
Hati pangeran D serasa merekah ruah dicium mesra oleh Dea. Keduanya saling menatap dan melempar senyum masing-masing. Dulu, Dewa memang pernah jatuh cinta, tapi ia tak pernah menyangka bakal seindah ini rasanya.
Cinta sang hantu tampan di masa lalu, dipenuhi dengan luka dan duka. Apalagi cinta Dewa hanya bertepuk sebelah tangan saja dan tak pernah terbalas hingga sekarang. Sejak saat itu, ia tak pernah percaya lagi pada cinta. Namun kini, Dewa merasa bahagia ada di dekat Dea. Wanita yang mencintainya dan rela mati demi kebahagiannya.
Karena merasa malu, Dewa balik badan dan melesat cepat ke arah siswa yang hendak mengganggu Dea. Dalam hitungan detik, pangeran Demit itu menggunakan kekuatannya dengan memindahkan siswa tersebut dari tengah lapangan pindah ke bawah pohon lalu mengikat tubuh siswa tersebut dengan sangat erat. Tentu saja yang diikat tidak bisa melawan ataupun bergerak bagai patung karena waktu masih dihentikan oleh Dewa.
Setelah itu, putra kedua Refald kembali ke tempat istrinya berada sambil berkata, "Ayo, kau harus ada di kelas sebelum ujian."
"Tapi ... apa yang kau lakukan itu?" tanya Dea bingung.
"Dengan begitu, dia tidak akan mengganggumu lagi dan kau bisa konsentrasi pada ujian terakhirmu. Kalau kau mau, aku bisa membantumu mendapatkan nilai ...."
"Tidak!" tolak Dea langsung tahu kemana arah pembicaraan ini. "Aku ingin lulus dengan kemampuanku sendiri. Tolong jangan ikut campur soal ini. Biarkan aku menikmati hal yang sangat kuinginkan."
Dewa tersenyum. "Tentu, kau pintar dan cerdas, tanpa bantuankupun kau pasti mendapatkan nilai terbaik." pangeran D memberikan semangat motivasi untuk Dea.
Tanpa permisi, Dewa menggendong Dea sambil melesat cepat ke ruang kelas ujian Dea berlangsung. Kebetulan, tempat duduk Dea ada di samping Dewa. Saat keduanya duduk, hantu tampan berwujud manusia itu mengembalikan waktu seperti sedia kala.
Tidak ada yang curiga kalau barusan waktu sempat dihentikan Dewa meski hanya sebentar. Hanya saja, mereka heran dengan kehadiran Dea dan Dewa yang entah kapan datangnya karena sebelumnya, mereka berdua tidak ada di kelas ini.
Sementara siswa yang diikat Dewa di batang pohon, sangat kaget dan terkejut mengetahui dirinya sedang terikat kuat tanpa tahu siapakah yang mengikatnya dan bagaimana bisa ini terjadi. Siswa itupun meronta-ronta minta dilepaskan dan tidak terima karena ia yakin, apa yang terjadi padanya ini adalah ulah Dewa meski ia tak punya bukti bahwa siswa baru itulah pelakunya.
***
Akhirnya, ujian dihari terakhir selesai dilaksanakan dan semua berjalan dengan tertip serta lancar. Sekarang hanya tinggal menunggu pengumuman ujian. Dewa setia mengawal Dea kemanapun gadis itu berada tanpa peduli pada tatapan tajam semua netra yang melihat mereka. Terutama para kaum hawa. Mereka tak pernah mengira kalau gadis yang dianggap sebagai sampah masyarakat ternyata punya calon suami tampan kaya tajir melintir dan coolnya kebangetan.
Tiba-tiba saja, sekelompok teman-teman sekelas Dea yang sebelumnya sempat dipenjara atas kasus percobaan pembunuhan terhadap Dea, sengaja datang menghadang langkah dua sejoli suami istri itu. Mencium ada gelagat yang tidak beres, Pangeran D langsung mengarahkan istrinya untuk berlindung dibalik punggungnya. Mata Dewa menatap tajam semua siswa yang ingin cari gara-gara dengannya.
"Jangan sakiti mereka, jangan melakukan hal gila yang membuat kita terpisah untuk selamanya," bisik Dea dengan pelan untuk mengingatkan suaminya agar tidak melakukan kesalahan lagi. Lebih tepatnya, Dewa barus bisa mengendalikan emosi.
"Tenang saja, aku hanya akan membuat mereka merasakan apa yang kau rasakan." Pangeran D tersenyum licik. Inilah yang sudah ia nantikan sejak awal.
"Nyali kalian besar juga," ucap Dewa pada siswa-siswa sok gaya yang ada didepannya.
"Kami semua takkan pernah melepaskan kalian! Huh, kau pikir dengan melaporkan kami ke polisi, kalian berdua bakal bisa hidup tenang. Tidak akan! Kau lihat, kami kebal hukum. Kami bebas bahkan sebelum tinggal di balik jeruji besi. Ha ha ha ha ...." ujar salah satu siswa paling depan dengan sombongnya.
"Kalian jangan senang dulu," sela pangeran D. "Hukum yang kau bicarakan itu bukanlah hukum yang sesungguhnya. Kita lihat saja, apa kalian masih bisa sombong setelah ini!"
Usai bicara seperti itu, secara ajaib para siswa berandal itu berpindah tempat dari sekolah ke pinggir jurang. Tempat itu, merupakan jurang sama di mana mereka membunuh Dea walaupun usaha mereka gagal total karena Dea masih hidup hingga sekarang berkat pertolongan Dewa.
Semua siswa itu kaget sekali melihat mereka semua sudah ada di bibir jurang. Selangkah saja, para siswa jahat itu sudah bisa dipastikan bakal jatuh kedalamnya dan menjadi arwah gentayangan. Semuanya shock dan ingin kabur dari tempat itu, tapi sayang, tubuh mereka tidak dapat digerakkan seolah ada yang mengendalikan.
Mereka menatap heran Dewa yang terus tersenyum melihat wajah-wajah ketakutan mereka. Lebih anehnya lagi, bagaimana mereka bosa berpindah lokasi seperti ini bagai di cerita fantasi. Terlihat jelas, mereka semua mulai ketakutan melibat Dewa.
"Siapa kau sebenarnya?" seru salah satu siswa mencoba sok berani dan mengatasi ketakutannya. "Kau pasti bukan manusia biasa. Jika tidak, mana mungkin kau bisa melakukan semua ini!"
"Aku? Hahahaha ... aku adalah Dewa. Kali ini, aku bakal menjadi Dewa kematian kalian! Beraninya kalian mencoba membunuh istri seorang Dewa!" teriak pangeran demit itu dengan lantang.
Tak ingin buang waktu bicara pada para berandal sekolah itu, kedua tangan suami Dea langsung terulur dan mendorong tubuh semua siswa ke tengah jurang tanpa harus menyentuh mereka semua. Paniklah semua orang karena tubuh mereka melayang-layang di atas jurang menganga dan bisa jatuh kapan saja.
"A-ada apa ini ... aku ... tidak mau mati!" rengek salah satu siswa setelah dirinya ada diambang kematian. Suaranya terdengar gemetar begitu pula dengan tubuhnya.
"Aku juga!" sahut lainnya tak kalah takut.
"Aku juga, aku juga tidak mau mati. Oh Dewa, maafkan kami, kami salah, kami tidak tahu bahwa Dea adalah istri seorang Dewa sepertimu. Jika saja kami tahu, kami tidak akan menyakitinya," seru salah satu siswa yang sudah ketakutan setengah mati diikuti anggukan siswa-siswa yang lainnya.
"Kami janji Dewa, jika kau memaafkan kami, kami akan bersikap baik pada Dea untuk menebus kesalahan kami."
Dewa terdiam. Untunglah ia tak membawa Dea kemari dan masih meninggalkannya di sekolah.
"Aku tidak tahu apakah kalian masih punya kesempatan itu atau tidak. Sebab, aku dan Dea akan ..." Dewa sengaja menggantung kalimatnya kerena merasa tak seharusnya ia memberitahukan apa yang akan ia lakukan besama Dea setelah ini pada para berandal itu.
"Jika kau melepaskan kami, kami janji akan berbuat baik pada Dea hari ini di detik ini juga! Iya kan teman-teman!" aku siswa yang lain mengajak teman-temannya.
"Tidak!" sahut siswa yang ada di tengah. "Apa kalian lupa perbuatan ayah Dea pada Rudi? Mereka membuat teman kita menjadi yatim!" serunya.
"Apa kau tidak lihat apa yang terjadi pada kita sekarang? Kita diambang kematian dan kau masih membela Rudi? Apa dia bisa menyelamatkan kita sekarang? Jika bisa, panggil dia sekarang!" tantang rekan siswa itu sendiri.
Para siswa itu mulai adu argumen masing-masing sehingga membuat Dewa menurunkan tubuh mereka hingga terjun bebas ke bawah jurang. Sontak mereka semua berteriak sekencang-kencangnya sehingga suara-suara teriakan itu menggema di mana-mana. Bahkan burung-burungpun langsung beterbangan karena kaget mendengar teriakan para siswa-siswa nakal itu.
Namun, Dewa tidak benar-benar membunuh semua siswa-siswa jahat itu. 2 meter dari atas permukaan tanah, mereka semua kembali melayang di udara yang ada di dasar jurang dan entah berapa ketinggiannya. Barulah Dewa menjatuhkan tubuh mereka ke tanah. Semuanya pingsan seketika tanpa ada satupun yang sadarkan diri. Kalaupun mereka sadar, mereka semua harus berjuang untuk bisa kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Jika kalian bisa bertahan di dasar jurang sana dan mencari jalan keluar ke rumah kalian masing-masing, maka ... aku akan memaafkan kalian," gumam Dewa dari atas tebing sambil melemparkan sebuah tas untuk membantu para siswa itu bertahan hidup di bawah sana.
Bukan tanpa alasan kenapa Dewa membuat semua siswa itu terjebak di dasar jurang yang mungkin saja, bisa berbahaya bagi mereka semua. Dewa hanya ingin para berandal itu mempelajari arti sebuah kehidupan dan bagaimana cara berjuang agar bisa tetap hidup di dunia fana ini. Dengan begitu ... mereka tidak akan melakukan perbuatan jahat lagi karena mereka akan mengerti, sulitnya untuk mempertahankan sebuah kehidupan.
Dewa kembali ke sekolah di mana Dea sudah menunggunya. Istrinya itu sedang di kerubung banyak siswi-siswi yang membully Dea. Dea sendiri tak begitu memedulikan omongan mereka dan langsung terpaku ketika melihat Dewa sudah kembali. Suaminya itu tersenyum dan berjalan mendekat kearahnya dengan menerobos kumpulan siswi-siswi sirik yang mencoba menjatuhkan mental Dea.
Tentu saja kumpulan siswi itu terkejut melihat Dewa melintasi mereka dan tanpa dinyana-nyana, Dewa yang coolnya nggak ketulungan, langsung mencium mesra Dea tepat dihadapan semua orang.
"Kutahan emosiku, hanya demi bisa terus bersamamu," bisik Dewa mesra di telinga Dea setelah selesai menciumnya.
BERSAMBUNG
***