
Ritual yang dijalani Dea demi membangkitkan kembali salah satu pasukan ayah mertuanya, tidaklah mudah dan amat sulit dilakukan terutama bagi manusia biasa seperti Dea. Namun, gadis itu tetap nekat melakukannya untuk membantu memperbaiki kesalahan yang dulu pernah dilakukan suaminya. Sebagai istri, hanya cara inilah yang bisa dilakukan Dea sebagai bukti betapa cintanya Dea pada sosok pangeran demit tampan yang merupakan cahaya hidupnya.
Menantu Fey itu tahu resiko apa yang bakal ia hadapi jika tetap nekat melakukan ritual kebangkitan ini dimana darah Dea lah yang paling dibutuhkan agar mas Gen bisa kembali. Sebab, sama halnya dengan Fey, istri dari raja dedemit Refald alias ibu dari Dewa, di dalam darah Dea, juga mengalir darah biru bangsawan yang menjadi incaran para lelembut di negara ini. Tak terkecuali musuh besar Refald, yaitu ratu Badaharui.
Meski tahu bahwa hidup Dea akan berakhir, gadis itu sungguh tak menyesal karena di saat-saat terakhir kesadarannya, ia masih bisa melihat wajah Dewa yang mungkin itu adalah untuk terakhir kalinya. Dea juga merasa sangat bahagia karena sebelum ia menutup mata, ia sempat menyatakan kalimat cinta pada suami tercintanya.
Dewa yang langsung menangkap tubuh lemah istrinya cuma bisa menangis pilu melihat kondisi Dea yang tak berdaya. Secepat kilat Dewa menyembuhkan luka dipergelangan tangan istrinya untuk menghentikan pendarahannya. Tapi kali ini, usaha Dewa tak membuahkan hasil, Dea tetap tak sadarkan diri.
"Tidak! Kau tidak bisa pergi seperti ini Dea, bangun! Kau dengar aku? Aku bilang bangun! Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau tak membuka matamu!" isak Dewa masih sambil menatap penuh air mata wajah pucat pasi istrinya.
Disisi lain, mas Gen yang baru saja dibangkitkan, langsung dibawa Refald ke suatu tempat dimana hanya dia sendiri saja yang tahu lokasinya. Sedangkan Fey dan lainnya, mencoba membantu memberikan pertolongan pertama pada Dea dan terus berusaha menenangkan Dewa yang sejak tadi tak mau pisah dari tubuh lemah istrinya.
"Dewa, hentikan tangisanmu! Aku kesulitan konsentrasi jika kau terus merengek seperti ini!" cetus Fey kesal mendengar Dewa terus menangis sambil meneriaki Dea agar membuka kembali matanya.
"Bagaimana aku bisa diam Ibu, disaat hidupku yang baru dimulai, wanita yang kucintai pergi meninggalkanku dan hanya menyisakan satu kalimat cinta? Tidakkah ibu iba padaku?" isak Dewa.
"Dasar begundal! Percuma bicara baik-baik padamu!" gumam Fey tampak kesal pada putra keduanya yang sok mellow ini. "Rey! Pak Po!" panggil Fey dan dua orang yang dipanggil itupun langsung datang menghadap Fey.
"Iya, Ibu ... ada apa?" tanya Rey dengan sikap tenang dan kalemnya.
Sementara pak Po, cuma diam saja dibelakang Rey siap menunggu perintah ratunya. Kalau ada menantunya, sepertinya pak Po berlagak waras untuk menunjukkan citra sebagai mertua yang baik bagi Rey. Coba kalau Rey tidak ada, pasti pak Po sudah bikin ulah.
"Singkirkan adikmu dari hadapanku, jangan biarkan dia keluar sebelum aku menyelesaikan semuanya!" perintah Fey tegas dan itu membuat Dewa jadi semakin shock sampai matanya melotot seolah mau melompat keluar.
"Apa yang Ibu lakukan? Kenapa pisahkan aku dengan Dea! Tidak! Aku tidak mau pergi dari sini sampai melihat Deaku membuka matanya kembali!" pekik Dewa.
Sayangnya, tak ada satupun yang menggubris teriakan Dewa dan tetap memaksa pangeran demit itu pergi sari hadapan Fey yang sedang konsentrasi menolong menantunya hingga suaminya kembali kemari. Dewa terus saja meronta-ronta menolak pergi hingga baik Rey dan Pak Po sama-sama menggunakan kekuatan mereka untuk membawa pergi Dewa ke suatu tempat.
Rey sengaja membawa Dewa ke kediamannya dibelahan dunia lain yang lokasinya sangat jauh dari tempat Dewa berada sebelumnya. Untuk mencegah adiknya tidak bikin ulah yang dapat mengacaukan segalanya, suami Rhea itu membuat dinding penghalang kuat dan mengurung Dewa didalamnya. Setelah itu, pak Po langsung menghilang kerena mendapat panggilan dadakan dari Refald.
"Jangan membuat kacau situasi Dewa. Tunggulah di sini sampai kita mendapat kabar dari ibu," tandas Rey dari luar dinding penghalang ciptaannya.
"Bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku? Kenapa kalian memisahkanku dengan Dea yang sedang sangat membutuhkanku! Hilangkan dinding ini! Aku mau bertemu istriku!" teriak Dewa marah dan mulai merusak paksa dinding penghalang dengan kekuatannya.
Rey cuma terdiam melihat adiknya kalap. Pria tampan itu jadi teringat dirinya sendiri kala ayah dan seluruh keluarganya sedang bermain drama ikan terbang padanya saat pernikahannya dengan Rhea dulu. Rey tak bisa berbuat apa-apa pada adiknya karena ia tahu betul seperti apa perasaan Dewa saat ini.
"Dew," panggil seseorang dengan suara yang amat sangat lembut.
Seketika aksi ngamuk Dewa yang berusaha merusak dinding penghalang kakaknya langsung terhenti seketika. Suara lembut nan merdu itu sangat familiar di telinga Dewa dan iapun langsung balik badan menatap wanita cantik yang sedang berdiri tepat disamping kakaknya.
"Kak Rhea!" seru Dewa masih berlinang air mata.
Wanita yang tak lain adalah istri dari Rey itu ikut berkaca-kaca saat menatap adik iparnya. Tanpa melihat suaminya, Rhea berjalan pelan mendekat ke arah Dewa. Dan tanpa persetujuan dari Rey, Rhea membuka dinding penghalang itu dengan kekuatannya karena yang bisa membukanya selain Rey, adalah Rhea. Menantu pertama keluarga Refald yang tak lain dan tak bukan putri semata wayang pak Po dan istrinya.
Begitu penghalang tersebut terbuka, Rhea langsung memeluk Dewa layaknya seorang kakak yang sedang menenangkan adiknya. Dewa sendiri luluh di hadapan kakak iparnya dan ajaibnya, suami Dea itu tak emosi lagi seperti sebelumnya.
"Jangan lukai dirimu sendiri seperti ini Dew, percayalah pada ayah dan ibu bahwa semua akan baik-baik saja selama ada mereka. Harusnya kau juga bangga karena memiliki istri yang sangat luar biasa. Bukan malah bersikap seperti ini." Rhea mengusap lembut punggung adik iparnya agar merasa tenang.
"Aku ... aku tak bisa kehilangan dia, Kak. Aku sudah menemukan cara lain untuk membangkitkan kembali pasukan ayahku tanpa harus melibatkan Dea, tapi ...."
"Istrimu terikat akan sumpahnya Dew." Rhea melepas pelukannya dan menatap wajah adik iparnya. "Meski kau tahu cara lainnya, dia harus tetap melakukan ritual itu karena Dea ... tak ingin ayah menghilang seperti saat aku dan Rey dulu. Istrimu, tidak hanya berkorban untukmu saja, tapi ia juga melindungi kebersamaan keluarga kita dan ia tak ingin ada perpisahan diantara Raja dan Ratu seperti yang dulu pernah terjadi akibat kesalahan kakakmu."
Mata Dewa langsung menajam menatap wajah kakak iparnya setelah mendengar apa yang dikatakannya barusan. "Apa maksud Kakak? Ayah dan ibu pernah berpisah? Kenapa?" tanyanya penasaran.
BERSAMBUNG
***