
Ratu Badaharui benar-benar akan melenyapkan Dewa dengan serangan pamungkasnya. Entah kenapa, tubuh Dea seakan merasakan sesuatu yang amat sangat besar dan jiwanya ingin sekali memberontak keluar. Dea menahan rasa sakit di dadanya dan secara tak terkendali, tubuhnya yang tadinya ada di belakang Dewa mendadak bergerak cepat maju beralih tempat ke hadapan suaminya.
Dengan begitu serangan kilauan cahaya mirip seperti komet Halley, tepat mengenai tubuh Dea yang menjadi perisai bagi Dewa. Melihat kejadian tak terduga itu, tentu saja pangeran D shock berat hingga refleks dia berteriak sekencang-kencangnya. Siapapun yang mendengarnya, pasti sakit telinganya.
Suara teriakan Dewa yang menggelegar telah membangunkan ular raksasa yang sudah ribuan tahun tertidur sehingga perlahan ia bergerak dan menghancurkan seluruh gunung serta bukit yang sudah menimbun tubuhnya begitu lama.
Ajaibnya, serangan komet itu meresap cepat ke dalam tubuh Dea sehingga gadis itu pingsan. Dengan sigap dan masih dalam keadaan kalap, Dewa menangkap tubuh istrinya dan bertindak cepat melompat keluar mulut goa ular sebelum mulut ular raksasa tersebut benar-benar menutupnya.
Tak hanya suara teriakan Dewa saja tang bikin sakit telinga, suara auman ular juga memekikkan pendengaran apalagi jika manusia itu hanyalah manusia biasa. Refald terpaksa mengaktifkan pelindung untuk melindungi setiap tubuh anggota keluarganya seperti keluarga Leo dan lainnya agar gendang telinga mereka tidak pecah saking dahsyatnya suara amukan sang ular raksasa.
Ular raksasa itu marah semarah-marahnya karena dibangunkan secara paksa meski sudah ribuan tahun lamanya ia tertidur. Tubuhnya mulai menggeliat-liat dan memporak-porandakan wilayah disekitarnya. Untung saja ini di dunia lain, kalau di dunia manusia pasti sudah terjadi gempa paling mengerikan yang pernah ada di dunia.
Tahu bahaya besar telah mengancam, Ratu badaharui hendak ikut keluar seperti yang dilakukan Dewa dan istrinya, tapi tiba-tiba tubuhnya di tahan oleh sekar dari belakang. Kedua wanita ibu dan anak itu terperangkap di dalam mulut ular raksasa.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Ratu Badaharui marah besar. Ia mencoba melepaskan diri dari jeratan kedua tangan Sekar.
"Sudah, hentikan Ibu. Tolong ... jangan buat masalah lagi. Aku sudah muak dengan semua ini!" isak Sekar sengaja mengulur waktu sampai mulut ular itu benar-benar menutup dan mengunci mereka di dalam. Dengan kata lain, Sekar ingin bunuh diri bersama dimangsa ular raksasa.
Bersamaan dengan itu, pasangan Raja dan Ratu berserta seluruh pasukan demitnya tiba di lokasi kejadian dan hanya bisa menyaksikan bagaimana ular raksasa itu bergerak-gerak karena marah. Sekar tahu bahwa sisa waktunya di dunia lain ini tidak banyak. Ia juga tahu kalau ia sudah melakukan kesalahan besar sehingga kini ia ingin sekali memperbaiki kesalahan itu.
Dari kejauhan, Sekar bahagia karena di detik-detik sisa waktunya, ia bisa melihat suami yang dicintainya datang bersamaan dengan Refald. Hanya ini cara yang bisa Sekar lakukan untuk menghentikan kejahatan ibunya.
"Aku benar-benar menyesal telah melahirkanmu! Kau pikir dengan mengorbankan dirimu seperti ini, kau bisa menghentikanku! Tidak! Aku abadi! Aku akan kembali lagi!" teriak ratu Badaharui marah. Ia menatap Refald dan Fey yang sejak tadi sengaja diam.
Diamnya raja demit, bukan berarti ia takut dengan kemarahan Ratu Badaharui yang masih terkurung di dalam mulut Goa ular raksasa itu. Refald hanya fokus pada ularnya. Jika ular besar tersebut tak segera ditenangkan, maka keseimbangan alam akan goyah dan bencana besar akan melanda kedua dunia yang berbeda, yakni dunia lain dan dunia manusia.
"Honey ... kau sudah siap?" tanya Refald. Sebagai Raja dedemit, ia sangat tahu apa yang harus dilakukan.
"Bagaimana dengan Sekar? Dia masih di dalam?" Fey balik bertanya. Kejadian ini sudah diketahui Fey sebelumnya dan inilah yang dirapatkan suaminya dan seluruh pasukannya jauh-jauh hari.
"Itu pilihannya, kita tidak bisa ikut campur." Refald melirik tubuh Dea yang lemah tak berdaya. Sementara Dewa masih berusaha menolongnya.
Meski huhungan keduanya berawal sari sebuah kebohongan, tapi perasaan cinta Sekar dan mas Gen sama-sama nyata dan tulus. Walau sekarang dan untuk selamanya, mereka berdua sadar bahwa tak mungkin bisa bersama.
Pelan tapi pasti, pintu goa ular itu benar-benar menutup sempurna dan bertepatan dengan itu ... Refald dan Fey langsung melompat tinggi untuk menenangkan sang ular yang sedang mengamuk di bantu oleh seluruh pasukan Refald. Bahkan Rey dan Hans yang baru saja tiba, langsung ikut membantu.
"Wauw ... kekacauan lagi ... ini baru seru!" ujar Hans sambil membuang permen lolipopnya begitu tahu apa yang sedang terjadi.
Anak Rey ini benar-benar bengek, bisa-bisanya dia bahagia melihat seluruh keluarganya bertarung bersama menjinakkan ular raksasa. Bahkan Hans berteriak kencang saking senangnya seolah ia mendapat mainan baru. Cucu pertama Refald bahkan paling cepat melesatnya menyusul kakek dan neneknya yang lebih dulu terbang ke atas.
"Huuuuuu ... asyeeeekkk! Inilah yang dinamakan hidup sesungguhnyaa!" teriak Hans benar-benar lepas kendali.
Refald dan Fey sempat tercengang dengan tingkah cucunya yang urakan itu. "Dasar sontoloyo itu bocah! Honey, naik ke punggungku! Akan ku kejar bocah semelekete itu!" geram Refald dan Fey sebenarnya ingin tertawa melihat suaminya mengatai cucunya sendiri dengan kalimat nyeleneh bin aneh.
Refald langsung meningkatkan kekuatannya dan mencengkeram kerah bagian belakang Hans. "Dasar bocah tengil! Siapa yang menyuruhmu kemari, ha?" teriak Refald dari atas udara.
"Arrrggh Kakek, lepaskan aku, sudah lama aku ingin bermain-main dengan Akasura. Dari kecil sudah kulakukan banyak cara untuk membangunkannya tapi tetap tidak berhasil. Sekarang dia bangun, aku sungguh senang sekali Kakek!" aku Hans sambil mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kakeknya.
Sayangnya, kekuatan Refald terlalu besar sehingga Hans kesulitan bergerak. Fey yang ada di punggung Refald ikut menjitak kepala cucunya saking gemasnya.
"Oooo ... jadi yang mengebom atom pegunungan di ekor ular Akasura itu kau pelakunya, ha? Dasar bekantan kau Hans? Apa kau tidak berpikir aku dan kakekmu kerepotan memulihkan kembali bunga-bunga indah yang harus mati karena ulahmu. Dekatkan anak itu padaku Refald! Kan kucincang dia!"
"Jangan Nenek, Jangan! Ampun, Nek!" rengek Hans. "Nenek kan cantik dan baik hari serta tidak sombong dan gemar cogan. Akan kuperkenalkan ...."
"Diam kau Hans!" pekik Fey sebelum anak ingusan itu membuka rahasianya di depan Refald.
BERSAMBUNG
***