
Mata Refald berubah menyala terang dan mulai mengeluarkan sepercik api dari kedua telapak tangannya. Semakin lama, api tersebut semakin besar layaknya chidori dari klan uchiha yang suap digunakan untuk menyerang. Pertanyaannya, untuk siapa api chidori milik Refald akan ia arahkan, ke arah Sekar, ataukah ke arah dua pengeran demit yang sedang sibuk bertengkar nggak jelas itu.
Semua orang bertanya-tanya atas aksi yang akan dilakukan Refald tak terkecuali Fey sendiri. Namun, tak ada satupun dari mereka yang ada di sini bertanya untuk siapakah api dahsyat mematikan itu diberikan.
Tanpa peringatan, ternyata api tersebut diarahkan ke tempat Sekar tertahan dalam lilitan akar-akar pohon besar tinggi menjulang. Semua netra menatap tajam kobaran api chidori itu yang dengan kecepatannya melesat cepat ke arah Sekar. Namun, entah kenapa, api itu tiba-tiba saja berhenti sedetik dan berbelok arah melesat dengan kecepatan cahaya menuju dua bersaudara yang sedang saling tarik menarik kerah pakaian mereka.
Baik Rey dan Dewa langsung tertegun ketika api chidori ayahnya menuju ke arah mereka. Tidak ada waktu untuk menghindar sehingga keduanya terpental jauh ke belakang ketika api besar Refald tepat mengenai dua pangeran demit itu.
"Haish Sial!" geram Rey saat tubuhnya terhantam menahan api besar ayahnya.
Tubuh Rey memang terbakar, tapi ia tidak apa-apa. Bahkan sama sekali tak terluka sedikitpun. Namanya juga pangeran Demit. Api Chidori itu bagai hantaman bantal empuk untuk Rey. Hanya saja, karena yang menghantam itu Refald, maka tubuh suami Rhea itu lumayan jauh mentalnya. Berbeda dengan Dewa yang harus berusaha keras menahan sakit karena serangan tersebut serasa bagai ditusuk-tusuk jarum di sekujur tubuh Dewa akibat api Chidori Refald yang mendadak berubah rasa bak sarenggannya Naruto.
Anehnya, tubuh Dewa tidak terbakar seperti kakaknya. Hanya saja, bagian luar kulit hantu tampan itu mengeluarkan asap seperti wujud air yang baru saja bertemu api. Namun meninggalkan tusukan-tusukan kecil yang lumayan sakit juga. Dari sini, dapat dilihat perbedaan kontras kekuatan Rey dan Dewa ketika tubuh mereka mendapat serangan.
"Ayah!" Pekik Rey dan Dewa bersamaan. Keduanya jadi saling pandang.
"Apa yang Ayah lakukan?" Entah ini kebetulan, dua kakak beradik itu menanyakan pertanyaan sama, kompak pula.
"Kenapa menyerang kami?" tanya Rey dan Dewa kompak lagi.
Keduanya saling pandang satu sama lain antara bingung dan juga geram. Ketiga pertanyaan mereka sama persis.
"Kenapa kau ikut-ikut aku?" tanya Rey pada adiknya.
"Siapa yang mengikutimu? Jangan sok ke-PeDe-an kau! Aku memang ingin menanyakan pertanyaan sama seperti yang kau tanyakan! Bilang saja kalau kau yang ikut-ikut aku, tapi tidak mau ngaku!" sengal Dewa.
"Siapa juga yang mengikutimu, aku lebih tua darimu!" cetus Rey.
"Aku juga tak mungkin mengikutimu karena aku lebih kuat darimu!"
"Tapi aku lebih pintar darimu!" tandas Rey tak mau kalah.
"Aaahh ... benar." Dewa tertawa mengejek. "Kau memang pintar, pintar merayu kakak ipar!" Ledek Dewa.
"Dasar Setan!" geram Rey.
Rey tak terima dan terus adu mulut dengan Dewa. Dua bersaudara itu hampir berkelahi lagi kalau saja Refald tak langsung hadir di tengah-tengah pertengkaran perang dunia shinobi ke-7 antara Dewa dan Rey.
Tak bisa menahan amarah lagi, Raja dedemit itu merentangkan kedua tangannya dan membuat beku tubuh kedua putranya sehingga keduanya tak dapat bergerak ataupun berbicara. Hanya matanya saja yang bisa berkedip.
"Kalian berdua akan tetap seperti ini sampai kalian menyadari kesalahan kalian! Dasar bocah-bocah sableng." Refald tampak kesal melihat aksi kekanak-kanakan Rey dan Dewa kalau mereka berdua sudah bersama.
Tom and Jerry aja kalah saingan dengan kedua putra Refald ini. Setelah puas membungkam kedua putranya hingga tak dapat berkutik sedikitpun, Refald kembali melesat cepat ke tempat Sekar disekap.
Bila tadi api chidori Refald tak bisa menyentuh akar yang dikendalikan Dewa hingga harus terpaksa berbelok menyerang pengendalinya, maka berbeda dengan sekarang. Dewa tak bisa lagi mengontrol akar-akar pohon karena terkunci oleh kekuatan Refald. Dengan begitu, api besar milik Refald bisa membakar akar dan membebaskan Sekar dari lilitan akar-akar tersebut.
Dea yang menyaksikan keajaiban di luar akal sehatnya ini, sangat takjub dan terpukau. Ia baru sadar kalau ternyata, api chidori itu bukan sengaja menyerang suaminya. Melainkan ingin melepaskan Sekar dari lilitan akar pohon Dewa dengan melepas si pengendalinya. Itulah mengapa api besar Refald harus mengalahkan Dewa terlebih dulu. Barulah api itu bisa membakar akar-akar pohon.
Sungguh, kekuatan keluarga Refald sangat sangatlah luar biasa. Terutama kekuatan kedua putra Refald. Satunya tak mempan di bakar, satunya dapat mengendalikan alam. Benar-benar menakjubkan.
Begitu akar-akar pohon yang melilit tubuh Sekar menghilang, sosok wanita jahat itu langsung jatuh tersungkur tepat di bawah kaki Refald. Suami Fey hanya menatap dingin Sekar yang tak berani mengangkat wajahnya dihadapan Raja dedemit Refald. Refald sendiri enggan berurusan lagi dengan wanita yang mencoba menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Kalau ia mau, detik ini juga, raja demit paling berkuasa di dunia lain ini bisa saja menjadikannya butiran debu. Namun, Refald enggan mengotori tangannya hanya untuk melenyapkan wanita bermuka dua ini.
"Aku punya perjanjian dengan ibumu, sebagai ratu dari kerajaan seberang. Salah satunya adalah tidak melukaimu entah karena alasan apapun. Tapi ... bukan berarti kau terbebas dari hukum istana ini atas semua tindakan yang sudah kau lakukan di kerajaanku. Yang berhak menghukummu memang bukan aku ataupun keluargaku, tapi ... suamimu sendiri. Dialah penentu akhir dari hidupmu! Bersiaplah menuai apa yang sudah kau tanam." Sikap Refald begitu dingin pada Sekar sampai akhirnya mas Gen mendekat dan bersimpuh dihadapan Refald.
"Izinkan hamba mengambil alih Sekar, Yang Mulia." Mas Gen mengatupkan kedua tangan sambil menundukkan kepalanya pada Refald.
"Ehm, lakukan apapun yang kau mau! Semuanya, ada ditanganmu! Sekali lagi, aku senang kau kembali padaku mas Gen." Refald menepuk pelan bahu salah satu pasukan demitnya dan mengajak Fey pergi dari sini untuk menenangkan diri. Terlepas dari itu, Refald juga menunggu pak Po yang sempat ia kirim pergi ke suatu tempat secara rahasia.
Setelah Refald dan Fey pergi, mas Gen tak langsung bicara pada Sekar. Sebaliknya, ia bersimpuh dengan khidmad di depan Dea sambil mengatupkan tangan di atas kepala.
"Terimakasih Tuan Putri Bona Dea, hamba begitu merasa terhormat atas semua pengorbanan yang Tuan putri lakukan demi bisa mengembalikan jiwa hamba kemari. Sampai kapanpun, hamba akan selalu mengingat kebaikan Tuan putri dan membalas jasa-jasa Tuan Putri pada hamba. Mohon menutup mata dan hati serta telinga atas apa yang akan hamba lakukan pada Sekar sebagai hukuman atas perbuatannya."
Dea terdiam, ia bingung dan juga tak tahu harus berkata apa. Wanita itu menatap Dewa yang tak bisa bicara dan hanya mengedip-ngedipkan matanya. Tak mengerti apa maksud Dewa, gadis itu beralih menatap Rhea yang langsung melempar senyum padanya.
Sambil menepuk pelan bahu Dea, Rhea berkata," Lakukan saja apa yang diinginkan mas Gen, Dhea. Dia tahu mana yang terbaik untuk semuanya."
BERSAMBUNG
***