Terpaksa Menikah Dengan Dewa

Terpaksa Menikah Dengan Dewa
BAB 48 Curi Dengar


Selesai dari kamar mandi, Dea melihat suaminya sedang duduk di atas kasur sambil membaca buku. Ini pemandangan langka bagi Dea karena seorang hantu, ternyata suka baca buku juga. Gadis itu semakin terkejut kala mengetahui buku-buku yang dibaca suaminya adalah buku tentang pelajaran yang selama ini dipelajari Dea di sekolah. Ia jadi teringat kalau sebentar lagi adalah pengumuman kelulusannya. Dea juga baru ngeh kalau dirinya tidak jadi mati setelah melangsungkan ritual kebangkitan beberapa waktu lalu. Istri Dewa tetap hidup hingga sekarang.


Entah mengapa, Dea jadi canggung sendiri ketika memikirkan bagaimana kelanjutan hidupnya setelah ini. Masa depan seperti apa yang akan Dea jalani bersama dengan suami hantunya. Apakah ia kan terus bahagia, ataukah berakhir duka. Dea tak bisa tahu bagaimana akhir dari kisahnya dengan pangeran demit tampannya.


Melihat istrinya cuma berdiri mematung di depan kamar mandi, Dewa menghilang dan muncul kembali tepat dihadapan Dea. Tanpa permisi, pangeran demit itu menggendong tubuh istrinya dan mendudukkannya di kursi.


“Sebentar lagi adalah hari kelulusanmu, malam ini adalah resepsi pernikahan kita. Setelah itu, kuantar kau untuk datang ke sekolah dan melihat pengumuman langsung. Apa rencanamu selanjutnya? Apa kau akan melanjutkan kuliah? Lalu bekerja seperti manusia pada umumnya? Kenapa aku tak bisa membaca pikiranmu?” tanya Dewa dengan senyum khas manisnya yang menggoda.


Dea tidak langsung menjawab, ia sendiri tidak tahu apa rencananya setelah membangun bahtera rumah tangga beda alam dengan Dewa. Lagi-lagi Dea jadi galau sendiri. Sebelumnya ia bertindak nekat karena mengira sebentar lagi hidupnya tidak akan lama lagi. Tapi nyatanya, ia masih tetap hidup hingga sekarang.


Lagipula, Dewa juga tak berniat untuk menjadi manusia seperti dirinya, sebab bila itu dilakukan, maka suaminya takkan bisa melenyapkan musuh besar keluarganya, yaitu ratu Badaharui. Sedangkan Dea, dia sungguh ingin menjadi hantu seperti suaminya agar mereka seimbang tanpa perlu memikiran perbedaan alam diantara keduanya.


Di dunia lain ini sih tidak masalah mereka berbeda. Satunya manusia. Satunya setan, tapi akan terasa aneh bila Dea bersuamikan seorang hantu di dunia nyata. Sayangnya, Dewa dan keluarganya tak mengizinkan Dea mati dan menjadi sama seperti Dewa.


Bukan tanpa alasan kenapa keluarga Dewa menentang keinginan Dea untuk memiliki alam yang sama dengan Dewa. Ada banyak faktor yang sangat disayangkan bila Dea mati sebelum waktunya. Sebab, hidup dan matinya manusia hanya Tuhan yang menentukan, baik Dea atau siapapun tidak berhak memutuskan kapan gadis itu mati.


“Suamiku Dewa ... menurutmu … apa yang harus kulakukan? Aku tak diizinkan mati agar menjadi sepertimu, aku juga tak ingin kembali ke dunia nyata lagi. Aku hanya ingin bersamamu. Itu saja yang kupikirkan saat ini. Tapi kenapa … aku … merasa ada yang ganjal dihatiku. Dan aku … aku tidak tahu apa itu.” Dea terlihat bingung tapi ia berusaha tersenyum. Ini pertama kalinya ia meminta pendapat suaminya terkait apa yang dirasakan Dea setelah ini.


“Istriku Dea …,” ujar Dewa menirukan kata-kata istrinya, “kau tak perlu jadi sama sepertiku untuk terus bisa bersamaku. Perbedaan alam diantara kita sama sekali tak ada pengaruhnya pada kekuatan cinta kita berdua. Jika saja aku punya pilihan, maka aku akan memilih menjadi manusia sepertimu. Sayangnya, pilihan itu tak ada untukku dan aku tak mau kau menyia-nyiakan hidupmu hanya demi aku. Kau bukan Isabela Swan yang harus menjadi vampir sama seperti suaminya, si Edward Antoni Masson Cullen. Kau cukup jadi dirimu sendiri karena aku akan selalu bersamamu, menjagamu, melindungimu dan mencintaimu di setiap waktu.” Dewa meraih kedua tangan istrinya dan mencium lembut punggung tangan Dea yang langsung berbinar-binar bahagia.


Saking malunya, Dea menarik kedua tangannya dan menutup wajah merah delimanya dari tatapan maut pengeran Demit yang sedang tebar pesona. Dewa jadi gemas sendiri melihat tingkah Dea yang masih saja malu malu mau padanya padahal mereka berdua sudah menjadi sepasang suami istri dan sudah berkali-kali melakukan perang shinobi. Aoda Dewa jadi meronta bangun dan ingin sekali menyerang jubi Dea karena berhasil menggodanya. Namun, tiba-tiba saja utusan Refald datang dan merusak suasana romantis antara Dewa dan Dea.


Awalnya Dewa marah dan kesal dengan kedatangan utusan ayah dan ibunya karena waktunya benar-benar tidak tepat. Namun, sepertinya ada hal yang sangat genting sedang terjadi di luar sana sehingga terpaksa Dewa keluar untuk menuruti panggilan kedua orangtuanya.


“Aku pergi dulu, jangan ke mana-mana sebelum aku kembali. Tolong … aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu,” ujar Dewa saat berpamitan pada istrinya.


“Aku tidak yakin bisa menuruti permintaanmu karena aku … selalu saja penasaran akan banyaknya hal yang ada disekitarku. Jika kau mencemaskanku, bagaimana kalau aku ikut juga denganmu menemui raja dan ratu. Aku tidak akan mengganggu dan menunggumu di sana.” Dea memberikan usul yang tidak memberatkan.


“Ehm, aku tidak mau ditinggal lagi olehmu. Aku takut … jiwa pemberontakku muncul dan mengabaikan peringatanmu untuk tidak pergi ke mana-mana.”


Dewa setuju dengan usulan istrinya meski pengawal ayahnya menentang keputusan Dewa untuk mengajak Dea turut serta ke istana. Namun, Dewa tidak peduli dan tetap mengajak Dea pergi. Sang pengawal tak berani menentang lagi daripada Dewa emosi.


Sesampainya di istana, Dea langsung di bawa ke tempat yang disediakan khusus untuknya sementara Dewa langsung menemui ayah dan ibunya diruangan terpisah. Dea sangat mengagumi istana mertuanya yang kemegahannya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Desain interiornya unik karena bernuansa khusus dari budaya dan ciri khas hampir semua negara-negara yang ada di seluruh dunia ini. Dari sini Dea bisa menebak bahwa mertuanya sudah sering keliling dunia.


Ketika sedang membuka jendela, Dea sangat takjub akan keindahan taman bunga diluarnya. Iapun bergegas keluar dan berjalan menuju taman di mana, ada banyak sekali berbagai jenis bunga bermekaran sehingga semua area ini jadi tampak berwarna-warni. Saking takjubnya, tanpa sadar Dea menciumi bunga-bungan indah itu dan memetik sebagian bunganya untuk diselipkan di daun telinganya.


“Aku tak pernah melihat ada bunga seindah ini. Melihat mereka semua, hatiku jadi tenang dan merasa senang sekali. Seperti inikah surga? Indah dan sangat mempesona.” Dea bicara sendiri dengan bunga-bunga bermekaran di taman.


Tanpa sengaja, gadis itu melihat beberapa pengawal istana berkumpul di suatu tempat yang lokasinya tak jauh dari tempat Dea berada. Karena tak ingin menyebabkan masalah bagi suaminya kerena keluar istana tanpa izin, Dea memilih bersembunyi di semak-semak dan mencuri dengar pembicaraan para pasukan penjaga istana kerjaan Refald.


“Bagaimana ini? Ratu Badaharui akan menyerang, sementara malam ini adalah pesta pernikahan pangeran D. Raja yang terikat aturan takkan mungkin bisa membunuh ratu ular itu. Kekuatan pangeran D juga belum cukup untuk melawannya? Kita semua yang ada di sini dalam bahaya besar,” ujar salah satu prajurit yang sedang mengumpulkan energi, bersiap untuk berperang.


“Aku dengar, Raja meminta pangeran D dan istrinya pergi dari sini. Artinya … kita semualah yang akan melawan ratu iblis itu?” timpal yang lain.


“Jadi ... inilah akhir dari dunia ini. Kita semua harus siap mati malam ini. Aku tak ingin raja dan ratu bertindak gegabah hanya demi menyelamatkan kita semua. Tidak adakah cara untuk membangkitkan kekuatan pangeran D yang ditakdirkan untuk melawan ratu ular serakah itu?” tanya yang lainnya.


“Ada … tapi mungkin takkan pernah dilakukan, sebab … bila pengeran D meminum darah wanita penyelamat hidupnya, maka kekuatan kaisarnya yang terpendam akan bangkit. Sayangnya … jika benar itu terjadi … maka wanita tersebut akan mati. Aku dengar sih begitu, entah itu benar atau tidak aku sungguh tidak tahu.”


Deg! Jantung Dea serasa ingin meledak setelah mendengar pembicaraan para prajurit istana. Matanya melotot dan mulutnya menganga lebar saking shocknya.


BERSAMBUNG


***