tinggal diam lagi seperti sebelum-sebelumnya.


Tamparan tersebut sengaja Dea berikan karena ia sudah tidak dapat menahan kesabaran pada wanita-wanita yang menindas dan merendahkan dirinya. Sudah cukup bagi Dea di bully selama ini. Namun sekarang, istri Dewa itu tak mau direndahkan oleh siapapun. Sudah waktunya juga Dea menunjukkan taring dan giginya untuk menghadapi tuduhan yang tak pernah ia lakukan sekalipun nyatanya dia memang anak seorang pembunuh.


"Beraninya kau!" bentak Nira hendak membalas tamparan Dea dengan balik menampar Dea. Ia mengayunkan tangan tapi tangan itu langsung ditepis kuat oleh istri Dewa. Tak cuma itu, Dea juga memelintir tangan Nira lalu menguncinya di belakang punggung.


Sontak semua orang terkejut karena ini pertama kalinya, Dea berani mengangkat wajah dan melawan orang yang mencoba menindasnya. Sebelumnya, Dea cuma menunduk dan diam saja bila ada orang mulai cari gara-gara dengannya atau bahkan membullynya habis-habisan.


"Selama ini aku diam, karena aku anggap perlakuan buruk kalian padaku sebagai bentuk hukuman sosial atas apa yang dilakukan oleh kedua orangtuaku." Dea mencekal kuat tangan Nira sambil mendorong tubuh kurus wanita itu hingga terhuyung ke depan. "Aku akui, aku putri tunggal dari seorang pembunuh! Apa kalian pikir aku bangga menjadi putri mereka? Tidak! Sama seperti kalian semua. Aku juga membenci perbuatan keji dan biadaab ayah dan ibuku sendiri. Tapi ... bukan aku pelaku pembunuhan itu.


"Bukan aku yang meminta ayah dan ibuku melakukannya. Dan jika aku disuruh memilih, lebih baik aku tak dilahirkan daripada menjadi anak mereka. Kalian semua tahu kalau yang salah itu kedua orangtuaku, dan bukannya aku. Tapi kenapa kalian menganggap seolah akulah yang membunuh ayah Rudi? Dimana mata dan hati kalian? Aku menerima semua perbuatan buruk kalian padaku dengan lapang dada. Namun kali ini aku tidak bisa lagi." Mata Dea berkaca-kaca tapi ia mencoba untuk tetap kuat.


Cintanya pada Dewa telah memberi Dea kekuatan luar biasa. Bahkan di hari pertama keduanya bertemu dulu, timbul keinginan dalam hati Dea untuk terus melanjutkan hidup. Gadis itu tak ingin menyia-nyiakan sisa waktunya bersama Dewa, terganggu hanya karena seluruh manusia yang ada di muka bumi ini membencinya.


"Huh, kau pikir dengan bicara seperti itu, kami semua yang ada di sini akan kasihan padamu? Enggak akan! Kau itu menjijikkann!" Nira masih saja menghina dan merendahkan Dea.


"Terserah! Aku tak minta dikasihani olehmu atau kalian semua. Aku juga tidak peduli dengan pendapat kalian tentangku. Persetan dengan kalian semua yang punya penyakit ain. Kalian iri dan dengki padaku karena gadis sepertiku akan menjadi seorang istri dari pemuda tampan tajir melintir yang kekayaannya tak terhingga bukan? Kalian tidak rela jika aku hidup bahagia dengan pangeran Dewaku!" balas Dea.


"Hahahaha ... iri katamu? Heh sampah! Jangan sok kepedean kau! Pemuda tampan itu cuma kasihan dengan kisah hidupmu yang menyedihkan. Lihat saja, sebentar lagi kau juga pasti ditinggalkan karena pengeran yang kau agungkan itu hanya menjadikanmu sebagai mainannya saja." Nira sengaja mengompori hati Dea agar ia ragu kalau Dewa bersikap sweet padanya karena merasa kasihan atas hidup miris Dea.


Apa benar begitu? Apa benar Dewa bersikap baik karena dia ... kasihan padaku? tanya Dea dalam hati. Ia jadi ragu akan ketulusan Dewa padanya.


Saat itulah, Dewa muncul setelah ia memberi pelajaran semua teman-teman sekelas Dea agar para berandal itu berubah dan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tentu saja Dewa sangat tahu apa yang terjadi di sini. Pandangan mata pengeran demit itu tak pernah berhenti berpaling dari wajah keraguan Dea pada perasaan cinta yang sedang tumbuh di hati Dewa.


Dengan langkah pelan, Dewa berjalan mendekat ke arah Dea tanpa peduli pada orang-orang disekelilingnya. Sebuah ciuman lembut mendarat manis di bibir Dea tepat di depan semua orang seolah Dewa sengaja mematahkan pendapat mereka tentang dirinya dan cintanya pada Dea.


"Kutahan emosiku, hanya demi bisa terus bersamamu," bisik Dewa dan sukses membuat Dea tertegun. "Maaf terlambat mengakuinya, aku mencintaimu." akhirnya Dewa mengaku.


Mata Dea terbelalak mendengar kata cinta tiba-tiba saja keluar dari mulut seorang Dewa.


"Ka-kau ... bilang apa? Apa ... aku salah dengar?" ucap Dea lirih menatap manik mata suaminya.


"Tidak, kau tidak salah dengar. Aku mencintaimu entah sejak kapan. Aku mencintaimu setulus hati bukan karena aku kasihan pada kisah hidupmu di dunia ini. Tapi aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu untuk selalu ada di sisiku. Sekarang, dan selamanya." lagi-lagi Dewa memberikan ciuman manisnya di bibir gemetar Dea dan sukses memukul telak prasangka buruk mereka pada Dewa yang mengira mengasihani Dea.


Kata-kata manis Dewa membuat Dea tak bisa lagi membendung air matanya. Ia tak pernah menyangka seorang Dewa, sosok pria tampan yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, bisa membuat hatinya bergetar hebat seperti ini.


Bukan hanya Dea saja yang meleleh atas perlakuan manis Dewa terhadap Dea terutama saat dia menyatakan cinta. Semua kaum hawa yang ada disinipun juga ikut meleleh mendengar pengakuan cinta Dewa pada Dea.


"Hei tampan! Apa kau tahu kalau wanita yang kau sukai itu adalah putri seorang pembunuh?" bentak Nura kesal. Penyakit ainnya mulai kambuh lagi.


"Tahu, bahkan jika dia adalah putri seorang iblis sekalipun, aku tidak peduli. Berhenti mengganggunya atau kalian semualah yang akan kubunuh!" ancam Dewa tanpa berpaling dari wajah cantik Dea. Hantu tampan itu membantu mengusap air mata yang mengalir di pipi Dea.


Semua langsung shock mendengar ucapan Dewa. Mereka sampai tidak habis pikir bagaimana bisa, pria setampan Dewa bisa sebucin itu pada Dea. Pangeran demit itupun tidak peduli pada pendapat semua orang tentangnya, mau bucin, bucan alias buta karena cinta, Dewa sama sekali tidak peduli. Baginya, ia hanya ingin bersama Dea selamanya.


"Ayo pergi, ada banyak sekali hal yang harus kita lakukan berdua ... sebagai pasangan suami istri," ajak Dewa pada Dea. Gadis itu mengangguk pelan dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan sekolah dan semua orang yang menatap mereka dengan terheran-heran.


BERSAMBUNG


***