
Dua wanita beda alam itu kini saling berhadapan satu sama lain. Anehnya, tidak ada rasa benci diantara keduanya. Tidak ada yang tahu, bagaimana pikiran Dea saat ini. Menghentikan eksekusi hukuman mati Sekar, menemui Sekar secara diam-diam hanya karena ingin mengajukan pertanyaan. Hanya istri seorang Dewa yang bisa melakukan hal diluar peraturan kerajaan Refald dan tidak ada yang menghentikannya.
Sekalipun Fey dan Refald mengetahui tindak tanduk menantunya selama ada di dunia lain ini, pasangan sejoli yang melahirkan para keturunan soang, hanya diam mengamati. Sejak awal, mereka berdua mendukung apapun yang dilakukan Dea karena gadis itulah penerang kegelapan yang selama ini melanda keluarga Refald yang sudah mereka ketahui jauh sebelum Dewa dan Dea lahir. Namun, raja dan ratu juga tak bisa melarang atau menghentikan takdir yang sedang bergulir. Baik Fey dan Refald cenderung membiarkan semuanya mengalir bagai aliran air.
Seperti yang dilakukan Dea saat ini, dengan berani dia sengaja masuk ke kandang ular untuk mengajukan sebuah pertanyaan sebelum ia memutuskan langkah apa yang bakal Dea lakukan setelah ini. Sebab, gadis pintar itu tahu bahwa musuh besar keluarga suaminya masih terus membuat ulah dan berusaha menghancurkan Refald beserta seluruh keturunannya. Sebagai menantu bungsu, tentu saja Dea tidak akan tinggal diam. Ia takkan membiarkan Dewa atau siapapun dari dunia lain ini mendapat masalah hanya keberadaan musuh besar mertua Dea.
“Katakan padaku, apa yang ingin kau tanyakan sampai rela masuk ke sarang musuh yang bisa melenyapkanmu kapan saja. Bahkan jika aku membunuhmu di sini, tidak akan ada yang tahu.” Sekar mengulang kembali pertanyaannya dan sedikit mengintimidasi Dea walau ia tahu bahwa istri pangeran D ini tak takut dengan ancaman dalam bentuk apapun.
“Aku sudah pernah mati, tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Hidupku … sama sekali tidak berarti sampai akhirnya aku bertemu dengan Dewa. Kedatanganku kemari, hanya ingin tahu … apakah … kau … mencintai suamiku?” tanya Dea dengan tatapan mata tajam melebihi tajamnya pisau.
Diluar dugaan, bukannya menjawab, Sekar malah tertawa terbahak-bahak dan itu membuat Dea jadi semakin penasaran akan seperti apa perasaan Sekar terhadap suaminya.
“Buahahaha … kau datang dengan taruhan nyawa ke dalam goa ini hanya untuk menanyakan hal konyol seperti itu? Apa kau tidak sadar, tempat apa ini? Tidakkah kau mencium bau tak lazim?” ledek Sekar. Ia heran dengan Dea yang sama sekali tak tampak takut akan keberadaannya saat ini.
“Aku sedang flu, jadi aku tak bisa mencium bau apapun?” Dea asal ngeles aja padahal ia jelas bisa mencium bau tak sedap dan sangat menyengat di sini.
Sejujurnya, memang ia merasakan ada hal aneh saat masuk ke dalam ruangan yang menurutnya seperti goa hutan ini. Namun, ia tak peduli dan hanya ingin tahu bagaimana perasaan sekar terhadap suaminya. Si Dea ini benar-benar kurang kerjaan.
“Pantas saja, Dewa tergila-gila padamu. Kau memang berbeda dengan para wanita lainnya.”
“Aku tidak butuh pujianmu, jawab saja pertanyaanku supaya aku bisa lekas pergi dari sini dan tidak mengganggumu lagi,” desak Dea.
“Pergilah, aku tidak mau menjawab apapun darimu. Pergi dari sini sebelum kau dicerna oleh ular besar ini,” usir Sekar dan kalimatnya itu membuat Dea tertegun.
Gadis itu langsung mengamati sekitar ruangan lembab ini dan mencoba menyentuh bagian dinding paling dekat dengannya. Tiba-tiba saja dinding itu bergerak samar meskipun itu cuma sebentar. Dea langsung panik memikirkan bahwa ia … ternyata berada di dalam tubuh ular raksasa yang sedang tertidur pulas entah berapa tahun lamanya.
Saking lamanya ular itu tertidur, tubuhnya yang panjang dan tak terhingga besarnya, tertutup oleh tumbuhan liar dan pepohonan lebat sehingga keberadaan ular raksasa yang ditinggali Sekar tak terlihat. Bahkan tidak ada yang tahu bahwa hutan dan gunung disekitarnya tumbuh diatas tubuh ular raksasa karena alam.
Gawat, jadi … aku … masuk ke dalam tubuh ular raksasa? Astaga … bagaimana ini bisa terjadi? Batin Dea tapi ia tetap berusaha mengatasi kepanikannya.
Berpikirlah Dea. Jangan gegabah. Tetaplah tenang. Gadis itu mencoba menenangkan dirinya sendiri setelah mengetahui fakta mengejutkan ini.
“Kau masih belum pergi juga?” bentak Sekar.
“Jangan sok tahu! Pergi sebelum kesabaranku habis!” usir Sekar dengan kasar karena tebakan Dea benar.
“Awalnya kau memang mengincar Dewa,” lanjut Dea tanpa mengindahkan peringatan Sekar, “tapi tidak berhasil sekalipun Dewa sudah terpikat olehmu. Kau mengubah haluan dan mencoba memikat mas Gen. Tanpa kau sadari … kau jatuh cinta pada Mas Gen. Itulah kenapa kau begitu membenci suamiku ketika kau tahu suamimu dilenyapkan. Disisi lain, kau diuntungkan karena dengan begitu, reputasi suamiku semakin tercoreng dari dunia lain ini dan kemungkinan besar, ia takkan pernah dinobatkan menjadi penerus yang mulia Raja Refald akibat ulah sembrononya. Dengan begitu, ibumu … akan abadi selamanya karena takkan pernah ada yang bisa melenyapkannya. Tebakanku benar, kan?”
Sekar terdiam karena yang diucapkan Dea, memang benar. Mendadak, racun asam yang terdapat dalam tubuh ular raksasa ini keluar dari dalam perut ular menuju tempat Sekar dan Dea kini berada. Racun itu terhisap oleh Dead an iapun jatuh pingsan.
***
Mata Dea, perlahan terbuka meski masih samar-samar. Gadis itu menatap langit-langit ruangan yang berlukiskan hiasan gemerlapnya bintang di malam hari. Berkali-kali ia memejamkan mata untuk memastikan diri apakah ia masih hidup atau sudah tiada.
“Apa aku sudah mati?” gumamnya lirih dan suaranya terdengar sangat lemah tak bertenaga.
“Belum. Kau masih hidup,” jawab seseorang yang duduk di samping Dea.
Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya menatap sumber suara yang tak lain dan tak bukan adalah suara Dewa. “Pangeran? Bagaimana …”
“Ssssst! jangan bersuara ataupun bergerak. Aku sedang mengeluarkan racun dalam tubuhmu,” terang Dewa dan benar saja, pengeran demit itu sedang berkonsentrasi penuh untuk mengeluarkan semua racun yang tak sengaja terhisap oleh Dea saat dirinya ada di dalam perut raksasa bersama dengan Sekar.
Yang menjadi pertanyaan di benak Dea adalah, bagaimana bisa Dewa tahu kalau ia ada di dalam tubuh ular raksasa itu? Dan yang membawanya kemari, pastilah Dewa sendiri. Lalu … bagaimana dengan Sekar?
Dea terus berpikir mencari jawaban dari semua ini. Tangan kanan Dea terus dipegang Dewa. Dari ujung jari-jari Dea keluar cairan kental berwarna hijau yang diyakini sebagai racun dari ular raksasa.
“Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa yang kau rasakan?” tanya Dewa lembut selembut Sutra dan itu membuat Dea jadi takut sendiri.
“Lemas, tubuhku sangat lemas," jawab Dea lirih tak bertenaga dan Dewa cuma manggut-manggut saja.
“Aku penasaran, seperti apa rasanya mengalahkan jubi jika kondisinya seperti ini. Kita coba, ya? Anggap saja ini hukuman karena kau sudah melanggar peraturan,” ujar Dewa penuh ekspresi kelicikan yang membuat Dea langsung ngeri-ngeri sedap.
BERSAMBUNG
***