Terpaksa Menikah Dengan Dewa

Terpaksa Menikah Dengan Dewa
BAB 52 Perasaan Dewa dan Refald


Dewa terus menatap sedih wajah pucat istrinya. Beruntung, disaat yang dibutuhkan, Refald dan seluruh keluarga besarnya datang tepat waktu sehingga Dewa dapat fokus menyembuhkan luka dalam Dea. Mungkin ini agak sedikit aneh karena serangan mirip komet milik Ratu Badaharui menghilang ketika menyentuh tubuh Dea.


Hingga detik ini, Dewa tak tahu penyebab pasti pingsannya Dea karena dari luar, wanita yang dicintai pangeran D tak terluka sedikitpun. Tidak ada luka luar dari tubuh Dea. Namun, Dewa yakin kalau istrinya terluka dibagian dalam.


“Dea … kau bisa dengar aku? Buka matamu? Kenapa kau bodoh sekali, hm? Apa jadinya aku jika kehilangan dirimu! Cepat bangun!” seru pangeran D mencoba membangunkan Dea. Ia menekan kepala istrinya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menopang tubuh wanita pujaan hatinya yang terkapar tak berdaya.


"Dew ... bawa pergi istrimu dari sini ... sisanya ... serahkan pada kami," ujar Rey mencoba menenangkan adiknya.


"Aku akan bantu menyembuhkan luka istrimu. Ayo kita pergi dari sini." Rhea juga tak tinggal diam. Pengobatan Rhea paling ampuh bila dibandingkan dengan yang lain.


Tak ada pilihan lain, Dewa menuruti ajakan kakak iparnya menuju ke kediamannya sendiri. Pelan, hantu tampan itu meletakkan tubuh istrinya di atas kasur lalu duduk cemas disampingnya. Sementara Rhea memegang kedua kaki Dea untuk memeriksa keadaannya.


Pangeran D ikut mencurahkan seluruh kekuatan yang ia punya untuk menyembuhkan Dea agar istrinya kembali sadar seperti sedia kala. Sayangnya, sepertinya itu tidak mudah. Dea sama sekali tak bergerak dan semakin khawatirlah si hantu tampan pada kondisi istrinya.


"Bagaimana keadaannya, Kak. Apa ...."


"Dia baik-baik saja ... untunglah kalian sudah melaksanakan ritual penyatuan jiwa. Sehingga sebagian kekuatanmu menyatu dijiwanya. Mungkin karena itulah serangan Ratu Badaharui tidak mempan pada dia. Secara tidak langsung, tubuh Dea membentuk suatu pelindung dari kekuatan yang kau salurkan padanya. Istilah lainnya adalah ... dia kebal." Rhea memberikan penjelasan logis pada Dewa kenapa istrinya bisa pingsan jika ia tidak terluka.


Dewa cuma diam dan menatap lembut wajah pucat Dea yang mulai berangsur membaik. Meski ia tidak tahu kapan istrinya ini kembali membuka matanya.


"Kita tunggu 1 x 24 jam, jika Dea tak kunjung membaik ... kita harus melakukan cara lain," tambah Rhea yang juga agak mencemaskan kondisi Dea.


Sebenarnya, ada hal yang ingin Rhea sampaikan pada adik iparnya, tapi ... istri Rey itu belum yakin sebelum ia memastikannya sendiri.


Sebenarnya ... ini kabar bahagia, Dew ... tapi akan lebih baik jika Dea sendirilah yang akan menyampaikannya padamu. batin Rhea.


***


Sementara di langit-langit … Refald sedang dilanda kegalauan akut tingkat Dewa. Kalimat terakhir cucu pertama Refald cukup membuat Raja demit itu terkejut. Ia baru tahu kalau istri dan cucu kesayangannya sedang menyembunyikan udang dibalik batu dan bisa-bisanya ia sebagai Raja paling berkuasa di dunia perdemitan, tidak tahu menahu rahasia besar istrinya yang ternyata, pecinta cogan alias cowok ganteng. Kurang ganteng apa coba si Refald ini, hingga bisa-bisanya Fey mengagumi cogan lain selain dirinya.


Ular raksasa Akasura, posisinya langsung tergeser dimata Refald. Ingin rasanya, raja demit tampan itu mencari seluruh cogan yang ada di dunia lalu ia musnahkan agar Fey tak bisa melihat pria lain selain dirinya. Dan itulah yang akan dilakukan Refald begitu masalah di sini selesai ia bereskan.


"Lihat saja Honey ... akan kubunuh semua cogan yang pernah kau lihat itu!" geram Refald.


Tapi Refald malah acuh dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Kakek, bisa lepaskan aku?” tanya Hans tanpa dosa. Padahal ia sudah menciptakan percikan api perang dunia lain antara Fey dan Refald.


“Hooo … kau minta dilepaskan, hm … baik … akan kulepaskan!” nada suara Refald terdengar menakutkan untuk ukuran seorang kakek yang kemakan rasa cemburu buta.


"O ... ouw ... firasatku nggak enak, nih ...," gumam Hans pasrah.


Tanpa belas kasih, dengan teganya Refald melempar tubuh Hans ke bawah. Kecepatan lemparan Refald benar-benar jauh di atas angin. Bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi pada Hans bila cowok tampan itu menabrak tanah.


Untunglah pak Po datang tepat waktu dan menangkap cucunya sebelum tubuh cowok tampan nan imut itu menyentuh permukaan bumi. Pak Po sangat terkejut dengan kemarahan Refald yang begitu tiba-tiba hingga menghempaskan cucu kesayangan mereka berdua begitu saja.


“Hans cucuku … kau tidak apa-apa?” isak pak Po mulai lebay. Tidak ada angin tidak ada hujan, ia menangis setelah berhasil menyelamatkan cucunya. Padahal, tanpa ditolong pak Po pun, Hans akan baik-baik saja karena ia mewarisi kekuatan hantunya pak Po dan supranaturalnya Refald.


“Tidak apa-apa Kek, sudah biasa kakek Refald main lempar-lempar begitu, aku sih biasa sa ….”


Belum juga Hans selesai berbicara, pak Po meletakkan tubuh Hans di tanah layaknya istri yang sedang merajuk karena anaknya disiksa si bapak tiri. Suami Divani itu melesat cepat menemui Refald untuk menyuarakan aksi protesnya.


“Hadeuh duo kakek kakek itu … mulai lagi dah drama ikan terbangnya. Eh salah, drama pocong terbangnya. Sebenarnya … yang jadi istri Kakek Refald itu nenek Fey apa kakek Po sih? Kenapa yang lebih sering menangis dan merengek adalah kakek Po ketimbang nenek Fey? Ah sudahlah … makan lolipop saja sambil nonton drama ikan terbang orang dewasa.”


Dengan entengnya, Hans duduk bersila diatas rerumputan yang bergoyang-goyang sambil menengadah melihat perdebatan antara Refald dan Pak Po. Sementara Fey, malah sibuk sendiri menenangkan ular raksasa dibantu Divani dan seluruh pasukan demit Refald lainnya.


“Apa yang Anda lakukan Raja, kenapa sampai melempar cucu kita seperti itu?” protes pak Po pada Refald.


Kedengarannya sangat aneh di telinga Refald bila pak Po sudah bicara seperti itu. Bahkan si poci pocicu itu berlagak mengusap air matanya dengan gemulainya. Mungkin si pocong tampan ini terlalu sering melihat sinetron sehingga ia terlalu terbawa perasaan.


“Kenapa kau bicara seperti istriku saja pak Po? Lemparanku takkan membunuh Hans? Kau tahu betul dia jauh lebih kuat darimu, Jangan sok dramatis begitu? Aku geli melihatnya!” cetus Refald masih sangat kesal. Matanya terus mengamati Fey yang mencoba menenangkan Akasura.


Pak Po ingin mengomel, tapi Refald langsung melesat cepat meninggalkannya sendirian karena Fey sedang dalam bahaya. Entah karena kurang hati-hati atau apa, tubuh Fey terpental karena tubuhnya tertabrak bagian tubuh ular raksasa. Untunglah Refald sigap menangkapnya sehingga Fey tak jadi jatuh ataupun menabrak sesuatu yang bisa berakibat fatal baginya.


“Honey … kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?”