
Sesuai janji yang sudah diucapkan Dea pada ibu mertuanya, ia akan langsung kembali ke dunia lain begitu ujiannya selesai dilaksanakan dan sekaranglah saatnya.
Sekembalinya Dea ke dunia lain kali ini, dirasa sangat berbeda dengan saat ia pergi kala itu. Kini, ia datang bersama dengan cinta yang sangat Dea inginkan dari seorang Dewa. Sebuah dunia yang Dea sendiri tidak tabu akan seperti apa endingnya. Apakah ia akan mati dalam waktu dekat atau tidak, gadis itu sungguh tidak tahu.
Sang pengeran dedemit sendiri rupanya masih ingin berlama-lama dengan Dea di dunia nyata layaknya pasangan sejoli pada umumnya. Hantu tampan itu mengajak Dea ke sebuah danau terindah yang terdapat di salah satu belahan dunia dengan menggunakan kekuatan supranaturalnya.
Danau yang mereka datangi ini, berwarna warni dengan dominan warna merah dan kuning karena ganggangnya yang juga berbeda jenis tapi masih satu spesies. Lokasi danaunya diapit oleh banyak gunung dan bukit sehingga tak banyak orang yang tahu kalau ada tempat seindah dan semenakjubkan ini. Medannya juga sangat berat sehingga orang akan berpikir 2 kali jika ingin datang kemari.
"Huaaaa Pangeran ... tempat ini indah sekali," seru Dea ketika ia berada di tepian danau warna warni. "Sungguh, aku baru tahu kalau ada tempat seindah ini. Ada banyak tempat menakjubkan yang pernah ku kunjungi, tapi baru kali aku melihat betapa memesonanya panorama alam yang ada di sini. Ini ciptaan Tuhan yang paling sempurna." Dea tersenyum kagum.
"Oh iya? Tempat mana saja yang pernah kau datangi?" tanya Dewa ikut tersenyum melihat wajah sumringah Dea.
"Seluruh Eropa dan Kanada serta selat Kalifornia, sudah pernah kudatangi setiap kali aku liburan sekolah dulu. Aku kira tempat-tempat itu adalah tempat paling indah di dunia ini. Tapi ternyata aku salah. Disinilah surga dunia yang sesungguhnya! Huuu ...terimakasih sudah mengajakku kemari!" seru Dea senang sekali.
Tanpa sadar, gadis itu merentangkan kedua tangannya dan berlarian menyambut angin sepoi-sepoi yang meniup tubuh indah Dea. Gadis itu bagai lepas dari sangkar. Saking bahagianya ia sampai berputar-putar menari bersama tiupan angin disekelilingnya.
Mata Dewa terpaku ketika ia melihat tawa bahagia istrinya. Ia baru sadar betapa imut dan cantiknya Dea ketika sedang menari dan tertawa riang seperti itu. Entah kenapa langkah kaki Dewa berjalan cepat mendekat ke tempat Dea berada dan langsung meraih pinggang istrinya ke dalam dekapannya. Tanpa mengucap sepatah kata, pangeran demit tampan itu langsung mencium bibir seksi Dea lumayan lama dari sebelumnya.
Bersamaan dengan adegan romantis itu, tiba-tiba air danau yang tadinya tenang, mendadak berubah seperti air mancur meluncur dan melambung tinggi hingga percikan air mancur massal itu membasahi tubuh dua insan yang sedang bercumbu mesra di pinggir danau. Pelangi-pelangi indah mulai terbentuk akibat pembiasan cahaya yang diakibatkan percikan-percikan air mancur yang muncul dari danau.
Baik Dewa dan Dea, jadi basah kuyup karena percikan air tersebut sehingga semakin menambah kesan romantis diantara keduanya. Selesai berciuman, mereka berdua saling menatap penuh cinta satu sama lain.
"Terimakasih karena sudah hadir di hidupku, dan membuatku jatuh cinta sekali lagi, Bona Dea," aku Dewa sambil memegang kedua pipi istrinya yang basah karena air. Bibir merah merona Dea membuat Dewa tergoda untuk mengecupnya sekali lagi.
"Tidak, akulah yang berterimakasih karena kau membalas cintaku. Rasanya, mati sekarangpun aku takkan pernah menyesal." Dea tersenyum manis sekali.
"Sssstt, jangan pernah bicara begitu apalagi saat aku sedang bermesraan denganmu." Dewa meletakkan jari telunjukknya di bibir Dea.
Mendadak, Dewa mundur ke belakang dan menutup kedua wajahnya dengan tangan sambil membelakangi istrinya. Tentu saja, Dea bingung kenapa dengan suaminya yang tiba-tiba menjauhinya tanpa sebab. Padahal mereka lagi sweet-sweetnya.
"Pangeran D, ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Dea heran dan juga bingung.
"Mengontrol apanya? Kau sakit? Tapi rasanya tidak mungkin. Masa hantu bisa sakit?" tanya Dea jadi tambah bingung.
"Entahlah, menjauhlah dulu dariku. Astagah ... kenapa wajahku serasa panas?" Dewa mencoba mengipaskan tangannya seolah ia kegerahan.
"Biar kulihat," tawar Dea cemas.
"Tidak! Jangan lihat aku, jangan mendekat juga, jika aku lepas kendali, aku tidak tahu apa yang bakal terjadi pada kita setelah ini." Dewa benar-benar melarang Dea untuk mendekatinya. Sejak tadi gadis cantik itu hanya berdiri bingung dibelakang Dewa.
Bagi Dewa, Dea adalah medan magnet yang selalu bisa menariknya untuk terus mendekat dan menempel erat. Ini kali pertama bagi Dewa ia merasakan gejolak aneh seolah ia ingin terus bercumbu mesra dengan Dea. Cuma ia tidak tahu apa istilahnya sehingga pangeran demit itu bingung sendiri.
"Ya sudah, sampai kapan kita terus berada di sini? Dan sampai kapan kau memunggungiku? Katanya kau cinta padaku? Tapi kenapa malah tidak mau dekat denganku sekarang? Apa kau ... berubah haluan?" tanya Dea memastikan.
"Apa tidak apa-apa jika kita melakukannya sekarang? Aku ... tak bisa menahannya lagi, kau begitu menggoda sampai aku tak kuasa ..." Dewa tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya dan enggan menghadap Dea.
"Memangnya ... mau melakukan apa? Dan ... kapan aku menggodamu? Kau dulu yang datang lalu menciumku tanpa izin. Kaulah yang menggodaku, bukan aku." Tingkat rasa penasaran Dea sudah sampai pada puncaknya. Ia jadi malu sendiri setelah bicara seperi itu pada suaminya. Sungguh Dea tidak tahu ada apakah gerangan dengan Dewa.
Karena sudah tidak sabar, Dea berjalan cepat dan memutari tubuh Dewa supaya bisa melihat wajah tampan demit satu ini. Dan betapa terkejutnya Dea setelah tahu seperti apa wajah suaminya sekarang. Mukanya bersemu merah merona dan matanya berubah menjadi emas kebiruan.
"Astaga, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti kebakar begitu? Dan matamu ... berubah ... jadi lebih indah," ujar Dea seakan terhipnotis dengan perubahan suaminya. Gadis itu lupa kalau dirinya tadi shock dan bingung, tapi juga cemas.
Dea ingin menyentuh pipi Dewa tapi suaminya itu malah melangkah mundur menjauhi Dea. Dea juga tak mau menyerah, ia terus maju mendekati suaminya karena ia sangat ingin tahu apa yang sedang terjadi pada Dewa hingga ia seperti itu.
"Sudah kubilang, jangan mendekatiku. Aku ... benar-benar tidak bisa menahannya." Nada suara Dewa terdengar mendesah karena ada yang ia tahan. Pangeran demit itu terus menatap tajam mata Dea dengan kilatan mata elangnya. "Bersiaplah, jangan salahkan aku karena kau terus mendekatiku ..."
"Aku tidak takut, bahkan jika kau ingin membunuhku sekarang, aku pasrah ..." tantang Dea. Matanya berbinar senang menatap mata indah Dewa.
BERSAMBUNG
***