Terpaksa Menikah Dengan Dewa

Terpaksa Menikah Dengan Dewa
BAB 50 Serangan dan Kekuatan Cinta Dea untuk Dewa


Sebenarnya, Dea agak terkejut ketika Dewa memberitahunya bahwa ia tak perlu meminum darah Dea jika ingin mengalahkan Ratu Badaharui. Namun, yang menjadi topik utama pembahasan keluarga ini adalah bagaimana cara memunculkan kembali kekuatan Dewa. Bukan dengan darah Dea pastinya.


Dea jadi tidak enak hati dengan kekacauan situasi yang diciptakannya. Harusnya, sebelum bertindak, gadis itu menyaring dulu informasi yang ia dapat sebelum memutuskan sesuatu. Sudah kepalang basah, Dea cuma bisa minta maaf dan pergi pamit undur diri. Apalagi ia juga harus bersiap-siap untuk pesta resepsi nanti malam.


Mengadakan resepsi di tengah peperangan, apa benar tidak akan terjadi apa-apa? batin Dea setelah ia berada di luar ruangan. Entah mengapa, gadis itu merasa ada sesuatu yang janggal di dalam rapat keluarga itu.


"Semua yang ada di sana manusia ... hanya suamiku saja yang berbeda. Tapi dia tetap luar biasa," gumam Dea dan ia jadi teringat akan kata-kata suaminya sebelum dirinya pamit undur diri.


"Tunggu aku di luar, aku akan menemuimu sesegera mungkin begitu ini semua selesai dan kita lanjutan perang shinobi kita yang tertunda. Aku mencintaimu, Dea. Jangan khawatirkan apapun karena mulai detik ini, takkan ada yang bisa memisahkan kita. Siapapun itu." Itulah kata-kata yang diucapkan suaminya.


Tak ada yang bisa dilakukan Dea selain menjadi anak baik dan pergi kembali ke mansionnya sembari menunggu suaminya kembali. Di tengah perjalanan, tepatnya di area taman istana. Tanpa sengaja, Dea melihat ada sesosok wanita berpakaian serba hijau dengan rambut di sanggup rapi bagian atas, sementara bagian bawahnya dibiarkan terurai hingga hampir menyentuh tanah.


Dilihat dari pakaian wanita itu, jelas dia bukanlah dayang istana. Sebab, semua dayang di sini berpakaian serba putih dan tertutup. Tidak mempertontonkan bagian tubuhnya selain wajah, tangan dan kaki. Sangat berbeda dengan wanita yang pakaiannya mirip dengan pakaian adat jawa dimana bagian dada dan sekitarnya dibiarkan terbuka.


Dea tidak tahu siapa dan darimana wanita itu berasal. Sebab wajahnya tak terlihat karena posisi istri Dewa itu ada dibelakangnya. Karena penasaran, diam-diam Dea mengikuti langkah wanita asing itu dan ternyata dia menuju tempat di mana Sekar di kurung.


"Tidak mungkin ... jangan-jangan ... wanita itu ...," gumam Dea mulai panik. Gadis itu bergegas masuk ke dalam goa mulut ular yang sedang tertidur selama ribuan tahun.


Bukan tanpa alasan kenapa Dea bertindak nekat begitu. Dia yakin bahwa wanita itu adalah Ratu Badaharui. Ibu dari Sekar. Setelah mengetahui semua fakta tentang siapa Sekar dan seperti apa ibunya, tak menuntut kemungkinan, saat ini Sekar dalam bahaya besar. Sebab itulah Dea memutuskan untuk masuk daripada harus kembali menemui suaminya dan memberitahukan apa yang ia lihat.


"Kau pasti akan datang menyelamatkanku kan Dewa, kau sudah janji padaku ... maka ... datanglah secepat mungkin kemari sebelum sesuatu yang buruk terjadi padaku." Dea bicara pada dirinya sendiri agar ia lebih berani menghadapi musuh besar keluarga suaminya.


Sungguh, tindakan Dea bisa dikatakan terbilang berani untuk ukuran manusia karena nekat hendak menghadapi siluman iblis yang bisa membuat Dea mati seketika. Namun gadis itu tidak bisa membiarkan musuh besar Refald berkeliaran seenak jidatnya di sini.


Benar dugaan Dea, wanita itu mencoba menyakiti Sekar ketika Dea sudah masuk ke dalam goa ular. Ratu Badaharui itu sedang mencekik putrinya sendiri. Dengan sigap, Dea mengambil obor menyala yang ada di dinding goa lalu melemparnya ke arah Ratu Badaharui.


Tentu saja lemparan Dea meleset dan siluman ular itu menyerang balik Dea dengan kekuatan apinya.


"Kena kau!" teriak siluman ular itu sambil terkekeh senang karena merasa telah berhasil menjebak Dea.


Sebagai manusia biasa yang tidak punya kekuatan apa-apa, tentu saja Dea cuma bisa shock melihat serangan dadakan dalam bentuk api besar sedang melesat cepat menuju arah Dea berada saat ini. Dalam hitungan detik sudah bisa dipastikan bahwa kematian sedang menunggu Dea saat ini.


"Kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya Dewa langsung balik badan dan menatap wajah tegang istrinya.


"I ... iya, aku ... tidak apa-apa ... kau datang tepat waktu sebelum bola api itu datang mengenaiku," terang Dea antara takjub dan bahagia.


"Tetap berdiri di belakangku, jangan coba-coba jauh dariku." Dewa kembali menatap marah wanita uang telah berani menyerang istrinya.


"Akhirnya ... aku bisa melihat seperti apa wajah pangeran yang digadang-gadang menjadi kaisar dan katanya bisa mengalahkanku. Huh, rupanya ... kau hanya bocah ingusan," seru Ratu Badaharui sengaja cari masalah dikediaman istana Refald.


"Besar juga nyalimu, datang ke kandang musuhmu. Sepertinya, kau sudah bosan menjadi siluman dan ingin segera menyusul seluruh anak buahmu ke alam baka! Kalau itu yang kau inginkan, akan kukabulkan!" tantang Dewa.


"Buahahahaha ..." Ratu Badaharui tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata. "Jangan membuatku tertawa Pangeran. Kau pikir aku tidak tahu? Saat ini kau bukanlah tandinganku, tanpa darah istrimu ... kau takkan pernah bisa memunculkan kekuatan kaisarmu. Hahahaha ...." Ratu Badaharui terus tertawa sementara Dea shock mendengar ucapannya.


"Jangan meremehkanku!" Dewa menyerang ratu ular dengan kekuatan sama seperti yang dimiliki Refald. Sayangnya serangan itu bisa ditepis dengan mudah oleh wanita tersebut.


"Jika kau ingin mengalahkanku ... maka minumlah darah istrimu ... aku heran ... ada cara mudah untuk bisa mengalahkanku tapi kau dan keluargamu malah memilih jalan yang susah. Bagaimana kalau ... kulenyapkan saja kalian semua yang ada di sini!" teriak Ratu Badaharui mencoba mengeluarkan kekuatan terbesarnya.


Wanita itu melayang dan merentangkan kedua tangan, sampai batu-batu yang ada di dalam peru goa ular ini ikut melayang-layang di udara. Kekuatan Ratu ular itu lumayan besar juga sehingga Dewa harus melindungi tubuh Dea dari angin besar yang bisa menerbangkan mereka berdua kapan saja.


Sebuah gumpalan api bagai komet Halley, melesat cepat ke arah Dewa dan Dea dan hantu tampan itu langsung pasang badan melindungi istrinya. Tahu kalau kekuatan itu terlalu besar. Entah kenapa hati Dea tergerak untuk maju ke depan suaminya dan ganti dirinya yang menjadi perisai untuk Dewa.


Awalnya, pangeran D itu terkejut melihat istrinya tiba-tiba berdiri didepannya. Ia bahkan hendak membawa Dea pergi dari situ tapi tidak sempat karena badai api itu sudah sangat dekat dengan mereka dan ...


Serangan itu mengenai tubuh Dea tepat dihadapan mata Dewa.


"Tidak! Deaaaaaaaaa!" teriak Dewa menggelegar sampai dinding goa ular ini hancur berkeping-keping gara-gara teriakan Dewa.


BERSAMBUNG


***