
Setelah perang sengit antara jubi Dea dan Aodanya Dewa selesai dilakukan dan berjalan sangat lancar tanpa ada halangan ataupun hambatan apapun, Dewa bermaksud membawa Dea kembali ke hutan terlarang untuk memberi hukuman pada Sekar. Hantu tampan itu ingin Dea menentukan hukuman apa yang pantas untuk Sekar karena sudah berani membuatnya harus rela berkorban nyawa demi Dewa.
Sebenarnya, Dea menolak pergi karena ia tak mau melihat wajah wanita jahat itu dan ingin menikmati indahnya pemandangan bunga tulip yang menakjubkan di sini. Menurutnya, itu lebih baik ketimbang harus menatap wajah wanita yang telah mencoba menghancurkan kaharmonisan keluarga suaminya.
Dea hanya tak ingin emosinya meledak setelah semua kejadian ini. Namun, Dewa membujuk istrinya agar mau menemaninya menyelesaikan segalanya agar kembali seperti semula. Dengan begitu, beban berat dipundaknya terangkat dan ia bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan Dea tanpa ada rasa bersalah.
"Aku butuh dirimu untuk ada disampingku Dea, aku butuh dirimu disisiku untuk menyemangatiku karena aku tak bisa jauh darimu barang sedetikpun. Sumpah lebih dari apapun, aku ingin sekali melenyapkannya dan menghancurkannya menjadi debu karena dialah penyebab kekacauan yang kusebabkan. Dia juga yang membuatku membenci ayah dan ibuku. Aku sungguh tak bisa memaafkan wanita itu meski aku sempat pernah menyukainya.
"Dan yang lebih membuatku marah, wanita itu hampir saja membunuh ibu yang berusaha keras memberikan pertolongan pertama untukmu. Bila ingat itu, aku tak bisa mengontrol emosiku dan hanya kaulah peredam amarahku yang tak terkendali ini. Sebab itulah aku inginkan kau bersamaku, menggenggam erat tanganku bila aku hilang kendali. Seperti ini." Dewa menunjukkan tangannya yang menggenggam erat tangan Dea.
Kata-kata yang diucapkan Dewa agar Dea mau ikut dengannya, sukses membuat hati gadis cantik itu luluh lantak. Kedua tangan Dewa beralih memeluk erat pinggang istrinya dan kembali mengecup mesra bibir Dea yang gemetar saking gugupnya.
Untuk sesaat, Dea terdiam dan mulai mengangkat kedua tangannya meraih kedua pipi tirus suaminya. Mata dua insan yang sedang dilanda badai asmara ini saling bertemu pandang penuh pernak pernik cinta.
"Kau tidak berhak menghukum wanita itu, Pangeran D. Lebih dari apapun, yang berhak memberikan hukuman atas apa yang ia lakukan adalah ... orang yang menjadi korban kejahatannya. Yaitu suaminya, yang tak lain dan tak bukan adalah salah satu pasukan ayahanda Raja Refald yang sudah kubangkitkan kembali. Dialah yang berhak memberikan hukuman untuk Sekar. Bagaimanapun juga, kalian berdua adalah korban perasaan dari Sekar."
"Korban perasaan?" Alis Dewa terangkat saat Dea mengatakan kalimat terakhirnya.
"He'em, kau begitu dibutakan oleh cinta si Sekar itu begitupula dengan mas Gen. Apa itu namanya kalau bukan korban perasaan," cetus Dea.
Sejujurnya Dewa tidak terima kalau istrinya ini menganggap dirinya adalah korban perasaan Sekar. "Aku tidak setuju, aku tidak benar-benar menyukainya, itu cuma kagum, nggak lebih dari itu. Sudahlah jangan bahas ini. Ayo kita pergi, setelah itu kita kembali lagi kemari," ajak Dewa sedikit memaksa Dea agar tersenyum manis mengiyakan.
"Salah sendiri, mau saja jadi korban perasaan!" goda Dea.
"Bukan seperti itu, berhenti menyebutku begitu atau kau dapat hukuman cinta dariku. Aku tidak main-main! Jangan bahas wanita itu lagi ... atau ... kita perang dunia shinobi selama seminggu di sini tanpa henti," ancam Dewa dengan muka encumnya.
"Dasar pangeran demit encum! Kau ini sungguh mecum sekali!"
Dewa merengkuh tubuh istrinya dan Dea jadi tertawa gemas ketika suaminya bermanja ria dengannya. Gadis itu balik memeluk tubuh Dewa yang selalu memadat bila disentuhnya dan kembali transparan bila jauh dari Dea.
***
Dea dan Dewa tiba di hutan terlarang, tempat Sekar terikat erat oleh akar belukar. Si Sekar langsung menatap benci dua insan yang baru saja datang kehadapannya. Dan yang membuat Sekar semakin benci dan marah, wajah Dea dan Dewa tampak ceria dan bahagia bahkan tautan tangan keduanya seolah tak bisa dipisahkan.
Saat ini, yang terlihat dalam diri Sekar cuma mata dan keningnya saja. Selebihnya sudah tertimbun rata oleh akar-akar pohon yang tumbuh lebat di hutan terlarang ini. Ia tak bisa bersuara tapi ataupun merutuki Dea dan Dewa yang terlihat amat sangat mesra.
"Suamiku, apa yang terjadi? Apa itu Sekar? Kenapa yang terlihat hanya mata dan keningnya saja? Siapa yang tega melakukan hal seperti itu pada wanita? Ini sih kelewatan? Apa orang itu tidak punya hati nurani? Aku akui, Sekar memang jahat, tapi nggak harus menyiksanya seperti itu juga kali, kejam amat yang mengikatnya seperti itu? Siapa sih si sadis itu?" tanya Dea jadi tak tega melihat kondisi Sekar yang mengenaskan. Dia tidak tahu kalau seseorang yang ia katai barusan adalah suaminya sendiri.
"Kejam sekali dia, mirip psikopat saja!" gumam Dea semakin iba pada Sekar.
"Bagaimana bisa kau ... mengatainya kejam? Psikopat pula! Wanita itu pantas mendapatkannya? Apanya yang kejam?" Dewa jadi sedikit nyolot karena tak terima kalau dirinya dikatai istrinya kejam.
"Kenapa kau jadi nyolot gitu sih? Dan kenapa kau membela orang kejam itu?" Ganti Dea yang marah.
"Karena akulah yang membuat Sekar seperti itu!" Aku Dewa dan seketika seluruh pohon-pohon yang ada di hutan ini bergerak-gerak sehingga daun-daunnya rontok dan jatuh berguguran disekeliling Dewa dan Dea.
Tentu saja Dea tersentak dan jadi salting sendiri karena ternyata orang yang ia katai kejam adalah suaminya sendiri. Ia tak bersuara dan hanya menatap mata Dewa yang juga menatapnya. Ditengah hujan daun, pasangan suami istri itu lagi-lagi memperlihatkan sisi romantis mereka berdua. Meski Dewa sempat nyolot, tapi tangannya spontan melindungi kepala Dea dari reruntuhan daun agar tak mengotori rambutnya.
Tiba-tiba dari belakang Dewa, sebuah tangan memukul pelan kepala Dewa sampai terdengar bunyi 'plak'
"Siapa yang berani memukul kepala ..."
"Aku! Kenapa? Kau mau protes?" Bentak pria tampan yang ternyata adalah Rey. Ia sengaja memotong kata-kata Dewa.
"Apa yang Kakak lakukan?" sengal Dewa marah.
"Harusnya aku yang bertanya? Apa yang kau lakukan? Mau pamer kemesraan? Apa ini waktu yang tepat untuk itu?" ganti Rey yang marah-marah.
Dua kakak beradik itu ribut saling adu mulut, sedangkan Dea langsung berlari memeluk Rhea dan ibu mertuanya yang baru saja tiba. Refald juga datang, tapi ia tidak sendirian. Ada seluruh pasukan dedemitnya yang mengekor di belakang tak terkecuali mas Gen.
Rhea dan Dea langsung bersimpuh dihadapan Refald sebagai tanda hormat. Kedua menantu Refald ini sangat kesal dengan para suami-suami mereka yang tikgkahnya seperti anak umur 5 tahun saja.
"Bangunlah dan menyingkirlah sementara dari sini," perintah Refald dengan suaranya yang merdu. Ia beralih menatap Fey dan berkata, "Berdirilah dibelakangku, Honey. Akan kuberi pelajaran dua bengal itu!"
Fey menurut dan berdiri di belakang Refald. Sementara dua menantu mereka, mundur menjauh ke belakang. Mata Dea tak pernah lepas dari sosok mas Gen yang berdiri di sisi kiri Refald agak kebelakang. Tatapan matanya kosong tanpa ekspresi. Istri Dewa itu tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan ayah mertua dan seluruh pasukan demitnya setelah ini.
Suaminya yang sedang sibuk bertengkar dengan kakaknya. Serta Sekar yang menatap benci ke arahnya. Dia penasaran, apa yang akan raja demit itu lakukan.
BERSAMBUNG
***